
"Mommy ini apa?" Tanya Am yang sedang memperhatikan minuman sang ibu.
"Air jahe Am. Am mau coba?" Tanya nya sambil menyodorkan gelas berwarna keruh tersebut. Secepat kilat Am menggeleng sambil memencet hidungnya. Ia tak suka arom jahe yang begitu kental.
"Mbak Shafa masih sakit ya? Kok dari beberapa hari ini minum air jahe terus?" Tanya bi Lastri yang tak sengaja mendengar obrolan ibu dan anak di meja makan tersebut.
"Enggak bi, saya hanya ingin jaga kualitas suara biar nggak serak" Jawab Shafa.
Setelah selesai mengurus makan siang anak-anaknya dan menidurkan mereka. Shafa beranjak menuju lantai dua rumahnya. Di lantai dua tersebut ada 4 ruangan. 2 diantaranya adalah kamar tidur, dan 2 lagi merupakan ruang kerja Rayyan yang terdapat perpustakaan mini di dalamnya dan satu lagu adalah studio mini milik Shafa. Dimana di dalamnya terdapat alat musik, alat lukis, dan segala sesuatu berbau seni. Shafa dulu kerap menggunakan tempat ini untuk menghibur diri. Meluapkan kesedihan dan emosinya melaui bait demi bait lagu.
Sejak beberapa hari lalu Shafa berfikir untuk memanfaatkan sosial media yang ia miliki sebagai penghasil pundi-pundi rupiah seperti yang pernah ia geluti sebelum menikah dengan Rayyan dulu. Instagram, cek, youtube cek, facebook cek. Ah, tiga sosial media tersebut rasanya sudah cukup untuk langkah awalnya. Hanya dalam kurun waktu hampir satu minggu, instagram miliknya sudah memiliki ribuan follower. Akun baru dengan nama @ShafaAzura tersebut memang tak asing. Namun, ini merupakan akun baru kl tak ada lagi gambar-gambar vulgar dan buka-bukaan dirinya seperti akun lamanya.
Selanjutnya ia mengecek kembali channel youtube yang beberapa bulan lalu sempat viral dengan bebera lagu yang ia recycle kmbali. Semua berkat Yolanda yang membantunya menyalurkan hobbi sekaligus sebagai tempat meluapkan perasaan galaunya kala menanti kepulangan Rayyan.
Shafa menscroll komentar-komentar juga request yang ada di dalam channel Youtube miliknya. Video yang ia unggah beberapa bulan lalu sudah di tonton lebih dari 1 juta viewer. Hal ini tentu memberikan keuntungan baru bagi Shafa. Tak sedikit dari pengikutnya yang minta diperlihatkan wajah asli pemilik akun Zizi tersebut.
"Aku ngumpulin duit dari sini aja dulu kali ya, habis itu baru buat modal buat produksi baju" Gumam Shafa sambil menulis rencananya dalam sebuah book planner. Jangan salah, di era yang serba digital seperti saat ini, menjadi youtuber bisa menghasilkan rupiah yang jauh lebih besar dari gaji seorang aparatur sipil negara. Banyak orang yang mendadak menjadi milyarder hanya karena mengunggah content content yang di anggap menarik. Namun, tetap saja ini tidak bisa di jadikan sebagai pekerjaan tetap. Karena masa akan berubah, zaman pun terus berganti dengan begitu cepat.
Shafa mengarahkan kamera miliknya untuk mengambil angel dari samping sehingga hanya tubuh bagian smapingnya yang nampak. Ia sudah memilih beberapa lagu yang akan ia recycle yang tengah viral saat ini di antaranya adalah lagu yng berjudul "Aisyah Istri Rasululloh". Lagu tersebut adalah lagu pertama yang akan ia nyanyikan.
Setelah hampir dua jam Shafa melakukan rekaman di ruangan yang ada di lantai dua kamarnya, ia segera mengirim hasil rekaman videonya pada Amel, sahabatnya. Pacar Amel adalah editor handal yang mampu membuat video biasa menjadi luar biasa.
"Lo yakin Fa? Kalau pak Rayyan marah gimana?" Tanya Amel dari balik telefon. Setelah menerima kiriman video mentah dari Shafa, Amel segera menelfon sahabatnya itu.
"Yakin Mel, Mas Ray nggak bakalan tau. Please Mel, lo taukan kondisi gue sekarang. Gue nggak tega lihat mas Ray berjuang sendirian. Lagian kan aku nggak bikin sesuatu yang melanggar norma agama Mel" Shafa mengiba, berharap sahabatnya mau membantunya.
"Oke...oke. Tapi apa tidak lebih baik di diskusiin dulu sama pak Rayyan Fa. Biar nggak ada salah paham nantinya" Ujar Amel memberi petuah.
"Nggak perlu Mel, mas Ray udah terlalu banyak pikiran. Aku nggak mau dia stress dan sakit, lagian gue juga nggak niat jadi artis kali mel. Cuma nyari subscriber yang suka sama suara gue aja. Gue nggak bakal nongolin wajah gue Mel" Balas Shafa.
"Ya udah, serah lo aja. Ntar gue kabari kalau udah rampung"
"Thank you aunty Amel cantik" Puji Shafa sebelum mengakhiri panggilan.
Wajah sumringah Shafa yang baru keluar dari ruang seninya berubah menjadi pias saat mendengar tangisan anak-anaknya di lantai dasar. Ia segera berlari menuruni tangga dan mendapati Rayyan yang baru saja pulang dan berusaha menenangkan kedua anaknya.
Rayyan menatap Shafa dengan tatapan penuh tanya. Tak biasanya ia meninggalkan Am dan Zizi sampai menangis seperti itu.
"Anak-anak Mommy kenapa?" Shafa segera menghampiri kedua buah hatinya yang masih duduk di atas lantai. Ia mungkin terlalu fokus dengan rekamannya hingga melupakan anak-anaknya yang sedang tidur di kamar.
"Mommy akal" Teriak Zizi sambil menolak mommynya. Ia memilih meraih tangan ayahnya begitu pula Am. Keduanya kini berada di pelukan Rayyan yang masih mengenakan jaket.
"Cup... Cup. Anak ayah nggak boleh cengeng ya" Ucap Rayyan sambil mengusap kepala kedua buah hatinya.
"Kamu dari mana? Bi Lastri dari tadi nyariin. Anak-anak nangis sampai gemetar kok nggak dengar?" Rayyan menatap Shafa dengab tatapan tajam. Ada perasaan kesal yang bercokol di hatinya. Ia baru saja pulang kerja, lelah dan harus di hadapkan dengan dua orang anaknya yang menangis histeris di atas lantai.
__ADS_1
"Maaf, Mas. Aku tadi di atas, kamar di atas kan kedap suara, jadi nggak dengar" Ucapnya sambi meraih tas di bahu Rayyan.
"Lain kali jangan tinggalkan mereka sendirian," Ucap Rayyan yang di balas anggukan oleh Shafa.
Seakan melupakan marahnya pada sang ibu siang tadi. Malam ini Am dan Zifara merengek pada sang ibu untuk pergi ke time zone. Sudah lama mereka tidak menghabiskan waktu berasama main di luar. Selain karena keuangan yang menipis, kesibukan Rayyan semakin bertambah. Alih-alih tidak menerima tawaran mengajar kelas malam, berbagai tawaran mengisi kelas secara online berdatangan. Selagi itu tetap membuatnya berada di rumah, Shafa sih boleh-boleh saja. Seperti malam ini, Rayyan tengah sibuk dengan laptop dan earphonenya untuk menyampaiakn materi, di sudut ruangan. Sementara kedua anaknya tengah ricuh ingin jalan-jalan.
"Ayo mommy... Atu mau matan es klim tama mandi bola mommy" Am terus saja menarik lengan Shafa yang juga sibuk dengan gadgednya.
"Iya mommy... Acu uga" Rengek Zifara.
"Am, Zizi! Lihat, ayah masih sibuk. Nanti ya kalau sudah nggak sibuk lagi" Bujuk Shafa.
"Am melepaskan pelukannya pada sang ibu namun segera Shafa menarik lengannya saat tau ia akan menghampiri sang ayah.
"Ayah kerja! Jangan gangggu!" Shafa mengingatkan. Sontak hal itu membuat mata bocah berusia 3 setengah tahun itu berkaca-kaca, dan suara tangisnya pecah di ruangan itu.
Cukup lama Am menangis hingga ayahnya datang menghampirinya.
"Anak ayah kenapa lagi?" Tanyanya yang langsung mengambil alih Am dari gendongan mommy nya.
"Atu mau mandi bola ayah, Mau matan es klim cama kue juga. Iya tan Zi?" Liriknya ada sag adik yang ikut mengangguk.
"Ya udah, habis Shalat isya kita pergi ya?" Ucap Rayyan membuat ekspresi wajam Am berubah seketika.
"Ye," teriaknya kegirangan. Shafa hanya bisa menghela nafas melihat Rayyan mengiyakan permintaan Am. Di akhir bulan kondisi keuangan semakin menipis, belum lagi saat keluar bersama anak-anaknya tidak mungkin mereka tidak membeli sesuatu. Bakery langganan mereka sudah barang tentu wanjib di datangi dan sekali memesan kue kesukaan anak-anaknya, bisa seharga 1 gram emas. Katakan bahwa ia menjadi emak-emak perhitungan sekarang. Yah, kondisi yang memaksanya melakukan itu.Ah, Rasanya Shafa menyesal membiasakan anak-anaknya jajan jajana berkelas.
"Rizki yang tak disangka dari mana, kalau siang malam mas terus bekerja" Batin Shafa, setelah melihat pengirimnya adalah salah satu nama kampus ternama. Bisa di tebak, itu adalah bayarannya mengisi beberapa kelas online.
"Ya Allah, nyesek banget. Aku pengen cepet keluar dari situasi ini" Keluhnya dalam hati. Ia mulai lelah dengan semua ini.
Seperti janjinya, tepat setelah Shalat isya, Shafa dan ketiga anaknya meninggalkan rumah menuju salah satu pusat perbelanjaan , demi memenuhi keinginan Am dan Zifara.
Kali ini Shafa hanya diam mengamati Am dan Zifara yang tengah asyik bermain sedangkan Rayyan ikut bermain permainan lain bersama Zafran. Seperti tak ada beban di wajah tampan suaminya itu.
"Apa gue yang kebanyakan mikir ya?" Shafa mendekati kedua anaknya yang terlihat sudah lelah bermain.
"Haus mommy!" Ucap Am sambil memegang tenggorokannya.
"Itu ayah, Am panggil ayah ya? Kita cari minum" Ucapnya sambil menunjuk Rayyan yang sedang asyik bermain tembak-tembak bersama si sulung.
Seperti keinginan Am, mereka kini berada di sebuah kedai es krim yang menjual beraneka macam es krim dengan varian rasa. Anak-anak nampak senang, mereka berceloteh panjang lebar tapa henti. Tanpa sadar kebersamaan mereka menjadi perhatian dua pasang mata yang juga berada di tempat itu.
"Permisi?" Ucap suara lembut yang beberapa waktu lalu memperhatikan keluargaa kecil tersebut.
"Iya?" Rayyan menoleh, mendapati dua orang gadis muda yang nampak tersenyum malu-malu padanya.
__ADS_1
"Ini benar pak Rayyan ya?" Tanyaa salah satu dari mereka.
"Iya benar, ada apa ya?"
"Kami mahasiswa bapak, yang tadi ikut kuliah online bapak" Salah satu dari mereka menjelaskan.
"Oh, begitu" Rayyan hanya tersenyum ramah kepada mereka. Mungkin itu hanya Mahasiswa yang ingin menyapa dosennya.
"Ayah, tata itu tiapa? Kok liatin ayah telus?" Ketus Am. Ia tak suka ayahnya di lihat terlalu lama oleh orang tidak di kenalnya.
"Itu kakak do sekolah ayah nak" Ucap Rayyan sambil menarik Am dalam pangkuannya.
"Ini anak-anak bapak? Imut sekali" Pujinya.
"Alhamdulillah. Masih ada satu lagi, itu dia," Rayyan menunjuk Zifara yang ikut Shafa ke meja kasir.
"Istrinya bapak?" Lagi-lagi mereka bertanya tanpa canggung.
"Iya,"
"Hallo bu, kami mahasiswanya pak Rayyan" Ucapnya sambil mengangguk sopan, yang juga di balas anggukan ramah oleh Shafa.
"Oh ya pak, kami boleh foto bareng nggak pak? Buat kenang-kenangan" Ucap gadis berkuncir satu malu-malu.
Rayyan melirik ke arah Shafa, takut-takut kalau wanita itu cemburu atau marah. Tapi sepertinya malam ini ia bersikap santai.
"Oh ya silahkan. Mas, diajakin foto kok diam saja" Shafa menyenggol kaki Rayyan yang tidak memberikan respon.
"Oh.. iya, Silahkan" Jawab Rayyan canggung.
"Ibu juga" Ucap salah satu dari mereka yng menoleh pada Shafa yang tengah sibuk dengan sosial medianya.
"Sama Zizi saja ya, Ini fotocopyan saya" kelakar Shafa sambil meletakan Zifara dipangkuan sang Ayah bersama Am.
Dengan senang hati mereka mengambil beberapa gambar bersama Rayyan dan anak-anaknya.
"Terimakasih pak, bu" Ucap keduanya setelah mendapatkan gambar bersama dosen mereka.
"Sama-sama"
Kedua mahasiswa tersebut kembali ke mejanya dengan perasaan gembira. Jarang-jarang mereka bisa foto bareng dosen plus dengan anak-anak mereka yang sangat menggemaskan.
Segera keduanya mengunggah foto-foto tersebut ke sosial media miliknya yang langsung mendapat banyak tanggapan.
__ADS_1
Kerja..Kerja... Kerja
Mohon maaf ya yang lama nunggu updatan.... Author beberapa minggu lalu sibuk kerja nilai dan urus rapor anak2, ini prioritas karena digaji negara jd g boleh males2an... ๐ Terimakasih sudah menunggu๐๐๐