Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Serpihan Masa Lalu?


__ADS_3

Jantung Andi serasa terlepas dari tempatnya mendengar teriakan Shafa memanggil nama Am. Tubuhnya refleks ingin berlari menghampiri bocah kecil yang nampak hampir tenggelam, beruntung dengan sigap Jeffri segera mengangkat tubuh kecilnya yang sudah meminum air tersebut.


"Kak, tolong Am kak... Hiks...Hiks" Ucapnya sambil memperhatikan Jeffri yang tengah memberikan pertolongan pertama untuk Am.


"Am, bangun nak... Kak Jeff cepat kasi bangun Am" Teriaknya pada Jeffri, tubuhnya sudah bergetar hingga menggendong Zifara pun ia tak mampu. Melihat itu Aini dengan cepat mengambil Zifara dan menarik Hafiz beserta Zafran untuk minggir ke tepi.


"Tenang Fa..." Aini mencoba menenangkan Shafa yang tengah panik melihat putra kecilnya terbaring lemas.


"Kak Jeff, Kenapa Am belum bangun? Bangun Am! Ayahmu akan pulang!" Teriak Shafa. Am biasa segera bereaksi dalam hal apapun jika Shafa menyebut ayahnya. Teriakannya itu Membuat orang di sekitar datang mengerumuninya.


Jeffri bangun Jeffri!!!!.


"Suara itu lagi" Andi memegang kepalanya yang teras makin berat. Bahkan dirinya tak mampu menopang tubuhnya menyebabkannya terduduk di bawah pohon tersebut. Kali ini ia seperti mendengar suara wanita yang sedang menangisi seseorang. Sekelebat bayangan muncul tapi tak begitu jelas di mana seorang pria terbaring di brangkatlr yaang sedang di dorong oleh beberapa perawat.


"Ya Allah, kenapa ini?" Keluhnya. Keringat mulai bercucuran di wajahnya.


"Kang Andi! Dari tadi aku cariin eh taunya ma---"


"A...aish, ke...kepalaku"


Brukk...


Mendadak ia tak sadarkan diri. Aisyah segera berlari menghampirinya.


"Kang... Kang Andi!!! Kang bangun!" Aisyah menepuk-nepuk pipi Andi, wajahnya mendadak pucat.


"Ya Allah, Kang! Jangan mati dulu" Aisyah nampak kebingungan menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Mang!!! mang...Tolongin mang" Teriaknya pada seorang yang hendak memancing.


"Astagfirullah, ini teh kenapa neng?" Ia segera menghampiri Aisyah yang terlihat kebingungan.


"Tolong bawa ke puskesmas mang." Dengan cekatan tubuh Andi di gotong oleh dua orang warga untuk segera di bawa ke puskesmas.


.


.


.


.


"Bagaimana dokter kondisinya?" Juragan Amir dan istri langsung menyusul Andi ke puskesmas sesaat setelah menerima telpon dari Aisyah.


Andi baru saja membuka matanya setelah hampir 20 menit tak sadarkaan diri. Wajahnya pucat dan pandangan matanya terlihat kosong.


"Pak, apa yang bapak rasakan?" Tanya dokter setelah memeriksa bagian mata dan tekanan darah Andi.


"Kepala saya sakit dokter, akhir-akhir ini saya seperti mendengar suara-suara dok" Ujarnya dengan suara lemah.


"Suara seperti apa itu pak?"


"Terkadang suara anak kecil, kadang suara wanita dan suara lainnya"


"Bisa di jelaskan secara rinci pak?" Tanya dokter sambil menulis sesuatu di buku catatannya.

__ADS_1


"Beberapa hari lalu saya bertemu seorang anak kecil. Dia memeluk saya dan memanggil saya ayah, ada beberpa ucapan anak kecil itu yang tiba-tiba membuat saya tidak asing, sepeti kata Mesir, saya tidak asing dengan tempat itu dan merasa pernah berada disana, tapi saya tidak ingat. Saat melihat buah mangga pun saya seperti mendengar suara seseorang meminta mangga, dan pohon yang sudah berbuah. Setelah pertemuan dengan bocah itu saya jadi merasakan perasaan aneh, perasaan sedih saat melihatnya menangis dan perasaan yang saya sendiri tidak bisa menjelaskannya" Ujar Andi.


Dokter nampak sedang berfikir sambil membiuat coretan yang ada di bukunya.


"Apa mungkin saya berhalusinasi atau mengalami gangguan kejiwaan dok?" Tanyanya.


"Tidak pak, suara yang bapak dengar bisa jadi merupakan serpihan ingatan yang mulai muuncul karena adanya stimulus dan rangsangan dari luar. Jika benar yang bapak katakan tadi, bisa jadi anak yang bapak temui itu memiliki ikatan yang cukup kuat dengan bapak, bisa jadi anak bapak atau seseorang yang dekat dengan bapak"


Deg...!!!


Anak?


"Tapi, ibunya mengatakan ayahnya sedang berada di Mesir"


"Tapi bukankah bapak juga mengatakan bahwa bapak tidak asing dengan kata mesir itu?" Balas dokter.


"Awwwh" Andi kembali memegang kepalanya merasakan sakit yaang kembali menyergapnya.


Am...


"Jangan dipaksakan pak!" Dokter mencoba menenangkan Andi yang tengah kesakitan.


"Rileks pak"


"Dokter bagaimana? Apa Andi bisa mengingat kembali?" Tanya istri Haji Amir yang tak kalah panik. Ia terus mengusap kepala Andi sambil membisikkan kalimat-kalimat istigfar.


"Semoga bisa bu, melihat dari apa yang bapak katakan, mungkin perlahan dia bisa mengingat kembali masa lalunya. Kuncinya ada pada anak itu. Bisa jadi dia bagian dari keluarga pak Andi. Dan untuk mengetahui kondisi saraf otaknya saat ini, Pak Andi harus di bawa di rumah sakit dengan fasilitas yang lengkap dan dokter ahli yang langsung menanganinya." Ujar dokter.


"Dimana dokter? Dimana itu, saya akan bawa Andi segera kesana" Ujar juragan Amir.


"Siapa dokter? Dimana tempatnya?"


"Sabar atu bah!"


"Namanya, Dokter Malvino Surya Wijaya, dia saat ini bertugas di Healthy Safe Clinic atau HS Klinik, Jakarta" Ujar dokter tersebut.


"Itu teh yang di sebutkan Aish kemarin ya Mbu?" Haji Amir menoleh pada istrinya.


"Benar bah, ie teh tempat na Aish praktek"


"Baik dokter, kami segera kesana" Ucap abah mantap.


.


.


.


.


Aisyah menelisik wajah Andi yang terlihat masih pucat dan bingung. Sepulang dari puskesmas tadi, ia langsung beristirahat dan tak banyak bicara.


"Kang!!!" Ia menekan bahu Andi dengan telunjuknya. Suaranya cukup membuat Andi sadar dari kebengongannya.


"Kang kunaon ga cerita sama Aish soal anak itu?" Tanya Aisyah sambil duduk bersila di depannya.

__ADS_1


"Saya tidak yakin Syah. Melihat dari penampilan anak itu saja, saya yakin dia bukan orang sembarangan" Terang Andi.


"Akang lupa sama jam tangan akang? Menurut akang, semua ornag bisa memiliki itu? Enggak kang, akang pasti bukan orang sembarangan juga"


"Tapi saya nggak merasa seperti itu Syah." Ellaknya.


"Kan akang amnesia. Bisa aja jiwa horang kayah nya akang ikut ngilang" Ujar Aish.


"Aish, jangan ganggu Andi dulu. Biarkan dia istirahat" Istri Haji Amir memberikan segelas air untuk Andi.


"Terima kasih ambu"


"Ambu, dokter teh tadi ngomong naon?" Aisyah sedikit bergeser memberikan ruang buat Ambu untuk duduk di dekat Andi.


"Andi teh kudu di bawa ke Jakarta, ke HS Klinik. Disana katanya ada dokter ahlinya" Jawab Ambu.


"Tuh kan Aish bilang apa! Disana teh memang lengkap. Mana dokternya ganteng-gantengbu" Aisyah cekikikan membayangkan dokter tampan yang mencuri perhatian hampir semua perawat dan bidan muda yang bertugas di tempat itu.


"Saha naminya tadi Ndi? Ambu lupa"


"Dokter Malvino Surya Wijaya ambu" Jawab Andi.


"APAAAA?????"


"Aish!!!" Ambu langsung memukul paha Aisyah lantaran berteriak cukup kencang.


"Dokter Malvin? Dokter paling ganteng di HS Klinik?" Ia masih tak percaya dokter tersebut yang direkomendasikan oleh dokter dari puskesmas tadi.


"Ia, kamu kenal Syah?" Tanya Andi.


"Yaa Ampun kang, siapa yang nggak kenal dokter tampan, dermawan dan rupawan itu. Kapan perginya ambu? Aish siap mengantar sampai ke ruangan dokter Malvin!" Jawab Aisyah menggebu-gebu.


"Kamu suka sama dokter itu Syah?"


"Nggak ada yang nggak suka sama dokter ganteng se Indonesia Raya itu kang. Walaupun bertepuk sebelah tangan. Tetep aja dokter Malvin yang terbaik"


"Maksudnya? Kamu teh suka sama suami orang Aish?" Aambu sudah melotot pada gadis berusia 19 tahun itu.


"Sembarangan. Gini-gini teh Aish anti sama yang anmanya Pelakor, ambu! Ih amit amit Aish mah kalau mau jadi pelakor!"


Aku nggak mau ya mas, ada pelakor dalam rumah tangga kita!


Aandi mengernyitkan dahinya, kali ini suara wanita tak asing baginya.


"Lah terus kenapa bertepuk sabelah tangan, kalau pak dokternya belum menikah?" Tanya Ambu.


"Ya karena dokter Malvin itu cintanya cuma buat Shafa Azura, anak pemilik klinik itu" Terang Aisyah.


"Shafa?"


Shafa!!!


Shafa hamil Ray!


"Aaahhh.... Cukup Aish cukup!!!" Andi berteriak sambil kembali memegang kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2