
"Mommy...Mommy...!!!" Teriak Am dan Zaf sambil masing-masing menenteng paper bag di tangannya. Mereka berlari menghampiri Shafa yang sedang mengoles selai pada roti tawar untuk mereka sarapan.
"Kenapa lari-lari bang?" Tanya sang kepala keluarga yang tengah menggendong Zizi di ruang tengah.
"Ada om ganteng Mommy, kita di kasi ini. Iya tan bang?" Am mengangkat paper bag miliknya.
Om ganteng? Siapa yang mereka maksud?
Rayyan menghampiri kedua putranya dengan perasaan penuh tanya.
"Siapa?" Ia menatap Am dan Zaf secara bergantian.
"Om Ed ayah, yang sering kesini bawa bunga buat mommy" Jawab Zafran dengan jujurnya.
Shafa mendengus, meletakkan potongaan roti terakhir yang ia beri selai kemudian beralih menuju westafel untuk mencuci tangannya.
"Ngapain sih si Ed pagi-pagi kesini" Gumamnya.
"Mau kemana?" Rayyan menahan lengan Shafa, sambil memindai penampilannya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Yang namanya ibu-ibu di jam setengah tujuh pagi, pasti belum sempat berdandan. Ia masih mengenakan piyama tidurnya. Rambut pirangnya ia ikat asal ke atas yang justru menambah kesan seksi karena leher jenjang mulusnya dapat terekspos sempurna.
"Aku - - -"
"Ganti pakaianmu dengan yang layak pakai. Rambut merupakan bagian dari aurat seorang wanita" Ucap Rayyan menatap dingin pada Shafa.
Layak pakai? Hellow ini piyama dengan potongan celana panjang loh yang gue pakai Shafa, nggak layak di mananya coba? Orang gue mau ngambil kudung. Nanti malam akan ku tunjukan seperti apa pakaian tidak layak pakai itu!!!
"Iya, ini mau ke kamar ganti baju" Ucap Shafa melangkahkan kakinya masuk le dalam kamar.
"Zaf, Am? Kalian lagi apa?" Rayyan melihat kedua putranya nampak girang dengan mainan baru yang di bawakan oleh om yang di sebut sebagai om ganteng itu. Hatinya benar-benar tak nyaman. Terlebih saat Zaf mengatakan ia kerap membawakan bunga untuk sang mommy. Sudah bisa di tebak dia sednag berusaha mendekati Shfaa lewat anak-anaknya. Huh, tak semudah itu ferguso!!!
Rayyan segera berbalik saat melihat Shafa keluar dari kamarnya. Bukannya mengganti baju dengan benar, ia malah keluar dengan memakai mukena seperti hendak sholat. Dasar emak-emak, demennya yang cepet! Pakai mukena pun jadi. Rayyan langsung mengikutinya untuk memastikan laki-laki yang di sebut ganteng oleh sang anak.
"Guten morgen Shafa" Sapanya begitu Shafa menemuinya.
"Guten morgen Mr. Edwin, Silahkan" Shafa mempersilahkan tamunya duduk kembali. Rayyan yang niat awalnya ingin ikut menemui tamu istrinya mengurungkan diri setelah mengintip siapa yang datang. Seorang pria berpostur tinggi bertubuh tegap lengkap dengan setelan jas hitamnya, membuatnya merasa rendah diri. Dibandingkan penampilannya pagi itu yang masih memakai sarung dan baju koko, sangar kontras degan penampilan pria yang di panggil om ganteng oleh anak-ankanya tersebut.
__ADS_1
"Ini ada hadiah kecil untuk mu dan Zi, kebetulan saya baru pulang dari Paris" Ucapnya.
"Terimakasih, tapi harusnya tidak perlu seperti ini, Mr. Ed." Shafa menatap miris sebuah paper bag berukuran agak besar dengan logo huruf G, dan satu lagi pper bag berukuran agak keci yng sudha pasti untuk Zifara.
"Pagi-pagi kemari anda hanya ingin memberikan ini?" Tanya Shafa yang malas berbasa basi.
"Tidak juga, Em... Sebenarnya saya - - - "
"Ehm..." Suara berat itu mengalihakan perhatiaan Ed dan Shafa yang refleks menoleh ke sumber suara.
"Maaf, Zi mencarimu. Saya mau mandi dulu" Ucap Rayyan dengan ekspresi datar. Ia memberikan Zifara pada Shafa, yang sebenarnya Zizi sendiri pun tidak mencarinya. Itu hanya alasan Rayyan supaya tidak membiarkan istrinya hanya berdua saja dengan tamu yang bukan mahramnya.
"Oh, iya. Mr. Ed, kenalkan ini suami saya. He was back!" Ucap Shafa menahan lengan Rayyan yang hendak pergi.
"What? Your husband?" Edwin nampak kaget mendengar pengakuan Shafa.
"Zidane Ar-Rayyan" Rayyan mengulurkan tangannya dengan percaya diri pada pria gagah yang terlihat bengong.
"Oh, ya. Edwin Sanjaya" Ia membalas uluran tangan Rayyan dengan canggung.
"Serius, yang bilang mas Ray meninggal kan orang-orang, saya sendiri yakin dia masih hidup. Dan ini buktinya" Ucap Shafa dengab wajah sumringah.
"Oh, I see. Well, saya permisi mau ke kantor" Ucapnya dengan perasaan kecewa.
"Terimaksih oleh-olehnya om!" Ucap Shafa sambil menggerakkan tangan Zifara, seolah putrinyalah yang mengucapkan hal tersebut. Edwin hanyaa mengangguk pelan kemudian berlalu meninggalkan kediaman Shafa. Lagi-lagi ada yang patah tapi tak kelihatan.
"Loh mas, katanya mau mandi?" Tanyanya pada Rayyan saat ia berbalik mendapati suaminya duduk di sofa.
"Sini nak, sama ayah!" Bukannya menjawab ia malah kembali meraih Zizi yang berada di gendongan mommynya.
"Katanya mau mandi?" Tanyanya ulang.
"Sebentar" Balasnya datar. Tak taukah Shafa bahwa suaminya dalam mode cemburu berat. Apalagi yang datang kali ini tidak beda jauh dari dokter Malvin. Ia jadi berfikir apa yang membuat Shafa begitu mencintainya sementara yang mendekatinya adalah laki-laki yang masuk kategori suami idaman, bukan hanya dari segi fisik tapi juga ekonomi yang mumpuni.
"Apa itu?" Rayyan menunjuk dua buah papper bag di atas meja dengan lirikan matanya.
__ADS_1
"Oh, ini oleh-oleh dari Paris. Palingan tas, Tuh kan bener" Ucap Shafa setelah membuka lapisan demi lapisan pelindung tas berwarna hitam dengan aksen gold di beberapa bagiannya.
"Apa tas-tas yang berada di lemari atas juga merupakan hadiah dari fans Shafa?" Entah mendapat keberanian dari mana hingga Rayyan menanyakan hal tersebut pada Shafa. Yang pastinya perasaannya tak suka melihat istri dan anak-anaknya menerima pemberian dari orang llain terlebih seorang pria.
Shafa meletakkan kembali tas yang di pegangnya ke dalam paper bag. Ia menatap lekat-lekat mata Rayyan yang juga tengah menatapnya dingin.
"Mas pikir suamiku nggak mampu beliin tas seperti ini, sampai aku harus ngumpulin tas pemberian orang lain? Ayo Zi, biar ayahmu mandi. Biar nggak suudzon terus sama mommy mu" Ucapnya kesal smabil meraih Zifara. Meninggalkan Rayyan yang masih terdiam di atas Sofa.
"Bi Lastri, telfon Yolanda! Bilang ada barang baru di rumah" Teriaknya pada pembantu kesayangannya.
Rayyan yang merasa bersalah segera menyusul istrinya masuk ke dalam kamarnya.
"Shafa"
"Hmm" Jawabnya tanpa melihat ke arah Rayyan. Ia mulai melepaskan kancing piyamanya, tak peduli dengan keberadaan Rayyan di kamarnya. Hatinya sedang dongkol, lebih baik ia berendam bersama putri cantiknya.
Melihat apa yang tengah di lakukan istrinya Rayyan sempat menahan nafas sejenak. Ia harus bingung antarabminta maaf atau keluar dari kamar tersebut.
"Shafa marah?" Tanyanya. Namun tak mendapat sahutan. Kini kancing piyamanya telah terbuka sempurna dengan cepat ia melepaskannya dan melemparkannya ke dalam keranjang pakaian kotor.
Subhanallah...
Rayyan menarik nafasnya berat menyaksikan pemandangan yang membuatnya merinding melihatnya. Seakan tak peduli dengan kehadiran Rayyan dan juga sudah kehilangan urat malunya, Shafa dengan pede nya melepaskan celana panjang hingga kini hanya menggunakan bra dan celana dalam berwarna hitam yang benar-benar pas di tubuhnya. Marah ternyata bisa membuat seseorang hilang akal bahkan hilang malu.
"Shafa?" Panggilnya lagi
"Hmm" Sahut Shafa tanpa menoleh yang kini sedang melepaskan pakaian Zifara.
"Shafa menggoda saya?" Tanya Rayyan menahan debaran hebat di dadanya. Hanya laki-laki yang memiliki iman kuat lah yang tidak tergoda dengan kulit putih mulus dan seksi bak model majalah
Shafa segera menoleh mendapat pertanyaan yang sedemikian menariknya.
"Mas tergoda?" Tanyanya dengan wajah polos. Terlihat wajah Rayyan mulai memerah.
Shafa tersenyum simpul," Bagus deh kalau mas tergoda, berarti mas masih normal!" Balasnya sambil berlalu ke kamar mandi.
__ADS_1