Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Balas Budi


__ADS_3

"Mati kamu!!! Mati!!!" Jerit Aisyah sambil terus mengayunkan kayu memukul tubuh seekor ular berwarna hitam hingga mati.


"Akh" Terdengar rintihan Malvin yang terkena gigitan ular pada lengan kanannya. Aisyah seketika membuang kayu yang di pegangannya dan segera memeriksa lengan Malvin.


"Do- dokter..." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Hari ini Ia berhutang budi pada dokter yang selama ini ia panggil r itu. Aisyah tanpa sungkan menyentuh lengan Malvin yang terlihat dua titik bekas gigitan ular. Air matanya meleleh, kalau tidak ada Malvin mungkin ia yang akan digigit oleh ular jahanam itu.


"Cari tali, cepat!" Ucap Malvin yang tengah meringis sambil memegang erat lengannya. Jika tidak di ikat bisa ular tersebut bisa menyebar ke seluruh peredaran darah dan bisa berakibat fatal. Aisyah segera bangkit dan mencari apa saja yang bisa di gunakan untuk mengikat lengan Malvin.


Akar, rumput, pohon, ah... Ia menggeleng frustasi saat tak menemukan apapun yang bisa ia gunakan sebagai tali. Sementara Malvin kian meringis menahan bisa ular agar tak menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Cepat!!!" Sentak Malvin yang sudah berkeringat. Aisyah bingung apa yang harus di lakukan nya. Otaknya tak mampu bekerja dengan dalam kondisi seperti ini.


"Tolong...!!! Tolong...!!!" Alih-alih mencari tali, ia malah berteriak meminta tolong. Ia heran kenapa tak satupun orang melintas di tempat itu, padahal ia telah mengikuti arah panah di persimpangan tadi.


"Bod*h! Kamu mau teriak sampai mati pun tidak akan ada yang dengar," ucap Malvin sambil melotot. Ia berusaha bangkit dari posisi duduknya. untung lengannya yang di gigit, seandainya kaki, mungkin ia hanya akan berdiam di tempat itu.


"Tunggu dok!" Aisyah menahan langkah Malvin yang hendak beranjak.


"Apa? Dasar tidak berguna," cibir Malvin yang menatap Aisyah dengan tatapan kesal. Ucapan Malvin cukup mencubit hati gadis berusia 19 tahun itu. Aisyah menunduk sejenak kemudian mengangkat wajahnya menatap Malvin dengan serius.


"Maaf dok," cicitnya. Ia menarik tangan Malvin untuk kembali duduk di batang kayu besar.


"Kamu mau apa?" Tanyaa Malvin heran.


"Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk dokter," Jawab Aisyah lemah. Begitu jelas terlihat tangannya bergetar. Malvin menatap Aisyah tak mengerti dengan apa yang akan ia lakukan. Perlahan tapi pasti Aisyah membuka kaitan peniti yang ada di lehernya. Malvin membelalak melihat Aisyah yang menunduk sambil melepas pasmina hitam yang di kenakannya. Terlihat genangan bening di sudut matanya mengintip seakan ingin tumpah.


"Apa yangbkamu lakukan Aulia?" Bentak Malvin. Entah mengapa hatinya merasa sakit saat melihat Aisyah.


"Biarkan saya membalas kebaikan dokter. Hanya ini yang bisa saya lakukan" Ucapnya menahan tangis. Kini Malvin bisa melihat dengan jelas titisan boneka barbie di hadapannya tanpa kerudung yang selalu menutup kepalanya.


Dengan cekatan Aisyah mengikat lengan Malvin kuat-kuat dengan pasmina miliknya. Tak apa ia melakukan ini, toh dalam keadaan darurat ular pun halal untuk dimakan. Batinnya menguatkan dirinya.


"Ayo dok," ujar Aisyah. Sementara Malvin masih tertegun menatap Aisyah.


"Dokter ayo!" Aisyah menarik paksa lengan Malvin.

__ADS_1


"Ah, iya" Malvin segera beranjak.


"Jalan lebih cepat bisa kan dok?" Tanya Aisyah yang tanpa sadar menggandeng lengan dokter tanpan itu. Ia terlalu panik sehingga tak bisa berfikir dengan jernih. Mereka terus berjalan dengan cepat hingga tiba di persimpangan tadi. Aisyah tercengang saat mendapati tanda panah yang berubah posisi. Pantas saja ia tak menemukan apapun di jalur yang di lewati tadi.


"Tunggu," Malvin menghentikan langkahnya dan menoleh pada Aisyah.


"Ada apa dok?"


Malvin melepaskan jaket yang ia ikatkan di pinggangnya dan menutupkannya di kepala Aisyah. Ia tahu betul, gadis di depannya ia sangat menjaga auratnya lawan jenisnya.


"Pakailah, setidaknya bisa menutupi rambutmu" Ucapnya membuat jantung Aisyah berdebar.


Kenapa dokter Malvin jadi manis gini? Aku kan jadi deg degan.


Sementara itu, Rayyan yang sedang berenang dengan anak-anaknya harus menepi saat sang ratu memanggilnya.


"Mas... Ini dari tadi handphonenya bunyi" Shafa menndekat sambil membawakan handphone milik Rayyan.


"Siapa?"


"Nomor baru"


"Wa alaikum salam kang Andi...hiks"


"Aish? Kamu kenapa?" Rayyan sudah bisa mengenali suara cempreng Aisyah.


"Kang aku OTW pulang nih" Adunya. Ia saat ini berada di mobil yang sama dengan Malvin. Beruntung mobil jemputan Malvin sudah tiba di posko saat mereka sampai di posko.


"Kenapa pulang? Bukannya masih seminggu lagi, kamu sama siapa Syah?" Cecar Rayyan dengan pertanyaan bertubi-tubi.


"Sa-sama dokter Malvin." Ucap Aisyah lirih.


Rahang Rayyan seketika menegang mendengar Aisyah bersama Malvin. Sebelumnya Malvin pernah membuat Aisyah menangis, kali ini apa lagi yang dilakukannya pada gadis itu.


"Kamu di apakan Syah? Kamu dimana sekarang? Saya jemput kamu!" Teriak Rayyan khawatir. Ia takut Malvin berbuat buruk apda adiknya itu.

__ADS_1


"Pelan atuh kang! Aish nggaak papa, tadi Aish di tolongin dokter Malvin pas ada ular, jadinya dokter yang tangannya di gigit. Makanya kita langsung mau pulang" Terang Aisyah, agar tak terjadi salah paham.


"Innalillah, kenapa bisa Aisyah. Ya sudah kamu hati-hati, saya tunggu kalian di klinik" Ujar Rayyan.


"Ayah tenapa teliat-teliat?" Tanya Am yang sejak tadi memperhatikan ayahnya.


"Tante Aish kenapa ayah apa taante Aish sakit?" Sambung Zaf yang juga mendengar percakapan Rayyan dan Aisyah.


Belum juga Rayyan menjawab, Am sudah berteriak mengadukan sang ayah pada mommynya yang datang dengan nampan berisi cemilan.


"Mommy ayah tadi teliat-teliat lo mommy. Ayah malah-malah" Adu Am tanpa menghiraukan ayahnya yang masih berada di depannya.


"Marah-marah? Memang siapa yang nelfon mas?" Shafa mengerutkan keningnya. Pasalnya jarang sekali ia melihat Rayyan marah di telfon.


"Aisyah yang nelfon. Dia sedang di perjalanan pulang" Jawab Rayyan sambil mengangkat anak-anaknya keluar dari kolam.


"Atu mau pangku mommy" Am mendekati mommynya yang langsung di tahan oleh Shafa.


"No! Am basah, nanti mommy ikutan basah. Duduk disitu saja sama abang dan adek" Tolak Shafa. Yang benar saja, ia harus basah-basahan sementara masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan.


"Ugh, mommy nakal ayah" Am mengerucutkan bibirnya yang mendapat juluran lidah dari mommynya. Shafa senang sekali mengganggu anak gantengnya yang satu ini.


Rayyan yang masih berada di dalam kolam menyeringai melihat istrinya yang terus menggoda Am.


"Sayang tolong ada semut di leherku" Ucap Rayyan tiba-tiba sambil menunjuk lehernya.


"Coba aku lihat!" Ucap Shafa tanpa sadar dirinya hanya di kerjai oleh Rayyan.


"Awww"


Byuuur...!!!


"MAS RAAY!!!" Teriak Shafa saat tubuh di tarik tercebur ke dalam kolam. Sontak gelak tawa menggema dari ketiga anaknya yang menyaksikan hal itu.


"Ha..ha..ha... Mommy basah, wekkk" Ejek Am yang terlihat begitu senang melihat mommynya berada di dalam kolam.

__ADS_1


"Acu au belenang agi" Sahut Zizi


"Atu juga ayah, mau belenang lagi" Seru Am sambil lompat lomapt di pinggir kolam. Jadilah pagi itu mereka kembali menghabiskan waktu berada di kolam renang.


__ADS_2