Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Mendata Penduduk


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu, Aisyah selalu ekstra hati-hati. Salahnya sendiri yang teledor, padahal Rayyan selalu mengingatkan agar menjaga aurat. Bagi seorang muslimah, seluruh anggota tubuhnya adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Wajah pun bila di poles berlebihan (tabarruj) akaan menjadikannya sebagai ladang dosa bagi pemiliknya.


Baru dua hari ia di lokasi baksos rasanya sudah seperti dua bulan. Sebenarnya Aisyah bukanlah wanita yang susah bergaul mengingat perangainya yang humble dan ceria. Tapi entah mengapa, sejak ia magang di HS Clinic dan isu kedekatannya dengan dokter Malvin berhembus, dunianya terasa begitu sempit. Terlalu banyak nyinyiran dari Para teman-temannya yang selalu memandangnya sinis, belum lagi beberapa dosen baperan yang juga ikut terprovokasi dengan keadaan.


"Kamu istirahat, biar aku gantiin" Ucap Dita merebut sapu yang tengah di pegang Aisyah. Ia serasa di ospek untuk yang kedua kalinya. Bagaimana tidak jika bu Ririn dengan sengaja memberikan beban pekerjaan tambahan pada Aisyah. Kalau di fikir-fikir lebih enak ia jadi asisten dokter Malvin walaupun makan hati, tapi tidak se capek ini. Masih pagi buta ia sudah di suruh menyapu lantai satu yang luasnya melebihi luas rumahnya di Jakarta. Padahal berdasarkan jadwal piket ini adalah tugas Tasya dan sekutunya. Hanya karena Aisyah bangun lebih awal setelah melaksanakan sholat subuh, ia mendapat sarapan pagi yang menutut bu Ririn bagus untuk oleh fisik gadis muda itu.


Pagi itu, Aisyah dan teman-temannya akan melakukan pendataan di rumah warga. Mereka berpencar menjadi tiga kelompok untuk mengunjungi warga dan memeriksa ketersediaan ****** di rumah-rumah warga tersebut. Pasalnya, di kampung itu masih banyak warga yang masih menggunakan ****** apung atau WC cemplung sebagai tempat pembuangan.


Aisyah mengeluarkan hoodie berwarna putih pemberian dari Shafa yang merupakan keluaran brand ternama dan sedang hits di dunia fashion. Soal pakaian dan penunjang penampilan Shafa tidak di ragukan lagi, meski kini ia sudah berubah menjadi hijaber sejati, namun jangan lupa bahwa dress tidur dan aneka lingerie yang berjajar di lemarinya itu memiliki harga fantastis. Pantas saja Rayyan selalu di buat kelimpungan setiap malamnya.


"Syah, kamu kok bisa dapat ini? Bukannya abah kamu larang buat shoping-shoping? Emmm... Kamu pasti shoping diam-diam kan?" Tuduh Dita. Ia tahu benar sahabatnya ini bukanlah tipe perempuan demen shoping apalagi barang yang berharga jutaan rupiah. Wajar bila ia curiga saat Aisyah mengeluarkan hoodie, snekers dan sling bag kecil yang jika di total hampir mencapai 10 juta rupiah. Sling bag mini berlogo H yang juga pemberian dari Shafa itu di taksir memiliki harga sekitar 5 juta rupiah. Itu merupakan tas termahal yang Aisyah punya.


"Ini semua pemberian dari kakak ku tersayang" Ucap Aisyah senyum-senyum.


"Kak Rayyan mu itu?"


"Idih, sorry...sorry jack! Dia mah sama dengan abah. Pelit, medit bin kuprit. Ini semua adalah pemberian dari kak Shafa yang baik hati dan nggak pelit" Ucap Aisyah berbinar. Ia mulai memakai hoodie tersebut yng dipasangkan dengan kulot berwarna hitam.


"Serius Syah? Beruntung banget sih kamu. Eh, Kapan kapan aku pinjam ini yah, buat ngedate sama Bagas" Ucap Gita sambil mesam-mesem memegang sling bag milik Aisyah.


"Dasar, mau gaya nggak modal!" Cibir Aisyah.


"Kita belum ngasilin duit jadi wajar kalo modal minjem" Balas Gita.


"Bagas dong suruh beliin Ta. Masa pacar polisi tasnya minjem" Ejek Sindi yang langsung dapat pelototan dari Gita.

__ADS_1


"Eh jangan! Kata kak Shafa perempuan itu nggak boleh gampangan. Kita harus punya harga diri, karena bisa aja dia ngasih kamu sesuatu tapi minta imbalan. Kan ngeri. Mending kamu pinjam aja deh dari pada minta sama Bagas" Sahut Aisyah.


"Makasih Aish, kamu memang sahabat paling baik" Gita memeluk Aisyah girang. Yah lumayan lah, kapan lagi bisa ngerasain pake tas seharga SPP nya tiap semester.


Setelah selesai bersiap mereka semua keluar kamar untuk briefing sebelum mulai mendata rumah warga. Tasya dan kawan kawan belum terlihat hadir di ruang tengah yang terdapat sofa panjanh melingkar. Mungkin para gadis rempong tersebut tengah sibuk memasang bulu mata anti badai atau bedak anti luntur kalau bukan sedang melukis alis bak kelokan sembilan.


"Ups sorry, nunggu lama ya?" Tasya dengan gaya kemayunya berjalan berlenggak lenggok bergabung bersama yang lainnya. Aisyah dan teman-temannya saling pandang. Ingin tertawa takut dosa, nggak tertawa bikin mengganjal, akhirnya mereka hanya senyum-senyum saling senggol melihat penampilan Tasya yang terlihat begitu dewasa. Rok pensil sebatas lutut berwarna hitam diadukan dengan atasan putih dengan leher model sabrina plus high heels 9 senti membuatnya terlihat sangat anggun nan menawan tapi bukan pada tempatnya. Yang benar saja ia berpakaian seperti itu padahal hanya akan mendata ****** di rumah warga.


"Bisa kita mulai?" Suara Malvin mengalihkan fokus semua mahasiswa termasuk Aisyah. Malvin mulai memberikan petunjuk dan arahan apa yang akan mereka kerjakan hari itu.


"Dokter Malvin nggak ikut?" Tasya bertanya dengan gaya kemayunya. Akan mubadzir rasanya ia sudah berdandan total jika harus berjalan sendiri. Padahal tujuan utamanya adalah menarik perhatian dokter Malvin.


"Emm... Saya akan menyusul nanti, untuk memeriksa sesuatu" Ucapnya membuat Tasya semakin bersemangat. Ia harus mempertahankan penampilannya sampai nanti. Tidak boleh luntur maupun berantakan. Gumamnya.


Palingan dapat minjam! Gumamnya.


.


.


.


Cuaca pagi menjelang siang kali itu cukup terik, masih ada beberapa rumah warga lagi yang belum di data. Jarak rumah di kampung itu lumayang berjauhan antara yang satu dan yang lain. Belum lagi kondisi jalanan berbatu membuatnya terasa semakin jauh.


"Singgah dulu disini Ji" Ucap Aisyah pada panji saat melintasi sebuah pos ronda. Lumayan bisa istirahat sejenak. Panji mengangguk setuju dan dengan sigap ia memetik beberapa lembar daun lebar untuk alas duduk Aisyah.

__ADS_1


"Duduk lah" Ucapnya pada Aisyah.


"Cie..." Sontak seruan "Cie" terdengar dari para teman-teman Aisyah dan Panji. Ini adalah kesempatan baik bagi Panji menyatakan perasaannya pada Aisyah. Ia bertekad akan meengungkapkan isi hatinya sebelum mereka kembali ke Jakarta.


BRUUKK..!!!


"Awwww" Pekik Tasya meengalihkan perhatian semua orang yang tengah beristirahat sejenak. High heels yang ia kenakan tergelincir membuat tubuhnya terhuyung jatung ke tanah. Bukannya simpati teman-temannya justru mengetawai Tasya yang jatuh terjungkal kedepan.


"Diam lo pada!!!" Sentaknya sambil menu juk ke arah Aisyah dan yang lainnya.


"Makanya Tasya, kostum di kondisiin dong. Kamu mau kondangan apa mau mendata" Ujar Agus yang bukannya menolong malah mengejek.


"Hish... Kalian apa-apaan sih" Aisyah bangkit dari duduknya menghampiri Tasya yang susah payah di bangunkan oleh dua sahabatnya. Itulah Azab bagi orang yang suka iri dan nyinyir.


"Kamu nggak papa Sya? Mending pake sandal aja Sya biar enak jalannya. Disana ada warung siapa tahu ada sandal" Ucap Aisyah yang membantu memungut buku Tasya yang terjatuh.


"Minggir loe!" Ia menyahut buku di tangan Aisyah dengan kasarnya.


"Gue nggak butuh bantuan lo! Lo mau menghina gue?" Tunjuknya pada Aisyah yang nampak bengong. Bukannya terimakasih malah di tuduh yang enggak-enggak. Apakah memakai sndal jepit adalah bagian dari sebuah penghinaan? Si Tasya emang ga ada akhlak!


"Kok kamu marah? aku kan cuma mau nolong"


"Bulshit! Gue ga percaya omongan orang sok polos kaya lo. Awas lo ya!!!" Nada Tasya terdengar mengancam membuat bulu kuduk Aisyah merinding.


Astagfirullahaladzim...

__ADS_1


__ADS_2