Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Pengasuh dadakan


__ADS_3

Shafa masih menangis di dalam kamarny tak kala suar ketukan pintu terdengar dari luar.


"Mommy?" Panggil si sulung membuatnya segera mengusap air matanya dan bersiap keluar kamar.


Baru saja ia bangkit dari posisi duduknya, Zafran terlwbih dahulu membuka pintu dan masuk ke dalam. Wajah bocah tersebut nampak berbinar bahagia. Namun, tak lama ia berlari memeluk mommynya. Sepertinya anak berusia tujuh tahun itu mengerti bahwa sang ibu sedang bersedih.


"Mommy jangan menangis" Lirihnya, yang juga ikut menjatuhkan air matanya. Zafran adalah putranya yang paling peka dengan dirinya.


"Mommy nggak nangis kok" Jawabnya. Namun suara sengau dan lelehan yang masih tersisa tak bisa membohongi bocah berusia tujuh tahun itu.


"Zaf bawa apa ini nak?" Tanya Shafa melihat amplop di tangan Zafran.


"Ini dari sekolah Zaf Mom. Katanya undangan untuk orang tua. Kata bu guru Ayah dan Mommy Zaf suruh datang" ucapnya sambil memberikan amplop putih tersebut pada sang ibu. Keduanya duduk di sisi Ranjang. Zafran sejak tadi terus saja mengamati wajah sendu mommynya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa yang membuat Shafa menangis. Bukankah ayahnya sudah kembali?


Shafa tersenyum saat melihat perihal yang tertulia dalam kertas putih di tangannya tersebut. Isinya adalah undangan kepada wali murid dalam acara pemberian penghargaan untuk siswa berprestasi yang di selenggarakan setiap tahunnya. Ia masih ingat, tahun lalu pun ia menghadiri acara yang sama, di mana Zafran yang masih kelas 1 menjadi salah satu penerima penghargaan di levelnya.


"Ayah mana mommy? Aku harus bilang sama ayah. Ayah juga harus datang" ujarnya.


"Ayah, masih di kampus Zaf" Jawabnya asal. Ia yakin Rayyan sedang tidak ada di rumah. Meliht bagaimana ia membanting pintu saat keluar tadi.


"Mobil sama motor ayah ada di depan. Memangnya ayah naik apa ke kampus Mom?" Tanyanya lagi.


Berarti Mas Ray nggak keluar. Syukurlah.


"Mungkin masih di ruang kerja. Udah jangan di ganggu. Nanti saja bilng ke ayahnya. Sekarang Zaf makan yuk?" Ajak Shafa. Ia tak ingin Zaf melihat Rayyan yang sedang dalam kondisi marah.


"Am sama Zizi mana mom?"


"Mereka lagi jalan-jalan sama tante Aish" Jawab Shafa.


Sementara itu di sebuah tempat perbelanjaan, Aisyah nampak kerepotan menjaga dua orang batita yang sedang aktif-aktifnya.


"Mana sih, kok belum muncul-muncul," gerutunya sambil memindai ke kiri dan kanan. Aisyah sedang menggendong Zifara sambil mengawasi Am yang sedang bermain mobil-mobilan.


"Tante acu mau itu" Zizi sejak tadi merengek sambil menunjuk seluncuran di kolam bola di sisi kiri tempat itu.


"Tunggu ya, bentar lagi kakak Am selesai"


"Nda mau! Acu mau kecitu" Zifara mulai menarik tangan Aisyah dengan tak sabar.


"Tunggu dulu Zi. Aduh gimana ini?" Am... Udah yuk sini. Main disana lagi" Teriaknya pada Am yang tengah asyij bermain mobil-mobilan.


"Nda Mau!" Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari stir.

__ADS_1


"Tante!" Teriak Zizi dengan mata yabg sudah berkaca-kaca.


"Eh sayang, jangan nangis. Iya...iya kita kesana ya?" Ucapnya membujuk Zifara.


"My princess kenapa?" Sebuah suara berat mengalikan perhatian keduanya.


Aisyah menghela nafas lega melihat kedatangan Malvin. Tadi, saat dalam perjalanan, Malvin menelponnya dan ia dengan senang hati menyusul Aisyah yang tengah mengasuh anak-anak Shafa dan Rayyan di salah satu pusat perbelajaan terdekat.


"Om doktel!" Zizi yang memang sudah mengenal Malvin beralih memeluk pria yang hampir menjadi ayah sambungnya.


Tak hanya Zizi yang antusias dengan kedatangan Malvin. Am pun ikut serta menghampirinya.


"Om doktel atu mau es klim" Ucap Am tanpa malu.


"Acu uga" Sahut Zifara.


Ke empatnya pun sepakat meenuju salah satu kedai es krim terdekat. Aisyah menunggu di mejaa yang telah mereka pesan.


"Mereka dekat banget" Gumamnya yang terus memperhatikan Malvin begitu dekat dengan anak-abak Shafa. Pikirannya melanglang buana melihat kedekatan mereka.


Gimana perasaan kak Malvin sama kak Shafa sekarang ya? Apa dia masih belum bisa move on? Ih, aku kok jadi mikirin mereka sih. Tapi gimana kalau dia ternyata masih cinta sama kak Shafa?


Sesuatu yang dingin menyentuh pipi Aisyah membuatnya refleks menoleh.


"Kik...kik..kik... lagi om... lagi" Nampak Am dan Zizi menikmati pemandangan tersebut.


"Awas ya kalian. Nanti tante culik" Ancamnya kesal dengan dua bocah yang tadi membuatnya sakit kepala. Ia tak bisa membayangkan betapa repotnya Shafa mengurus mereka berdua, belum lagi Zafran yang hanya berjarak empat tahun dari Am.


"Tumben mereka ikut kamu? Orang tuanya kemana?" Tanya Malvin. Setaunya Shafa tidak mudah melepas anak-anaknya dengan orang lain.


"Lagi bulan madu kali" Jawabnya Asal.


"Bulan Madu?" Malvin mengerutkan keningnya. Tak mungkin Shafa berbulan Madu dan meninggalkan anak-anaknya.


"Iya... Soalnya kak Rayyan suruh aku bawa mereka. Dianya masuk rumah sama kak Shafa."


"Apa mereka sednag ada Masalah?" Tebak Malvin.


"Oh..ho..ho enggak... enggak! Mereka baik-baik aja kok"


Dari mimik dan ekspresi Aisyah, Malvin tahu pasti Shafa sedang ada masalah. Ia tak bertanya lebih lanjut, karena ia sadar posisinya bukanlah orang terdekat Shafa lagi. Ia cukup tau diri untuk tidak terlalu mencampuri urusan wanita itu.


"Oh ya, gimana tugas akhir kamu? Aman kan?" Malvin mengalihkan topik pembicaraan agar tak lagi mengingat wanita yang masih belum sepenuhnya ia lupakan.

__ADS_1


"Aman kak!" Ia mengangguk keras. " Kalau nggak ada halangan 2 hari laginaku sidang".


"Bagus!"


"Emm... tapi kak?" ia ragu-ragu bertanya.


"Tapi apa?"


"Gimana setelah aku lulus nanti? Em, maksudku... ini pacaran boongannya gimana?" Wajah Aisyah beesemu merah ketika mengucapkan kalimat itu. Ingin rasanya ia bersembungi dalam kantong baaju Malvin.


"Oh! Kapan orang tua kamu datang kemari?"


Lha, kom jadi nggak nyambung gini sih?


"Kenapa kak? Kok nanyain orang tua Aish?" Tanyanya tak mengerti. Yang ia tahu kerja samanya hanya sampai ia menyelesaikan studynya. Selebihnya ia tidak berharap banyak. Meski jauh di dalam hatinya berdoa agar semua ini adalah nyata, bukan sandiwara.


"Keluargaku ingin bertemu dengan keluargamu" Jawab Malvin tanpa beban. Seolah ini bukanlah masalah besar baginya.


"Ketemu? Untuk apa?" Aisyah mulai cemas.


"Untuk membicarakan pernikahan kita--"


"APA?" Tanpa sadar Aisyah menjatuhkan es kr miliknya.


Aku pasti lagi ngimpi. Membicarakan pernikahan kita? Kita berarti aku dan... Aaaaa.... enggak...enggak... dia pasti cuma ngeprank aku!


"Ck! Jorok" Tangan Malvin terulur menarik tissu dan mengelap sudut bibir Aisyah yang masih terlihat Syok.


"Ia, tante jolok ih." Sahut Am yang turut mendengarkan perbincangan dua orang dewasa tersebut.



Es Krim buat siapa dok?🤗🤗☺️☺️☺️



Tante Aisy lagi pusing🤭🤭🤭



Princess Zizi ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_1


Tata am❤️


__ADS_2