
BRUUKK...
"Ma..maaf, maaf saya nggak sengaja" Ucap Aisyah yang tak sengaja menabrak seseorang lantaran berjalan terburu-buru.
"Mata kamu dimana? Punya mata kan? Pakai baik-baik!" Bentak seseorang yang di tabraknya. Aish menggigit bibir bawahnya saat tatapan nyalang penuh amarah itu menyorot dirinya seperti hendak memakannya hidup-hidup.
"Sekali lagi maaf dok" Ucapnya sambil membungkuk. Fix! Mulai hari ini dokter tampan ini bukan lagi idolanya.
Pantasan ngejomblo terus sampai tua. Galak sih!
Gumam Aisyah yang tak berani menatap wajahnya yang sedang dalam mode marah. Baru kali ini ia melihat dokter Malvin, sang opa lokal itu dengan wajah yang lebih menyeramkan dari Anggri Bird.
Gluk! Dengan susah payah ia menelan liur saat dokter Malvin memandangnya dengan tatapan mengintimidasi.
Kok jadi kaya gini? Abaah... Aish pengen pulang. Gara-gara si akang ini mah, dia lagi enak-enakan aku yang susah.
"Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!" Ucap Malvin dengan ketus sebelum meninggalkan Aisyah yang berdiri terpaku di lorong klinik.
Ya? Mana bisa nggak muncul, aku kan praktek disini. Walah dokter Malvin jadi horor begitu.
Aisyah segera berbelok menuju cafetaria rumah sakit untuk menghindari dokter Malvin. Pasalnya dokter tampan tersebut berjalan ke arah yang hendak di tuju Aisyah.
"Hey... Aish sini!!!" Panggil seorang wanita berpakaian perawat. Aisyah segera berjalan menghampiri 3 orang perawat yang ia kenal.
"Pagi kak Ema, kak Lia kan Jeni" Sapanya sopan. Sebagai mahasiswa praktek ia harus sering-sering menampakkan wajah ramah dan murah senyum kepada para senior yang sudah lama bekerja di tempat itu.
"Pagi, pagi-pagi kok sudah di sini? Bukannya kalian masuknya masih hari senin nanti" Tanya salah satu perawat yang sedang menikmati secangkir cappucino dan roti bakar tersebut.
"Itu kak, saya di panggil sama kak Andi, eh itu kak Rayyan" Ucapnya yang terdengar agak canggung.
Masa ia aku panggil kang? Duh nggak keren banget sih. Lagian ini bukan di kampung. Panggil kak aja lah..hi.hi.hi.hi
"Oh ya Syah, gimana ceritanya kamu bisa kenal dengan menantu dokter Harsha? Aku kaget banget pas denger berita itu kemarin." Mereka bertiga nampak antusias menunggu jawaban dari Aisyah.
"Kang...eh kak Rayyan itu memang sudah lama tinggal dirumah Abah Aish kayaknya sejak Aish baru-baru kuliah. Waktu itu abah nolongin orang kecelakaan trus dirawat di rumah. Karena dia amnesia jadi abah nyuruh tinggal dirumah" Ucap Aisyah singkat.
"Terus gimana ceritanya dia bisa kembali kesini. Ya ampun Aisyah, selama itu dia tinggal di rumah kamu dan kamu nggak tahu kalau dia menantu dokter Harsha?" Ema menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ceritanya panjang kak, intinya minggu lalu kak Rayyan sempat bertemu dengan Anaknya di baandung saat liburan, dan disitu dia mulai merasakan ada ikatan dengan anaknya yang wajahnya mirip banget. Akhirnya cari tahu dan ketahuan deh kalau dia memang ayahnya" Aisyah menjawab seperlunya, karena kalau di ladeni para seniornya ini bisa ngelunjak nanya yang aneh-aneh. Wanita kan gitu, kalau penasaran akan menggali sampai ke akar-akarnya.
__ADS_1
"Duh kasian banget deh dokter Malvin. Kayaknya bakal patah hati deh" Ujar Ema dengan raut wajah prihatin.
"Tapi bagus deh, dengan begitu kan dia jadi mencari tambatan hati lagi. Kali aja dia jodohku" Sahut Jeni sambil mesam mesem. Jeni ini merupakan salah satu fans dokter Malvin garis keras, dia rela berlama-lama di klinik cuma demi melihat tampang datar dan cuek dokter saraf tersebut.
"Ngomong-ngomong kalian sudah lihat suami bu Shafa belum? Jadi penasaran aku, apakah seganteng dokter Malvin sampai-sampai bu Shafa susah banget move on nya? Aish ada fotonya nggak?" Lia menyenggol lengan Aisyah yang sedang berfikir keras untuk meninggalkan jamaah gosip itu.
"Ha? Oh Nggak ada. Saya mah jarang foto-foto sama kak Rayyan" ucapnya sambil nyengir.
Yang ada Aish diceramahin kalau jepret-jepret.
"Ganteng ga Syah? Ganteng mana dengan dokter Malvin?" Tanya Ema penasaran. Mereka bertiga menatap Aisyah dengan tatapan menuntut sebuah jawaban.
"Oh itu... Em menurut Aish, gantengan...Kak Rayyan" Ucapnya. Andai saja kejadian pagibtadi tidak terjadi, pasti dengan senang hati ia akan mengatakan gantengan dokter Malvin. Iya dokter Malvin yang ganteng itu kini berubah menjadi horor dan menakutkan. Aisyah bergidik ngeri mengingat bagaimana tatapannya yang hendak memangsanya hidup-hidup.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Am, jangan lompat lompat nak!" Shafa berteriak pada putra kecilnya yang tengah melompat lompat kegirangan di atas kasur sambil memegang celana dan bajunya. Dirinya sendiri baru selesai memandikan Zifara setelah memandikan Am terlebih dahulu.
Sementara Rayyan saat ini tengah membantu Zafran membuat susu untuk dirinya dan Am.
"Am!!! Dengar mommy dong, nanti Am jatuh" Seru Shafa mengingatkan Am. Tapi bukannya berhenti Am justru melompat turun berlari memeluk mommynya membuat handuk yang di kenakannya terlepas.
"Zizi jeyek...Week" Ucapnya mengganggu sang adik dengan mencubit kakinya.
"Am!!! Huaa... Mommy Am!!!" Teriak Zifara sambil menangis hendak bangun membalas sang kakak.
"Am, jangan nakal nak. Zizi anak mommy nggak boleh ya nak. Nanti kakak Am mommy cubit" ujarnya sambil menahan tangan Zizi yang hendak meraih tubuh Am di belakang Shafa.
"Mas... Bantuin dong, ini anak kamu berantem lagi" Seru Shafa pada Rayyan yang terlihat sudah selesi membuat susu. Ia tersenyum menatap wajah kesal Shafa yang terlihat sangat kacau. Rambutnya berantakan dengan beberapa anak rambut yang menjuntai di wajahnya.
Cantik! Di mata Rayyan di selalu cantik dalam kondisi apapun. Bahkan dalam balutan dress tidur yang kusut dengan wajah polos tanpa polesan apapun itu, ia tetap cantik.
Hap! Ia menangkap tubuh Am dewng sekali gerakan, membawanya duduk dalam pangkuannya.
CUP!
Sebuah kecupan sayang ia layangkan pada Zizi yang terlihat cemberut dalam dalam dekapan sang mommy. Pandangannya masih saja menyorot pada Am yang malah mengejeknya dengan menjulurkan lidahnya.
"Anak cantik ayah, nggak boleh gitu ya nak ngelihat kakak Am" Rayyan mengelus lembut pipi Zifara yang kemudian beralih menatapnya.
__ADS_1
"Ini ayah tu" Am cepat cepat mengalungkan tangannya pada leher Rayyan saat melihat interaksi antra Zizi dan Rayyan.
"Ayahnya sama-sama. Ayahnya abang Zaf, Am dan adek Zi. Zaf sini nak, ayah mau cerita" Ia menepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Dengar ayah ya, sesama saudara tidak boleh bertengkar. Zaf, Am dan Zifara harus saling menjaga dan menyayangi. Yang besar menyayangi yang kecil, dan yang kecil menghormati yang besar. Jadi, kakak Am nggak boleh gangguin adek Zi. Am harus sayang sama Zifara. Zifara juga harus sayang samaa kakak Am ya nak" Ucapnya sambil menatap satu persatu anak-anaknya.
"Adek Zi, panggilnya harus kakak Am ya?" Ucap Rayyan sambil mengusap pipinya.
"Am!!!" Balas Zifara spontan.
"Ka-kak Am" Ujar Rayyan.
"Tata Am" Jawabnya.
"Nah seperti itu sayang. Zizi pintar" Ucap Shafa sambil mencium pipi Zizi.
"Jadi mulai sekaraang Kakak Am nggak boleh gaangguin adek lagi ya?" Rayyan beralih menatap Am yang sejak tadi mwndewngarkan dirinya dengan seksama.
"Ayah atu tan maunya adek laki-laki ayah. Supaya bisa main bola" Ucap Am sambil mendongak menatap ayahnya.
Mampu* Gue!!! Batin Shafa
"Main bola kan bisa sama abang Zaf"Jawab Rayyan dengan tenang.
"Nda mau, atu maunya adik laki-laki. Kaya adiknya Bobby mommy, nanti atu ajak main lobot-lobot" Ucapnya kekeh.
Shafa hanya bisa menghela nafas panjang. Ia tahu persis sifat Am yang bila menginginkan sesuatu maka harus! Jika tidak, ia harus siap mendengar rengekan sampai ia mendapatkan keinginannya. Sepertinya hari-hari kedepan, Shafa harus membiasakan telinganya dengan permintaan seputar adik dari anak gantengnya tersebut.
"Am, kamu minta sama ayah saja. Dulu kan ayah pernah janji mau buatin Zaf adik lima" Imbuh Zafran sambil mengangkat tangannya. Ia masih mengingat dengan jelas kenangan bersama Rayyan dua setengah tahun lalu.
"Benel Ayah? Yee... Atu mau di buatin adik lima" Teriaknya kegirangan.
Hah, Lima?
Rayyan jadi terdiam setelah mendengarbkeingaan putra kecilnya yersebut. Ditambah lagi ucapan Zafran yang membuatnya malu padaa wanita yang diam-diam mencuri pandang padanya.
"Kapan mommy atu di buattan adik? Yang kaya adiknya boby. Iya tan Mommy?" Am gantian memandang sang ibu yang ekspresinya sudah mulai berubah frustasi.
"Tanya ayahmu! Kapan mau buatin adik yang BUANYAAK untuk kalian" Balas Shafa dengan menekankan pada kata banyak membuat Rayyan tercekat tak bisa bicara. Sungguh ia tak berbikir sejauh itu. Baru juga melihat Shafa dengan penampilan rumah tanpa kerudungnya sudah membuat jantungnya mau copot, bagaimana jika lebih?
__ADS_1
Ya Allah, Kuatkan hambamu.