Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Jujur


__ADS_3

"Mas, mau ngomong apa sih?" Shafa belum juga menyadari raut wajah suaminya. Ia tengah asyik dengan ponselnya melihat foto foto selfie sang anak yang di ambil tanpa sepengetahuannya.


"Mas, lihat deh anak mu. Narsis banget ya?" Tunjuknya pada sebuah gambar di layar yang menampilkan kenarsisan Am dan Zi dan berfoto.


"Ini pasti nurun emaknya," jawab Rayyan sambil merangkul bahu istrinya. Yang tengah bersandar di kepala Ranjang.


"Sayang, kalau ada seseorang yang menitipkan barang miliknya pada Shafa, lalu orang itu berniat untuk mengambilnya. Bagaimana tanggapan Shafa?" Tanya Rayyan sambil mengelus sayang kepala istrinya.


"Ya aku kasihkan lah, Mas. Masa ia mau aku tahan"


"Walaupun Shafa suka dengan barang itu?" Tanyanya lagi.


"Yaialah, Mas. Kan itu bukan milik aku, Kalau yang punya mau ambil ya aku harus iklas dong" Jawabnya dengan penuh percaya diri.


Rayyan tersenyum, menarik kepala istrinya agar bersandar di dadanya.


"Mas, kok nanya gitu sih? Ini pasti ada apa-apa!" Shafa memicingkan matanya menatap curiga pada sang suami.


"Apa?"


"Elleh, ngaku deh mas. Ada apa? Mas ada dititipin orang sesuatu atau apa?" Cecarnya yang semakin penasaran.


Wajah Shafa saat seperti ini terlihat sangat menggemaskan, membuat Rayyan tak tahan jika tidak mendaratkan sebuah kecupan di kulit mulusnya.


Cup!


Berhasil! Satu kecupan mendarat sempurna di bibirnya.


"Mas!"


"Hmm.."


"Nyebelin!" Ucapnya sambil memalingkan wajahnya dengan bersendekap di dada.


Rayyan kembali merengkuh tubuh istrinya dalam dekapannya. Shafa dapat mendengar dengan jelas degup jantung Rayyan yang tak beraturan.


"Shafa tau maksud pertanyaan mas tadi?"


"Enggak" Jawabnya disertai gelengan kepala.


"Mas hanya ingin Shafa tau, bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah milik Allah. Baik yang nampak maupun tidak" Ucapnya, mengawali perbincangan serius mereka.


"Kalau itu aku tau mas"


"Bagus! Termasuk apa yang kita miliki" Imbuhnya sambil mengelus lengan Shafa.


"Apa yang kita miliki saat ini adalah titipan Allah sayang. Anak, suami, istri juga harta semua adalah milik Allah. Jadi jika sewaktu-waktu Allah mengambilnyankita harus berlapang dada, karena..."


"Mas!" Potong Shafa. Ia menatap Rayyan dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aku nggak suka mas ngomong gitu! Mas ngomong gitu kaya mau mati aja. Aku nggak suka Mas!" Ucapnya penuh emosi hingga tanpa sadar air matanya tumpah. Shafa menutup wajahnya dengan telapak tangan sembari menangis sesunggukan. Emosinya benar-benar sedang buruk saat ini.


"Sayang, bukan gitu"


"Cukup!!! Aku nggak mau mas ngomong gitu lagi. Aku nggak mau mas ninggalin aku lagi!" Ia rupaya salah menangkap ucapan Rayyan.


"Tidak sayang, siapa yang mau ninggalin Shafaa sih?" Ditariknya lengan Shafa hingga ia kembali jatuh dalam pelukan sang suami.


"Itu tadi, Mas bilang kalau Allah mengambil suami sewaktu-waktu, aku harus iklas. Aku lebih baik kehilangan harta dari pada kehilangan Mas untuk yang ke dua kalinya. Aku nggak sanggup, Mas" Isaknya. Sekelebat bayangan saat sulit tanpa Rayyan melintas kembali di ingatan Shafa. Ia rela kehilangan apapun asal bukan suaminya. Belahan jiwanya.


"Yakin, sanggup kehilangan harta?" Goda Rayyan. Padahal itulah sebenarnya yang ingin ia katakan.


Shafa mengangguk mantap dalam dekapan Rayyan, "Selama ada Mas dan anak-anak di sisiku. Karena kalian adalah harta paling berharga yang aku punya." Ucapnya dengan suara parau.


"Terima kasih sayang, terima kasih!" Rayyan mengecup puncak kepala Shafa berulang-ulang. "Kalian juga merupakan harta paling berharga yang mas punya". Imbuhnya sambil mengeratkan pelukannya.


Setelah emosi Shafa membaik dan tangisnya reda, Rayyan menghela nafas panjang bersiap untuk bercerita.


"Sayang, Sanjaya Group memutus kontrak kerja sama dengan gerai kita" Ucap Rayyan dengan nada yang terdengar begitu tenang seolah tak terjadi apa-apa. Itulah salah satu kelebihan ayah Am, ia bisa begitu mengatur emosinya dengan begitu baik.


"Apa Mas?" Shafa yang tadinya bersandar nyaman di dada Rayyan mendadak bangkit dan menatap Rayyan dengan tatapan tak percaya.


"Tadi katanya siap kehilangan harta?" Rayyan menginggatkan kembali ucapan Shafa beberapa menit lalu.


"Ma...Mas serius?" Tanyanya sambil menatap lekat mata teduh Rayyan.


Rayyan mengangguk samar. Shafa langsung menenggelamkan wajahnya di dada sang suami.


"Allah berfirman yang artinya :'Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. Ali Imron : 14)


"Ujian harta pasti menimpa setiap hamba karena tidaklah kehidupan di dunia ini keuali kita butuh akan harta, hanya saja yang harus kita perhatikan adalah bagaimana semestinya kita memanfaatkan harta tersebut demi menggapai ridho Allah dan senantiasa kita berlindung kepada Allah dari jeleknya fitnah harta." Ucap Rayyan sambil mengusap kepala istrinya. Shafa yang ada dalam dekapannya kembali terisak.


"Maafin mas ya, kalau bikin Shafa kecewa" Lirih Rayyan. Mendengar istrinya terisak, ia begitu sakit dan merasa bersalah.


"Enggak, Mas. Mas, nggak salah kenapa minta maaf?" Shafa menatap wajah suaminya yang juga menatapnya sendu.


"Setelah ini, mungkin kehidupan kita nggak sama seperti sebelumnya. Mas, hanya minta satu hal sama Shafa. Seperti apapun kondisi kita nanti, kita harus tetap bersyukur." Ucapnya lembut. Ibu jarinya bergerak mengusap lelehan bening di mata sang istri.


"Mas, isk...isk" Shafa kembali memeluk Rayyan sambil menangis.


"Jangan menangis sayang, mas janji akan berusaha yang terbaik untuk keluarga kita"


"Bukan mas, aku nangis bukan karena sedih"


"Lalu?"


Shafa menangkupkan kedua tangannya di wajah Rayyan, "Aku nangis karena bahagia, aku bahagia mendengar setiap ucapan mas Ray yang menguatkan. Aku terharu mas, Allah baik banget udah ngirim sosok seperti mas Ray. Apapun itu, selama mas Ray ada di sampingku, aku akan bisa lewati semuanya" Ucapnya tanpa keraguan.


"Terima kasih sayang" Rayyan memeluk Shafa erat. Ia seperti menemukan kembali kekuatannya saat memeluk tubuh istrinya. Bagi mereka tak ada ujian berat selagi mereka bersama. Ujian terberatnya sudah ia lewati saat dimana ia terpisah dengan anak dan istrinya.

__ADS_1


Seusai shalat subuh, Shafa segera menganti pakaiannya dengan daster rumah yang memudahkannya bergerak. Mulai hari ini, ia harus mulai mengerjakan sebagian pekerjaan rumah karena ia telah memutuskan tidak akan mencari ART pengganti mbak Yati. Shafa harus mulai berhemat, mengingat bisnisnya yang sedang dalam kondisi terpuruk.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Rayyan dan Zafran baru saja pulang dari masjid. Langsung menemui Shafa di kamarnya.


"Mommy, aku pengen makan nasi goreng pakai sosis" Ucap Zaf yang berbaring di sebelah Zifara.


"Iya, nanti mommy buatkan"


Tak lama berselang, Shafa yang tengah merapikan kamarnya di buat kaget dengan tangisan yang ia hapal betul milik siapa.


"Am!" Ucap Rayyan dan Shafa bersamaan.


"Hua...Hua... Mommy... Mommy" Tangisnya semakin kencang.


Shafa segera berlari ke arah pintu mendapati sang anak sudah berdiri sambil mengucek matanya.


"Mommy, abang nakal...hu..hu..hu. Atu nda mau bobo cendili!" Adu nya pada sang ibu.


"Sudah... sudah. Abang tadi ke masjid sama ayah. Tadi Am masih bobo jadi nggak di bangunin" Shafa mendekap Am dalam gendongannya sambil mengelus rambut ikalnya.


"Ayah nakal! Atu malah tama ayah dan abang" Teriaknya sambil memberengut.


Shafa tersenyum geli melihat Am melirik tajam pada sang ayah.


"Adek Am, nggak boleh marah-marah dan teriak-teriak. Nanti Zizi bangun" Tegur sang abang yang masih berbaring di sebelah adiknya.


"Atu nda malah-malah kok. Iya tan mommy" Ia mencari pembelaan dari sang ibu.


"Iya, anak ganteng mommy ini nggak marah kok abang, cuma lagi Angry" Balas Shafa sambil menciumi pipi Am.


"Mommy, Angry itu kan artinya marah" Sahut Zaf. Shafa lupa bahwa Zaf memiliki kecerdasan yang luar biasa.


"Ups"


"Huaaaa.....Hua... Mommy nakal" Tangisnya semakin menjadi sambil berontak dalam pelukan Mommynya.


"Am... Am. Nggak boleh nak! Nanti adek bangun" Tegur Shafa namun tak di hiraukan.


"Am!" Suara tegas Rayyan berhasil membuat Am diam seketika. Dengan sigap Rayyan mengambil Am dalam gendongan Shafa.


Cup! Cup!


Tak lupa ia memberikan kecupan sayang di kedua pipi basah Am.


"Anak ayah yang pling ganteng nggak boleh cengeng. Besok, ayah bangunin Am, kita shalat subuh di masjid sama-sama, Mau?" Tawar Rayyan sambil menatap lekat wajah Am yang begitu identik dengan wajahnya.

__ADS_1


"Mau" Jawabnya lirih kemudian memeluk leher Ayahnya. Subuh yang begitu sibuk bagi pasangan dengan 3 orang anak.


__ADS_2