
Shafa nampak tersipu malu saat wajah suaminya terus menatapnya. Beberapa kali ia berdehem sembari mengalihkan pandangannya ke sembarang arah untuk menutupi kegugupannya. Selain karena kejadian semalam, tatapan Rayyan yang seperti ini membuat kadar urat malu dalam tubuhnya kembali mencuat.
"Ehm... Mas, itu makanannya nanti dingin" Ucapnya sambil menunjuk mangkuk sup yang ada di hadapannya. Rupanya wanita cantik di hadapan nya ini lebih menarik dari semangkuk sup.
"Oh iya" Ia mulai menyendokkan makanan berkuah itu ke mulutnya. Siang ini mereka menikmati makan siang di cafetaria yang ada di klinik tersebut. Tak hanya berdua dengan Rayyan, anak mereka Zifara dan Am juga turut serta bersama.
"Oh ya gimana tadi hasilnya CT-SCAN nya mas? Apa ada masalah?" Tanya Shafa dengan raut wajah Khawatir yang tak bisa di sembunyikan. Beberapa sinetron yang pernah ia tonton, biasanya sesorang yang mengalami amnesia harus menjalani oprasi berat.
"Alhamdulillah, menurut dokter tidak ada kerusakan di bagian otak" Ucap Rayyan menyampaikan sesuai apa yang di sampaikan dokter Malvin tadi.
"Berarti mas bisa mengingat semua dalam waktu dekat?" Shafa melebarkan senyumnya. Ia sangat bersyukur bahwa ternyata tidak ada kerusakan yang parah pada kepala suaminya. Mungkin ini bagian dari mukjizat yang Allah berikan pada Rayyan.
"Semoga saja. Saya juga berharap bisa segera mengingat semuanya"
"Amiiin ya Robbal Alamiin" Dengan sungguh-sungguah ia mengamini ucapan suaminya. Jujur saja ia sudah lelah dengan segala penderitaannya selama ini. Ia sudah cukup bersabar menanti Rayyan kembali dan kini harus bersabar kembali menanti ingata Rayyan pulih. Katakan ia serakah, karena selalu menginginkan lebih.Tapi sungguh, Shafa sangat merindukan Rayyan nya yang dulu. Ia merindukan suaminya yang hangat dan penuh perhatian kepadanya.
"Mommy ana tueee cu" Oceh Zifara setelah meletakkan sendok miliknya. Kakinya bergerak-gerak di atas kursi makan khusus balita.
"Tunggu ya, kakak Am dan tante Aish masih beli" Ucapnya sambil membersihkan sisa makanan Zizi yang tercecer dihadapannya.
"Zizi mirip sekali dengan Shafa ya?" Rayyan memperhatikan dengan seksama wajah putrinya yang begitu cantik.
"Iya dong, aku mommy nya, Kan aku dulu pernah bilang kalau hamil lagi anaknya harus mirip aku. Masa aku yang hamil, aku yang ngelahirin pas keluar miripnya sama mas. Kaya Am itu" Balasnya. Memang benar bahwa wajah Am sangat mirip dengan Rayyan.
"Maaf ya, tidak bisa menemani Shafa selama mengandung Zizi, hingga dia sebesar ini"
"Mas udah berapa kali minta maaf? Aku maafin kok, asal mas Ray jangan ninggalin aku lagi." Balas Shafa.
Rayyan mengulum senyum tulus di bibirnya "Insha Allah, Saya malah takut Shafa yang meninggalkan saya dengan keadaan saya yang seperti ini, Shafa pasti kecewa." Rayyan menunduk, ucapan Malvin kembali terngiang di telinganya.
Shafa menghentikan aktigitasnya mengelap bibir Zifara. Tangannya meraih tangaan Rayyan yang menumpang di atas meja dan menggengamnya.
"Kalau aku mau ninggalin mas, kenapa harus sekarang saat mas Ray sudah ada di depanku? Kenapa bukan dari dulu aku ninggalin Mas saat semua orang meyakini mas Ray sudah tiada. Cintaku tidak sedangkal itu Mas! Kalau aku mau, bukan hanya 1 aku bahkan bisa mendapatkan 10 penggantimu. Tapi aku terlanjur mencintai mas Ray seorang." Ucap Shafa dengan mata berkaca-kaca. Sakit rasanya jika sudah berjuang lalu di ragukan.
"Terima kasih" Rayyan menatap dalam mata Shafa, mengusap lembut punggung tangan istrinya.
"Tidak perlu berterima kasih, Mas Ray juga dulu melakukan hal yang sama bahkan lebih dari yang aku lakukan saat ini" Balas Shafa.
"Maksudnya?"
"Mas Ray dulu sudah sangat bersabar menghadapi Shafa. Jika itu bukan mas Ray, pasti Shafa sudah di tinggalkan. Mas Ray mencintai Shafa terlebih dahulu, sabar menunggu Shafa mengakhiri hubungan Shafa dengan Sam. Mas Ray nggak pernah lelah mengajari Shafa dan membimbing Shafa. Jika sekarang mas Ray lupa, tak mengapa. Biarkan Shafa yang mencintai mas Ray terlebih dahulu" Ucapnya mengingatkan kembali kenangan awal mereka menikah.
"Sam?" Rayyan mengeryitkan keningnya.
Benarkah yang di ucapkan Shafa? Dia berpacaran dengan orang lain saat telah berstatus sebagai istriku?
__ADS_1
"Ya, Samuel Sinaga. Pacarku yang beda agama sebelum kita di nikahkan paksa"
"Apa Shafa masih berhubungan dengannya sekarang?" Rayyan tak percaya istrinya ini berapacaran dengan laki-laki yang beda agama.
"Hello mas Ray? Sam udah nikah kali. Kita juga hadir kok pas nikahannya dia. Anak nya sekarang udah seumuran Am. Mas Ray kenal baik kok sama dia, malahan dulu Mas Ray loh yang nyadarin Sam buat ikhlas mengakhiri semuanya" Ucap Shafa.
"Serius?"
"Iya, Hebatkan Mas Ray nya aku?" Shafa menyunggingkan senyum lebar pada sang suami.
"Shafa juga hebat. Saya bersyukur Allah memberikan istri secantik dan setegar Shafa" Puji Rayyan.
"Eh, itu dokter Malvin. Dok!!!" Shafa melambaikan tangannyabpada dokter tampan yang juga hendak makan siang.
Malvin mengulum senyum lebar menghampiri keluarga kecil yang terlihat begitu bahagia.
"Hay Fa, Hello My princess" Malvin melabuhkan sebuah kecupan di kening Zifara. Kedekatannya dengan keluarga Shafa atau anak-anak Shafa tidak perlu di ertanyakan lagi. Karena selama hampir 3 tahun, Malvin adalah satu-satunya laki-laki yang paling dekat dengan Shafa, selain karena ia adalah dokter Shafa, orang tua mereka juga menginginkan mereka bersama sebelum tahu bahwa Rayyan masih hidup.
"Boleh saya duduk disini?"
"Silahkan dok!" Rayyan mempersilahkan dengan Ramah.
"Kalian bertiga saja?" Tanya Malvi setelah meletakkan piring desert dan makan siangnya.
"Cue...Cue... Mommy cue itu" Zizi menunjuk desert milik dokter Malvin.
"Jangan itu punya dokter, tunggu kakak Am ya" Shafa memberikan pengertian pada gadis kecilnya itu.
"Its okay Fa. Asal My princess senang" Malvin menyendok puding dalam gelas kaca itu dan mulai menyuapkannya pada Zifara.
Perlakuan Malvin yang sedemikian manis membuat Rayyan menendangnya jauh-jauh dari putri kecilnya. Ia meletakkan begitu saja sendoknya di atas mangkuk yang masih berisi makanan. Nafsu makannya hilang seketika.
"Enak?" Tanya Malvin pada balita itu. Zizi hanya mengangguk -angguk senang.
"Biar saya saja dok. Dokter makanlah" Pinta Shafa. Ia tak enak makan siang Malvin terganggu karena putrinya.
"Nggak papa lah Fa. Mungkin besok-besok aku nggak bisa lagi nyuapin Zi. Kan sekarang ada ayahnya" Malvin melirik sekilas pada Rayyan, seolah ingin menunjukkan sedekat apa dia dengan keluarganya.
"My Princess cepat sekali besar ya, padahal rasanya baru kemarin mommy mu mengandung dan melahirkan kamu." Ucap Malvin memanasi Rayyan.
"Ya besar lah, kan tiap hari di kasi makan sama mommynya" Balas Shafa yang tidak menyadari akan maksud ucapan Malvin.
"Oh, ya. Apa Zizi tahu siapa ayahnya?" Sebuah pertanyaan yang berhasil membangkitkan amarah Rayyan.
"Dia mungkin baru mengenali saya, tapi saya yakin perasaannya pasti sama seperti Am, dan Zaf. Ingat dokter, darah lebih kental daripada Air" Ucap Rayyan sambil menatap tajam mata Malvin.
__ADS_1
Rayyan segera bangkit dari duduknya saat melihat Zifara tidak mau lagi makan desert milik Malvin. Sepertinya ia sudah merasa kenyang.
"Zi, sama ayah ya? Biar dokter Malvin makan." Rayyan mengulurkan tangannya yang langsung di sambut girang oleh Zifara. Ia mengalungkan tangannya pada leher Rayyan. Nampaknya balita kecil itu sudah mulai mengenali Rayyan.
"Ayah!!!" Baru saja Rayyan mendudukkan kembali tubuhnya di atas kursi, si ganteng Am sudah berteriak memanggilnya. Ia nampak menenteng paper bag bergambar salah satu kue ternama yang menjadi favoritnya.
"Am, Tante Aish mana?" Shafa membantu Am duduk di pangkuannya.
"Tante Aish ngumpet di tana mommy, tatanya ada olang galak mommy" Ucapnya jujur.
"Orang galak? ada-ada saja"
Malvin membatin dalam hati, pasti yang di maksud adalah dirinya.
"Mommy Zizi Ambil ayah tu?" Am menunjuk Zifara yang tengah memeluk tubuh ayahnya possesive. Ia menoleh sekilas pada Am sengaja memamerkannya pada kakaknya.
"Am, ingat kata ayah kemarin? Kakak Am nggak boleh iri sama adek Zizi. Ayahnya Am kan ayahnya Zizi juga. Kalau sudah jadi kakak harua mengalah sama adik ya?" Ujar Rayyan menenangkan putranya yang terlihat marah. Setelah mendengar ucapan Rayya seketika wajahnya berubah seperti sedia kala membuat Malvin terheran-heran. Yang ia tahu, Am dan Zizi selalu berebut apapun itu, dan akan sulit memberikan pengertian pada bicah tampan itu.
"Am sekarang sudah pintar ya, nggak suka berantem sam adek lagi" Ujar Malvin.
"Iya om doktel. Kan Am mau punya adik lagi" Jawab Am dengan penuh semangat.
"Uhuk...Uhuk!!!" Malvin langsung tersedak mendengar kalimat Am yang provokatif tersebut.
Adik?
"Am mau punya adik?" Malvin menoleh pada Shafa yang terlihat biasa saja. Ia tidak heran dengan Am yang akan pamer sana sini perihal adik yang belum pasti.
"He.em! Kata ayah atu mau punya adik lima" Ia mengangkat tangannya dengan semangat.
"Tapikan sudah ada Zi?"
"Atu mau adik laki-laki. Iya tan Ayah?" Am meminta persetujuan ada ayahnya. Rayyan seakan mendapatkan kemenangannya saat melihat raut masam di wajah Malvin.
"Iya" Jawabnya mantap.
"Are you serious Fa? Zifara masih kecil. Apa harus secepat itu?" Tanya Malvin. Sejauh itu ia peduli pada Shafa. Lebih tepatnya peduli pada perasaannya yang bertepuk sebelah tangan. Peluangnya yng tipis akan semakin habis jika benar Shafa akan hamil kembali.
"Dokter lupa, saya mengandung Zifara bahkan saat Am masih bayi!" Balas Shafa santai. Ia tak malu membahas hal itu sekarang. Toh mereka sedang bertiga. Jika hanya berdua pasti ia sudah nati kutu duluan.
"Apa kamu sudah siap hamil lagi? Aku harap tidak! Maksudku, karena kamu mudah stress sebaiknya menunggu sampai kamu benar-benar stabil"
"Aku siap, bagaimana mas Ray? Kapan akan membuatkan adik buat Am?" Shafaa menyunggingkan senyum dibibirnya melihat ekpresi salah tingkah suaminya.
Mau sampai kapan kamu tahan bersikap polos dan tenang mas?
__ADS_1