Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Antri


__ADS_3

"Aduh" Aisyah mengaduh saat bus yang di tumpangi terguncang begitu keras. Bukan hanyabdia tapi juga teman-teman lainnya yang tadinya nampak terlelap mulai terjaga.


"Aduhh... jalanan apa kolam cebong nih? lubang semua" Ujar salah seorang mahasiswa yang duduk di depan Aisyah.


"Gilak, badan ku sakit semua" Seru Dita yng berada di smping Aisyah. Satu persatu mahasiswa mulai mengeluhkan jalanan yang rusak dan berlubang. Ternyata pembangunan di negri tercinta ini belum benar-benar merata. Buktinya masih ada jalanan seperti ini. Bisa dibayangkan saat hujan kondisi jalan yang seperti ini bisa memicu kecelakaan. Harusnya pemerintah harus lebih memperhatikan daerah seperti ini, jangan hanya pada saat kaampanye bermulut manis menjanjikan ini dan itu akan tetapi lupa saat telah duduk di kursi kebesarannya.


Aisyah melongok keluar, ia cukup tertegun melihat pemandangan yang begitu hijau. Pepohonan hijau yang masih rimbun di sebelah kanan, juga padang ilalang yang membentang di sisi sebelah kiri sangat berbanding terbalik dengan kondisi jalan yang rusak.


Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan termasuk 1 jam melewati jalanan rusak tibalah mereka di sebuah perkampungan kecil. Seperti kegiatan baksos pada umumnya, kedatangan mereka disambut


dengan beberapa perayaan bahkan ada tarian selamat datang. Camat dan kepala desa setempat ikut serta dalam penyambutan tersebut. Kehadiran mahasiawa yang berrgelut di bidang kesehatan di tempat itu cukup mendapat sambutan baik dari masyarakat yang masih perlu dibedukasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat.


Selama beberapa hari kedepan mereka akan menempati rujab camat, karena kegiatan di fokuskan di kantor camat setempat. Tenda yang akan dijadikan sebagai posko kesehatan sudah berdiri sejak mereka tiba, lwngkap dengan ranjang dan alat-alat medis yang telah di bawa sehari sebelumnya. Setelah mengikuti serangkaian penyambutan para mahasiswa, dosen pembimbing dan juga penanggung jawab dalam hal ini adalah Malvino Surya Wijaya sebagai perwakilan dari pemilik yayasan, dipersilahkan untuk menikmati prasmanan yang telah di sediakan. Malvin menempati meja khusus bersama camat dan tokok pemuka lainnya.


Ia menoleh mecari sesorang yang sejak tadi tak di lihatnya.


Aha, itu dia!


"Tolong panggilkan wanita yang pake kerudung itu" Pinta Malvin pada salah seorang pelayang yang tengah menyajikan minuman. Pelayan itupun bergerak menghampiri Aisyah yang sedang mengaantri mengambil makanan dengan piring di tangannya.


"Ada apa dok?" Tanya Aisyah yang masih memegang piring kosong.


"Duduk disini!" Perintahnya datar, bak bos yang sedang memerintah anggotanya.


"Tapi dok---"

__ADS_1


"Duduk! Shafa telah menitipkanmu padaku, atau kamu mau aku melaporkan sifat pembangkangmu itu pada Rayyan?" Malvin berujar pelan tapi sarat akan ancaman. Mau tak mau Aisyah menurut duduk di bangku kosong di sebelah Malvin. Sontak tatapan sinis dari beberapa dosen dan mahasiswa tertuju pada gadis polos itu.


"Eh lihat tuh si Aisyah, cari kesempatan bangeet deh"


"Iya, sok kecantikan. Luarnya aja yang polos"


Kasak kusuk terdengar dari sekelompok mahasiswa yang meruakan fans garis keras Malvin.


"Iri bilang Bos?" Sahit Dita yang merupakan sahabat Aisyah.


"Sudah-sudah kalian apa-apain sih, bikin malu aja tau ga?" Panji sang ketua tingkat mencoba menghentikan dua kubu yang hendak saling serang. Padahal di bangku itu Aisyah nampak begitu canggung dan tidak nyaman, beberapa kali ia menoleh pada teman-temannya dengan ekspresi menyedihkan.


Setelah menyelesaikan makan siang, mereka segera menuju ke kamar masing-masing. Di rumah jabatan bertingkat dua itu, para mahasiswa yang berjumlah 20 orang menempati 5 buah kamar yang berbeda. Masing-masing kamar berisi 4 orang mahasiswa. Sedangkan pada lantai dua rumah tersebut di tempati oleh dosen pembimbing dan penanggung jawab. Malvin menempati kamarb khusus yang telah di siapkan untuknya, sedangkan 3 orang dosen pembimbing yang ketiganya adalah wanita menempati satu kamar yang juga berada di lantai dua.


Aisyah tersenyum lebar saat membuka kopernya, di bagian paling atas Shafa meenyelipkan sebuah batal kecil yang nyaman di bawa kemana-mana, kebetulan di kamar itu hanya ada dua buah karpet yang membentang yang hanya di lapisi oleh kasur lantai tipis. Ia seperti kembali ke jaman KKN dulu. Setidaknya ini jauh lebih baik di bandingkan harus tidur di lantai dingin rumah sakit hanya beralaskan karpet tipis.


Kak Shafa memang yang terbaik! Batinnya. Ia segera mengambil posisisi tengkurap di atas kasur lantai sambil mengaktifkan handphonenya.


"Dit...dit nggak ada koneksi internet!" Ujar Aisyah yang nampak panik.


"Serius?" Dita dan ke dua temannya, Lia dan Gita pun ikut mengecek ponsel mereka.


"Oh Nooooooo!!!! Gue belum ngechat pacar gue kalau udah nyampe. Dia pasti khawatir" Ujar Gita yang terdengar menyedihkan. Inilah salah satu wanita dengan tingkat ke bucinan sangat akut.


"Ya Ampun!!!" Aisyah berjingkat dan langsung bangkit dari posisinya.

__ADS_1


"Kenapa Syah?"


"Aku belum shalat duhur, ini udah mau jam tiga" Ucapnya sambil bergegas mencari mukena di dalam kopernya. Ia celingukan mencari kamar mandi di ruangan itu dan sialnya, ini bukanlah kamarnya yang memiliki kamar mandi di dalam. Aisyah segera keluar mencari keberadaan kamar mandi untuk berwudhu.


"Ji, kamar mandi dimana ya?" Tanyanya pada ketua tingkat yang terlihat sudah mengganti pakaian dengan kaos berwarna hitam dengan handuk menyampir di lehernya.


"Sebelah sana, tapi ngantri. Ada juga di luar tapi mending yangbdi dalam saja" Ujar panji. Aisyah pun segera menuju kamar mandi yang bersebelahan dengan dapurr itu. Beberapa mahasiswa terlihat mengantri untuk mandi. Melihat kedatangan Aisyah mereka ada yang berbisik-bisik dan ada pula yang hanya diam smabil memperhatikannya.


Apa bagusnya cewek kecil kaya dia ini sih, body oke an juga gue! Batin Tasya, si primadona kampus.


"Teman-teman aku duluan ya, cuma mau wudhu aja kok" Ujar Aisyah pada empat orang rekannya yangbjuga tengah menunggu giliran.


"Enak aja! Ngantri dong, jangan mentang-mentang kamu dekat sama dokter Malvin kamu bisa seenaknya ya" Tukas Wanda sambil berkecak pinggang di hadapan Aisyah.


"Tolonglah kak, aku janji nggak lama kok" Kali ini ia memohon dengan wajah sendunya. Tasya and the gank adalah salah satu gank popular di kampus. Mereka adalah gadis-gadis berpenampilan modis dan bergaya hidup hedon.


"Nggak usah sok alim deh loh. Kalau mau wudhu sana di luar, di keran depan juga ada air. Gampang kan" Sahut Ima yangbmembuat Aisyah semakin kesal.


Dasar perempuan ga ada akhlak! Kena Azab baru rasa!


"AULIA!!!" Aisyah refleks menoleh saat namanya di panggil dengan penuh penekanan.


Ya Allah salah apa lagi aku!


"Ikut saya sekarang!" Ucap Malvin datar dan segera berlalu menuju arah tangga.

__ADS_1


__ADS_2