Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Refreshing


__ADS_3

Sudah seminggu lamanya kegiatan baksos di laksanakan, dan selama itu pula Tasya dan gengnya selalu mencari celah untuk mencelakai dan menyusahkan Aisyah. Sejak kejadian memalukan saat sepatunya terkilir, Tasya semakin mengibarkan bendera perang pada gadis cantik titisan boneka barbie itu.


Tasya terus melirik tak suka pada Aisyah yang juga tengah bersiap untuk mengunjungi salah satu destinasi wisata air terjun di daerah itu. Padahal bu Ririn sudah memberikan tugas berat pada Aisyah agar ia tak pergi, eh semua gagal karena Panji yang selalu membela dan membantunya.


Mereka berangkat dengan menaiki Bis, menempuh perjalanan sekitar 40 menit, mereka telah sampai di sebuah hutan rindang yang memiliki papan nama di bagian depannya. Aisyah mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Udara di tempat itu cukup sejuk dan sangat adem. Terlihat pemandu lokasi mulai mengarahkan pengunjung untuk mengikuti rute yang telah di tunjukan oleh anak panah di beberapa titiknya. Untuk sampai di pusat air terjun, mereka harus berjalan kaki sekitar 20 menit. Jalanan di hutan itu pun masih asli, gabungan antara tanah dan bebatuan. Maklumlah, letaknya yang jauh membuat air terjun ini belum banyak di kenal wisatawan.


"Pak, ini jalannya ngikutin anak panah ini saja ya?" Tanya Panji sebagai ketua tim.


"Iya den, nanti ikuti saja anak panahnya nanti akan sampai ke lokasi. Semakin dekat nanti semakin kedengaran kok deru air terjunnya" Ucap salah satu penjaga lokasi.


"Gimana kalau kita duluan Bu, mamang nya ini biar nunggu teman-teman yang masih di belakang" Ucap Panji meminta persetujuan pada 3 orang dosen wanita yang juga turut serta.


"Boleh, ayok anak-anak kita duluan" Seru bu Ririn yang disambut gembira oleh mahasiswa yang sebagian besar wanita itu.


"Wow...wow... Ini keren banget... Fotoin dong" Teriak Tasya saat tiba di sebuah jembatan berwarna warni dengan background pemandangan hutan yang masih hijau. Aliran sungai di bawah jembatan nampak jernih dan masih asli membuat siapa saja ingin terjun bebas menikmati sejuknya air pegunungan.


"Astaga, " Aisyah merogoh saku sweeternnya.


"Kenapa Syah?" Tanya Dita dan Gita bersamaan.


"Hapeku ketinggalan di bus kayaknya" Ucap Aisyah panik.


"Yah...gimana dong? Kan sayang banget nggak bisa foto-foto pake hape mehong" Sahut Sindi.


"Aku ambil dulu yah? Ntar ilang lagi, bisa berabe" Ucap Aisyah. Mengingat ponselnya adalah ponsel mahal pemberian sang abah.


"Aku temenin ya Syah"


"Nggak usah Git, ku sendiri aja. Kan masih ada kloter 2 di belakang" Ucap Aisyah yang langsung melenggang pergi dengan terburu-buru. Yang ada di otaknya saat itu hanyalah ponsel yang belum berapa lama jadi miliknya itu.


"Si Aisyah kemana tuh?" Tanya Tasya, setelah melihat kepergian Aisyah.


"Oh, itu dia mau ngambil hape MAHAL nya yang ketinggalan di bus" Ucap Gita dengan menekankan pada kata Mahal. Ia tahu bahwa Tasya and the gank sangat iri dengan barang-barang mewah yang mulai di tampakkan oleh Aisyah.


Tasya menyeringai saat sebuah ide brilian nan cemerlang melintas di otak cantiknya.


"Ayo Syah, yang lain udah pada jauh tuh" Ujar Diana menarik tangan Tasya yang masih berdiri di jembatan.


"Guys, gue punya ide bagus buat ngerjain si cewek sok itu," Ucap Tasya dengan senyuman di bibirnya.

__ADS_1


"Apa...apa" Diana dan Kayla mendekat antusias. Mereka berdua ikut tersenyum sambil manggut-manggut tanda setuju dengan apa yang Tasya bisikan.


Sementara itu, Aisyah yang baru tiba di tempat bis parkir segera masuk dan mencari keberadaan handphonenya. Sepanjang jalan tadi ia merapalkan doa agar ponselnya tidak hilang. Matanya langsung berbinar saat mendapati ponselnya tergeletak di bangku tempat ia duduk tadi.


"Alhamdulillah ya Allah... Terimakasih," Ucapnya penuh syukur sambil menciumi ponsel ber hardcase blink blink itu.


"Aulia!"


Aisyah menoleh saat namanya di panggil.


Ya Allah gusti si jurig mah kasep pisan! Gumamnya saat mendapati yang memanggilnya adalah Malvin.


"Woy... Huuff" Malvin meniup wajah Aisyah yang masih bengong.


"Eh..eh... iya kenapa" Jawabnya cepat. Ia segera tersadar dari lamunannya. Ah, dasar Aish nggak bisa lihat barang bagus, bawaannya langsung bengong. Tapi serius, hari ini Malvin tampil cukup cool dan santai.


"Kamu ngapain disini? Mana yang lain?" Ia menoleh ke kiri kanan mencari keberadaan mahasiswa lainnya.


"Udah duluan dok, saya tadi kembali ambil hape yang ketinggalan," Aisyah menunjukkan handphonenya yang memang ketinggalan.


"Ya udah, Ayo tunjukin mana jalannya" Ucap Malvin.


"Nggak usah, lama. Karena hari ini saya harus kembali ke Klinik" Ujar Malvin.


Aisyah memimpin jalan dengan berada di depan, ia masih hapal jalan setapak yang tadi di lewatinya hingga mereka tiba di jembatan pelangi. Ia berhenti dan menoleh pada Malvin.


"Apa?" Tanyanya singkat.


"Emm... Tolong fotoin ya dok. Sekali aja" Ucap Aisyah sambil nyengir. Kan sayang melewatkan pemandangan yang sangat intagramable itu.


Malvin mendengus lalu menyahut ponsel Aisyah. Dasar bocah! Merepotkan saja! Gumamnya, namun masih juga melakukan apa yang di mau Aisyah. Bukan hanya satu foto seperti janjinya di awal, ia mengambil gambar lebih dari 5 foto dengan gaya berbeda. Apakah Malvin sudah mulai berdamai dengan bocah ini? Melihatnya tersenyum dan memasang berbagai pose lucu membuat Malvin ikut senang.


"Terimakasih dokter Malvin yang baik hati dan tidak sombong" Ucap Aisyah senyum-senyum karena telah mendapatkan foto yang kece badai. Selain tampan dan jago marah-marah, ternyata Malvin jago motret juga.


Mereka melanjutkan perjalanan setelah melewati jembatan pelangi itu. Aisyah berhenti sejenak di persimpangan jalan setapak yang mengarah ke kiri dan ke kanan.


"Kenapa?" Tanya Malvin.


"Tadi aku belum sampai sini dok. Ini jalannya yang ke kiri atau ke kanan ya?" Ucap Aisyah sambil menepuk kan telunjuknya di dagu.

__ADS_1


"Ck! Mata kamu nggak lihat itu ada anak panah?" Cibir Malvin sambil menunjuk panah penunjuk arah yang terpasang di tiang yang berada di tengah.


"Oh...iya, tadi si mamang bilang ikuti anak panah" Ucap Aisyah sambil menepuk keningnya karena sempat lupa.


"Dasar generasi micin. Masih kecil sudah pikun" Malvin kini berjalan mendahului Aisyah yang berada di belakangnya.


Kicau burung yang bernyanyi di dedaunan juga suara asli beberapa hewan lain membuat nuansa alami dan asli begitu terasa. Membuat keduanya tidak menyadari bahwa mereka telah berjalan cukup jauh.


"Ini masih jauh nggak sih dok" Gerutu Aisyah yang sudah mulai lelah.


"Mana saya tahu, saya kan baru pergi kesini. Mingkin sudah dekat," Ucap Malvin. Beberapa anak sungai kecil mulai terlihat menandakan sumbernya tak jauh dari tempat itu.


"Tadi mamangnya bilang kalau akan kedengaran suara air jatuhnya. Ini kok cuma suara jangkrik ama burung ya dok yang kedengaran" Ujar Aisyah sambil terus berjalan di belakang Malvin.


"Bawel!"


"Aduh, aku capek dok! Duduk dulu ya, sambil nunggu yang lain, kali aja nongol" Aisyah berlari mendahului Malvin dan mendudukkan dirinya di atas pohon kayu yang tumbang di sisi jalan setapak itu.


"Jangan lama-lama, istirahatnya!" Ucap Malvin. Ia merogoh ponselnya dalam saku celana mencoba menghubungi seseorang namun naas tak ada jaringan.


"Oh ****" Umpatnya membuat Aisyah terlonjak.


"Dokter nggak boleh bicara kotor. Dosa!" Aisyah mengingatkan. Malvin tertawa kecil, ia teringat akan keponakannya yang sering mengatakan hal serupa.


"****! Aulia awas!" Teriak Malvin.


"Aww"


"Dokter!!!"


"Mati kamu!!! Mati!!!"



Dokter Malvin cool bnaget kan



Siap Refreshing donk...

__ADS_1


__ADS_2