Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Berdua


__ADS_3

Satu persatu tamu yang menghadiri acara syukuran kepulangan Rayyan berpamitan untuk pulang. Rayyan, bersama kedua orang tuanya dan mertuanya berdiri di depan pintu untuk menyalami tamu yang hendak pulang.


Jangan tanyakan dimana Shafa? Karena saat ini ia sedang kebingungan mencari anak-anaknya yang tiba-tiba menghilang. Ia sudah mencari kesana kemari tapi tak menemukan 3 bocah kesayangannya itu.


"Bi, Bibi lihat anak-anak?" Tanya Shafa panik, pasalnya jam segini sudah waktunya Zifara, Am dan Zafran tidur. Tapi ia tak menemukannya di kamarnya begitu juga kamar Am dan Zafran yang masih kosong. Biasanya kan mereka selalu tidur ber empat atau kalau Shafa sedang sakit si kecil Zifara biasa tidur bersama tante Lilis.


Tadi pada main di teras samping mbak, mungkin sedang main sama mbak Yola dan temannya. Teman yangbdi maksud bi Lastri adalah Aisyah.


"Fa.. Mau kemana?" Tanya ibu saat melihat Shaafa buru-buru menaiki tangga menuju lantai dua.


"Nyari anak-anak bu, mereka nggak ada di kamar. Di kamar Zaf juga kosong." Jawab Shafa. Beberapa waktu lalu ia sempat membaca berita tantang penculik anak berkedok tamu dan undangan. Apalagi tadi tamu yang datang cukup banyak. Sekalipun ada Jeffri dan anggotanya yang menjaga tetap saja ia khawatir.


"Ayo ibu temenin" Ibu segera menyusul Shafa, ikut mengecek keberadaan cucu-cucunya.


"Kenapa bu?"


"Anak-anak nggak ada di kamar yah" Jawab ibu.


"Kok bisa? Ayo coba cek di atas, Yolanda juga nggak keliatan, mungkin lagi main bareng mereka" Ayah ikut serta mencari keberadaan cucu-cucunya, begitu pun Rayyan yang pasti tidak mau ketinggalan.


Tok...tok...tok


"Yola... Kamu di dalam?" Panggil Shafa setelah mengetuk pintu kamar tersebut.


"Yol...Kakak masuk yah?" Shafa segera memutar hendel pintu yang ternyata tidak dikunci.


"Astagfirullah haladzim"


Mata Shafaa membelalak sempurna begitu dirinya memasuki kamar bernuansa pink putih tersebut. Kamar yang biasanya rapi dan bersih mendadaj menjadi berantakan seperti kapal pecah.


Dua buah karpet rasfur berbulu tebal berwarna pink dengan beberapa bantal bermotif karakter kesayangan ciwi-ciwi sudah membentang di lantai di mana di atasnya terdapat Zifara yang tengah tertidur dengan guling dikiri kanannya juga dot susu yang sudang kosong. Sepertinya dua gadis muda itu habis mendandani Zifara dengan berbagai macam model, terlihat dari warna pink di bibirnya juga kunciran kunciran kecil di rambutnya. Zifara memang titisan sang mommy yang hobi berdandan dan bergaya meski usianya baru mau menuju 2 tahun.


Di atas ranjang Zaf juga terlihat sudah terlelap dengan memeluk boneka beruang besar sedangkan Am yang baru akan terlelap harus terbangun saat mendengar suara mommynya.


"Yol... Kenapa mereka ada disini?" Tanya Shafa yang masih tak percaya dengan pemandangan di depannya.


"Mommy, atu mau bobo di tini" Am menjawab dengan suara seraknya.

__ADS_1


"Kok tumben? Zizi juga, kenapa bisa tidur disini?" Shafa mendekat hendak mengambil putri kecil namun segera di halangi oleh Yola.


"Eits, jangan kak. Biarin mereka tidur disini. Tadi di bawah nggak adaa temannya. Ini juga si Am udah mulai akur sama Zizi. Nanti kalau kakak ambil malah berantem lagi" Ucap Yola meyakinkan. Tapi yang namanya ibu pasti akan khawatir jika biasa tidur bersama anak-anaknya, lantas harus terpisah ranjang.


"Am, ayo bobo sama mommy nak" Shafa mencoba membujuk Am.


"Nda mau mommy! Atu mau bobo di tini!" Ia semakin erat memeluk guling.


"Tapi kenapa? Biasanyaa bobo sama mommy?"


"Tan atu mau dibitintan adik. Tata tante Yola dan tante ini, Am halus bobo sama abang"


Astaga Am!!! Auto tapok jidat guee. Yola nampak cengar-cengir saat Shafa mendelik ke arahnya. Dasar Am ember banget sih, nggak bisa jaga rahasia.


"Ya sudah biarin aja Fa, Am juga kelihatannya sudah ngantuk" Ibu menghampiri Shafa sambil tersenyum manis, dalam hati ibu juga ikut mendukung ide Yola.


"Am sayang bobo lagi ya, cucu uti yang paling ganteng jangan nakal sama adek Zi ya?" Ujar Ibu sambil mengusap lembut kepala Am. Ia mengangguk dan kembali memeluk gulingnya.


Ya Allah, apa maksudnya ini? Aku mau disuruh berduaan aja sama Mas Ray? Ya Ampyun kok jadi ndredeg gini?


Shafa menoleh ke arah Rayyan yang juga tengah menoleh ke arahnya.


"Yes!!! Kik..kik..kik" Samar-samar tedengar kikikan dari dalam kamar setelah Shafa menutup pintu.


Dasar. Bocah! Anyway thanks Yol, Aisyah. Batin Shafa. Akhirnya dia bisa berdua saja dengan Rayyan. Ada banyak hal yang ingin ia tunjukan dan ia tanyakan pada laki-laki yang hingga saat ini masih menguasai seluruh hatinya.


"Aku tidur disini saja bu" Ucapnya saat melewati sebuah kamar tepat di sebelah kamar Yola. Kamar yang merupakan kamar pertamanya saat pindah di rumah itu. Kamar yang interiornya di design khusus oleh Rayyan setelah acara resepsi pernikahan mereka. Sejak Shafa hamil Am, kamar itu memang jarang dibtempati. Hanya sesekali saja saat Shafa ingin menikmati suasana adem dari lantai dua. Seluruh koleksi pakaian, tas juga sepatu mahalnya pun masih tertata rapih di kamar itu.


Rayyan nampak bingung saat Shafa membuka pintu kamar dan masuk kedalam. Haruskah ia menyusul? Cukup lama ia termenung sebelum sebuh tangan mendorongnya masuk ke dalam.


"Nggak usah, kebanyakan mikir! Lekas istirahat supaya fikiranmu jernih kembali" Ucap Ayah mendorong tubuh Rayyan masuk ke dalam kamar tersebut.


Aroma wangi lembut nan menenangkangkan menguar dari dalam kamar berukuran luas tersebut. Rayyan menyapukan pandangannya ke setiap sudut kamar dengan design cantij nan elegan itu. Tiba-tiba tatapannya berhenti ada sebuah figura besar yang tergantung tepat di atas tempat tidur berukuran king size tersebut. Ia melangkahkan kakinya untuk melihat lebih dekat gambar yang terpasang dalam bingkai berwarna gold tersebut.


Foto Shafa dalam balutan gaun mewah berwarna peach lengkap dengan mahkota cantik yang bertengger di kepalanya berhasil mengalihkan perhatian Rayyan. Hampir saja ia tak mengenali wajah cantik istrinya yang begitu nampak sangat cantik dengan make up naturalnya kalau saja dia tidak melihat dirinya yang juga berada dalam bingkai yang sama. Di foto itu mereka berpose saling berhadapan, Rayyan memeluk pinggang Shafa dan tangan Shafa yang berada di dada Rayyan menampakkan cincin berlian yang hingga kini masih di pakainya. mereka saling menatap dengan senyum yang menggambarkan perasaan mereka kala itu. Hanya dengan melihat foto tersebut, Rayyan bisa merasakan betapa dalamnya perasaannya pada Shafa.


"Itu foto resepsi pernikahan kita mas. Albumnya masih aku simpan kalau mas mau lihat" Ucap Shafa yang baru saja keluar dari ruang ganti. Ia sudah berganti pakaian dengan dresa tidur berwarna maroon yang sangat kontras dengan kulitnya. Ia tahu suaminya sedang memperhatikan foto pernikahan yang terpajang di dinding kamar tersebut.

__ADS_1


"Saya akan melihatnya nanti" Ucapnya dengan seulas senyum menutupi degupan jantungnya yang kian berpacu kencang.


"Mas ganti baju gih. Baju-baju mas semuanya masih tersimpan rapi di lemari" Ucapnya sambil menunjukkan weardrobe tempat penyimpanan pakaian dan aksesoris mereka.


Rayyan mengangguk, mengikuti langkah Shafa menuju ruangan ganti yang berada di sudut ruangan. Ia mengamati dengan seksama ruangan yang berisi sebuah lemari panjang yang terbuat dari kayu jati di mana di bagian tengah pintunya terdapat kaca panjang untuk bercermin. Selain lemari panjang terdapat juga lemari yang terbuat dari kaca dan stenlist berisi puluhan tas dan sepatu pasti berharga fantastis. Terlihat dari merek dan logo yang terbaca di bagian depan. Mulai dari merk Gucci, Channel, Charles and Keith, LV, Prada, Dior, Chloe, Hermes dan beberapa merek kelas dunia memenuhi lemari dengan rak 4 susun tersebut.


Rayyan membuka salah satu pintu lemari panjang tersebut dan ia cukup di kejutkan dengan jajaran minidreess beraneka model milik Shafa.


Pakaian istriku seperti ini? Gumamnya kemudian menutup kembali pintu lemari tersebut. Ia membuka satu persatu dari 6 pintu yang terdapat pada lemari panjang tersebut. 4 diantaranya berisi pakaian Shafa dan 2 pintu lainnya berisi pakaian Rayyan yang tergantung dan terlipat rapi di dua bilik tersebut.


"Mas...Aku mau ngomong" Panggil Shafa saat Rayyan baru saja keluar dengan memakai kaos oblong berwarna putih dan celana kain sebatas lutut.


"Iya, Shafa mau ngomong apa?" Dirinya menghampiri Shafa yang sedang duduk di atas sofa.


"Apa kita harus menikah ulang?" Tanyanya tiba-tiba.


"Menikah ulang? Kenapa?" Rayyan terlihat terkejut dengan pertanyaan istrinya.


Apa Shafa berniat untuk berpisah? Batinnya yang mulai di liputi kelhawatiran. Bayangan dokter Malvin tiba-tiba muncul di benaknya.


"Ya, kan kalau di tivi-tivi itu kalau habis pisah mereka menikah lagi mas. Katanya kalau udah pisah selama tiga bulan berarti harus menikah lagi" Ujarnya. Pasti yang dimaksud Shafa adalah seril ikan terbang yang selalu menampilkan cerita kawin cerai itu. Serial kesayangan emak-emak yang membuat Ku Menangis... Ck!


"Apa selama kita berpisah, Shafa sudah tidak menghendaki menjadi istri saya?" Tanya Rayyan sambil menatap mata istrinya.


Dengan cepat Shafa menggeleng "Aku nggak pernah berfikir seperti itu, sampai kaapnpun suamiku cuma mas Ray, sekalipun mereka bilang mas Ray telah tiada, aku nggak peduli. Bagiku, aku menikah hanya sekali yaitu dengan Mas Rayyan" Shafa membalas tatapan Rayyan.


"Apa mas Ray juga sama?" Tanyanya.


Rayyan terdiam sejenak, sebelum menganggukkan kepalanya.


Kenapa pake mikir? Apa benar ada orang lain selain aku?


"Kalau begitu kita nggak perlu nikah lagi?"


"Tidak, selama tidak ada talak yang terucap diantara kita, maka status kita masih tetap suami istri yang sah dalam agama. Sebab jatuhnya talak, dalam sigat takhlik yang terdapat di buku nikah pun jelas di tuliskan, jika suami meninggalkan istri selama tiga bulan berturut-turut tanpa memberinya nafkah lahir maupun batin dan istri keberatan dan mengadukannya kepengadilan agama dengan membayar sepuluh ribu rupiah maka jatuhlah talaknya satu. Tapi, bukankah selama ini Shafa ikhlas dan Ridho selama saya tidak berada di sisi Shafa?" Shafa mengangguk cepat. Bukan hanya iklas dan ridho dua bahkan rela menunggu selama apapun asal suaminya kembali.


"Berarti tidak ada alasan jatuhnya talak pada pernikahan kita. Berpisah lama tidak lantas membuat kita bercerai. Dalam sebuah riwat di ceritakan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu, mengirim surat kepada para pemimpin pasukan, memerintahkan untuk para suami yang meninggalkan istrinya, agar mereka memberikan nafkah atau mentalaknya. Jika mereka mentalak istrinya, mereka harus mengirim jatah nafkah selama dia tinggalkan dulu. Ibnul Mundzir mengatakan bahwa surat ini shahih dari Umar bin Khatab.(HR. Baihaqi dan dishahihkan al-Albani dalam al-Irwa’, 2158). Bahkan salah satu murid Imam Malik yang bernama Ibnul Qosim, beliau meninggalkan istrinya di Mesir, untuk belajar kepada Imam Malik di Madinah.Berapa lama Ibnul Qosim berpisah dengan istrinya? Kurang lebih selama 17 tahun. Berpisah dengan istrinya untuk belajar hadis kepada Imam Malik. Dan mereka tetap suami istri, meskipun itu perpisahan mereka tanpa komunikasi sama sekali."

__ADS_1


"Jadi, Shafa tetap menjadi istri saya dulu, maupun sekarang"


__ADS_2