
Membutuhka waktu yang cukup lama hingga Shafa benar-benar bisa menelan makanannya dengan baik. Beberapa sendok bubur ayam hangat yang di buat oleh bi Lastri berhasil lolos tanpa ia keluarkan kembali. Sepertinya perutnya hanya bisa menerima makanan yang lunak.
Seperti malam ini, saat makan malam. Shafa tidak menyentuh apapun yang tersedia di atas meja. Ia hanya mengambil makanan secukupnya untuk makan Zizi dan Am.
"Mau di buatkan bubur lagi?" Tanya Rayyan, yang tak melihat istrinya memakan apapun.
"Nggak usah mas, aku masih kenyak" Jawabnya sambil menggeleng. Masalahnya dengan Rayyan membuat nafsu makan dan moodnya benar-benar kacau.
"Mau makan bareng?" Rayyan menyodorkan piring miliknya. Ia mencoba menurunkan egonya sedikit. Ingatannya memang sudah jauh lebih baik saat ini. Terbukto dari ia yang sudah mengingat kebiasaan berbagi makanan dengan sang istri saat dulu kala.
"Enggak, beneran aku masih kenyang" Balas Shafa yang memang tak ingin makan.
"Mommy diet?" Tanya Zaf, yang ikut memperhatikan sang ibu.
"Enggak, sejak kapan mommy diet-dietan?"
"Mommy a..." Am membuka mulutnya lebar-lebar meenunggu suapan selanjutnya.
"Oh, aku kira mommy diet. Mommy kan udah cantik jadi nggak usah diet. Iya kan ayah?" Zafran gantian melempar pertanyaan pada sang ayah.
"Iya" Jawab Rayyan datar.
Cantik, sampai ayah pusing tujuh keliling memikirkan mommy mu!
Setelah selesai makan malam, Shafa menemani Zafran dan Am belajar, sedangkan Rayyan kembali di sibukkan dengan laptopnya. Ia nampak begitu serius menatap layar pipih di hadapannya.
Bisa-bisanya ia bekerja dalam keadaan seperti ini. Kalau aku pasti udah blank. Ya Allah lunak kan lah hati suami hamba agar bisa memaafkanku.
"Mommy!" Sebuah cubitan kecil menyadarkan Shafa dari lamunannya.
"Iya? Am udah gambarnya?" Tanyanya pada sang putra yang terlihat cemberut.
"Zizi nakal. Colet-colet buku tu" Adunya sambil menunjuk sang adik yang asik membuat goresan-goresan pada buku miliknya.
"Am pakai buku yang ini aja ya?"
"Nda mau! Atu mau bobo aja. Ayaaaahhh!!!" Teriaknya kesal.
"Jangan gaanggu ayah nak" Tegur Shafa.
Mendengar panggilan Am, Rayyan segera beranjak dari kursinya. Ia menghampiri putranya yang sedang merajuk.
"Ayah ayo kitaa bobo" ajaknya seraya melingkarkan lengannya ke leher sang ayah. Seakan tak mau kalah Zifara pun melakukan hal yang sama pada mommynya.
"Mommy bobo" ucapnya.
Dan keduanya berakhir di tempat tidur masing-masing. Am dan Zaf di kamar mereka bersama Rayyan sedang Shafa di kamarnya bersama Zifara.
Sudah hampir satu jam setelah menidurkan Zifara, Rayyan belum juga menyusul ke kamar mereka.
Apa mas Ray nggak mau tidur sama aku? Batin Shafa miris. Ia harus segera menyelesaikan masalahnya dengan sang suami malam itu juga. Tak ingin berlama-lama dengan perasan gelisah dan bersalahnya, Shafa mengambil cardigannya untuk menutupi gaun malamnya yang tips dan transparan. Ia keluar dari kamarnya menuju kamar anak-anaknya. Mungkin Rayyan ketiduran atau sengaja tidur di kamar mereka.
__ADS_1
Perlahan ia membuka handle pintu yang memang tidak di kunci. Ruangan tersebut sudah gelap dan senyap. Shafa mendekati bed ke dua anaknya. Ia mengedarkan pandangannya kesegala penjuru namun tak menemukan sosok Rayyan di sana.
Mas Ray kemana?
Fikirannya mulai melayang kemana-mana. Jangan-jangan suaminya pergi dari rumah atau yang lebih parah ia meninggalkannya untuk ke dua kalinya.
"Mas! Mas Ray!"
Dengan perasaan gusar ia mencari Rayyan ke segala penjuru. Mulai dari dapur, kamar mandi, ruang tamu sampai teras samping, namun hasilnya nihil.
Ruang kerja dan kamar atas! Ia lupa kalau rumahnya memiliki dua lantai. Dua tempat tersebut adalah harapan Shafa satu-satunya. Ia berlari menaiki tangga dan langsung membuka pintu kamar lamanya.
Gelap! Rayyan tak ada di dalam.
Shafa bergeser menuju ruang kerja. Sebelum masuk, ia menghela nafas panjang dan merapalkan doa semoga suaminya ada di dalam.
Bismillah...
Dan benar, Rayyan masih berada di ruang kerjanya. Berkutat dengan benda pipih yang dulu kerp ia sebut sebagai setan gepeng.
"Mas," ia mendekati Rayyan yang terlihat begitu serius. Ada perasaan lega melihat sang suami masih berada di dalam rumah.
Rayyan menghentikan kegiatannya, menoleh pada sosok cantik yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. Wajah putih Shafa terlihat merah. Raut khawatir tak bisa di sembunyikannya.
"Mas..." Tanpa sungkan Shafa berlari dan langsung duduk di pangkuan Rayyan. Ia mengalungkan lengannya di leher Rayyan sembari membenangkan wajahnya di dada bidang sang suami.
Apa yang ia lakukan ini bukan karena ingin menggoda Rayyan. Shafa terlalu takut kehilangan suaminya. Ia takut Rayyan meninggalkannya karena kesalahan yang di perbuatnya.
"Mas, jangan pergi. Jangan tinggalin aku" Ucapan itu lolos begitu saja dari mulutnya.
"Mas, aku minta maaf. Tolong jangan cuekin aku. Aku ngaku salah, mas boleh hukum aku, boleh pukul aku, asal jangan tinggalin aku, aku--" Ia tak mampu melanjutakan kata-katanya yang begitu pilu menyayat hati. Sekuat-kuatnya wanita bertahan, ia akan lelah juga jika terus di abaikan.
"Sudah... Ayo kembali ke kamar. Nanti kamu sakit lagi" Ajak Rayyan sambil mengusap kepala sang istri.
"Enggak" Shafa menggeleng keras.
"Aku nggak mau kita berlarut-larut seperti ini. Aku mau kita seperti dulu lagi," ucap Shafa. Ia mendongak menatap mata suaminya. Namun detik itu juga Rayyan memalingkan wajahnya. Bukan karena benci, tapi karena tak mampu melihat air mata di wajah istrinya.
Makin menjadilah tangis Shafa di ruangan kedap suara itu.
"Sebenci itu kamu sama aku Mas? Sampai ngeliat aku pun kamu nggak mau. Apa aku ini terlalu kotor untuk kamu maafkan?" Suara Shafa mulai meninggi seiring emosinyanya yang mulai tak terkendali.
"Shafa, kamu tenang. Kita bicara di kamar!" Ajaknya mencoba menenangkan sang istri.
"Mas mau bicara apa? Sejak tadi mas selalu mendiamkan ku. Sakit mas! sakit rasanya kamu perlakukan aku seperti ini. Semua yang aku lakukan bukan semata-mata untuk diriku sendiri. Aku lakukan semua ini karena aku sayang sama kamu, Mas. Aku nggak mau mas Ray bekerja terlalu keras, aku nggak mau mas Ray sakit. Aku nggak mau kamu berjuang sendiri" Ucapnya dengan suara yang kian parau.
Rayyan membiarkan Shafa mengeluarkan semua uneg-unegnya agar hatinya plong. Karena percuma berbicara dengan seorang dalam keadaan emosi.
Rayyan segera membawa Shafa dalam pelukannya saat melihat mata sang istri kian memerah. Ia mendaratkan sebuah kecupan panjang di keningnya.
"Niat Shafa baik, tapi cara Shafa yang salah" ucap Rayyan. Shafa mencoba memberontak melepaskan pelukan Rayyan.
__ADS_1
"Lepasin!"
"Enggak!"
"Lepasin Mas! Aku benci Mas Ray" Teriak Shafa.
"Kenapa? Kenapa niat tulusku nggak bisa kamu hargai, Mas. Aku benci kamu Mas!" Kali ini suara bercampur dengan suara tangis yang menggugu.
"Tapi saya sayang. Sangat sayang Shafa" Balasnya. Rayyan mualai memahami kondisi sang istri hingga mumbuatnya bisa bersikap jauh lebih tenang.
"Bohong!"
"Sungguh!"
"Saya hanya ingin menyelamatkan istriku dari murkanya Allah" Ucap Rayyan yang membuat Shafa diam bak patung seketika.
"Saya sangat menyayangi Shafa, hingga tak rela jika ada orang lain yang memuji dan mengagumi Shafa. Apalagi sampai berandai-andai memiliki Shafa. Demi Allah Mas enggak rela," sontak ucapan Rayyan membuat susunan kaliamat tajam yang sudah berderet rapi di kepala Shafa yang akan ia lontarkan menjadi buyar tak bersisa. Sungguh semudah itu perasaannya berubah.
Rayyan terdengar menghela nafas berat. Kedua tangannyaa masih menahan kepala sang istri tetap menempel di dadanya. Mungkin terkesan kurang tepat. Namun menurutnya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk berkomunikasi dengan Shafa. Ia tahu Shafa sedang mendengarkannya.
"Sebanyak apapun uang yang wanita hasilkan, akan sia-sia tanpa Ridho dari suaminya. Tidak akan Berkah jalan seorang istri tanpa ridho suaminya.
"Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, diceritakan oleh sahabat Hushain bin Mihshan bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bertanya kepadanya: “Apakah kamu mempunyai suami?” ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi: “Bagaimanakah sikapmu terhadapnya?” ia menjawab, “Saya tidak pernah mengabaikannya, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup.” Beliau bersabda yang artinya,
“Perhatikanlah posisimu terhadapnya. Sesungguhnya yang menentukan surga dan nerakamu terdapat pada (sikapmu terhadap) suamimu.” (HR. Ahmad: 18233)
"Dalam hadits yang mulia tersebut ditegaskan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam tentang sangat agungnya kedudukan suami dihadapan istrinya. Bahwa suami adalah Surga atau neraka istrinya. Artinya bila seorang istri berbakti kepada suaminya maka Surga Allah akan selalu menantinya. Sebaliknya bila seorang istri durhaka kepada suaminya, maka nerakalah ancamannya. Maka sangat mudah bagi seorang wanita untuk mendapat surga dan juga sangat mudah pula bagi seorang wanita untuk mendapat neraka. Dan Mas, tidak ingin Shafaku tergolong menjadi istri yang telah mendurhakai suami karena kebohongan Shafa"
"Apakah kalau aku jujur mas akan mengijinkan? Aku kan nggak maling Mas, aku juga berpose ataupun menampilkan lekuk tubuhku. Aku hanya melakukan yang banyak orang lakukan"
"Jangan lupa bahwa suara wanita adalah aurat Shafa. Meski pada kenyataanya ada perbedaan pendapat tentang hal ini. Suara perempuan boleh didengar oleh lawan jenis asal dengan keperluan yang sesuai syarat islam dan tidak berlebih lebihan atau tidak dimaksudkan untuk menimbulkan hawa nafsu"
“Sungguh laki laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar”. (QS Al Ahzab : 35)."
"Dalam berinteraksi tersebut, wanita wajib menjaga kehormatan karena hal itu merupakan salah satu perintah Allah untuk menjaga diri dan kehormatan. Termasuk dalam hal suara, wanita yang bersuara indah boleh saja berbicara dengan lawan jenis tetapi dengan maksud dan tujuan yang sesuai syariat islam serta tidak dengan niat menarik perhatian."
"Rasulullah bersabda 'Janganlah engkau berkata seandainya aku berbuat begini tentu begini dan begitu tentu akan seperti ini dan seperti itu”. (HR Muslim). Sering kita mendengar lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi wanita hingga membuat seseorang yang mendengar merasa sedih berlebihan karena isi lagunya dan menjadi seseorang yang berandai andai mengenai kehidupan sehari hari dan mengenai takdirnya."
"Misalnya ialah lagu tentang kisah percintaan yang indah seperti yang pernah Shafa nyanyikan, hingga membuat seseorang berandai andai akan mengalami hal indah tersebut dan menjadi sedikit sekali mensyukuri nikmat Allah terkait takdir dalam hidupnya. Orang tersebut menjadi berharap akan menjadi orang lain yang bahagia atau berharap memiliki kisah yang indah yang membuat orang lain merasa iri atau karena ingin berbangga diri. Hal tersebut tidak diperbolehkan."
"Jadi semua yang Mas, lakukan adalah untuk mwnjaga kehormatan Shafa sebagai istri Mas" Ujar Rayyan menutup penjelasan panjang kali lebar yang ia sampaikan. Ia berharap Shafa benar-benar membuka hatinya untuk mau meninggalkan dan menghapus tayangan yang menurutnya lebih banyak mudharatnya itu.
"Shafa?" Rayyan memanggil Shafa yang masih terdiam dalam pelukannya. benar-benar tak ada respon.
"Hmm" Jawab Shafa malas. Ia langsung lemas mendengar penjelasan sang suami.
"Apa yang akan Shafa lakukan setelah ini? Hmm?" Rayyan memgusap lembut punggung sang istri yang nampak tenang.
"Bersih-bersih" Jawab Shafa malas.
"Bersih-bersih?" Rayyan melepaskan dekapannya dan menatap dalaam manik mata sang istri.
__ADS_1
"Shafa mau mandi malam-malam?" Entah mendapat ilham dari mana, hingga ia bisa menginterpretasikan kata 'bersih-bersih' yang di ucapkan Shafa sebagai 'Mandi'.
"Bersih-bersih channel" Jawab Shafa ketus seraya berbalik meninggalkan Rayyan. Ada perasaan tak iklas jika harua menghapus semua postingan yang mulai menghasilkan pundi-pundi rupiah. Namun ia lebih tak iklas jika dirinya di sebut sebagai istri durhaka yang auto gratis masuk Neraka yang bahan bakarnya dari batu dan manusia. Naudzubillah...