Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Perkenalan


__ADS_3

"Hallo... Saya sudah di jalan dok," ujar Aisyah pada sang penelpon yang sudah sejak di rumah tadi menelponnya. Aisyah masih tak mengerti dengan alasan Malvin meminta dirinya menemaani ke pesta keluarga. Namun, tak bisa di pungkiri ada rasa bahagia di sudut hatinya menerimaa ajakan Malvin. Terlebih bila mengingat tawaran menggiurkan yang ia sampaikan di awal.


Pukul 7 lewat 10 menit, taksi online yang ia kendari berhenti tepat di pelataran hotel yang di sebutkan Malvin. Aisyah tak langsung turun dari taksi. Ia mencoba menghubungi Malvin, namun sayang panggilannya do tolak.


Apa aku di kerjain.


Dengan perasaan was-was bercampur khawatir, ia turun dari taxi yaang di naikinya. Ia menoleh kesekelilingnya, tak seorangpun yang kenal. Sejauh mata memandang hanya jajaran mobil-mobil mewah yang terpakir di halaman gedung 20 lantai tersebut.


"Aulia!" Aisyah tersentak saat suara tegas itu memanggilnya. Siapa lagi, yang memanggil nama tengahnya kalau bukan Malvin. Tubuhnya refleks berbalik, dan makin terpanalah ia mendapati sesosok pria tampan dalam balutan jas hitam yang begitu mempesona.


Ganteng!


Kedua saaling pandang dalam waktu yang cukup lama. Jika Aisyah menatap kagum pria di hadapannya, lain dengan Malvin. Di balaik ekspresi datarnya itu, hanya ia yang tahu apa yangbsedang di fikirkannya.


"Ehm... Ayo masuk!" Malvin lebih dulu membuka suara. Ia mengulurkan tangannya namun dengan halus di tolak Aisyah.


"Maaf, dok. Kita tidak boleh bersentuhan," ucapnya sambil menangkupkan tangan di dada. Ia akan selalu mengingat ucapan Rayyan perihal bersentuhan dengan yang bukaan mahram. Bahwasanya lebih baik bagi seorang muslim menggenggam bara api dari pada menyentuh yang bukan mahramnya.


"Cih, kamu lupa kejadian di hutan waktu itu?" Sindir Malvin. Ia ingat betul, waktu itu Aisyah bukan hanya menyentuhnya, ia bahkan relaa menanggalkan hijabnya demi menolong Malvin.


"Itu darurat dok. Dalam islam, ular pun akan menjadi halal di makan jika dalam kondisi terdesak!" Sahutnya sedikit meninggi.


"Terserah padamu," Balas Malvin. Ia berjalan mendahului Aisyah. Sementara, di belakangnya, Aisyah mengikuti dengan menggerutu.


Malvin menghentikan langkahnya begitu sampai di lobby hotel. Ia harus memberikan briefing singkat pada Aisyah sebelum masuk ke aula. Ia tak ingin rencananya berantakkan karena kepolosan gadis itu


"Kok berhenti dok?" Tanya Aisyah bingung.


"Ada yang perlu saya beri tahu padamu" Malvin berjalan menuju sofa yang terdapat di lobby hotel tersebut.


"Apa? Memangnya siapa yang ulang tahun dok?" Rasa penasaran Aisyah kian besar. Menurutnya, hanya orang-orang kaya saja yang akan mengadakan pesta ulang tahun di hotel berbintang tempat ia berada saat ini.


"Papa saya. Dan kamu harus berpura-pura menjadi orang terdekat saya" Malvin menatap lekat mata Aisyah yang tiba-tiba melotot mendengar ucapannya.


"Orang terdekat?"


Jadi pacar maksudnya? Waduh, ngimpi aku semalam. Ish, jangan ge er dulu Aish. Kamu belum tahu apa yang di rencanakan dokter nyebelin tapi ganteng ini.

__ADS_1


"Yap! Dengan kata lain kekasih" Malvin tersenyum singkat.


"Ta.. tapi dok, saya harus gimana?" Perasaan Aisyah kian tak menentu ketika kata 'kekasih' itu terucap dari mulut pedas yang kerap menyinggungnya.


"Kamu cukup bersikap tenang, dan mengiyakan apa yang aku katakan. Jawab seperlunya jika ada yang bertanya, dan satu lagi" Malvin menjeda kalimatnya.


"Jangan pernah menunjukkan wajah bodohmu itu di hadapan keluargaku!" Sarkas Malvin membuat ekspresi cengo Aisyah berubah menjadi geram.


"Tolong kontrol wajah kamu. Perbanyak senyum di hadapan mereka" Imbuhnya, membuat Aisyah menggeram kesal. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mengulangnya hingga beberapa kali.


"Bagus! Sekarang ayo kita masuk! Berjalanlah di sebelahku agar tidak seperti anak ayam yang kehilangan induknya" Malvin berdiri di ikuti Aisyah yang masih diam dengan wajah di tekuk. Selalu saja, ucapan Malvin membuat darahnya naik. Paras dan ucapan pria di depannya ini begitu berbanding terbalik.


Kendati di liputi rasa kesal yang memuncak sampai di ubun-ubun, Aisyah tetap mengikuti langkah Malvin yang berjalan berdampingan dengannya.


"Senyum!" Bisik Malvin setelah berada di depan pintu Aula. Dada Aisyah makin bergemuruh. Ia gugup, persis seperti calon mantu yang hendak bertemu calon mertua.


Aisyah menggingit bibir bawahnya, kala dua orang penjaga membuka pintu Aulabtersebut. Silau lampu yang begitu terang langsung merasuk ke dalam retina matanya. Ia mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk di penglihatannya.


Ia menoleh ke arah Malvin yang saat itu juga melihat padanya. Sebuah senyum lembut serta anggukan kecil seakan menjadi kekuatan tersendiri bagi Aisyah. Ia membalas dengan senyum serupa mengisyaratkan bahwa dirinya bisa. Meski ini adalah kali pertama ia menghadiri perayaan mewah seperti ini.


Langkah mereka yang beriringan menjadi pusat perhatian tamu undangan yang hafir di tempat itu.l, terutama Aisyah. Gadis berhijab itu menjadi satu-satunya perempuan yang menutup auratnya.


"Gugup?" Bisik Malvin. Ia mencoba berinteraksi dengan Aisyah agar ia tak terlihat canggung.


"Sedikit"


"Its Okay. You look so beautiful tonight" ucap Malvin menguatakan. Namun bukannya menguatkan, ucapan tersebut justru membuat Aisyah tersentak hingga hampir jatuh terjungkal jika Malvin tidak menahan tubuhnya.


"Hati-hati! Jangan malu-maluin," sepertinya ucapan manis Malvin tak cocok di telinga Aisyah.


"Sorry" cicitnya lirih.


Malvin segera membawa Aisyah menuju meja yang berada di depan, dimana keluarga berada.


"Malvin!" Panggil seru Nadia, yang tak lain adalah kakak iparnya. Ia berjalan cepat menghampiri Malvin dengan senyum merekah.


"Ya ampun, cantik banget" Pujinya pada Aisyah. Tanpa sungkan Nadia menggenggam tangan Aisyah. Sedangkan Aisyah hanya bisa tersenyum canggung.

__ADS_1


"Ini beneran calon kamu Vin?"


Malvin menjawab dengan mengangkat kedua alisnya disertai senyum.


"Kakak, suka. Siapa nama kamu?" Tanyanya pada Aisyah yang masih bungkam.


"A..."


"Aulia kak" Sahut Malvin sebelum Aisyah membuka suaranya.


"Dasar anak nakal! Biarkan dia memperkenalkan dirinya sendiri" Nadia memukul lengan Malvin yang asal sahut saja.


"Tidak apa-apa kak" Jawab Aisyah sopan, semakin membuat Nadia terkesan.


"Ayo, papa dan yang lainnya sudah menunggu" Tanpa meminta persetujuan Aisyah, Nadia menarik tangannya menuju meja bundar yang berada paling depan.


"Mah... Pah" Panggil Nadia yang tak sabar untuk memperkenalkan Aisyah.


"Nad, ini siapa?" Tanya papa Malvin. Ia baru pertama kali melihat sosok Aisyah, berbeda dengan eyang dan mama yang pernah melihatnya di klinik.


"Kenalin diri kamu dong sama calon mertua" Celetuk Nadia, seketika membuat pipi Aisyah merona.


Calon mertua. kik..kik..kik... Ia terkekeh dalam hati.


"Assalamualaikum om, nama saya Aisyah Aulia Zahra" ucapnya sopan sambil menunduk hormat.


"Kamu..."


"Dia yang mau Malvin kenalin ke papa," Potong Malvin yang memposisikan diri di belakang Aisyah.


Ditengah kebahagian keluarga Malvin yang menyambut hangat kedatangan Aisyah, ada seorang yang sejak tadi berdiri dengan hati terbakar.



Tante Aisy nya siapa nih❤️


__ADS_1


__ADS_2