
Sesuai dengan instruksi Malvin pagi tadi. malam ini Aisyah sudah siap dengan dress warna hitam yang ia padukan dengan pasmina berwarna mocca. Malam ini ia tidak lagi menginap di rumah Rayyan, karena melihat Shafa yang sudah kelihatan sehat. Selain itu, untuk menghindari perdebatan panjang dengan kakak angkatnya tersebut, jika ia tahu Aisyah hendak keluar malam.
Yang di tunggu telah tiba. Sebuah sedan mengkilap berwarna hitam berhenti tepat di depan halaman rumah Aisyah. Aisyah menghampiri mobil yang sudah sangat ia kenali dan masuk ke dalam.
"Dokter ini nggak pernah nonton film ya?" Tanya Aisyah bersungut-sungut.
"Maksudnya?"
"Dimana-mana tuh ya dok. Kalau lagi jemput cewe, di bukain pintunya kek, apa kek. Ini aku mah berasa naik taxi online" Protes Aisyah yang tadi harus membuka pintu sendiri. Padahal ia sudah membayangkan adegan seperti di drakor yang kerap ia tonton.
"Apa di taxi online juga seperti ini?" Malvin meraih sesuatu yang berada di depan dasboard mobilnya dan memberikannya pada Aisyah.
"Bunga?" Aisyah buru-buru mengambil bunga mawar putih yang di sodorkan Malvin. Matanya berbinar menatap bunga dan orang yang tengahengemudi secara bergantian.
"Tadi di jalan ada anak-anak yang jualan. Kasian. Kamu suka?" Tanyanya.
Senyum yang tadi merekah mendadak luntur seketika. Harusnya ia sudah tahu, tipe pria seperti Malvin ini akan terasa sangat tidak mungkin berbuat hal-hal seperti yang ia bayangkan di otak cantiknya.
"Kenapa diam?"
"Tidak"
"Kamu suka bunganya?" Tanya Malvin lagi. Yang di jawab anggukan oleh Aisyah.
"Di makam ibu dan ayahku juga ada mawar putih. Aku tanam sendiri malah. Pohonnya udah besar dan banyak bunganya" Ucap Aisyah sambil tersenyum pahit. Ada rasa sedih yang menyusup di dalam kalbunya jika mengingat kedua orang tuanya yang sudah almarhum.
"Jadi kedua orang tua kamu sudah meninggal?" Tanya Malvin. Ia menyesal membelikan Aisyah mawar putih yang mengingatkannya pada makam ledua orang tuanya.
"Iya, sejak saya umur 4 tahun dok"
"Sekecil itu?" Malvin menatap Aisyah tak percaya.
"Iya" Jawabnya sambil mengangguk. Aisyah bahkan sudah lupa wajah mereka jika tidak ada foto yang selalu mengingatkannya tentang wajah ayhah dan ibunya.
"Lalu, selama ini kamu tinggal dengan siapa?" Semakin Malvin mendengar cerita Aisyah, semakin ia ingin tahu lebih jauh tentang gadis muda yang memiliki selisih usia sangat jauh dengannya.
"Saya tinggal sama abah dan Ambu. Abah adalah kakak mendiang ayah. Beliau tidak memiliki anak, jadi sejak saat itu beliau yang merawat dan membesarkan saya," Terangnya.
Sangking seriusnya obrolan mereka, hingga tak terasa kini mereka telah berada di halaman sebuah rumah mewah dengan pagar yang tinggi menjulang. Aisyah terkagum-kagum melihat desain rumah yang biasanya ia lihat di sinetron-sinetron. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru yang nampak indah dengan lampu-lampu kristal yang sudah pasti berharga sangat mahal.
Sultan mah bebas. Batinnya.
"Ayo masuk" Ajak Malvin yang berjalan lebih dahulu.
Aisyah mengikuti langkah Malvin dengan jantung yang tak henti-hentinya berdebar. Masih jelas di ingatannya bagaimana ia pergi dari pesta ulang tahun papa Malvin setelah adu mulut dengan Angela. Ia semakin mengeratkan genggamannya pada tali sling bag yang dikenakannya malam ini.
__ADS_1
Ya Allah. Aish gugup. Apa mereka akan menghina aku lagi?
"Mah, pah" Panggil Malvin begitu masuk ruang keluarga. Mama dan papa Malvin langsung berdiri begitu mengethui kedatangan Malvin.
"Eh, kalian sudah datang?" Raut wajah mama Malvin terlihat begitu sumringah
"Assalamualaikum om, tante, eyang" Sapa Aisyah sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Waalaikum salam"
"Apa kabar sayang? Kamu cantik sekali" Puji Mama Malvin, yang segera memeluk dan mencium Aisyah. Aisyah hanya bisa tersenyum canggung. Ia tak biasa menerima perlakuan seperti ini.
"Alhamdulillah baik tante" Jawabnya.
"Ya sudah, ayo kita langsung ke meja makan. Kakak dan keponakan kamu sudah menunggu" Ucap Mama Malvin sembari merangkul bahu Aisyah menuntunnya menuju meja makan besar yang sudah terisi berbagai menu makanan.
Ini makan malam atau hajatan? Banyak banget makanannya. Dasar orang kaya.
Aisyah duduk di kursi yang tepat bersebelahan dengan malvin. Di depannya Nadia, kakak ipar Malvin sejak tadi tak henti-henti melemparkan senyum hangat keadanya. Kedatangan Aisyah malam ini di sambut hangat oleh seluruh anggota keluarga Malvin.
Sepanjang makan malam berlangsung Aisyah terlihat sangat gugup, lebih gugup di banding saat di pesta. Sebuah senggolan kecil di kakinya membuat ia menoleh seketika ke arah tersangka yang ada di sebelahnya.
"Tangan kamu gemetar. Tenanglah mereka tidak akan menyakitimu" Bisik Malvin yang mencondongkan kepalanya pada Aisyah.
Dasar bodoh. Aku gemetar bukan takut, tapi gugup.
"Tidak apa-apa eyang" Jawabnya dengan senyum tulusnya.
"Makanannya tidak enak ya?" Tanya mama Malvin dengan wajah kecewa yang di buat-buat.
"Enggak tante. Makanannya enak sekali, sungguh" Balas Aisyah mencoba meyakinkan mereka bahwa makanan yang di makannya benar-benar enak.
"Kalau enak, kok makannya sedikit? Pasti masakan tante nggak enak, ya kan?" Gurau mama Malvin.
"Demi Allah enak tante. Hanya saja saya sudah kenyang" Jawab Aisyah pelan.
"Kenyang? Makan sedikit kok kenyang?"
"Saya sudah makan banyak saat berbuka tadi tante" Ucapnya sambil meringis.
"Buka? Inikan bukan bulan ramadhan nak" Papa Malvin pun ikut berkomentar.
"Inikan hari kamis tante. Saya puasa sunnah senin dan kamis" Jawab Aisyah. Ia tak tahu bahwa keluarga di depannya ini sangat minim pengetahuan agamanya.
"Kenapa?" Lanjut papa Malvin.
__ADS_1
Aisyah menggaruk hidungnya yang tak gatal. Haruskah ia menjelaskan pada keluarga pacar boongannya ini tentang puasa senin kamis.
Kata kang Andi kan, sampaikan walau hanya satu ayat. Bismillah.
"Puasa Senin Kamis merupakan ibadah puasa sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Puasa sunnah berarti jika dilakukan akan mendapat pahala dan jika tidak dilaksanakan juga tidak berdosa.
Pada hari Senin, Rasulullah SAW kerap berpuasa dan juga melakukannya pada hari Kamis.
Rasulullah SAW ditanya tentang anjuran berpuasa di hari Senin. Lalu beliau menjawab, "Itu adalah hari di mana aku dilahirkan, hari di mana aku diutus atau diturunkannya wahyu kepadaku." (HR. Muslim)
Hal tersebut diungkapan oleh Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi Muhammad bersabda, 'Sesungguhnya amalan-amalan seseorang didatangkan pada hari Senin dan Kamis."
Sangat jarang beliau meninggalkannya karena manfaat dan keutamaan berpuasa pada Senin dan Kamis tersebut.
Hal Tersebut dikarenakan Nabi Muhammad SAW ingin ketika amalannya diangkat ke hadapan Allah SWT beliau dalam keadaan berpuasa" Terang Aisyah yang ternyata mendaapt perhatian penuh dari semua anggota keluarga Malvin.
"Lantas apa keutamaan orang yang melaksanakan puasa sunah tersebut?" Tanya kakak Malvin yang sejak tadi turut mendengarkan
"Pintu-pintu surga dikatakan akan dibuka pada dua hari, yaitu pada hari Senin dan Kamis.
Dari Abu Harrairah Radiallahu anhu, Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda :
“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim).
Selain itu, orang-orang yang sering berpuasa akan masuk surga khusus, seperti dalam hadist yang berbunyi:
“Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang namanya “Ar-Rayyan,” yang akan dimasuki oleh orang-orang yang sering berpuasa kelak pada hari kiamat, tidak akan masuk dari pintu itu kecuali orang yang suka berpuasa. Di katakan: manakah orang-orang yang suka berpuasa? Maka mereka pun berdiri dan tidak masuk lewat pintu itu kecuali mereka, jika mereka telah masuk, maka pintu itu di tutup sehingga tidak seorang pun masuk melaluinya lagi.” (HR Bukhori dan Muslim).
Mendengar penjelasna Aisyah keluarga Malvin menjadi sangat terkesan sekaligus malu. Mereka muslim tapi, kadar pengetahuannya sangat kurang di banding gadis muda yang kian mencuri perhatian mereka.
"Aulia ini pernah sekolah di pesantren ya?" Tanya Nadia yang begitu kagum dengan pengetahuan Aisyah.
"Ia, Alumni pesntren mana dek?" Sahut kakak laki-laki Malvin.
"Bukan, saya sekolah di SMA biasa kok kak"
"Tapi, kok hapal dalil-dalil yang di sebutkan tadi?" Tanyanya dengan wajah heran.
"Oh, itu kak Rayyan yang ngajarin. Jadi, sejak dia tinggal di rumah, dia sering ngajarin saya, termasuk puasa senin kamis yang rutin di kerjakannya" Aku Aisyah.
"Siapa tadi? Rayyan? Mama kaya nggak asing dengan nama ini pah" Ucap Mama Malvin mengingat-ingat.
"Dia suami Shafa Ma" Sahun Malvin dingin.
Apa itu yang membuat Shafa begitu mencintainya?
__ADS_1
"Jadi kamu?" Mama Malvin mencoba mencerna ucapan Aisyah tentang Rayyan yang pernah tinggal di rumahnya.
"Saya adik angkatnya kak Rayyan bu"