
Rayyan bersama keluarga, di tambah Aisyah yang juga ikut duduk di meja makan sambil membantu Shafa menyuapi Zifara. Interogasi Aisyah semalam, berakhir saat ia mengakui bahwa dirinya habis makan siang bersama keluarga Malvin. Rayyan tak bertanya lebih lanjut. Cukup ia tahu bahwa adiknya mungkin sedang dekat dengan dokter berparas tampan itu. Sisanya ia akan mencari tahu sendiri.
"Mas, pagi ini aku mau ketemu Amel. Boleh ya?" Izinnya, sebelum sang suami berangkat ke kampus.
"Iya, tapi jangan lama-lama ya. Usahakan pulang sebelum Zaf pulang sekolah" Ucap Rayyan.
"Iya, Mas."
"Aish, kamu mau ke kampus hari ini?" Tatapan Rayyan beralih pada Aisyah yang duduk di sebelah kirinya.
"Iya kang. Mau tanda tangan pembimbing" Ucapnya jujur.
"Kalau begitu, berangkat bareng Zaf saja. Biar pak Madi yang antar kamu sampai di kampus." Ujar Rayyan.
"Iya," jawabnya pasrah.
"Nanti pulang ke sini saja. Supaya enak jawabnya kalau abah nelpon nanyain kamu." Lagi-lagi Rayyan memerintahkan sesuatu yang mempersempit pergerakan Aisyah. Ia tahu benar cara menjaga Aisyah yang memudahkannya memantau setiap gerak geriknya.
"Iya kang, iya!" Aisyah tak memiliki cukup keberanian untuk membantah.
Dasar otoriter. Duh, nasib kamu Zie, punya bapak galak. Yakin deh, kamu besar nanti pasti nggak bakal ngerasain namanya pacaran. Gumamnya sambil menatap gadis cantik yang tengah memakan roti di kursi bayi sebelahnya.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi, Zafran bersama Aisyah telah lebih dulu berangkat dengan menggunakan mobil. Sementara Rayyan masih bersiap sambil menunggu mesin motornya panas.
"Ayah tu kelen" Seru Am, saat Rayyan mengenakan jaket kulit hitamnya. Benar, ia terlihat keren dan cool.
"Ck, Mas pake motor yang matic aja napa?" Sewot Shafa tiap kali suaminya hendak pergi ke kampus dengan motor sportnya.
"Jangan, nanti ayah tu nda kelen lagi" Sahut Am. Rayyan terkekeh mendengar pembelaan putranya.
"Kelen, kelen! Memangnya Am mau ayahnya di lirik ciwi-ciwi? Am mau ayahnya nanti di ambil tante-tante genit?" Balas Shafa. Kesal banget mendengar sang anak muji-muji sang ayah yang memang terlihat sangat keren.
"Hush, Shafa ngomong apa sih? Ingat, setiap ucapan adalah doa" Ucapnya.
__ADS_1
"Mas, kok gitu sih? Awas ya Mas kalau macem-macem. Ingat ya Mas, anak Mas, udah tiga. Nggak usah sok cool" ketusnya sambil mencebijkkan bibirnya. Rayyan hanya tersenyum menanggapi ocehan sang istri yang hampir tiap pagi di dengarnya. Ia memang sekeren itu saat mengendarai motor Ninja berwarna hitam tersebut.
Cup!
Rayyan menangkup pipi istrinya dan mendaratkan kecupan sayang di keningnya.
"Mas bisa jaga diri, tanpa Shafa ingatkan. Sebaliknya, Shafa juga harus bisa jaga diri. Jaga kepercayaan Mas." Ucapnya tulus sambil menatap dalam manik mata sang istri.
Maafkan aku Mas. Aku belum bisa jujur. Tapi semua ini demi keluarga kita. Aku nggak tega melihat kamu berusaha sendiri.
Shafa mengangguk pelan, sebelum menyalami punggung tangan suaminya. Ia menghantar kepergian suaminya dengan doa, berharap Allah menjaga dan memudahkan segala urusannya.
Pagi itu, waktu masih menunjukkan pukul 09 lewat 5 menit. Shafa yang sudah menggantikan pakaian Am dan Zifara dengan pakaian keren milik mereka, tengah bersiap di depan cermin. Ia sudah memiliki janji temu sahabat sekaligus partner barunya.
Ponselnya bergetar, menampilkan satu pesan dari kontak milik Amel.
Bebs Amel😘 : Langsung ke Lokasi yah Fa. Kita udah stay di sini. Bunyi pesan dari Amel.
Shafa yang sudah siap dengan perlengkapannya keluar kamar dengan menenteng sebuah paper bag berisi baju ganti. Rencananya, hari ini ia akan mengambil video untuk lagu yang ia rekam beberapa waktu lalu dengan menggunakan latar alam terbuka.
Tak sampai 30 menit Shafa dan kedua anaknya telah sampai di lokasi yang di tuju. Di tempat itu hanya ada Amel, Andre, dan seorang baby sister yang di panggil khusus untuk mengajak Am dan Zizi bermain kala Shafa sedang bekerja.
"Jadi gini Fa, konsep kali ini, kita akan ambil gambar dengan posisi kayak gini. Jadi, gaya loe tetep candid, dengan fokus utama ke objek bunga-bunga ini. Tapi tetep ada beberapa part yang fokusnya ke elu. Cuma beberapa detik aja" Terang Andre sang sutradara. Sambil menunjukkan contoh gambar yang akan mereka ambil.
"Bagus sih, gue setuju" Jawab Shafa sambil mengangguk.
"Gue yakin, kali ini pasti bakal lebih hits dari yang sebelumnya. Soalnya dua hari ini gue lihat subscriber lo naik derastis" Ujar Andre sambil menyetel fokus kameranya.
"Amiin" Ucap Shafa dan Amel berbarengan.
"Tapi, gue harap ini yang terakhir ya Fa. Gue takut kalau suami lo tau, bakal ribet urusannya."
"Insha Allah Ndre. Lo tenang aja, Mas Ray nggak bakal tahu kok. Lagian kan gue pake cadar" Balasnya.
__ADS_1
"Gue cuma ngingetin Fa. karena feeling seseorang yang kita cintai itu kadang nggak bisa di bohongi. Ibarat kata nih, biar si Amel pake cadar ampe nutup semua badannya, gue pasti bakal ngenalin dia, suaranya juga, mau dia ngomong alus gimana juga pasti gue tau. Karena apa, karena disini ada hati, yang nggak bisa di bohongi" Ujar Andre sambil menunjuk dadanya. Sejenak ucapan Andre membuat Shafa terpaku sementara Amel terharu dan langsung memeluk sang kekasih.
Benarkah yang ia lakukan saat ini? Tapi, dibalik semua itu, ia punya alasan lain. Ia hanya ingin membantu suaminya. Hanya itu, bukan untuk untuk mencari popularitas atau panggung.
"Ya udah, gue siap-siap dulu" Shafa di bantu Amel mengganti pakaiannya di dalam mobil Andre.
Sementara itu, di kampus Rayyan hari itu ada seminar nasional yang di ikuti oleh sebagian besar mahasiswanya. Jadwal mengajarnya hari itu ia alihkan di lain hari, mengingat pentingnya seminar tersebut untuk menambah wawasan pengetahuan mahasiswa. Rayyan memanfaatkan kesempatan itu untuk pulang lebih awal. Ia berencana menjemput Zafran di sekolahnya. Sudah lama ia tak menjemput putra sulungnya itu di sekolah.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikum salam" Hanya bi Lastri yang menyahut ucapan salamnya.
"Mas Rayyan sudah pulang? Mbak Shafanya masih belum pulang, Mas." Ucap Bi Lastri memberitahu.
"Nggak papa Bi, saya hari ini memang pulang cepat" Balasnya seraya melangkah menuju ruang kerjanya yang ada di lantai dua.
Setelah meletakkan tasnya, Rayyan keluar dari ruang kerjanya hendak ke kamar untuk mengganti pakaian. Baru saja ia menutup pintu, matanya tak sengaja menangkap sebuah pintu yang tak tertutup rapat. Pintu yang berada tepat di sebelah ruang kerjanya. Setahunya ruangan itu adalah ruangan kerja Shafa. Ia sendiri tak pernah masuk ke dalam ruangan yang selalu terkunci tersebut.
Perlahan langkahnya mengarah pada pintu di sebelahnya. Ia mendorong hendel pintu hingga membuatnya terbuka. Rayyan cukup terkejut saat melihat isi dalam ruangan tersebut. Sebuah ruangan yang mirip dengan studio. Dimana di dalam nya terdapat sebuah piano, beberapa gitar dan sebuah biola. Tak hanya itu, ruangan itu di lengkapi dengan set recorder serta sebuah komputer.
Rayyan tak pernah tahu bahwa ada ruangan seperti ini di dalam rumahnya. Tunggu, tatapannya kini jatuh pada sebuah vas bunga yang berada di sudut piano. Vas dengan bunga edelweis di dalamnya.
Seketika itu darahnya seakan mendidih. Tatapan tajamnya memindai setiap detail interior ruangan tersebut. Bunga Edelweis, Gorden putih, Wallpaper dinding semua familiar di ingatannya.
Rayyan merogoh ponselnya, memastikan semua rahasia yang sedang di tutupi oleh sang istri sesuai dengan dugaannya.
Apa yang telah kamu lakukan Shafa?
Geramnya saat melihat latar video pada akun Zie_Zie tersebut ternyata adalah ruangan di mana ia berada saat ini. Tebaknya benar-benar tepat sasaran. Rayyan hampir lupa bahwa Zie Zie merupakan panggilan putri kecilnya.
Dengan perasaan marah dan nafas memburu, ia menempelkan ponselnya di telinga menunggu jawaban dari orang di seberang sana.
"Hallo, pak Madi dimana sekarang?" Tanyanya tanpa basa basi.
__ADS_1
"Di Perumahan Green Harmony pak, ngantar Ibu" Jawab pak Madi dari balik telfon.
"Share lokasi sekarang pak Madi! Jangan beritahu ibu. Saya akan menyusul" Ucapnya sebelum memutus panggilan.