
Rayyan menghela nafas panjang sebelum masuk kedalam sebuah bank. Tangannya menggenggam erat tangan istrinya. Shafa sendiri melemparkan senyum manis ke arah sang suami, meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
Sudah 2 minggu sejak pemutusan kontrak dengan Edwin Sanjaya. Dan hari ini Rayyan harus menyelesaikan semua pembayaran yang tertunda, termasuk pesangon dan gaji kariyawan mereka.
Tujuan mereka ke Bank hari itu, bukanlah untuk meminjam uang atau meenggadaikan surat berharga yang ia miliki, melainkan untuk mencairkan tabungan deposito yang selama ini di simpan. Semalam Rayyan dan Shafa sepakat untuk menggunakan tabungan mereka untuk menutupi kerugian yang di akibatkan pemutusan kontrak oleh Edwin Sanjaya. Dari pada berhutang, mereka lebih baik menggunakan tabungan yang ada.
Shafa dan Rayyan tak sendiri, ada Jeffri yang menemaninya alih-alih sebagai bodyguard yang akan melindungi Shafa. Sebelumnya, Daddy Shafa dan Ayah Rayyan menawarkan bantuan kepada mereka, tapi mereka menolak. Ia tau benar, Edwin tidak akan berhenti sampai di sini. Ia tak ingin mengambil resiko terlalu besar untuk kerugian yang lebih besar.
Sementara Shafa dan Rayyan masuk ke dalam ruangan, Jeffri bersama Zifara menunggu di ruang tunggu. Zifara sengaja ikut karena ia tidak bisa pisah dari sang Mommy.
"Permisi, boleh saya duduk di sini" Sapa seorang pemuda yang terlihat tampan dengab setelan jas berwarna hitam.
"Oh iya silahkan" Jeffri mengambil tas jinjing kecil milik Zizi yang di letakkan di atas bangku.
Pemuda tersebut tersenyum ramah pada Zifara yang sedang menonton Upin dan Ipin di ponsel Jeffri.
"Papa Jef, udah" Ia memberikan ponselnya pada Jeffri. Nampaknya Zizi sudah mulai bosan menunggu.
"Hai cantik, namanya siapa?" Tanya pemuda yang duduk di sebalahnya. Zifara tak menjawab, ia langsung memeluk Jeffri. Reaksi umum yang di berikan anak kecil saat bertemu dengan orang asing.
"Namanya Zifara" Jawab Jeffri.
"Wah, cantik. Secantik orangnya" Ucap pemuda tersebut.
"Terima kasih" Lagi-lagi Jeffri yang menjawab. Siapapun pasti akan gemas melihat Zifara. Kulit putih, hidung mancung dan mata teduhnya akan memmbuat orang yang melihatnya ingin mencubit dan menciumnya.
"Oh ya Zifara, om punya ini. Zifara mau?" Ia menyodorkan sebuah coklat yang di ambil dari saku kantongnya.
Zizi terlebih dahulu melihat ke arah Jeffri sebelum mengambil coklat dari orang di sebelahnya. Setelah Jeffri mengangguk barulah ia mengambil coklat dari pemuda tersebut.
"Maacih" Ucapnya disertai senyum manis nan menggemaskan.
"Sama-sama" Balasnya sambil mencubit gemas pipi Zifara.
"Anaknya manis sekali pak"
"Ah, iya. Dia memang manis. Selalu ngangenin" Jeffri membantu Zifara membuka bungkus coklat yang di pegangnya.
"Oh ya kenalin, saya Ariyan" Pemuda itu mengulurkan tangannya.
"Jeffri" Dengan senang hati Jeffri menerima uluran tangan Ariyan.
"Om mau?" Tiba-tiba Zizi menyodorkan coklat yang sudah di gigit di hadapan pemuda berusia 21 tahun tersebut. Meski sedikit ragu, tak urung membuatnya menggigit coklat yang sodorkan balita cantik tersebut. Zizi kecil benar-benar sudah mencuri hatinya. Baru kali ini ia melihat balita secantik dan semenggemaskan Zizi. Andaikan Zizi adalah wanita seusianya pasti sudah ia lamar untuk di nikahi.
"Kak!"
__ADS_1
"Mommy" Zifara langsung menghambur memeluk mommynya.
"Sudah selesai Fa?"
"Sudah, ayo kita pergi" Ajak Shafa pada sang kakak yang sejak tafi menunggunya.
"Saya duluan ya" Ujar Jeffri pada Ariyan sebelum meninggalkan tempat tersebut.
Tujuan selanjutnya adalah ZR centre. Kedatangan mereka sudah di tunggu oleh beberapa orang penting yang terlibat langsung dalam usaha yang di geluti Rayyan. Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi Rayyan. Ia berada di ruang rapat untuk memimpin rapat sekaligus menandatangani beberapa dokumen penting penarikan aset yang berada di luar kota.
Sudah bisa dinpastikan setelah ini brand miliknya akan anjlok di pasaran. Ia harus memikirkan strategi baru untuk kembali melambungkan brand berlogo ZR di pasaran. Namun rasanya mustahil, ditengah persaingan yang begitu ketat terlebih tak ada lagi sponsor di belakangnya.
Setelah rapat selesai, Rayyan masih berdiri di depan jendela menatap pemandangan luar dari dalam ruangan tersebut. Shafa menghampiri dan langsung memeluk suaminya.
"Its Okay" Ucapnya sambil tersenyum lembut pada sang istri.
"Harta itu ujian. Banyak bukan berarti di muliakan dan sedikit bukan berarti di hinakan" Ucap Rayyan.
"Bahagia pun tidak di ukur dari seberapa banyak harta yang kamu miliki, melainkan seberapa syukur kamu dengan apa yang kamu miliki saat ini. Dan mas sangat bersyukur memiliki kalian" Imbuhnya.
"Kita pulang?" Shafa mendongak memandang wajah Rayyan yang lebih tinggi darinya.
"Iya, Zaf pasti sudah pulang sekolah" Rayyan menuntun istrinya menuju pintu keluar.
"Ray!" Suara Dian menghentikan langkah Rayyan.
"Terima kasih Di, aku harap kamu masih mau bantu aku di sini" Ucap Rayyan penuh harap.
"Pasti Ray. Ngomong-ngomong aku sudah bisa liburan kan? Capek tau Ray kerja mulu" Dian mencoba mencairkan suasana agar tidak menjadi haru. Beberapa kariyawan yang sedang bersama Dian pun nampak berkaca-kaca.
"Iya, nanti ku kabari lagi" Ucap Rayyan kemudian melanjutkan langkahnya.
Malam hari di rumah Rayyan masih terlihat ceria seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada yang tahu bahwa pasangan suami istri itu tengah menghadapi ujian berat. Mereka sama sekali tak menampakkan raut sedih maupun kecewa yang berlebihan.
"Mommy, aku lupa, tadi ada surat dari ibu guru" Zaf mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya dan memberikannya pada Shafa. Shafa membaca dengan seksama surat yang di berikan oleh Zaf.
"Surat apa Mom?" Tanya Rayyan yang sedang mengajari Am dan Zizi mewarnai gambar.
"Kegiatan ekskul mas" Shafa memberikan kertas tersebut pada Rayyan.
"Zaf mau ikut?" Tanya Rayyan pada Zafran.
"Iya ayah, Aira juga ikut. Kata bu guru nanti kita belajar banyak di sana, terus kita bisa lihat langsung proses pembuatan coklat yah" Jawabnya antusias.
"Ya udah, nggak papa kan Mom?" Rayyan meminta persetujuan sang istri.
__ADS_1
"Iya, besok Mommy ke sekolah Zaf" Balas Shafa. Ia agak kaget ketika melihat nominal yang harus di bayar untuk mengikuti kegiatan itu.
Apa gini ya, rasanya jadi orang susah? Perasaan kemaren-kemaren Zaf bayar lebih banyak juga gue biasa aja. Astagfirullah ya Allah ampuni aku yang kurang bersyukur ini. Gumam Shafa dalam hati.
"Mommy, atu itut ke tekolahnya abang" Sahut Am ketika mendengar mommy nya akan ke sekolah Zaf.
"Acu uga mommy" Sambung Zifara. Sungguh rempong memiliki dua anak balita yang super aktif dan cerewet.
"Kalian ikut ayah ke kampus aja gimana?" Sela Rayyan.
"Mas, apaan sih mau ngajakin mereka berdua? Nggak usah aku nggak ngijinin" Tolak Shafa. Yang benar saja mau membawa Am dan Zi ke kampus bersamaan. Bisa-bisa bukannya mengajar malah momong dua bocah yang jarang akur itu.
"Ati mauuuu!" Terika Am dan Zi bersamaan sambil merangkul Rayyan.
"Nggak papa Sayang, kebetulan besok mas nggak ngajar. Masih ada kegiatan Expo di kaampus. Sekalian biar mereka lihat pameran di kampus" Jawab Rayyan.
"Iya tayang"
"Iya ayang"
Ucap Am dan Zi mengikuti sang ayah memanggil Shafa dengan sebutan sayang.
"Mas Ray, berapa kali aku bilang kalau di depan mereka jangan panggil kaya gitu. Mereka ini fotocopy ulung" Bisik Shafa kesal.
"Mommy, kata pak ayah, nda boleh bisik-bisik kalau sedang bersama-sama" Seru Zaf, membuat Rayyan terkekeh sambil mengacungkan jempol ke arahnya.
"Iya...iya"
Tak lama kemudian, terdengar dering handpho Shafa yang menandakan panggilan masuk.
Edwin? Mau apa lagi dia?
Dengan perasaan kesal bercampur marah Shafa mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo Assalmualaikum"
"Ah, Waalaikum salam. Aku tak menyangka kau mengangkat telfonku secepat ini Shafa"
"Katakan, ada perlu apa?" Tanya Shafa datar.
"Kamu terlalu to the poin manis. Oh ya, bagaimana? Apakah kamu bahagia sekarang? Kamu tentu tau apa yang terjadi pada bisnis kalian"
"Tentu!" Jawab Shafa singkat.
"Come on Shafa. Buang jauh-jauh ego mu. Aku bisa berikan segalanya untukmu, kamu cukup..."
__ADS_1
"Dengar Ed! Aku hanya ingin berterimakasih padamu. Berkatmu, aku jadi semakin mencintai suamiku dan tak ingin jauh darinya. Terimaksih, aku sangat menikmati kehidupan baru kami. Bye" Shafa bahkan tak menunggu Edwin menyelesaikan ucapannya. Ia langsung menyela dan menutup sepihak panggilan tersebut.