Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Perbincangan Subuh


__ADS_3

"Vin, Kamu baru pulang?" Seorang wanita berusia lebih dari setengah abad menyambut kedatangan putra bungsunya yang baru saja membuka pintu.


"Mama kenapa belum tidur?" Malvin berjalan sambil menenteng jas putih kebesarannya menuju tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua rumahnya.


"Vin!"


Malvin menghentikan langkahnya. Menoleh pada mamanya yang sudah siap memberikaan siraman rohani. Kalau bukan seputar jodoh pasti seputar pernikahan. Orang tua mana yang tak khawatir jika putra kesayangannya yang sudah kepala 3 tapi belum juga menikah.


"Malvin capek ma, kita bicara besok" Ucapnya sambil terua melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Setelah membersihkan dirinya, Malvin memilih untuk bersandar pada kepala rajangnya sambil mengotak atik ponselnya membaca beberapa artikel terbaru yang masuk di emailnya.


Bodoh! Harusnya aku tau bahwa dokter Harsha akan melakukan apapun untuk kesembuhan menantunya, termasuk membayarku 3 kali lipat.


Malvin meletakkan ponselnya dengan kasar di atas tempat tidur. Ia mendongak sambil memejamkan matanya.


Shafa!


Nama itu terus mengisi fikirannya. Entah mengapa, di manta Malvin Shafa begitu istimewa, padahal di luar sana banyak wanita muda yang masih lajang dan perawan. Tapi hatinya terlanjur terpaut pada wanita cantik berhidung mancung itu. Bahkan, jika Shafa memiliki 10 anak pun ia tak keberatan menjadi pendampingnya. Katakan ia gila, tapi bukankah cinta itu kadang tak ada logika?


Semua ini karna perempuan itu! Kalau saja dia tidak datang membawa Rayyan kembali pasti aku bisa mendapatkan Shafa. Ia sangat kesal, baru sekali dia berhasil jalan dengan Shaga harus dikacaukan dengan kedatangan Rayyan bersama Aisyah.


Malam itu, di tempat yang berbeda Rayyan yang baru beberapa jam lalu terlelap kembali terjaga saat ia merasakan pergerakan di sebelahnya yang tak lain adalah Zifara. kepalanya kini berada di depan dada Rayyan sedangkan kakinya berada di dada Shafa. Rayyan tersenyum kecil melihat bagaimana putri kecilnya itu tidur. Wajahnya sangat cantik dan tenang.


Betapa baiknya engkau memberiku putri secantik ini ya Rabb. Jadikanlah anak-anakku sebagai anak Sholeh dan sholehah penyejuk hati kami.


Dengan hati-hati Rayyan bangkit untuk memperbaiki posisi tidur Zifara yang sangat kacau tersebut. Dalam hati ia sangat kagum pada Shafa yang pasti sudah sangat sering menghadapi situasi seperti ini.


Rayyan nampak menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung harus bagaimana memutar posisi Zizi. Kakinya menumpang sempurna pada dada sang Mommy yang hanya tertutup selimut sebagian. Memperbaiki posisinya berarti harus memindahkan kakinya dan untuk memindahkannya mau tidak mau ia harus menyentuh bagian itu. Hal itu membuat Rayyan bingung sendiri. Ia tidak mungkin membangunkan Shafa, tidurnya begitu pulas tapi dia juga tidak mungkin membiarkan putrinya tidur dengan posisi seperti itu.


Tak ada cara lain, Ia memberanikan diri untuk mengangkat kaki Zizi dari dada Mommynya.


"Bismillah" Gumamnya setelah menghela nafad panjang. Penampakan di depan matanya sangat menggoda iman laki-laki baik sepertinya. Apalagi ini halal lho. Tapi Rayyan cukup tau diri dan tahu situasi. Kalau saja dia ingat, dulu bukan hanya menyentuh, tapi bagian itu sudah menjadi candu yang hampir tiap malam ia habisi. Salah satu nikmat Allah yang di berikan kepada mereka saat ini adalah, mereka seperti pengantin baru yang masih malu-malu sekalipun usia pernikahannya sudah memasuki tahun ke 4. Jika di hitung-hitung kembali, lebih banyak waktu mereka berpisah dari pada mereka bersama. Namun hal itu tidak menyurutkan cinta keduanya.


Sekarang, Rayyan benar-benar yakin bahwa dirinya mencintai bahkan sangat mencintai wanita yang tengah tidur lelap tersebut. Wajahnya, suaranya, gerak geriknya semua terlukis jelas di matanya, membekas di ingatannya dan tertinggal di hatinya. Ia yakin dirinya telah mencintai Shafa sejak pertama melihatnya di kebun teh kala itu. Ia telah mencintai Shafa sebelum ia tahu bahwa Shafa adalah istrinya.


Dengan perlahan ia menaikkan selimut menutupi tubuh bagian atas Istrinya. Sekarang, ia tak rela bahkan jika hanya sekedar hembusan angin atau gigitan nyamuk menyentuh kulit istrinya.


Grep!

__ADS_1


Mata Rayyan membelalak saat sebuah tangan menahan tangannya. Ia melirik ke arah Shafa yang masih terpejam. Raut wajah yang tadi tenang nampak gelisah.


"Mas...Mas Ray" Terdengar gumaman kecil yang lolos dari bibirnya.


"Mas... Jangan pergi hiks.. hiks" Fix! Shafa mengingau. Sedalam itu perasaannya kepada Rayyan, hingga saat tertidur pun ia masih memanggil namanya. Bisa dibayangkan betapa berat 871 hari yang ia lalui.


Rayyan menggenggam erat tangan Shafa. Masih ada sedikit space tempat tidur di samping Shafa yang bisa ia duduki. Rayyan mengusap lembut kening Shafa dan untuk pertama kalinya ia mendaratkan kecupan panjang di keningnya.


"Maaf" Ucapnya dalam hati.


Hingga subuh menjelang Rayyan tidak beranjak dari sebelah Shafa, bahkan posisinya sekarang berbaring bersebelahan dengan tangannya yang memeluk Shafa dengan posessive.


"Astagfirullah hal adzim" Ia segera bangkit saat mebyadari dirinya berada dalam posisi yang tak biasa. Ia sendiri lupa bagaimana bisa tubuhnya berada sedekat itu. Beruntung Shafa masih terlelap hingga tak menyadari bahwa hampir semalaman ia tidur dalam rengkuhan suaminya. Tak salah sih, hanya pasti akan menimbulkan rona merah di pipi saat ia mengetahuinya.


"Enggh mommy" Terdengar suara serak Am menyebut mommynya. Rayyan segera menghampiri Am yang tengah menggeliat dengan muka kuyunya yang lucu.


"Hallo jagoan ayah, sudah bangun ya?" Sapanya pada Am yang sedang mengerjab-ngerjabkan matanya mengumpulkan segenap kesadarannya. Adaa senyum yang merekah apda bibir si ompong tersebut saat mendapati ayahnya berada di depannya.


"Atu mau peyuk mommy" Ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya. Rayyan paham, mungkin maksud Am, dia ingin berbaring di sebelah mommy nya. Diangkatnya tubuh kecil Am dan membaringkan nya di sebelah Shafa. Di luar dugaan, Am yang ia pikir hanya akan baring tenang di samping mommy nya justru merangkak naik membaringkan tubuhnya diatas tubuh Shafa.


Shafa yang terbangun hanya mengulas senyum. Ia sudah biasa dengan situasi seperti itu. Tangannya mengusap lembut punggung Am yang tengah berbaring nyaman di atas tubuhnya.


Rayyan hanya mengangguk sambil memperhatikan putranya yang dengan nyamannya berbaring dalam dekapan Shafa.


"Apa tidak apa-apa Am berbaring seperti itu? Apa tidak berat?" Tanyanya penasaran.


"Am memang seperti ini, sejak ada Zizi, dia seperti berlumba untuk dekat sama mommy nya" Ucap Shafa santai, sama sekali tak merasa terganggu dengan putra kecilnya itu.


"Dia nampaknya sayang sekali sama Shafa ya?"


"Tentu, karena selama ini dia hanya punya aku mas" Ujar Shafa.


"Tapi sekarang saya sudah disini, harusnya dia berbagi kasih sayang dengan ayahnya juga" Balas Rayyan mencairkan suasana subuh itu.


"Mas lupa, sangking sayangnya Am pada mas, sampai dia dulu yang mengenali mas waktu di kebun teh. Padahal waktu mas tinggal dia baru masuk 7 bulan. Masih bayi" Shafa mengingatkan kembali momen saat Am di gendong paksa oleh pekerja perkebunan lantaran terus-terusan memeluk dirinya.


"Saya ingat, Saat itu juga saya mengikuti kalian berdua ke atas bukit"


"Astaga Mas Ray!" Shafa sedikit berteriak membuat Zifara ikut terbangun.

__ADS_1


"Kenapa Mas nggak nyamperin kita" Protesnya.


"Am!!! Mommy, Am!!!" Zifara merengek sambil berusaha mendorong tubuh Am dari atas tubuh mommynya.


"Zi!!!" Am yang merasa tak terima membalas memukul tangan Zizi. Keributan pun di mulai. Zizi sudah mulai menangis dengan terus menarik baju Am sedangkan Am yang tak mau kalah semakin mengeratkan pelukannya pada sang mommy.


"Am, nggak boleh gitu nak sama adek" Ucap Shafa sambil menahan tangan kiri Am yang hendak membalas Zifara.


"Am sini sama ayah saja, kasian adek nangis" Rayyan mencoba mengambil alih Am dari tubuh Shafa.


"Zizi nakal ayah" Adunya sambil memeluk ayahnya. Kini posisi Am berganti dengan Zifara yang memeluk momnynya posessive.


"Seperti itulah kelakuan anak-anakmu tiap pagi Mas" Ucap Shafa sambil mengusap lembut punggung Zifara.


"Mungkin karena jarak mereka yang terlalu dekat. Shafa sengaja membuat jarak mereka rapat?" Tanyanya polos.


Ya Allah mas Ray!!! Pengen rasanya aku timpuk kepala mas pake bantal supaya mas ingat semuanya. Geramnya dalam hati.


"Hmmm" Jawab Shafa singkat. Ia menahan dirinya untuk tidak mencak-mencak di hadapan Rayyan, mengingat belum genap 24 jaam mereka bertemu.


"Hmmm? Maksudnya? Jadi Shafa sengaja buat jarak mereka berdekatan?" Ia menyimpulkan sendiri jawaban Shafa.


"Bukan aku Mas, tapi mas Ray yang nggak bisa nahan diri buat nggak hamilin aku, ngelarang aku KB, tapi tiap malam di ea ea in terus. Gimana mau nggak jadi coba" Balas Shafa yang sudah tak tahan dengan ucapan Rayyan pun angkat bicara. Kalau sudah seperti ini Rayyan hanya bisa melongo dengan wajah yang sudah merah mendengar ucapan istrinya.


Ya Allah, apa benar seperti itu?


"Em saya mau membangunkan Zaf dulu untuk Sholat" Ucapnya menghindar dari perbincangan panas barusan.


"Zaf masih bobo mas, biarin aja lah" Balas Shafa. Ia tak tega bila harus melihat Zaf terbangun dari tidur lelapnya.


"Shafa, Mommy nya Zaf, Am dan Zizi" Ia mengabsen satu per satu nama anak mereka.


"Sholat itu perkara wajib yang utama. Sholat itu tiangnya agama, jadi sejak kecil kita harus mengenalkan anak-anak kita untuk melakukan Sholat agar besar kelak mereka sudah terbiasa" Balasnya lembut. Ia takut menyinggung perasaan Shafa. Sebagai orang tua tunggal selama ini, ia tak ingin menyalahkan atau mengkritik cara Shafa mendidik anak-anaknya. Untuk saat ini sebisa mungkin ia bertutur halus dan tak menyinggung.


"Zaf sholat terus kok mas, cuma kalo subuh kasian kalo harus ngebangunin" Balas Shafa. Ia sudah mulai merasakan hawa Rayyan nya yang dulu yang tutur katanya penuh dengan nasihat tentaang agama.


"Justru subuh waktu yang bagus, Banyak berkahnya. Shfa tau, dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun dan pukullah mereka ketika berusia sepuluh tahun (jika mereka meninggalkan shalat). Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan anak perempuan)!


Hadits hasan diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 495; Ahmad, II/180, 187; Al-Hakim, I/197." Ucap Rayyan dengan seulas senyum di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2