
Setelah mengantar Aisyah ke rumah Shafa, Malvin melajukan kendaraannya menuju kediaman keluarga besarnya. Siang tadi Aisyah lagi-lagi menghadiri makan siang bersama keluarga Malvin. Jika di hitung-hitung ini adalah kali ke dua ia diundang secara pribadi ke kediaman Malvin.
"Vin, Kapan kamu akan bertemu orang tua Aulia?" Mama rupa-rupanya sudah tak sabar untuk meresmikan hubungan putra bungsunya tersebut.
"Sabar, Ma." Jawab Malvin.
"Mama mu benar. lebih cepat lebih bagus, Nak" Sahut suara berat yang tak lain adalah papa Malvin.
Papa tumben langsung ACC tanpa memperhatikan bibit, bebet, bobotnya.
"Tuh, papa aja udah setuju. Iya kan, Pa?" Semakin semangatlah sang nyonya besar mendengar dukungan dari suaminya.
Malvin mengerutkan dahinya sambil menatap ke arah papanya. Apa sebegitu inginnya mereka melihatnya menikah, hingga main setuju saja.
"Papa yakin?" Malvin balik bertanya pada sang ayah.
"Maksud kamu?"
"Yah, maksudku, apa papa yakin merestui aku dengan wanita kampung itu? Bukankah papa selalu selektif dalam memilih menantu? Dia bukan dari kalangan atas, Pa. Bukan model atau putri pengusaha ternama, kalau papa lupa" Cecar Malvin seolah mengingatkan papanya pada sosok Aisyah yang menurutnya hanya wanita kampung biasa.
"Heh, Papa tentu saja sudah mencari tahu bibit, bebet, bobotnya sebelum menyetujuinya" Papa tersenyum miring.
"Maksud Papa, papa udah mencari tau tentang Aulia?" Tatapan sang istri menuntut penjelasan tentang ucapannya barusan.
Hanya sebuah anggukan, yang mengisyaratkaan bahwa pria paruh baya itu telah menyelidiki seluk beluk kandidat calon menantunya.
"Apa? Papa sudah menyelidiki latar belakang Aulia?" Tanya Malvin tak percaya.
"Iya" Jawab sang ayah santai penuh wibawa.
"Dan papa setuju?" Imbuhnyaa lagi.
"Tentu. Tidak ada alasan untuk tidak menyetujuinya" Lagi-lagi suara tenangnya membuat Malvin mulai gelisah. Ternyata respon sang ayah di luar dugaannya. Ia menyangka sang ayah akan langsung menolak, mengingat Aisyah bukan berasal dari keluarga kelas atas. Bukankah orang tuanya hanya seorang petani. Ah, rasanya sangat tidak pantas jika harus bersanding dengan dirinya.
"Tapi, pa. Dia hanya anak petani biasa. Papa yakin?" Perasaan Malvin mulai tak tenang.
__ADS_1
"Of course!"
Lagi-lagi jawaban sang ayah membuat jantungnya semakin berpacu. Inikah akhir dari rencananya?
"Kamu kenapa sih Vin? Harusnya kamu senang dong" Sindir sang mama yang melihat perubahan ekspresi wajah putranya.
"Malvin... Malvin hanya takut Aulia tidak di terima di keluarga kita Ma" Alibinya.
"Sepertinya kamu belum mengenal dia dengan baik Vin? Lalu kenapa kamu membawanya kepada kami?" Papa Malvin menatapnya dengan tatapaan mengintimidasi.
****! Aku harus jawab apa pada papa?
"Malvin... Malvin hanya tau kedua orang tuanya sudah meninggal dan dia di besarkan oleh kakak dari ayahnya. Papa sendiri, apa yang papa tau tentang Aulia?" Jawabnya. Ia mencoba membela diri dihadapan papanya. Tak ingin posisinya semakin tersudut, Malvin melontarkan pertanyaan balasan untuk sang ayah.
"Banyak," ucapnya sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"APA? Tanya Malvin dan Mama serentak.
"Apa yang Papa tahu tentang Aulia? Ayo, Pa cerita!" Desak sang istri yang terlihat tidak sabar.
"Lalu?"
"Ia di rawat dan di besarkan oleh pamannya yang tidak memiliki anak"
"Kalau itu Malvin sudah tahu, Pa" Sela Malvin yang tak lagi antusias dengan cerita papanya.
"Apa kamu tahu bahwa orang Aisyah adalah putri salah satu orang terkaya di Bandung?" Papa Malvin menatapnya dengan tatapan jumawah.
"Hah? Impossible" Lirihnya namun masih bisa terdengar oleh indra pendengaran sang ayah.
Papa, menarik sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan. Ia sudah menduga bahwa Malvin tidak tahu banyak tentang seluk beluk keluarga Aisyah. Begitupun Aisyah yang tak begitu pongah menunjukan kekayaan keluarganya.
"Hampir 70 persen perkebunan teh yang ada di daerah itu adalah milik orang tua Aulia. Bahkan mungkin teh yang setiap hari kita minum merupakan salah satu olahan yang berasal dari pabriknya. Haji Amir, ayah angkat Aulia yang merupakan pamannya merupakan juragan ternama di kampungnya. Ia terkenal dermawan dan rendah hati. Persis seperti Aulia" Ucap Papa Malvin yang membuat lidah Malvin tercekat.
"Jadi tak ada alasan papa untuk menolaknya. Papa sudah bilang pada semua staff dan dosen di kampus agar membantu Aulia dalam penyelesaian studynya. Papa tidak ingin kalian menunda lebih lama lagi untuk meresmikan hubungan ke jenjang yang lebih serius" Ucap papa Malvin, terdengar seperti perintah yang harus segera di laksanakan.
__ADS_1
"Tapi Pa---"
"Tidak ada tapi-tapian Vin! Kamu pilih Aulia yang merupakan pilihan kamu sendiri atau Angela?" Tegas Papa Malvin yang sudah lelah mendengar alasan putra sulungnya itu.
"Aulia, Pa!" Jawabnya pasrah.
Rupanya, Malvin telah terjebak dalam permainannya sendiri. Haruskah ia melanjutkan sandiwara ini? Atau berhenti, yang artinya ia harus siap menikah dengan Angela?
Setelah perbincangan serius dengan Papa dan Mamanya tadi, Malbin terus berfikir langkah apa yang harus ia ambil. Ia beberapa kali menekan nomor Aisyah di ponselnya, namun tak mendapat jawaban dari gadis cantik berwajah Barbie itu.
Apa benar Aulia anak orang kaya? Bukanlah selama ini dia terlihat biasa saja? Dia memang susah di tebak!
Sementara itu, Aisyah yang menjadi pusat perbincangan keluarga Malvin tengah menjalani interogasi yang di lakukan oleh kakak angkatnya.
"Mas, udah dong. Kasian Aisyah dari tadi di tanya-tanya mulu. Udah kaya maling yang lagi ketangkep aja" Gerutu Shafa, yang gemas melihat suaminya.
"Mas, nggak akan nanya terus kalau dia jujur. Dari tadi jawabannya, am, em, am, em terus. Pasti ada yang kamu sembunyiin kan Aish? Jujur! Kamu tau saya paling benci di bohongi!" Tegasnya pada Aisyah namun lirikan matanya tertuju pada sang istri.
"Ini aku udah jujur kang. Aku tadi ada urusan dengan dokter Malvin, makanya sekalian minta tolong di anterin kesini" Ucap Aisyah dengan mata berkaca-kaca.
"Urusan apa?"
"Kampus kang, kampus!"
"Yakin?" Rayyan menatap tajam Aisyah yang menunduk sambil meremas jemarinya. Shafa yang berada di sisi Rayyan ikut deg-degan. Pasalnya ia sendiri memiliki rahasia yang ia sembunyikan dari sang suami. Apa jadinya jika Rayyan mengetahui bahwa dirinya memiliki profesi baru sebagai YouTuber dengan jutaan subscriber.
"Aish, abah menitipkan kamu pada saya. Jadi saya berhak tau apa yang kamu lakukan di luar sana. Sekarang jujur, dari mana kamu dengan dokter Malvin tadi?" Rayyan mengulangi pertanyaannya. Ia tahu Aisyah sedang berbohong.
"Aish, Em--"
"Jujur atau saya cari tau sendiri?"
"Iya... Iya! Aish habis makan siang bareng keluarga dokter Malvin!" Ucapnya sambil memejamkan mata.
Tamat sudah riwayatku.
__ADS_1