Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Tamu Dari Jauh


__ADS_3

Untuk merayakan hari kelulusan Aisyah, Rayyan dan keluarga akan mengadakan makan malam bersama di kediaman mereka. Tak hanya kedua orang tua Shafa dan Rayyan, Jeffri dan tante Lilis beserta Yolanda pun turut hadir sebagai bentuk simpati pada Aisyah dan keluarga yang telah berjasa banyak dalam proses kembalinya Rayyan ke tengah-tengah mereka.


"Ambu, masaknya banyak banget. Kaya mau hajatan aja" Seru Aisyah yang ikut bergabung dengan para orang tua di dapur.


"Nggak apa-apa Syah, kan jarang-jarang kita bisa ngumpul semua kaya gini. Bener nggak mbak?" Sahut Ibu Rayyan.


"Iya, bener... Udah kamu ke depan aja, temani Shafa jaga bocah-bocah. Tadi Mommy dengar Zizi dan Am nangis. Pasti berantem lagi" Ujar Mommy yang tengah membersihkan buah-buahan.


"Terimakasih banyak ibu-ibu, saya merasa tersanjung. Alhamdulillah kami punya keluarga baru disini" Jawab Ambu haru. Begitu hangat keluarga Rayyan dan Shafa memperlakukannya.


Aisyah berjalan menuju ruang tengah yang tak kalah ramai. Nampak Shafa sedang menenangkan Zifara yang menangis sesunggukan. Sementara di sudut ruangan, Rayyan pun tengah menggendong Am yang terlihat cemberut. Pasti berantem lagi pikirnya.


"Aish, sini nak," Daddy Shafa menepuk Sofa kosong yang berada di sebelahnnya. Nampaknnya para sesepuh ini sedang serius ngobrol.


"Aisyah sekarang kan sudah lulus. Ada planing apa kedepannya? Mau kerja atau lanjut sekolah lagi?" Tanya Ayah Rayyan sesaat setelah gadia manis itu mendudukan dirinya di sofa.


"Atau mau nikah Syah?" Seloroh abah yang mengundang tawa Daddy dan Ayah.


"Ish, abah apaan sih," Tak ayal hal itu membuat Aisyah merona.


"Aisyah masih terlalu kecil untuk menikah bah," Sahut Rayyan yang masih menggendong sang putra.


"Iya, Aish teh masih mau cari pengalaman abah. Pengen kerja dulu" Jawab Aisyah mantap.


"Ya sudah, kamu kerja di klinik saja Aisyah, sekalian belajar menjadi perawat profesional" Sungguh sebuah tawaran menggiurkan dari pemilik klinik ternama di ibu kota. Kalau saja Malvin tidak berada di klinik itu tentu Aisyah akan mengiyakan tanpa pikir panjang. Masalahnnya, ia sedang berada di fase ingin move on dari perasaannya dan berusaha menghindar dari Malvin. Ia sadar, perasannya tak seharusnya tumbuh. Ia harus menekannya sebelum ia berkembang. Karena sekali lagi ia yakin bahwa dirinya hanya pelarian. Ia masih bisa melihat cinta yang sangat besar di mata Malvin untuk Shafa.


"Emm... Terimakasih dok, saya akan fikirkan tawaran dokter," ucapnya sopan.

__ADS_1


Sementara itu, di luar rumah sebuah mobil berwarna silver baru saja berhenti di pelataran rumah dua lantai. Tiga orang yang berada di dalam nampak sedikit tertegun dengan pemandangan di hadapannya.


"Maaf tuan, di depan ada tamu. Sepertinya dari jauh", ucap pak Madi mberi tahu sesaat setelah melihat orang-orang yang baru di lihatbya keluar dari mobil.


Abah dan kedua orang tua Shafa segera bangkit dari duduk mereka. Mereka sudah tahu yang datang bertamu pasti keluarga pak Kyai dari kampung mereka yang memang sudah berencana berkunjung.


Kedatangan pak Kyai di sambut begitu hangat oleh keluarga besar Shafa dan Rayyan. Bagaimana pun juga mereka adalah orang-orang baik yang juga menolobg Rayyan semasa kecelakaan dulu. Saat ini mereka sedang ngobrol hangat di ruang tamu di temani secangkir teh dan aneka cemilan.


"Punten kang, bisa saya numpang shalat? Soalnya tadi belum sempat shalat Ashar" Gadis berhijab Ungu tersebut memberanikan diri membuka suaranya, meski matanya tak berani bersitatap langsung dengan pria berkaca mata yang duduk di seberang meja.


"Oh iya, tentu boleh. Pak Kyai dan ibu juga siapa tau mau istirahat, kami sudah siapkan kamar tamu" Jawab Rayyan dengan begitu ramah.


"Terimakasih nak Andi, eh punten saya kok malah manggil nama kampungnya." Ralat, pak Kyai yang merasa tak enak karena tak mengetahui nama Rayyan yang sesungguhnya.


"Tidak apa-apa pak Kyai. Andi atau Rauyan sama saja."


"Mom, Neng Risa mau numpang shalat, tolong di antar ya?" Pinta Rayyan begitu lembut pada Shafa yang baru saja datang dengan sepiring pisang goreng hangat. Tak taukah ia, bahwa kalimatnya barusan telah mengusik sisi wanita gadis berwajah kalem yang telah lama menyinpan rasa padanya.


Mereka berdua berjalan menuju kamar yang berada tak jauh dari ruang keluarga.


"Ini mukena dan sajadahnya," Shafa memberikan perlengkapan shalat yang baru saja di ambil dari dalam lemari.


"Mommy, tante ini tiapa?" Tanya Zizi yang sejak tadi mengekor sang ibu.


"Ini tante Risa Zi, temannya ayah berarti temaan mommy juga," Jawab Shafa sambil mengangkat Zizi kedalam gendongannya.


"Hai. Nama kamu siapa?" Risa mencoba berinteraksi dengan balita kecil nan cantik itu.

__ADS_1


"Acu Zizi" Jawabnya singkat.


"Namanya Zifara, biasa dipanggil Zizi" Shafa membenarkan.


"Nama yang cantik, seperti orangnya." Balasnya. Entah mengapa fikirannya seketika melanglang buana kemana-mana saat melihat gadis mungil bak barbie hidup itu. Terlalu cantik untuk menjadi anak Rayyan, pikirnya.


Sejak tadi pandangan Risa tak lepas dari balita cantik berkulit putih yang kini tengah bergelayut manja dalam pangkuan sang ayah. Sejak awal melihatnya, ia bertanya-tanya, benarkah itu anak Rayyan. Ah, rasanya mustahil melihat perbedaan warna kulit dan raut wajah yang sangat kontras dengan sang ayah yang memiliki paras lokal.


Selepas makan malam, mereka masih ngobrol di halaman belakang kediaman Rayyan. Rencananya, malam ini pak Kyai beserta keluarga turut menginap di kediaman Rayyan, sebelum kembali ke Bandung besok pagi. Dan karena obrolan mereka di taman belakang tersebut, Rissa dan keluarga jadi tahu seluk beluk keluarga Shafa. Bagai gayung bersambut, Rissa yang memang sedang mencari pekerjaan, mendapat peluang bekerja di Klinik milik Daddy Shafa. Dokter Harsya tentu tak keberatan merekrut Rissa mengingat keluarga gadis itu banyak membantu sang menantu.


"Kalau begitu nak Rissa tidak perlu ikut pulang besok, supaya bisa langsung ke klinik membawa kelengkapan berkasnya," Ujar Daddy Shafa.


"Insha Allah pak, saya juga sekalian mau nyari kos kosan," Jawabnya.


Entah mengapa hati Shafa merasa sangat tak nyaman dengan keberadaan gadis cantik tersebut. Jujur saja ia takut jika kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali. Meski gadis itu nampak baik dan shalih, hati manusia siapa yang tahu bukan? Ah, mungkin lebih tepatnya ia takut pesona anggunnya seorang Rissa mampu menarik perhatian sang suami.


"Mommy kenapa dari tadi melamun" Rayyan segera menghampiri istrinya yang tak menyadari kedatangannya dan memeluknya dari belakang.


"Aku takut Mas," Jawabnya jujur. Ia berbalik menatap mata teduh Rayyan yang begitu menenangkan.


"Takut? Memangnya Shafa takut apa?" Rayyan terus memerhatikan wajah khawatir sang istri sembari merapikan rambut-rambut kecil yang berantakan di sekitar keningnya.


"Aku takut mas Ray poligami," cicitnya lirih sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Ayah juga takut mom," Timpal Rayyan membuat Shafa penasaran.


"Takut apa?"

__ADS_1


Awas saja kalau jawaban kamu bikin aku marah. Aku bawa anak-anak kamu pergi. Batin Shafa.


"Takut sama jagoan cilik mommy, bisa-bisa ayah di tukar tambah sama dokter Malvin" Balasnya sambil memeluk erat tubuh sang istri.


__ADS_2