Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Surat Persetujuan


__ADS_3

Aisyah mengabaikan dering ponsel yang sejak tadi berbunyi ia mengintip sekilas layar yang tengah berkedip-kedip menampilkan nama yang sangat ia benci untuk saat ini.


Bodo amat! Memangnya dia siapa mau ngatur-ngatur aku seenak dengkulnya. Kang Andi pasti bisa bantuin aku! Gumam Aisyah, hari ini ia akan berangkat ke klinik sesuai dengan jadwal teman-temannya yang lain. Aisyah kembali melirik layar ponselnya yang berhenti berdering di lihatnya beberapa pesan masuk.


Dokter Set*n : Bagus!


Dokter Set*n : Kita lihat, sejauh mana kamu bisa menghindar!!!


Aisyah membaca dua pesan dari Malvin dengan tubuh bergidik. Tapi ia tak boleh takut. Bukankah negara ini sudah merdeka? Tapi kenapa masih ada saja penjajahan semacam yang di lakukan dokter saraf itu?


Emang gue pikirin! weeek!


Aisyah menjulurkan lidahnya pada layar ponselnya kemudian menghempaskannya begitu saja di atas kasur. Ia mengambil handuknya yang tergantung di balik pintu dan bersenandung ria menuju kamar mandi.


Mertua kang Andi pasti bisa nolongin aku bebas dari dokter jelmaan jin iprit itu. Gini-gini kan aku udah berjasa nemuin kang Andi sama keluarganya. Apalagi dia yang punyaa klinik. Dokter Malvin palingan juga takut di pecat kalo macem.


Tak seperti biasanya, Aisyah berjalan santai dengan senyum mengembang di wajahnya. Ia menghampiri segerombolan temannya yang nampak duduk di kursi tunggu depan ruangan dokter Malvin.


Ada apa yak? Kok pagi-pagi sudah kumpul-kumpul.


"Eh Syah, kemana aja di tunggu dari tadi baru nongol. Hp juga nggak aktif" Ucap salah seorang gadis berseragam putih-putih tersebut.


"Oh, hp aku matiin biar nggak di telponin sama jin iprit. Itu apa Dit?" Tanyanya sambil menunjuk kertas yang tengah di pegang kawan-kawannya.


"Makanya kalau di telfon di angkat! Ini ada pemberitahuan percepatan masa magang kita, dengan syarat ikut baksos selama 2 minggu jadi kita bisa wisuda tahun ini Syah" Terang Dita. Ia dengan antusia memberitahukan program baru di kampus mereka.


"Serius?" Mata Aisyah berbinar mendengar kabar baik tersebut. Akhirnya ia bisa cepat keluar dari kampus dan terlepas dari penjajahan dokter berparas tampan berhati iblis itu.


"Serius, ini kita udah dapat persetujuan dari dokter Mavin" Ujar Dita sambil menunjukan kertas putih bertanda tangan di tangannya.


Gluk!


"Do...dokter Malvin?" Wajah Aisyah berubah pias setelah melihat tanda tangan Malvin di kertas itu.

__ADS_1


"Iya, tinggal kamu Syah yang belum. Sana gih menghadap." Ujar Dita yang di sabut senyum canggung oleh Aisyah.


Mati aku!


"Ya udah ya Syah, kita mau kesana dulu" Dita dan beberapa orang lain meninggalkan Aisyah yang masih membatu di depan ruangan dokter Malvin.


Dengan segenap keberanian yang ada, Aisya masuk ke dalam ruangan Malvin "semua akan berlalu" Gumamnya. Jika kemarin kemarin kedatangannya di sambut dengan omelan ataupun gertakan Malvin. Kali ini hanya hening yang menyelimuti ruangan bernuansa putih. Kehadirannya di ruangan itu benar-benar tak di hiraukan oleh dokter berparas tampan yang tengah sibuk menandatangani beberapa dokumen mahasiswa.


"Permisi Dok?" Panggil Aisyah pelan, namun jangankan sahutan, berbalikpun Malvin enggan.


Aisyah melangkah mendekati meja Malvin dengan langkah pelan. Jantungnya bergemuruh, tangannya ikut dingin. Jika boleh memilih ia lebih baik lari kelilingblaangan 100 kali dari pada berhadapan dengan dokter tampan berhati s*tan ini. Selamat datang penderitaan. Batinnya.


"Dook" Panggil Aisyah dengan nada memelas.


Dasar dokter s*tan!!!


Malvin mengangkat wajahnya setelah mendengar panggilan Aisyah berkali-kali. Matanya menyorot tajam wajah menyedihkan di depannya.


"Dok, saya mau minta persetujuan percepatan masa magang seperti teman-teman dok" Ucap Aisyah terbata. Ia tak yakin usahanya kali ini membuahkan hasil. Dalam hal ini ia tak mungkin meminta bantuan Rayyan maupun dr. Harsha. Karena masalah kampus tidak ada sangkut pautnya dengan kedua orang tersebut.


Malvin tersenyum sinis membuat Aisyah semakin menciut "Saya hanya memberikan persetujuan pada mahasiswa yang baik bukan seorang pembangkang!" Ucap Malvin penuh penekanan. Aisyah tercekat akan ucapan Malvin yang terdengar menyindirnya. Keputusannya mengabaikan panggilan dokter tampan pagi tadi ternyata berakibat sangat fatal.


"Dok! Tadi... Tadi pagi saya pusing" Ucapnya sambil menunduk. Ia tak tahu lagi harus beralasan apa. Ia berdoa semoga Malvin masih menyisakan sedikit belas kasih untuknya.


"Pusing?" Tanya Malvin dengan nada mengejek. Aish mengangkat wajahnya menampakkan wajah polos nan lugu yang menyedihkan. Ia mengangguk mengiayakan ucapan Malvin.


Ya Allah maafin Aish. Terpaksa bohong! Ayo Aish, sedikit air mata buaya akan membuat dokter Malvin kasihan!!!


"Cih, kamu fikir saya bodoh bisa tertipu dengan alasan klasik macam itu!" Malvin terkekeh kecil mendengar alasan Aisyah.


Sial!


"Saya memang benar-benar pusing dok, tubuh saya juga sakit karena ulah calon istri dokter keemarin" Ucap Aisyah yang tak kehabisan akal. Kali ini ia membawa nama Angela yang kemarin sempat mendorong tubuh kecilnya. Untuk nggak sakit beneran.

__ADS_1


Malvin mendengus dan merapatkan kursinya dengan meja. Ia menegakkan tubuhnya kembali sambil menatap gadis muda yang tengah tertunduk di hadapannya. Acting Aisyah kali ini benar-benar total. Harusnyania jadi pemain film saja dari pada seorang perawat.


"Dia bukan calon istri saya! Calon istri saya adalah..." Malvin menghentikan kalimatnya. Ah, tak seharusnya ia mengatakan itu.


Shafa Azura? Ngimpi aja sonoh. Orang teh Shafa lagi bulan madu sama kang Andi. Makanya dok jangan kelamaan jomblo. Jadi susah move on kan!!!


"Ah, lupakan!" Malvin memutar kursinya hingga berbalik menghadap jendela kaca lebar di belakangnya.


"Jadi, nasib saya gimana dok?" Aisyah kembali memelas.


"Kamu bisa mengikuti program terbaru kampus. Tapi..."


"Tapi apa dok?" Sahut Aisyah cepat.


"Tapi, selama kamu magang di sini, kamu tetap menjadi asisten saya. Bagaimana?" Malvin memutar kembali kursinya menghadap Aisyah yang nampak melongo. Ternyata penderitaan itu masih berlanjut.


"Ehm" Aisyah menarik nafas dalam-dalam kali ini ia harus membuat alasan yang tepat.


"Maaf dok, kalau menjadi asisten yang dokter maksud adalah sebagai pesuruh alias ba... em alias OB, bagaimana saya belajar dok?"


"Bukannya saya tidak mau dok, tapi kan saya ini calon perawat bagaimana kalau nanti saya pulang kampung terus..."


"Sudah-sudah! To the poin, mau kamu apa?" Tanya Malvin yang mulai jengah dengan penuturan anjangblebar dari Aisyah.


"Saya mau belajar jadi perawat yang baik dok!" Ucap Aisyah mantap.


"Oke... saya akan tambahkan di daftar kegiatanmu!" Jawabnya singkat.


"Maksud dokter?" Mata Aisyaj langsung berbinar. Akhirnya selamat tinggal tirani!


"Setelah menyelesaikan tugas yang tertulis di kertas yang pernah saya berikan, kamu bisa praktik di bawah bimbingan langsung dari saya!" Ucap Malvin dengan seringai licik.


Dasar iblis!!!

__ADS_1


__ADS_2