
Rayyan kembali ke kamarnya setelah menitipkan Am dan Zifara pada Aisyah. Ia membuka dompetnya dan memperhatikan dengan seksama sebuah katu debit berwarna gold yang di berikan abah untuknya.
Haruskah aku menggunakannya?
Ia dilema, antara menggunakan kartu tersebut atau mengusahakan uang sebnyak 600 juta dengan cara lain. Deposito dan tabungan sudah habis terkuras. Pun ruko dan beberapa petak tanah yang ia miliki sudah terjual. Hanya tinggal rumah yang saat ini ia tempati. Rasanya berat bila harus menggadaikan rumah mereka. Ia yang selama ini belum pernah berurusan dengan hutang piutang dengan bank, haruskah ia melalukannya? Tapi lebih berat lagi jika harus menggunakan uang abah. Ia bahkan belum bisa membalas semua kebaikan abah.
"Mas, ada masalah?" Tanya Shafa. Rayyan tak menyadari keberadaan Shafa yang sudah keluar dari kamar mandi.
"Gimana? Apa masih pusing?" Rayyan meraih tangan Shafa, membawanya duduk di sofa sebelahnya.
"Udah mendingan, ternyata kalau di pakai gerak dan jalan-jalan pusingnya mulai berkurang" Ujarnya.
"Ini apa mas?" Shafa meraih map yang tergeletak di atas meja. Ekspresinya berubah menjadi terkejut saat membuka isi map tersebut. Ia menoleh pada Rayyan yang sebisa mungkin bersikap tenang. Dalam kondisi seperti ini ia tak boleh panik, ia harus tetap tenang agar bisa berfikir jernih dan mencari solusi terbaik untuk masalahnya.
"Kenapa tiba-tiba?" Gumam Shafa.
"Mas juga nggak ngerti. Mereka bilang karena brand kita sudah tidak produksi lagi"
"Tapi, kan harusnya mereka konsisten dengan perjanjian awal" Shafa menghembuskan nafas berat. Matanya terasa panas. Ingin rasanya ia menangis mengingat masalah yang bertubi-tubi menimpa keluarganya.
Rayyan tau apa yang di rasakan istrinya. Ia meraih bahu istrinya membawanya dalam dekapan hangat, namun tak mampu menenangkannya.
"Kita harus bagaimana mas?" Isaknya.
"Mas, juga masih berfikir jalan keluar untuk semua ini" Ujar Rayyan sambil mengusap lembut kepala istrinya.
"Maafin aku Mas... Semua gara-gara aku. Kalau saja aku tidak berhubungan kerja dengan Edwin Sanjaya, pasti semua akan baik-baik saja" Rasa bersalah Shafa seketika muncul. Penyesalan demi penyesalan kini ia rasakan. Siapa yang menyangka Edwin yang ia kenal baik tega melakukan semua ini pada keluarganya.
"Sttt... Shafaa tidak boleh berkata seperti itu. Apapun yang terjadi, semua atas kehendak Allah. Allah sedang menguji kita lewat harta yang Allah titipkan pada kita. Tidak ada yang perlu di sesali. Akan selalu ada hikmah dari setiap kejadian ini" Ucap Rayyan mencoba menenangkan istrinya meski ia sendiri pun tengah kebingungan.
"Mas, apa kita jual saja rumah ini. Kita cari rumah yang lebih kecil saja" Ucap Shafa setelah melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Rayyan menatap lekat mata istrinya. Ia menggeleng pertanda tak setuju akan ide yaang baru saja Shafa cetuskan.
"Mas akan berusaha, tapi tidak dengan menjual rumah ini" Ucap Rayyan.
"Tapi 2 hari itu terlalu singkat mas. Atau aku minta Daddy membantu kita?"
"Tidak Shafa. Mas malu pada orang tua kita jika terus meminta bantuan. Mereka sudah banyak mengeluarkan uang untuk kita" Tolak Rayyan.
"Terus gimana?"
Rayyan mengeluarkan kartu pemberian abah dari dari dalam dompetnya. Ia sudah meniatkan diri untuk meminjam uang yang yang ada di dalam kartu tersebut. Ia tau persis nominal yang terdapat dalam kaelrtu debit tersebut. Yang pasti jumlahnya lebih dari cukup untuk membayar hutangnya.
"Milik siapa ini mas?" Shafa membolak-balik kartu unlimited tersebut. Jelas ia tahu, karena ia pernah memiliki yanh sejenis itu saat masih menyandang status sebagai gadis dan putri tunggal HS Clinic.
"Ini milik abah, mas akan meminjamnya untuk menyelesaikan masalah ini" Ucap Rayyan.
"Nggak mas," Tolak Shafa.
"Aku nggak kita berhutang lagi mas. Apalagi sama orang lain" Ucap Shafa dengan mata berkaca-kaca.
"Tetap enggak Mas. Kita jual apa yang bisa di jual, jika masih belum cukup baru kita pinjam" Ucap Shafa sambil menangkupkan tangannya di wajah Rayyan.
"Tapi tidak dengan rumah ini Shafa!"
"Bagaimana dengan mobil? Bukankah 1 mobil cukup buat kita?" Tanyanya, ia baru saja teringat bahwa dirinya masih memiliki mobil sport yang ia minta secara paksa dari Rayyan dulu.
"Shafa tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa mas, yang penting kita bisa segera keluar dari masalah ini. Kita jual saja mobilku, toh aku jarang keluar, dan lagi kita sekarang berlima, nggak akan muat kalau pakai mobil itu, belum lagi kalau nanti ada adeknya Zizi, jadi dijual saja yah" Bujuk Shafa.
"Masya Allah. Terimakasih sayang" Rayyan memeluk Shafa erat. Tak henti ia bersyukur karena telah di berikan istri yang tak hanya cantik parasnya, namun juga hatinya.
__ADS_1
Setelah sepakat untuk menjual mobilnya Rayyan segera menghubungi pak Benni teman mengajarnya di kampus. Selain itu pak Benni merupakan putra pemilik shorum mobil yang cukup bersar di kota itu. Dulu, ia membeli mobil tersebut lewat pak Benni, dan kini menjualnya pun ia melalui rekan kerja nya itu.
"Syah, kamu di rumah dulu ya temani mommy Am. Saya pulangnya mungkin agak sore" Ujar Rayyan yang terlihat memakai pakaian biasa.
"Akang nggak ke kampus?"
"Tidak, saya ada urusan di luar" Jawabnya. Aisyah mengangguk paham. Ia tau Rayyan sedang dalam masalah berat, ia pun berniat memberi tahu abahnya tentang hal ini.
Setelah kepergian Rayyan Aisyah menghubungi Malvin, guna meminta izin untuk tidak masuk hari ini. Tentu saja Malvin mengijinkan tapi semua itu tidak gratis. Aisyah harus membayar mahal izinnya hari ini di hari dimana ia masuk kembali.
"Am sama Zizi yang akur ya nak. Jangan bertengkar" Ujar Shafa ppada kedua anaknya yang sedang minum susu sambil menonton serial anak di pagi hari. Keduanya kompak mengangguk.
"Kak..." Aisyah mendekati Shafa yang duduk di sofa tepat di belakang anak-anaknya.
"Ya? Kamu serius izin hari ini?" Tanyanya saat melihat Aisyah masih mengenakan pakaian rumahan.
"Iya, kang Andi nyuruh aku bantu kakak jaga mereka" Jawabnya santai sambil membuka hijab instant yang di kenakannya.
"Maaf ya Aish, Mas Ray jadi ngerepotin Aisyah" Ucap Shafa tulus sambil menganggam tangan Aisyah.
"Kak, kang Andi itu sudah seperti saudara Aisyah. Jadi kakak jangan sungkan. Karena dulu Aish yang sering ngerepotin kang Andi waktu di kampung" Ujar Aisyah.
Pagi itu Shafa dan Aisyah bercerita panjang lebar tentang kehidupan Rayyan di kampung saat kehilangan ingatannya dulu. Aisyah menceritakan bagaimana hubungan Rayyan dengan abah dan juga dirinya. Karena Rayyan pula lah bisnis teh abah bisa melambung pesat bahkan sampai menembus pasar luar negeri. Juga, karenanya pula Aisyah bisa mendapat izin kuliah di ibu kota. Ia yang memberikan pengertian kepada abah bahwa kualitas pendidikan di kota jelas berbeda dengan di kampung. Itu sebabnya Rayyan begitu posesive padanya, karena ia merasa bertanggung jawab menjaga Aisyah, yang merupakan pewaris tunggal juragan teh tersebut.
"Wah, pantesan mas Ray badannya jadi gemukan gitu. Disana ada ambu dan abah yang manjain" Ujar Shafa setelah mendengar cerita Aisyah.
"He.em... kadang aku tuh suka sebel sama abah. Kalau Aish sering banget di omeli, tapi kalo kang Andi, apa yang dia ucapkan abah pasti setuju-setuju wae" Keduanya tertawa sambil di temani segelas teh hangat di pagi yang tak begitu cerah.
Shafa meraih ponselnya saat mendengar nada pertanda pesan masuk. Ia tersenyum saat mendapati pesan dari sang suami yang mengabarkan bahwa mobil mereka telah terjual.
Ayah Am : Alhamdulillah mobilnya sudah terjual. Setelah ini mas langsung menyelesaikan pembayaran dengan supplier. Doakan semoga semua lancar. I ❤️ you😘
__ADS_1
Alhamdulillah.
Bukan isi pesan tersebut yang membuat Shafa mengembangkan senyumnya, tapi emoticon di akhir pesan, yang untuk kali pertama ia terima setelah kepulangan Rayyan. Sungguh, bahagianya wanita itu sesederhana itu.