Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Video Call


__ADS_3

Rayyan terburu-buru menuju ruangannya. Ia sudah terlambat 5 menit, dan hal itu di sebabkan oleh tugas barunya membantu mengurus ke dua anaknya yang super ajaib. Kemarin sore mendadak pak Ali dan mbak Yati pulang kampung karena ayah Dul yang merupakan anaknya mengalami kecelakaan. Sehingga mau tidak mau ia harus ikut turun tangan mengurus anak-anaknya.


"Vin? Sudah dari tadi?" Tanyanya pada Alvin, salah satu mahasiswa yang menjadi Asistennya.


"Iya pak"


"Maaf ya, saya ada kesibukan mendesak di rumah tadi" Balasnya sambil membuka kunci pintu ruangannya.


"Tidak apa-pak. Anak bapak tidak ikut lagi" Berbeda dengan beberapa hari sebelumnya, hari itu Rayyan datang ke kampus sendiri. Sekalipun demikian image "Hot Daddy" yang terlanjur melekat pada dirinya sangat susah untuk di hilangkan, pesona bapak 3 anak ini cukup membuat para mahasiswi berhalu ria.


"Tidak Vin, karena hari ini ada rapat jurusan" Rayyan memberikan tas berisi proyektor kepada Alvin dan segera menuju ke kelas untuk menunaikan kewajibannya.


Rayyan memasuki ruang kelas di sambut dengan senyuman ramah para mahasiswanya terutama dari kaum wanita tak terkecuali wanita cantik yang hari ini memakai dress kuning berkerah yang tak henti-hentinya memandang Rayyan dengan senyum dan tatapan kagum. Sepanjang proses belajar mengajar ini Rayyan berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukan kontak mata dengan gadis yang dengan sengaja duduk di kursi paling depan tepat di depan mejanya. Ia tahu bahwa dirinya sedang di perhatikan.


Sebenarnya bukan hanya Rianna yang selalu mencuri pandang pada Rayyan, beberapa mahasiswi lain pun nampak tersenyum malu-malu saat tak sengaja Rayyan memperhatikan mereka. Dosen muda, cerdas, tanpan dan sayang anak, sungguh merupakan calon suami idaman. Kalau saja Rayyan seorang duda atau masih single pasti berbondong-bondong mereka mendaftar menjadi istrinya.


Seusai mengajar, Rayyan kembali ke ruangannya untuk memeriksa beberpa proposal mahasiswa bimbingannya sambil menunggu jam makan siang tiba.


Drt...drt...


Getar ponsel diatas menja menghentikan kegiatannya membaca file yang ada di layar laptopnya.


"Shafa? Ngapain VC jam segini?" Gumamnya saat melihat panggilan video dari ID bernama "Mommy Am". Ia segera meraih ponselnya dan menggeser tombol hijau keatas.


"Hayyo ayah" Sapa bocah laki-laki dari dalam layar.


"Assalamualaikum anak ayah" Jawab Rayyan sambil tersenyum. Rupanya Am yang melakukan panggilan video padanya.


"Waalaikum calam ayah. Ayah kapan puyang?" Tanyanya langsung tanpa basa basi.


"Nanti sore ayah pulang nak, Am rindu sama ayah?"


"He.em. " Jawabnya di sertai anggukan


"Acu ugaa" Sahut Zizi yang kini nampak di layar separuh wajahnya.


"Zizi minggil" Am terlihat terganggu dengan adiknya yang berusaha untuk menampilkan wajahnya di layar.


"Acu au iat yayah" Bentak Zizi.


"Minggil Zizi" Ucap Am lagi sambil mendorong adiknya ke samping yang menyebabkan ia menangis.

__ADS_1


"Am, nggak boleh gitu sama adek nak" Rayyan mencoba menasehati anaknya dari jauh.


"Bialin ayah, Zizi nakal" Jawabnya santai tak menghiraukan adiknya yang tengah menangis histeris.


"Am... Adeknya diapain ini kok nangis?" Terdengar suara sang mommy menghampiri mereka.


"Acu au liat ayah mommy" Adu Zizi yang masih terdengar oleh Rayyan. Seketika itu pula layar yang menampakkan wajah Am berubah menjadi wajah Shafa yang terlihat acak-acakan. Rambutnya di ikat tinggi ke atas dengan beberapa helai menjuntai menandakan ia sedang sangat sibuk.


"Mas, ini anak kamu bikin aku darah tinggi tau nggak mas" Adu Shafa yang terlibat lelah.


"Sabar Sayang, namanya anak-anak" Balas Rayyan menenangkan.


"Sabar gimana mas? Am ini nakalnya nambah"


"Atu ngga nakal ayah" Teriak Am yang merasa tak terima.


"Memangnya Am kenapa? Shafa jangan marah-marah terus, kasian Am" Ucap Rayyan yang tega melihat duplicat dirinya di marahi sang ibu.


"Mas tau nggak, jam segini Am dan Zizi udah mandi 3 kali, tadi pagi pas aku tinggal beresin kamar, dia ngambil buah naga sama Zizi, pokoknya semuanya berwarna merah kena buah naga. Sampai kasian bi lastri harus nglaundry karpet lagi. Setelah bersih aku tinggal masak mereka malah main di taman belakang. Mas tau mereka main apa?" Rayyan menggeleng merespon pertanyaan Shafa yang berapi-api.


"Main pupuk cair buat semprot-semprotan sama Zizi. Bayangin aja kalau nggak sengaja ketelen gimana?" Ucapnya menjelaskan setiap detail kejadian yang di alami anak-anaknya.


Atu mau itut ayah!


"Shafa yang sabar ya, apa perlu kita cari ART baru menggantikan mbak Yati?" Tawar Rayyan. Ia begitu miris mendengar cerita Shafa tentang kelakuan anak-anaknya hari ini. Namun, jawaban Shafa melah menggeleng. Ia tersenyum lembut sembari berkata "Nggak mas, aku masih sanggup urus mereka".


"Ya udah mas lanjut kerja, jangan lupa makan siang ya, aku tutup. Assalamualaikum"


"Wa alaikum salam"


Shafa menutup panggilan video tersebut, ia tak menghiraukan Am dan Zizi yang masih ingin berbincang dengan ayahnya.


Tok...tok...


"Masuk" Ucap Rayyan saat mendengar pintu ruangannya di ketuk.


"Kamu?" Rayyan menghentikan kegiatannya seketika saat orang yangbtidak di harapkannya masuk di ruangannya dengan menentengbsebuah kantong.


"Ada yang bisa saya bantu?" Ia tak ingin bertele-tele.


"Maaf Mr. Ray, saya hanya mau membawakan ini untuk Mr. Ray" Ucapnya lembut sambil meletakkan kantung tersebutbdi meja Rayyan.

__ADS_1


"Silahkan di makan, itu saya sendiri yang masak" Imbuhnya. Baru saja Rayyan ingin bertanya ia sudah menjelaskan terlebih dahulu. Well, nyalinya lumayan. Sampai sejauh ini Rianna adalah satu-satunya mahasiswa yang paling beranibmendekati Rayyan sampai seperti ini.


Rayyan membuang nafas kasar "Terimakasih, saya harap ini yang pertama dan terakhir kali kamu melakukan ini" Ucap Rayyan tegas membuat senyum canggung terbit di bibir merahnya. Entah apa yang menyebabkan Rianna begitu berani sedekat ini ada Rayyan.


Setelah kepergian Rianna, Rayyan menjadi tak fokus pada kerjaannya. Ia menatap bungkusan yang ada di mejanya. Kalau Shafa tahu pasti akan terjadi perang dingin antara dirinya dengan sang istri.


"Assalamualaikum" Tanpa mengetuk pintu seorang wanitaa cantik dengan perut membuncit masuk dan langsung menatap bungkusan yang ada di atas meja Rayyan dan tanpa permisi langsung membuka kantong berwarna putih itu. Maklum wanita hamil satu ini tak kalah ajaib dari Shafa dulu.


"Waalaikumsalam bu Sonya"


"Wow...salad buah, ayam, jamur, ini punya Mr.Ray?" Tanyanya dengan wajah berbinar.


"Ibu Sonya mau? Itu buat bu Sonya saja" Balas Rayyan dengan seulas senyum ramah.


"Beneran? Ini mommy Am yang masak kan?" Tanyanya sambil mengangkat kantongbtersebut ke sofa yang ada di ruangan itu.


"Bukan, Itu tadi ada mahasiswi yang datang membawakan makan siang" Sonya langsung menghentikan tangannya yangbsedang membuka cup salad buah.


"Rianna?" Tanyanya memastikan.


"Hhh... Iya. Bu Sonya tahu, kenapa dia seperti selalu berusaha dekat dengan saya?" Rayyan benar-benar penasaran dengan mahasiswi itu.


"Hemm!" Jawab Sonya singkat. Ia kemabali fokus pada salad buah di hadapannya.


"Maksudnya?" Rayyan semakin menuntut jawaban dari Sonya.


"Apa... Mr. Ray baik-baik saja? Uhm maksudku apa tidak pusing atau --"


"Saya baik-baik saja bu Sonya. Ceritakan saja yang ibu tau" Balasnya yang terdengar tidak sabar.


Sonya meneguk air mineral yang ada di depannya. Ia merogoh ponselnya, menghubungi pak Benni agar ke ruangan Rayyan sekarang juga.


"Jadi?" Rayya menaikan sebelah alisnya.


"Rianna adalah salah satu mahasiswi yang kita tolong 3 tahun lalu" Ucap Sonya memulai ceritanya.


"Kejadian itu berawal saat saya menerima kabar bahwa suami saya sedang berada di Club dengan wanita lain. Kebetulan waktu itu kita bertiga sedang berkumpul di ruangan ini juga. Saya memutuskan untuk menyusul Briyan di Club tapi pak Benni dan Mr. Ray mencegah, kalian berdua akhirnya ikut menemani saya ke Club hari itu. Disana Mr. Ray dan Pak Benni ikut mencegah keributan yang saya lakukan, karena saya hampir menghajar wanita yang bersama dengan Briyan. Namun ada kejadian lain yang menarik di tempat itu"


"Kejadian apa?" Rayyan semakin penasaran. Bukannya ia menanyakan perihal Rianna? Lenapa jadi bu Sonya curhat masalalunya dengan Briyan? Apakah itu saling berkaitan? Terka Rayyan dalam hati.


"Rianna adalah salah satu pekerja di Club itu. Saat itu ia juga sedang ribut dengan salah satu pelanggan dan Pak Benni sok jadi pahlawan menolongnya, yangbakhirnyaa menyeret Mr.Ray untuk ikut andil menyelesaikan keributan di tempat itu. Rianna sangat terkesan pada Mr.Ray, apalagi setelah Mr. Ray membantu membayar SPPnya. Rianna adalah gadis pintar yang karena hutang keluarganya ia terpaksa bekerja di club dan hampir di D.O. Akan tetapi ia menyalah artikan simpati kami semua terutama Mr. Ray" Rianna menghentikan ceritanya untuk kembali melanjutkan memakan salad buahnya.

__ADS_1


"Ternyata seperti itu. Apa Shafa tahu kalau saya membantunya?"


"Ya jelas tahu lah. Setiap rupiah yang Mr. Ray kerluarkan dari kartu debit, laporannya akan masuk di handphone mommynya Am." Jawab Sonya sambil terkekeh. Mengingat betapa curigaan dan pencemburunya Shafa kala itu


__ADS_2