
Rayyan tak henti-hentinya memandang wajah sendu Shafa yang masih tertidur lelap. Mungkin 2 jam lagi ia akan terbangun. Ia memberanikan diri untuk mengusap lembut kepalanya, menyentuh pipi dan dagu mulus wanita yang berstatus istrinya tersebut.
Ia tersenyum mengingat cerita ibu bagaimana mereka dipersatukan dalam ikatan pernikahan. Masih banyak tanya yang mengganjal di hatinya, kalau ibu tidak buru-buru keluar untuk mengambil cucu perempuan nya yang tengah rewel di ruangan sebelah.
Pandangan matanya bergantian memindai setiap inci wajah dua orang di yang tengah terbaring berdampingan.
Am sama sekali tidak mirip wajah Shafa, ia sangat dominan menyerupai dirinya. Lalu bagaimana dengan wajah kakak dan adik Am?
Apa mereka semua anak-anakku? Bagaimana mungkin aku menikah belum cukup empat tahun dan sudah memiliki 3 orang anak. Am baru berusia sekitar 3 tahun dan adiknya sekitar 2 tahun dan lagi kakaknya bahkan sudah masuk sekolah dasar. Apa aku menikahi seorang janda?
Ia terus bergelut dalam pemikirannya seputar anak, hingga dering ponsel yang berada di atas nakas membuyarkan semua pemikiran-pemikiran liarnya. Ia mengabaikan saja ponsel yang sedang berdering nyaring itu hingga dering ke dua dan ketiga yang mulai mengusiknya.
Tanpa permisi ia meraih ponsel berwarna rosegold tersebut, melihat siapakah gerangan yang telah mengganggu di siang hari seperti ini
Yolanda is calling ...
"Yolanda?" Cukup lama ia memperhatikan nama yang tertera di ponsel Shafa hingga tanpa sengaja ia menggeser tombol berwarna hijau. Menyadari hal itu buru-buru ia hendak mematikan panggilan sebelum suara di balik telepon menarik perhatiannya.
"Kak Shafa Zafran hilang!!!" Ujarnya yang terdengar begitu panik.
Deg!
Zafran? Bukankah itu kakak Am?
"Dimana kamu sekarang?" Tanyanya merespon ucapan di balik telefon.
"Siapa ini? Kak Jeff? Aku di sekolah Zaf kak, dari tadi kami mencari tapi Zaf nggak ada" Mendengar itu, Rayyan cepat-cepat mematikan ponselnya dan keluar ruangan mencari pria bernama Jeffri yang ia ketahui sebagai saudara dari istrinya. Ia sudah pernah melihatnya di sungai waktu itu.
Baru saja ia membuka pintu, Jeffri dan kedua orang tua Shafa sudah berada di depan pintu.
"Ray..."
"Zafran hilang!" Ucapnya membuat tiga orang itu terkejut. Baru kali ini ia mendengar Zafran hilang. Bukankah harusnya saat ini Yola sedang menjemputnya.
"Maksudmu..."
"Barusan Yolanda menelfon mengatakan bahwa Zafran hilang, dia tidak berada di sekolahnya" Ucapnya yang tak bisa menyembunyikan raut khawatir di wajahnya.
"Biar Jeffri susul di sekolahnya Dad"
"Saya ikut!!!" Sahut Rayyan seakan tak ingin di bantah. Jeffri hanya mengangguk, Rayyan kemudian berjalan cepat mengikuti langkah kakak iparnya menuju parkiran mobil.
Jeffri melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju sekolah Zafran, sebelumnya ia terlebih dulu menghubungi istrinya, menanyakan apakah Zafran ada dirumah mereka, namun jawabannya tidak. Menurut keterangan Aini, Hafiz terakhir kali melihat Zafran sedang di depan kelas bersama Aira, dan teman-temannya yang lain. Hafiz sendiri langsung pulang begitu melihat supir jemputannya telah tiba.
"Apa biasa seperti ini?" Rayyan membuka suara setelah beberapa waktu diam. Mungkin ia bisa mendapatkan sedikit informasi dari Jeffri tentang anak-anaknya.
__ADS_1
"Tidak, Zafran adalah anak yang patuh dan penurut. Dia selalu pulang tepat waktu dan tidak pernah membuat masalah" Ujar Jeffri yang berada di belakang kemudi.
"Berapa usia Zafran sekarang?" Tanyanya memancing Jeffri untuk menjelaskan tentang anak itu.
Jeffri mengulas senyum tipis di bibirnya, keraguan dan tanya di benak Rayyan sudah bisa ia baca dari raut wajahnya. Untuk seorang intelegen profesional sepertinya, sangat mudah menafsirkaan arah pembicaraan adik iparnya itu. Pasti ia sedang bertanya-tanya anak siapakah Zafran itu.
"Usianya 7 tahun, dia kelas 2 SD. Anak jenius yang kalian adopsi saat Shafa tengah mengandung Am" Sebuah jawaban singkat, padat dan jelas yang membuat Rayyan tercekat. Ia tak menyangka akan mendapatkan jawaban secepat itu dari Jeffri.
"Apa lagi yang ingin kamu ketahui?" Tanya Jeffri. Ia tahu adik iparnya itu pasti sedang berusaha menggali informasi tentang jati dirinya dan keluarganya.
"Apa yang anda ketahui tentang saya?" Tanya Rayyan dengan wajah serius menuntut jawaban yang sesungguhnya dari Jeffri. Ia ingin tahu seperti apa dirinya dari sudut pandang Kakak iparnya tersebut.
"Rayyan adalah laki-laki yang sangat mencintai adikku juga anak-anaknya. Laki-laki yang memegaang teguh sebuah komitmen dan tanggung jawab. Seorang imam yang telah berhasil membawa Shafa kami kembali kejalan yang lurus" Kata Jeffri yang sekilas memandang Rayyan.
Sungguh sebuah jawaban yang di luar prediksinya. Mengapa yang di ucapkan Jeffri semuanya adalah hal baik. Apa tidak tidak ada sisi negatif seorang Rayyan yang di ketahui kakak iparnya tersebut? Tanyanya dalam hati.
"Kenapa?" Jeffri melirik Rayyan yang nampaak tak puas dengan jawabannya.
"Tidak" Jawabnya datar. Ia masih belum bisa mengkondisikan dirinya bagaimana harus bersikap pada laki-laki tampan bertubuh kekar di sampingnya itu.
"Oh ya, aku sampai lupa, Rayyan yang aku kenal adalah pria possesive dan sangat pecemburu. Kamu tidak akan membiarkan istrimu di sentuh oleh orang lain. Ah, aku lupa kamu bahkan pernah hampir mengamuk kalau daddy tidak memberitahumu bahwa aku adalah kakak Shafa" Kata Jeffri di sertai tawa renyah.
"Benarkah?" Rayyan sedikit tak percaya, apakah benar dia se posessive itu? Tapi melihat bagaimana kesalnya ia melihat Malvin memperlakukan Shafa, sepertinya hal itu benar adanya.
"Ya... Seperti itulah kira-kira" Balas Jeffri santai.
"Itu dulu PAUD tempat Zaf sekolah. Kamu bahkan mengantarnya bersama Shafa di hari pertama ia masuk sekolah" Kata Jeffri saat melihat Rayyan terus memperhatikan bangunan dua lantai tersebut.
"Kak Jeff!!!
Yola berlari menghampiri mobil Jeffri begitu melihatnya parkir di halaman sekolah.
"Gimana Yol? Apa Zaf sudah ketemu" Tanya Jeffri setelah keluar dari mobilnya. Baru saja Yola hendak menjawab ia langsung berteriak.
"ASTAGFIRULLAH HALADZIM!!!" Ia mengapit lengan Jeffri menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Jeffri sambil terus beristigfar.
"Yola? Kamu kenapa?" Tanya Jeffri keheranan melihat Yolanda yang tiba-tiba bersembunyi.
"Kak... Mungkin kak Ray marah karena Yola nggak bisa jaga Zaf. Yola lihat arwah kak Ray kak" Ucapnya yang terdengar ketakutan.
"Ha.ha.ha...Itu bukan arwah Yola. Itu Rayyan Asli" Ucap Jeffri sambil mengarahkan tubuh Yola menghadap Rayyan yang berdiri di sebelah Jeffri. Yola sedikit mengintip dari celah jarinya sebelum benar-benar membelalak melihat penampakan laki-laki di depannya.
"Kak Rayyy!!!" Yola menghambur memeluk Rayyan sambil menangis. Ia juga sangat merindukan sosok kakak yang selama ini menjadi pelengkap hidupnya.
"Kak Ray kemana saja...Hiks... Zaf dan Am selalu menanyakan kakak" Ucap Yola yang masih sesunggukan. Dirinya juga ikut merasakan perih saat Aam dan Zaaf bertanya soal ayahnya.
__ADS_1
"Nanti saya jelaskan. Sekarang ayo kita cari Zafran" Ucap Rayyan mengingatkaan kembali tujuan mereka berada di sekolah itu.
Jeffri langsung menuju ke ruangan keamanan. Hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek cctv yang ada di sekolah itu. Ia mengecek sendiri komputer yang berada di ruangan keamanan tersebut setelah menunjukkan identitasnya. Akan sangat lama bila menunggu operator sekolah yang memeriksanya. Jari-jarinya begitu lihai bermain di atas keyboard memperlambat dan mempercepat gerakan yang ada di dalam layar komputer.
"Itu...itu Zaf kak!!!" Yola menunjuk gambar bocah kecil bersama bocah perempuan yang nampak masuk kembali ke dalam kelas. Mereka berdua terlihat di paksa masuk ke dalam kelas lebih tepatnya.
Rayyan mengamati gambar yang ada diblayar dengan jantung berdebar. Apa yang terjadi pada anak itu?
Tak berapa lama berselang terlihat 3 orang bocah yang badannya lebih besar keluar dari dalam kelas. Di susul oleh Zafran dan Aira yang nampak memegang lengan Zafran seperti tengah membantunya berjalan.
Jeffri menggeram sambil mengepalkan telapak tangannya. Ia kemudian mengecek cctv lain yang juga masih berada di lingkup sekolah itu.
Ia menangkap gambar dua orang bocah yang kini tengah berada di taman belakang sekolah. Mereka tengah duduk di bawah pohon rindang.
"Mereka ada di belakang gedung sekolah" Ucap Jeffri. Ia segera menutup komputer tersebut dan berlari menuju lokasi yang terlihat di dalam layar.
Dan benar saja, Zafran dan Aira tengah berada di bawah pohon. Jeffri memberikan kode untuk tidak ribut, ia tak mau mengagetkan keponakannya tersebut. Mereka berjalan mengendap-endap hingga kini berada tepat di belakang mereka dengan terhalang pohon Kelengkeng yang begitu rindang.
"Apa masih sakit Zaf? Aku akan laporkan mereka pada papiku" Kata Aira sambil membantu Zafran membersihkan sikunya dengan saputangan miliknya yang telah di basahi oleh air sebelumnya.
"Jangan Aira, nanti mommy ku marah. Aku nggak mau mommy sedih" Kata Zafran sambil meringis saat tangan Aira menutul bagian lukanya dengan sapu tangan.
"Tapi mereka nakal Zaf. Kamu mau bilang apa kalau tante Yola bertanya? Dia pasti sudah menunggu kita" Ucap Aira.
"Bilang aku jatuh Aira."
"Kata kamu kita nggak boleh bohong Zaf, nanti Tuhan marah"
"Aku kan ga bohong Aira, aku kan meemang jatuh" Elak Zafran sambil meniup-niup lukanya.
"Tapi kan karena di dorong Zaf" Balas Aira tak terima.
Zafran hanya tertunduk lesu "Kalau ayahku ada pasti mereka ga akan ganggu aku" Ucapnya lirih.
"Ayah di sini Nak. Siapa yang telah mengganggu anak Ayah?" Sahut Rayyan yang tiba-tiba muncul dari balik pohon. Ia tak tahan lama-lama melihat Zafran kesakitan.
Zafran mendongak seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Begitu juga dengan Aira yang nampak bengong kemudian bersorak gembira.
"Zaf, Ayahmu sudah pulang" Pekik Aira dengan senang sambil melompat-lompat.
"A..Ayah" Zafran memanggilnya dengan bibir bergetar dan mata berkaca-kaca. Ia pikir Ayah Rayyannya sudah meninggalkannya seperti abi dan uminya. Di usianya yang sekarang ia sudah bisa memahami arti kata meninggal seperti yang sering orang katakan tentang ayahnya.
"Ia... Ini ayah. Zaf sudah besar sekarang" Rayyan memandang lekat wajah Zafran yang sangat tak asing baginya, beberapa ingatan kembali muncul. Ia seperti melihat Zafran dan dirinya tengah berenang bersama.
"Ayaaah" Zafran segera memeluk Rayyan melepaskan semua kerinduannya. Ia seolah lupa akan rasa sakit pada sikunya. Ia memeluk Rayyan dengan sangat erat.
__ADS_1
"Ayah jangan pergi lagi" Bisiknya yang terdengar terisak.
"Iya nak... ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi"