
Hanya butuh waktu kurang dari 20 menit, untuk Rayyan sampai di lokasi yang di share oleh pak Madi. Ia bahkan belum sempat mengganti bajunya. Jalau saja Am melihat bagaimana ayahnya berkendara tadi, ia pasti akan berdecak kagum sembari berkata 'Ayah tu kelen' seperti yang biasa ia ucapkan.
Rayyan berhenti tepat di sebuah rumah mewah dengan halaman yang sangat indah. Ia segera turun dari motornya saat melihat mobilnya terparkir di halaman rumah tersebut. Tak jauh dari rumah itu, pak Madi nampak duduk santai di sebuah pendopo yang terbuat dari kayu jati.
Dengan langkah lebarnya Rayyan menghampiri pria tua yang sedang menikmati kopi kemasan. Melihat kedatangan Rayyan, buru-buru pak Madi berdiri untuk menyambutnya.
"Pak Rayyan--"
"Dimana Shafa pak Madi?" Potongnya tanpa basa-basi. Ia perlu bertemu istrinya dan meminta penjelasan atas semua kebohongan yang telah dilakukannya.
Pak Madi menyadari, ada yang salah dengan majikannya ini. Rayyan yang ia lihat kali ini bukanlah Rayyan yang selalu bersikap tenang dan meneduhkan. Tapi, sebaliknya. Tak ada senyum hangat seperti yang biasa ia lihat.
"Di...di belakang sana, Pak," ucapnya terbata. Tangannya refleks menunjuk taman belakang rumah tersebut.
Ya Allah, ada apa dengan pak Rayyan? Semoga mereka baik-baik saja. Doanya kala melihat Rayyan berjalan tergesa-gesa ke arah yang telah di tunjukkan oleh pak Madi.
Rayyan menghentikan langkahnya tepat di bagian belakang rumah mewah tersebut. Ia tak tahu bahwa di belakang rumah itu ada sebuah taman luas nan indah. Ia berfikir sejenak, apa yang di lakukan istrinya di tempat itu? Bukankah tadi ia meminta izin bertemu Amel?
"Perfect! Good job dear" Terdengar suara wanita yang terdengar bahagia. Rayyan menoleh ke kanan ke arah sumber suara. Retina matanya menangkap 3 orang tengah duduk di atas kursi lipat tengah fokus memperhatikan layar laptop. Tak jauh dari kursi mereka ada sebuah kamera yang masih terpasang di atas stand besi lengkap dengan atribut lain yang di gunakan untuk merekaman.
"Gue yakin, ini pasti bakal lebih hits dari video sebelumnya Fa. Yuhuuu... Siap-siap panen duit deh lu" Ujar Amel menggebu-gebu. Ia tak sadar pria yang tengah berjalan ke arahnya mendengar semua ucapannya. Sekaranf semakin jelas semuanya.
"Amiiin... Semua berkat elo dan Andre. Thanks ya Mel kalian udah banyak bantu gue" Balasnya. Ucapan Shafa itu kian membakar amarah Rayyan.
Posisi mereka yang membelakangi Rayyan membuatnya tak menyadari kehadiran pria yang sedang terbakar amarah tersebut. Rayyan melangkah perlahan dengan wajah yang kian menegang. Terlebih saat jarak mereka tinggal beberapa meter saja. Rayyan dapat mendengar dengan jelas suara Shafa yang tengah menyanyikan lagu berjudul "Mergo Saranghae" yang baru pertama kali Ia dengar. Ia tak bisa lagi menahan dirinya saat melihat wajah istrinya terpampang jelas di layar laptop di depan Shafa.
"SHAFA!!!"
Sontak Shafa dan Amel terperanjat mendengar suara berat penuh penekanan. Se per sekian detik Shafa dan Amel saling bertukar pandang sebelun keduanya bersamaan menoleh. Sementara Andre memilih untuk segera menutup laptop di hadapannya.
"Ma..Mas Ray," ucap Shafa terbata. Jantungnya seakan mau lepas dari tempatnya kala matanya bersitatao dengan mata Rayyan yang begitu tajam menghunusnya.
Shafa segera menunduk, tak sanggup menatap wajah marah Rayyan. Tangannya nampak gemetar. Ia tak tau harus berbuat apa.
"Em.. Pak Rayyan saya bisa jelaskan. Ini--"
"Diam! Saya tidak meminta kamu menjelaskan!" Bentaknya pada Amel yang membuat gadis itu diam seketika. Andre pun tak bisa berbuat apa-apa. Sejak awal ia telah mengingatkan Shafa akan hal ini.
"Pulang Sekarang!" Tak menunggu lama, Rayyan segera menarik keras lengan Shafa membuat Shafa bangkit dari duduknya. Shafa sedikit meringis saat Rayyan menariknya pergi meninggalkan tempat itu. Shafa berusaha mengimbangi langkah cepat Rayyan yang masih menggenggam lengan kanannya.
__ADS_1
"Mas..."
"Kamu jelaskan semuanya di rumah" Ucapnya datar.
Rayyan membawa Shafa menuju mobil. Setelah memasukkan Shafa ke dalam mobil ia sendiri membuka pintu hendak duduk di balik kemudi.
"Mas Am dan Mbak Zizi masih di dalam rumah pak" Teriak pak Madi mengingatkan.
Rayyan menggeram seraya menutup pintu mobil dengan keras. Shafa memejamkan matanya saat mendengar hantaman keras pintu mobil. Air matanya tiba-tiba luruh melihat sikap Rayyan.
"Am... Zifara?" Panggil Rayyan dengan suara kerasnya.
Tak lama dua orang bocah berlari dari arah dalam rumah di ikuti seorang pengasuh di belakangnya.
"Ayah!!!" Panggil keduanyaa seraya menubrukkan tubuh mereka pada sang ayah.
"Dengan sekali gerakan Rayyan membawa Zizi dalam gendongannya. Sementara tangan kanannya menggandeng tangan Am.
"Eh... eh mau di bawa kemana? Bu Shafa menitipkan mereka pada saya," sang pengasuh mencoba menghalangi Rayyan.
Rayyan menghela nafas berat. Sekarang, ia bahkan seperti penculik yang menculik anak-anaknya sendiri.
"Saya ayah mereka. Ibunya sudah berada di dalam mobil" Ucap Rayyan datar tanpa ekpresi.
"Bibi, ini ayah tu. Ayah Layyan tu tau!" Ujar Am memberitahukan sang pengasuh.
Susi, nama pengasuh itu. Ia menatap Am dan Rayyan secara bergantian. "Mirip banget!" Gumamnya namun masih bisa terdengar jelas.
"Permisi, kami harus pulang." Segera, Susi menyingkir memberi jalan pada ayah dan anak yang terlihat serupa tersebut.
"Pak Madi, ini kunci motor saya. Pak Madi tolong bawa motor saya pulang" Rayyan menyerahkan kunci motornya sebelum masuk ke dalam Mobil dimana istrinya berada. Belum sempat pak Madi menjawab, Rayyan segera masuk ke dalam, meninggalkan pak Madi yang masih bingung.
"Nggak salah ini, saya naik motor gede?" Pak Madi nampak menggaruk belakang kepalanya sembari memperhatikan motor sport hitam milik sang majikan.
"Mas--"
"Am, tadi lagi ngapain" Potong Rayyan. Ia menulikan pendengarannya atas panggilan snag istri. Sedng Shafa hanya bisa menghela nafas panjang. Dalam hal ini dirinya memng bersalah, tapi bukankah ia memiliki alasan melakuka semua itu.
"Atu main game tama Bibi tadi. Atu menang telus loh ayah" ucapnya bangga.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Shafa sama sekali tidak membuka suara. Ia hanya mendengarkan ocehan anak-anaknya. Setidaknya mereka tidak sadar jika ayah dan Mommynya sedang perang dingin.
Begitu sampai di rumah Rayyan segera menghampiri Aisyah yang tadi sempat ia hubungi.
"Bawa Am dan Zizi jalan-jalan. Ajak serta bi Lastri" Ucap Rayyan pada Aisyah. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dalam dompetnya dan memberikannya pada Aisyah.
"Jangan banyak tanya. Lakukan saja sesuai yang saya katakan. Saya ada urusan dengan mommy mereka" Baru saja Aisyah hendak menjawab Rayyan sudah menyelanya. Aisyah hanya mengangguk. Ia pun bisa melihat kecanggungan yang terjadi di antara pasangan suami istri itu.
Tak butuh waktu lama untuk Aisyah membujuk Am dan Zifara agar mau main bersamanya. Sementara Shafa mengikuti langkah Rayyan yang langsung menuju kamar mereka.
"Mas, dengerin aku dulu"
"Kita bicara di dalam" Rayyan membuka pintu membiarkan Shafa masuk terlebih dahulu.
Klek!
Bukan hanya menutup, Rayyan juga mengunci pintu kamar agar anak-anaknya tak bisa sewaktu-waktu masuk.
"Apa yang kamu lakukan di belakangku Shafa?" Rayyan menatap tajam istrinya yang tengah duduk di susi tempat tidur.
"Mas, aku minta maaf tapi tolong dengerin penjelasanku dulu" ucapnya memohon. Rayyan ketika marah, benar-benar menakutkan di mata Shafa. Ia masih teringat beberapa tahun lalu Rayyan bahkan sempat menamparnya ketika ia sedang emosi.
"Apa yang akan kamu jelaskan? Mau menjelaskan bahwa kamu telah menjual dirimu untuk dinikmati oleh banyak mata dan telinga. IYA!?" Bentaknya di akhir kalimat berhasil membuat hati Shafa teriris.
Sakit! Saat menengar kalimat Rayyan yng terdengar sangat merendahkannya. Tubuh Shafa bergetar, ia tak bisa lagi menyembunyikan tangisnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa Shafa? Kenapa kamu lakukan ini sama Mas?" Rayyan masih terus melampiaskan amarahnya dengan mencecar Shafa dengan pertanyaan yang menyudutkannya.
"Mas, hanya minta kamu bersabar Shafa. Apakah segitu tidak bisanya dirimu untuk menerima kondisi kita saat ini?" Tanyanya lagi. Rayyan beberapa kali membuang nafas kasar untuk mengontrol emosinya.
"Aku cuma pengen bantu Mas Ray," Shafa mencoba membela diri sambil terisak.
"Kamu tahu Shafa? Yang kamu lakukan ini bukannya membantuku tapi semakin membebaniku!"
"Mas, Tolong maafin aku" Shafa bangkit memeluk tubuh suaminya yang masih menegang. Ia bisa mendengar dengan jelas deru nafas Rayyan yang memburu. Untuk pertama kalinya, Rayyan tidak membalas pelukan wanita yang telah melahirkan dua orang anaknya.
"Kamu tau Shafa, diluar sana banyak laki-laki yang mengagumi suara dan juga tubuhmu. Sekalipun kau menutupnya dengan khimar dan cadarmu" Rayyan berucap sambil memalingkan wajahnya menatap dinding berwarna cream tersebut.
Shafa tak mampu berkata-kata. Ia semakin mengeratkan pelukannya sambil terisak. Sedih, menyesal dan sakit hati. Itulah yang ia rasakan saat ini. Ia sedih karena Rayyan tak sedikitpun mendengarkan penjelasannya. Pun, ia menyesal karena menutupi semua ini dari suaminya. Namun, yang membuatnya sakit hati adalah ucapan Rayyan yang terus menyudutkannya, seolah dirinya adalah pendosa yang tak pantas menerima maaf.
__ADS_1
"Jika materi seperti dulu yang Shafa inginkan. Saya akan berikan. Seperti yang kamu inginkan" Ucapnya sebelum melepaskan tubuh Shafa yang tengah memeluknya erat.
"Mas Rayyyy!!!" Teriak Shafa tak kala Rayyan keluar meninggalkan dirinya seorang diri di dalam kamar.