Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Semua Masih Sama


__ADS_3

Rayyan yang tengah di tatap dengan tatapan dalam oleh istrinya menjadi salah tingkah. Ia mengalihakan pandangannya kesamping. Jantungnya bergemuruh seakan ingin berteriak saat mata mereka saling mengunci.


"Mmm... Lupakan saja, tidak perlu di jawab" Ucap Rayyan yang merasa tidak enak. Mungkin terlalu cepat menanyakan hal itu pada Shafa yang telah ia tinggal selama hampir 3 tahun. Semua gara-gara dokter tampan itu, membutnya ingin memastikan segalanya.


"Kenapa?" Shafa mendekatkan tubuhnya dengan pandangan yang sama sekali tak berpindah pada satu titik. Wajah Rayyan.


Melihat wajah Shafa yang kini berada hanya beberapa senti dari wajahnya membuat Rayyan salah tingkah. Ia tak pernah sedekt ini dengan wanita manapun sebelumnya, meskipun dulu saat dirinya menjadi suami Shafa bukan hanya dekat tapi juga menyatu, itu lain lagi ceritanya.


Dari jarak yang sedekat ini Shafa bisa melihat dengan termaat sangat jelas wajah suaminya meski dengan penerangan lampu yang tidak begitu terang di teras balkon itu. Wajah Rayyan kini terlihat lebih chubby dari sebelumnya menandakan dirinya hidup dengan baik, makan dengan baik selama ini. Di sudut kanan keningnya terlihat ada goresan seperti bekas luka yang sebelumnya tidak ada. Beberapa tahi lalat kecil juga yang ada di sekitar mata kirinya juga masih ada, membuat Shafa benar-benar yakin bahwa laki-laki dihadapannya ini adalah suaminya.


Tangan Shafa bergerak menangkup wajah Rayyan. Hangat! saat kulit tangannya bersentuhan dengan wajah di hadapannya itu.


"Apa kamu meragukan perasaanku mas? Harusnya kamu tahu, selama 871 hari ini tak seharipun aku tidak mencintaimu. Dan selama itu pula aku terus berdoa agar Allah mengembalikan kamu padaku." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Penantian Shafa memang sangat luar biasa. Sejak hari itu, Shafa terus menghitung hari berharap hari berikutnya adalah hari kepulangan Rayyan.


Rayyan tak mampu berkata-kata untuk membalas ucapan wanita di depannya itu. Meski dalam kurun waktu yang sama ia juga menanti. Menanti datangnya ingatan itu kembali, ia juga berdoa agar siapapun yang mencintainya selalu di limpahi kasih sayang dariNya. Ternyata Allah masih menjaga cinta keduanya hingga mereka di pertemukan kembali.


"Maaf"


Hanya kata itu yang bisa terlontar dari bibirnya. Ia mengusap lembut cairan yang masih menggenang di sudut mata Shafa. Perih rasanya melihat wajah caantik itu berderai air mata. Harusnya ia tidak menanyakan pertanyaan itu. Tapi kalau tidak bertanya, mana mungkin Rayyan tahu bahwa Shafa masih mencintainya. Ia bahkan menghitung dengan detail hari-hari dirinya tak di sisi Shafa.


"Semoga Allah mengganti 871 hari kita yang hilang dengan lebih dari 871 hari yang akan datang dengan kebaikan" Balas Rayyan.


"Apa cinta mas Rayyan untukku juga ikut hilang bersama ingatanmu?"


Rayyaan terdiam. Memandang lekat wajah Shafa. Ia berfikir keras mencoba mengingat sesuatu tentang sosok di depannya ini.

__ADS_1


"Aku... Aku..." Rayyan nampak berkeringat, nyeri di kepalanya tiba-tiba datang. Ia memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit itu.


"Mas?" Shafa nampak khawatir melihat perubahan air muka Rayyan. Jangan sampai terjadi hal buruk padanya. Mereka baru saja bertemu.


"Mas nggak papa? Maafin Shafa harusnya Shafa tidak bertanya begitu" Ucap Shafa menyesal.


"Ayo masuk, mas istirahat di dalam" Shafa menarik lengan Rayyan untuk segera masuk ke dalam, tidur mungkin akan membuat kondisi Rayyan lebih baik.


"Shafa..." Rayyan mencekal pergelangan tangan Shafa yang memaksanya untuk masuk.


"Iya?"


"Bisakah kita mulai semuanya dari awal?" Ucapnya dengan tatapan sendu. Rasa bersalah Rayyan akaian besar saat tak bisa mengingat wanita dihadapannya ini.


"Saya memang tidak bisa mengingatmu, tapi disini, kamu dan anak-anak kita memiliki tempat di sini" Ia memegang dadanya meyakinkan Shafa bahwa perasaan itu masih ada dan selalu ada untuknya.


Shafa tersenyum mendengar ucapan Rayyan, Ia merasa seperti seseorang yang baru jatuh cinta. Ada banyak bunga bermekaran di hatinya mendengar pernyataan tersirat dari suaminya.


"Tak apa mas, dulu kamu duluanlah yang mencintaiku, mengajariku membangun cinta, menumbuhkan kepercayaan, dan menjagaa sebuah kesetiaan. Sekarang, biarkan aku saja yang mencintaimu. Mas cukup berada di sampingku dan anak-anak kita." Balas Shafa yang tak ingin suaminya berfikir terlalu keras tentang perasaannya. Ia sadar, cinta itu menciptakan kenangan dan ketika kenangan itu hilang, mungkinkah cinta itu masih tertinggal?


"Tidak Shafa, Ana uhibbuki fillah" Ucapnya yang begitu aja mengalir. Kata itu benar-benar tak asing di ingatannya.


Mendengar kata itu Shafa sempat tersentak, ia kemudian menubrukkan tubuhnya memeluk suaminya erat. Ia terisak dalam pelukan Rayyan. Ia ingin melepaskan semua rasa sakit dan rasa rindu yang selama ini menghimpit.


"Mas Ray... Hiks... Hiks... Aku kangen kamu mas" Ucapnya semakin mempererat pelukannya. Ia tak perduli pada beberapa perawat yang tengah melintas.

__ADS_1


"Maaf" Lagi-lagi hanya kata itu yang bisa terlontar. Rayyan mengusap lembut punggung Shafa, memberikan kenyamanan pada pemilik tubuh ramping itu.


"Aku mohon jangan pergi lagi mas, jangan tinggalin aku dan anak-anak lagi...Hiks...Hiks" Cicitnya lirih.


"Insha Allah. Sebisa mungkin saya tidak akan meninggalkan kalian lagi" Balasnya. Bahagia sekali rasanya bisa memeluk wanita yang selama ini mencintainya tanpa lelah. Rayyan semakin penasaran pada sosok dalam rengkuhanya itu.


"Bantu saya mengingat semuanya" Imbuhnya. Rayyan bertekad dirinya harus segera pulih. Demi istrinya, demi anaknya dan demi keutuhan rumah tangganya.


"Astaga... Shafa!!!" Suara mommy menghancurkan momen hangat mereka berdua. Rayyan segera melepaskan pelukannya pada Shafa.


Mommy melangkah cepat menghampiri dua orang yang baru saja tertangkap sedang berpelukan di tempat umum.


"Kalian ini, ngapain peluk-pelukan disini? Nggak malu kalo ada yang lihat" Omel mommy, pelan tapi penuh penekanan. Sebenarnya bukan itu yang di maksud mommy Shafa, ia lebih kepada ingin menjaga perasaan dokter tampan yang berdiri bersebelahan dengan suaminya. Mereka baru saja selesai membahas tentang rencana pengobatan Rayyan.


Malvin yang terlihat berdiri tegap di sebelah daddy Shafa beberapa menghela nafas berat. Ada luka yang tak berdarah. Sakit tapi tak nampak.


"Lebih baik kita masuk" Rayyan menoleh kepada Shafa, mengajaknya masuk ke dalam ruangan di mana anak-anaknya berada.


Daddy kembali menepuk bahu Malvin memguatkan laki-laki tampan di sampingnya. Dalam hati ia berdoa semoga Malvin segera dipertemukan dengan jodohnya. Daddy juga merasa bersalah pada Malvin, ia harusnya tidak perlu ikut campur pada masalah perasaannya pada Shafa. Tapi nasi sudah menjadi bubur, siapa yang menyangka bahwa laki-laki yang telah di kabarkan meninggal dua setengah tahun silam kini kembali lagi. Terlebih kondisi Shafa yang begitu rapuh kala itu membuat daddy selaku orang tidak tega dan mencarikan cara agar putrinya bisa move on dari Rayyan. Bukan hanya Daddy, ayah dan ibu mertua Shafa pun sama, mereka tak tega melihat menantu satu-satunya seakan kehilangan semangat hidup, terlebih cucu-cucunya yang masih kecil tentu membutuhkan sosok seorang ayah.


Di antara semua laki-laki yang pernah mendekati Shafa, hanya Malvin yang memiliki kriteria menantu idaman di mata mereka. Selain karena parasnya yang tampan, bahkan lebih tampan dari Rayyan, ia juga pria dewasa yang mapan dan penuh kasih sayang. Malvin yang di kenal dingin dan jutek oleh beberapa orang nyatanya adalah seorang pria hangat dan penyayang.


"Sepertinya, saya tidak bisa melanjutkan kontraknya dok, Saya akan segera kembali ke Singapura dalam waktu dekat ini" Ucapnya yang membuat daddy terkejut. Malvin adalah satu-satunya yang ia harapkan bisa membantu pemulihan Rayyan. Kalau seperti ini daddy harus mencari dokter ahli terbaik lagi dan untuk saat ini tidak mudah menemukannya, kecuali jika Rayyan harus berobat di luar negeri. Itupun tidak mungkin di lakukan. Ia baru saja kembali, jika ia pergi lagi pasti akan membuat Shafa kembali terguncang.


"Apa tidak bisa di pertimbangkan lagi dokter Malvin? Tolonglah, kami sangat membutuhkan mu" Ucap Mommy serius.

__ADS_1


"Saya akan tetap tinggal kecuali..." Malvin menatap daddy Shafa serius sebelum melanjutkan kembali ucapannya.


__ADS_2