Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Harus bersabar


__ADS_3

Beberapa kali Shafa terkantuk menahan kepalanya agar tidak terjatuh dan tetap terjaga sepanjang malam. Tangannya dengan terampil mencelup dan memeras sebuah handuk kecil pada air hangat di baskom yang ada di nakas sebelah kursinya. Sesekali ini menempelkan punggung tangannya pada kening lebar milik suaminya. Kejadian seperti ini mengingatkan ia saat anak-anaknya demam dan butuh perhatian ekstra darinya.


Ide cemerlang yang tadinya ia harapkan bisa mengembalikan ingatan Rayyan justru berakhir dengan Rayyan yang mendadak mengalami sakit kepala berat hingga membuatnya demam tinggi.


Semua gara-gara ide konyol Vira. Awas aja lo Vir, kalo suami gue kenapa-napa, gue bejek-bejek loe. Gumam Shafa sambil kembali menempelkan handuk kecil itu pada kening Rayyan.


Baru saja tangannya menempel pada kening tersebut, sang empunya tubuh sudah memberikan reaksi. Rayyan mulai menggerakkan kepala ke kiri dan kekanan dengan matanya yang mulai mengerjab. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah Shafa yang terlihat sayu karena menahan kantuk tengah memperhatikannya.


Rayyan mengulas senyum kecil di bibirnya, saat mendapati wajah cantik itu tengah menatapnya.


"Jam berapa sayang?" Tanyanya dengan suara serak.


Weit...weit... Apa tadi? Mas Rayyan manggil aku sayang? Mata Shafa langsung membulat sempurna, ia seketika melupakan rasa kantuk yang tengah di rasakannya.


"Apa mas?" Tanya nya lagi. Mendadak telinganya ingin mendengarbkembali kata itu terucap dari bibirnya. SAYANG! Sebuah kata yang dulu menjadi panggilan bagi Shafa yang tak pernah absen di ucapkan oleh Rayyan.


"Jam berapa sekarang?" Tanyanya mengulangi. Ada sedikit rasa kecewa dalam hati Shafa saat kalimat suaminya berubah.


Apa aku yang salah dengar? Ah tapi aku tadi bener-bener dia manggil sayang kok.


"Shafa? Kok bengong?" Rayyan berusaha bangkit.


"Eh, jangan dulu bangun mas, Mas masih panas. Sekarang baru jam setengah empat" Ucap Shafa sambil menahan tubuh Rayyan.


"Nggak papa, saya sudah nggak papa, Shafa tidur lah. Saya mau sholat tahajjud dulu" Ucapnya yang kini sudah duduk sempurna.


Ternyata mas Ray masih belum ingat. Ngomongnya masih pakai saya kamu.


"Tapi nanti mas..."


"Tidak Apa apa, sekarang gantian Shafa yang tidur. Terima kasih sudah merawat saya semalaman" Ucapnya di sertai senyuman tulus di bibirnya.


Selain karena memang dirinya lelah dan mengantuk, Shafa juga tak ingin berdebat terlalu lama. Rayyan memang terlihat sudah membaik meski badannya masih hangat. Tanpa banyak bicara gantian dirinya merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu. Tak butuh waktu lama, ia sudah tenggelam di alam mimpinya.


"Terimakasih sayang" Rayyan mengecup kening Shafa sesaat setelah melaksanakan Shalat tahajjud. Diam-diam ia sudah mulai mengingat wanita yang tengah lelap dalam buaian mimpinya. Ia hanya perlu berusaha lebih keras lagi agar bisa mengingat semuanya.


Pagi itu dengan langkah terburu-buru daddy dan Mommy Shafa mengunjungi kediaman Shafa untuk memastikan kondisi Rayyan. Sesampainya di sana mereka cukup di buat terkejut dengan penampilan Shafa yang baru. Rambut panjangnya berubah menjadi pendek dengan cat yang mengingatkan mereka ada putri mereka dulu sebelum menjadi seorang istri yang sesungguhnya.


"Apa-apaan kamu Fa? Apa karena ini Rayyan jadi demam? Kamu memaksanya mengingat?" Cecar mommy dengan pertanyaan yang membuat Shafa diam tanpa kata.


"Aku bingung mom, udah lebih seminggu mas Ray belum juga mengingat Shafa. Shafa capek, seperti hidup dengan orang asing yang selalu menjaga jarak dengan Shafa. Berbicara pun pake saya, kamu, saya, kamu. Shafa ini istrinya mom bukan orang lain" Ujar Shafa. Wajahnya menampakkan kesedihan yang mendalam.

__ADS_1


"Kamu harus sabar Fa, ingat perjuangan kamu menanti selama ini. Rayyan sudah kembali, kamu hanya perlu menunggu. Kalau kamu memaksanya mengingat akan membuat kondisinya semakin memburuk"


"Benar kata Mommy mu Fa" Daddy yang tiba-tiba muncul turut memberikan pengertian pada Shafa.


"Kalau dia terlalu keras mengingat, bisa jadi malah membuatnya lupa segalanya. Sarafnya bisa bermasalah. Biarkan semua mengalir seperti air. Berdoalah semoga Rayyan lekas mengingatnya" Ucap daddy sambil memeluk Shafa.


"Oh ya, daddy sudah bilang pada Rayyan, besok kita ke Bandung menemui orang tua angkatnya. Kita harus berterimakasih kepada mereka karena telah menolong Rayyan selama ini. Shafa mau ikut?" Tanya Daddy masih mendekap putrinya yang sedang di rundung gelisah.


"Sekalian supaya kalian refreshing berdua" Imbuh mommy.


"Apa daddy sudah bilang sama mas Ray?" Shafa mendongak menatap wajah daddy-nya yang mulai di penuhi kerutan halus.


"Of course. Dan Rayyan setuju"


Mendengar bahwa mereka akan kembali pergi ke Bandung untuk mengunjungi orang tua angkat Rayyan membuat Am dan Zafran kegirangan. Mereka yang waktu itu belum puas bermain di sungai lantaran kejadian Am hampir tenggelam berniat untuk memuaskan diri bermain air di sumber yang masih asli dan bersih.


"Yey..yey..yey... atu main di sungai lagi Mommy" Ujar Am seolah tak kapok dengan kejadian yang hampir membuat nyawanya melayang.


"No!!!" Tolak Shafa dengan tegas.


"Yes!!!" Balas Am tak mau kalah. Kini ia malah berkecak pinggang di hadapan mommy nya.


"Am, Kalau bicara sama mommy tidak boleh seperti tadi ya nak. Tidak boleh berteriak di hadapan mommy" Ucap Rayyan sambil mengusap kepala putranya yang memiliki tingkat keras kepala melebihi saudaranya yang lain. Mungkin karena ia anak pertama dalam silsilah keluarganya.


"Ini berlaku juga buat Abang Zaf dan adek Zi" Imbuhnya sambil menoleh pada Zafran yang tengah membantu Shafa memasukkan pakaian mereka dalam tas.


"Tenapa ayah? Mommy nakal ko, atu tan mau main di sungai" Belanya sambil memanyunkan bibirnya.


"Karena surganya Am, ada pada mommy. Kalau kalau mommy marah sama Am nanti Allah juga ikut marah nak" Terangnya pelan-pelan.


"Surga di bawah telapak kaki ibu kan ayah?" Sahur Zafran yang sudah paham akan ucapan Rayyan.


"Benar!"


"Kalian mau dengar cerita tentang seorang pemuda yang begitu memuliakan ibunya?"


"Mau...mau... Zafran pun segera beralih duduk di samping Rayyan untuk mendengarkan ceritanya.


"Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.


“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji,” pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

__ADS_1


Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibeli lah seeokor anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Kalian tahu, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila.. Uwais gila…” kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.


Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.


Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.


Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.


Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya ibunya heran. Uwais menjawab, “Dengan terampun nya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga.”


Subhanallah, itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.


Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.


Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.


Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”


Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit."


"Jadi kalau Am dan Zaf ingin menjadi salah satu penghuni surga. Am dan Zaf harus berbakti pada mommy, jangan melawan dan harus mendengarkan ucapan mommy. Kalian paham?" Tanyanya sambil menatap dua bocah itu secara bergantian. Keduanya mengangguk setuju. Am langsung melompat memeluk dan mencium mommy nya.


"Am sayang mommy" Katanya sambil mengeratkan pelukannya.


"Atu ugaa" Zifara pun ikut memeluk Mommy nya.


"Mommy juga sayang kalian"


CUP!


CUP!


"Ayah?" Panggil Zaf pada Rayyan yang sedang menikmati pemandangan indah dari anak dan istrinya.


"Iya nak?"


"Kalau surga anak di telapak kaki ibu. Surga ibu di mana ayah?" Tanyanya yang nampak berfikir. Zaf memang selalu kritis terhadap suatu hal.


Rayyan mengulas senyum menatap Shafa penuh cinta.


"Surga seorang istri ada pada ridho suaminya"

__ADS_1


__ADS_2