Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Undangan Makan Malam


__ADS_3

Sejak pagi Malvin yang harus memeriksa beberapa pasien saraf terus saja uring-uringan. Bahkan perawat yang menggantikan tugas Aisyah hari itu di buat takut setengah mati saat dokter tampan idola kaum hawa itu beberapa kali membanting dokumen yang sedang di kerjakan nya.


"Kamu boleh keluar" Ucapnya pasa seorang perawat yang terlihat ketakutan. Persis seperti ekspresi Aisyah pertama kali menjadi asisten Malvin.


Gila! Si Aisyah kok bisa tahan jadi asisten dokter Malvin.


"Vin," Suara lembut sang ibu membuyarkan lamunan Malvin.


"Mama? Mama datang sama eyang?" tanyanya sambil mencari keberadaaan wanita tua yang biasa bersama ibunya itu.


"Mama sendiri. Oh ya, Aulia mana?" Bukannya menanyakan keadaan Malvin, mama Malvin justru mencari keberadaan Aisyah.


"Hari ini dia izin" Jawab Malvin.


"Izin? Kenapa? Apa dia sakit? Apa dia marah atas kejadian semalam?" Wajah mama Malvin terlihat khawatir.


"Dia harus menemani saudaranya yang sedang sakit ma" Jawab Malvin malas. Ia tahu wanita paruh baya di depannya ini pasti akan terus mencari tahu tentang Aisyah.


"Pantas kamu nggak semangat gitu" Cibir Mama.


"Mama apaan sih? Lebay deh" Balas Malvin. Mamanya akna selalu antusias jika itu menyangkut wanita.


"Oh ya, papa nyuruh mama buat ngundang Aulia makan malam di rumah" Ujar mama yang terlihat begitu sumringah.


Apa papa akan menginterogasi atau menanyakan latar belakang keluarga Aulia?


"Dalam rangka apa ma?" Malvin mulai curiga.


"Yah, kami merasa perlu mengenal gadis itu lebih dekat lagi. Tentang keluarganya dan juga asalnya dari mana"


"Kalian kan sudah dengar malam itu. Keluarganya hanya petani. Kalau maksud undangan ini hanya untuk merendahkannya. Malvin ga mau" Ucap Malvin. Ada rasa yang tak nyaman di hatinya saat orang lain merendahkannya seperti yang di lakukan Angela pada malam pesta ulang tahun papanya. Dan pasti akan semakin tidak enak jika yang melakukannya adalah anggota keluarganya. Ia memang kerap menjahili Aisyah, tapi ia tidak sampai hati melihat gadis itu menangis seperti malam saat dirinyandi hina Angela.


"Kamu ini ngomong apa? Siapa yang mau merendahkan Aulia? Kami hanya ingin mengenal dia lebih dekat saja. Nggak salah kan kalau kami ingin mengenal calon menantu kami? Kami perlu tau tentang keluarganya sebelum kami datang meminangnya"


"Uhuk-uhuk... Meminang?" Malvin meletakkan gelas yang sempat membuatnya tersedak barusan.


"Iya. Ingat Vin, umurmu udah nggak muda lagi. Kalau kamu terus menundanya, kapan kamu kasi mama cucu?" Omongan mama Malvin sudah menjalar kemana-mana. Apa pula ini membahas soal cucu?


"Ma..."

__ADS_1


"Mama nggak mau tau ya Vin. Pokoknya besok kamu harus bawa Aulia untuk makan malam di rumah. Titik" Ucap mama Malvin sebelum keluar dari ruangan itu.


Tak lama handphone Malvin berdering, ada senyum yang tersungging di sudut bibirnya mengetahui siapa yang menelfon.


"Hmmm" Jawabnya.


"Dokter, hari ini saya izin sampai shift dua ya dok?" Suara dari balik telepon.


"Kenapa? Apa sakit Shafa makin parah?" Air muka Malvin mendadak berubah.


"Tidak...tidak. Kak Shafa sudah baikan. Hanya saja tidak ada yang menjaga Am dan Zizi. Ayah mereka akan pulang terlambat hari ini" Balasnya membuat Malvin sedikit lega. Move on itu tak mudah, selalu ada sisa-sisa cinta yang di rasakannya, meski kini cinta itu mungkin telah berubah .


"Hmm... Dengan Syarat" Jawab Malvin sambil tersenyum miring.


"Sekali-kali iklas napa dok. Pelit amat jadi orang. Ingat dok, orang pelit kuburnya sempit!" Suara Aisyah terdengar kesal namun begitu menggemaskan di telinga Malvin.


"Terserah, terimaa atau..."


"Iya... iya apaan? cepat!" Sahut Aisyah yang mulai jengah dengan obrolan menyebalkan ini. Entah sejak kapan ia berani berbicara keras dengan Malvin. Yang jelas selama hampir 3 bulan ini, ia berhasil menghadapi Malvin dengan caranya. Malvin tidak sekejam yang ia pikir sebelumnya, meski terkadang menyebalkan dan semena-mena terhadapnya.


"Besok, saat kamu masuk, akan saya beritahu syaratnya" Jawab Malvin kemudian menutup panggilan tersebut.


Ia menghela nafas, moodnya sudah sedikit membaik sekarang.


Sudah pukul 7 malam tapi Rayyan masih juga belum kembali. Shafa tak begitu khawatir karena Rayyan selalu memberinya kabar. Terakhir ia mengatakan hendak shalat magrib di masjid dan segera pulang Namun, tidak dengan kedua anaknya yang sedari sore mencari ayahnya. Am bahkan tak mau makan jika ayahnya belum pulang.


"Sudah nak, jangin nangis. Ayah masih di jalan" Bujuk Shafa sambil mengelus-elus Am yang menangis tak karuan.


"Mommy bohong!" Ucapnya sambil menggeleng.


"Nggak bohong Am. Ayah kamu udah di jalan" Sahut Aisyah yang sedang menenangkan Zizi. Zizi lebih mudah di tenangkan dari pada Am.


"Mommy, apa ayah ke Mesil lagi?"


Deg!


Pertanyaan Am barusan membuat hati Shafa mencelos. Ia baru ingat, dulu ia selalu membohongi Am, bahwa Ayahnya sedangbdi Mesir, saat Rayyan tak juga kembali. Dengan perasaan tak menentu Shafa segera mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video ke nomor Rayyan.


tuut....tuuut....tuuut...

__ADS_1


Angkat mas, angkat!


"Assalamualaikum sayang" Ada perasaan lega saat panggilan video terjawab. Ia bisa melihat wajah suaminya dengan jelas.


"Waalaikumsalam, mas dimana?" Tanyanya, ia melihat Rayyan berada di dalam sebuah mobil.


"Di jalan pulang, ini udah didepan. 5 menit lagi nyampe" Ucapnya, di sertai senyuman khas nya.


"Nih, anak kamu rewel dari tadi mas" Shafa mengarahkan layar ponselnya menghadap Am yang matanya sudah basah.


"A...ayah" Panggilnya sambil terisak.


"Iya, nak. Anak ayah kenapa nangis?"


"Ayah nggak pelgi ke Mesil tan?" Tanyanya sambil menyeka matanya. Setakut itu ia kehilangan ayahnya.


"Tidak Am, ayah tidak ke Mesir kok. Ini ayah udah di depan sekolah abang, sebentar lagi sampai rumah" Jawabnya. Sudut hati Rayyan berdenyut mendengar ucapan putranya.


"Jangan di matitan ya ayah?" Pintanya yang sudah terlihat tenang.


"Iya"


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Rayyan terus berbincang dengan Am lewat video call. Am langsung berlari keluar saat melihat ayahnya berada di halaman rumah dan dengan posesifnya iya memeluk sang ayah yang belum berganti pakaian sejak pagi tadi.


"Ayah biar ganti baju dulu Am" Shafa mencoba meraih tubuh Am dari sang ayah.


"Nda mau mommy, nda mau" Ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Ayah..." Ia memeluk Rayyan setelah mencium pipinya.


"Ayah sudah makan? Ayo ayah kita makan?" Tanya Zaf sambil menggandeng ayahnya menuju meja makan.


"Acu uga" Zifara pun ikut menyusul ayah dan kedua kakaknya.


Shafa di buat bengong dengan ketiga anaknya tersebut.


"Ck, dasar bocah. Emaknya malah di cuekin" Cibir Aisyah yang di tinggalkan begitu saja.


"Mereka terlalu menghawatirkan ayahnya Syah"

__ADS_1


"Dasar anak ayah" Aisyah geleng-geleng melihat ketiga keponakannya yang tadi nangis-nangis kini berubah girang.


"Mommy... Atu mau matan itan" Teriak Am dari meja makan.


__ADS_2