
"ASTAGFIRULLAH HAL ADZIIM" Shafa memekik. Kedua tangannya menutup mulutnya yang ternganga melihat pemandangan di depan matanya. Ingin rasanya ia menangis.
"Masya Allah anakku" Rayyan ikut meringis melihat tampilan dua orang anaknya itu.
"Hayyo mommy, atu matan es klim tama Zizi dan abang" Ucapnya sambil mengaangkat sendok yang di pegangnya. Nampak 2 cup besar es krim coklat dan strawberry di hadapan mereka. Wajah Am dan Zizi belepotan dengan eskrim, ditambah lagi kemeja putih Am dan dress pink Zizi yang hampir semuanya terkena noda coklat membuat kepala Shafa berdenyut. Ia benci noda seperti itu.
"Mommy" Panggil Zafran yang datang dari arah dapur. Di tangannya ia menenteng lap bersih, di antara ketiga anaknya ini, Zaf lah yang wajah maupun bajunya masih bersih.
"Aku udah kasi tau adek Am dan Zizi makannya tunggu mommy, tapi mereka nggak mau mom" Adu Zafran. Shafa meengambil lap bersih di tangannya dan segera mengelap wajah kedua anaknya tersebut.
"Mommy kan sudah bilang, kalau makan bajunya jangan sampai kotor! Kenapa nggak nunggu momny sih Am" Omel Shafa sambil terus mengelap bagian yang terkena noda.
"Talo nunggu mommy nanti esklimku meleleh mommy. Ia tan Zi" Ia mencari dukungan dari si bungsu yang kini sedang di lap oleh Rayyan.
"Nak ini esnya simpan di kulkas ya" Ucapnya ada Zafran sambil menutup cup eskrim yang masing-masing masih berisi setengah.
"Atu masih mau matan esklim mommy" Rengek Am yang tidak terima.
"Nggak! Am mandi, baru bobo. Zizi juga" Ucapnya sambil melotot. Hari ini kesabarannya sungguh di uji. Setelah ini rasanya ia harus segera minum jus timun agar tekanan darahnya stabil.
"Nda mau mommy, nda mau!" Ucapnya berusaha meleaskaan diri dari mommynya. Tapi apalah dayanya yang bertubuh kecil. Am paling benci tidur siang saat ia masih ingin memakan kesukaannya.
"Ayah help me" Rengeknya memelas sambil menatap Rayyan.
Rayyan dan Shafa terkekeh mendengar ucapan Am "help me" duh, seperti di film-film dimana sang aktor sedang dalam kondisi berbahaya.
"Am, dengar kata mommy nak"
"Acu ga au bobo yayah" Rengek Zifara manja. Ia kini sudah terbiasa bermanja-manja dengan sang ayah. Benar lah bahwa ikatan batin seorang anak dengan ayahnya begitu kuat.
__ADS_1
"Anak cantik ayah harus istirahat. Nanti malam kita jalan-jalan deh" Bujuk Rayyan sambil mencium puncak kepala Zizi. Dibandingkan Am, Zizi lebih penurut dan mudah di bujuk.
"Acu au bobo cama yayah" Ucapnya yang tidak begitu jelas, namun cukup bisa ditangkap maknanya.
"Ia, tapi mandi dulu yuk!" Rayyan mengangkat tubuh Zifara sedangkan Am masih duduk sambil menendang-nendang kakinya. Susah sekali anak ini di bujuk.
"Ayo, berdiri! Lihat ini baju Am kotor. Iuuh, jelek banget tau nggak." Ucap Shafa sambil berusaha menarik tangan Am agar berdiri.
"Bialin. Mommy nda sayang Am! Ayah juga" Teriaknya sambil berkaca-kaca, sudah bisa di pastikan dalam hitungan ke tiga ia pasti akan menangis.
satu
dua
"Huuuaaa....hua....aaa....hiks, hiks" Belum sampai hitungan ketiga tangisnya sudah pecah menggema di ruang tengah itu.
Bi Lastri dan Mbak Yati segera menghampiri, mereka berdua juga terkejut melihat anak majikannya yang belepotan seperti itu bukan cuma baju lantai dan karpet putih yang ada di ruang tengah ikut terkena noda coklat bekas es krim.
Sedangkan Shafa dengan susah payang mengangkat tubuh Am yang semakin menangis histeris.
"Diam Am"
PUK!!!
Shafa yang geregetan menepuk bokong Am membuatnya semakin menjadi.
"Gara-gara mas nih, beliin Am eskrim sebanyak itu. Jadi rewel kan" Kini bukan hanya Am yang terkena omelan sang ratu tapi juga sang ayah yang hanya diam mendengar istrinya mengoceh sepanjang kegiatan memandikan Am. Satu hal yang pasti, saat Shafa sudah mengomel panjang lebar, Am mulai diam tapi masih sesunggukan.
Mommy galak!
__ADS_1
"Habis ini bobo ya, mommy kelonin Am" Ucap Shafa lembut. Dengan berakhirnya kegiatan mandi maka berakhir pula omelannya. Am masih diam tak bergeming. Bibirnya mengerucut kedepan.
"Nanti malam kita jalan-jalan ke rumah kakak Hafiz deh" Bujuk Shafa. Rasanya sudah lama ia tak mengunjungi kakak iparnya yang baik hati itu. Saat ini Jeffri sedang berada di Jepang bersama kedua orang tua Shafa, Jadi ada baiknya ia berkunjung agar Aini dan Hafiz tidak begitu kesepian.
Am langsung mengangguk setuju dengan tawaran yang di ucapkan Shafa.
Setelah melalui drama panjang, akhirnya ketiga anak-anak Shafa telah berhasil terlelap dalam mimpinya masing--masinh. Siang itu mereka tidur berjajar di kamar Shafa. Tak ada pemandangan yang lebih membahagiakan selain melihat wajah tenang anak-anak mereka. Tiba-tiba fikiran Shafa kembali teringat pada ancaman Edwin. Meskipun Rayyan telah meyakinkannya tetap saja ia tak bisa tenang seolah tak terjadi apa-apa. Ia kepikiran bagaimana masa depan anak-anaknya kelak, bagaimana jika anak-anaknya tidak bisa mendapatkan pendidikan yang maksimal. Bagaimana jika mereka jatuh miskin, bagaimana jika....
Astaga, ia terlalu jauh berfikir jauh untuk sesuatu yang brlum terjadi.
"Kenapa melamun hm?" Rangkulan hangat pada bahunya menyadarkan ia dari segala pikiran negatifnya.
"Allah itu sesuai prasangka hambanya sayang" Ucap Rayyan sambil mengecup pelipis istrinya.
Shafa menoleh dengan kening berkerut "Maksud Mas apa?"
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]"
"Lewat hadits ini Rasulullah SAW pun mengajarkan umatnya untuk selalu berpikir positif dalam segala hal. Karena semua kejadian, apa pun itu, berada sepenuhnya dalam genggaman Allah SWT dan terjadi karena seizin-Nya. Dengan berpikir positif, seseorang akan mampu menyikapi setiap kejadian dengan cara terbaik"
"Selain itu, ia pun akan mampu menghadapi hidup dengan optimis. Betapa tidak, ia dekat dengan Allah Dzat Penguasa yang ada. Karena itu, Rasulullah SAW mengungkapkan bahwa orang beriman itu tidak pernah rugi, diberi nikmat dia bersyukur. Syukur adalah kebaikan bagi dirinya, diberi ujian dia bersabar, dan sabar adalah kebaikan bagi dirinya."
"Hakikatnya Allah tidak pernah membuat jarak dengan manusia. Manusia sendiri yang membuat jarak dengan Allah. Demikian pula, Allah tidak pernah menghambat manusia untuk sukses, tapi manusia sendiri yang menghalangi diirnya untuk sukses. Kunci dari semua itu adalah pikirannya. Manusia adalah bentukan pikirannya." Rayyan menatap dalam mata Shafa. Ia tahu istrinya sedang memikirkan sesuatu.
"Aku--- Aku masih"
"Shafa nggak percaya sama mas?" Potong Rayyan.
"Hah?" Ia mengerjab lucu. Semudah itukah Rayyan membaca fikiran Shafa?
__ADS_1
"Mas tidak akan membiarkan anak dan istri mas menderita." Ucapnya.