Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Belum Rela


__ADS_3

Rayyan bersama istri dan ketiga anaknya, berjalan cepat menyusuri lorong klinik menuju ruangan yang di sebutkan Aisyah. 30 menit yang lalu Aisyah mengabari telah sampai di klinik milik daddy Shafa, dan karena kerempongan ke tiga anaknya membuat Rayyan terlambat tiba.


"Mas pelan-pelan ih, jalannya," tegur Shafa yang kewalahan mengimbangi langkah kaki Rayyan. Apalagi posisinya yang tengah menggendong Zifara.


"Ayo mommy balapan, kik...kik...kik." Seru Am yang ada di gendongan ayahnya.


Shafa memutar bola matanya sambil terus bergumam "Bapak sama anak sama aja".


Setelah sampai ruangan yang di tunjukkan oleh perawat, Rayyan mendorong perlahan pintu ruangan yang terbuat dari kaca tersebut.


"Assalamualaikum" Ucapnya sambil melangkah masuk.


"Waalaikum salam" Jawab Aisyah yang segera berdiri dari posisi duduknya. Ia sedari tadi duduk di samping ranjang Malvin yang tengah memejamkan matanya. Entah tertidur atau pingsan, setidaknya ia sudah mendapat penanganan terbaik juga penawar racun ular yang masuk di tubuhnya.


Rayyan menghembuskan nafas lega, saat mendapati Aisyah yang baik-baik saja. Gadis itu masih terlihat sama dengan saat pertama ia berangkat. Tak ada luka ataupun tanda-tanda mencurigakan yang nampak.


"Om doktel... Itu om doktel tan mommy" Am menunjuk pria tampan yang tengah terbaring di atas ranjang.


"Om dokter sakit apa Mom?" Tanya Zafran sambil mendongak melihat mommynya.


"Dokter di gigit ular" Sahut Aisyah menanggapi pertanyaan Am dan Zafran.


"Ulal? Om tan doktel kok bisa di gigit ulal?" Celoteh Am lagi.


"Am kepo ah, Sudah jangan ribut, nanti om bangun" Tegur Shafa. Mereka mendekat ke arah Malvin. Di lengannya nampak perban putih yang melilit tangannya. Rayyan sebenarnya masih enggan bertemu Malvin, selalu saja ada rasa cemburu dan khawatir saat melihat dokter tampan ini bertemu dengan keluarganya.


"Ya Ampun dok, kok bisa kaya gini sih?" Shafa menatap miris lengan yang berwarna kebiruan itu.


"Tapi kamu nggak apa-apa kan Syah?" Shafa menoleh pada Aisyah.


"Aku baik-baik saja kak, semua karena dokter Malvin sudah nolong aku. Kalau enggak, mungkin saat ini Aisyah yang terbaring di situ" Jawab Aisyah.


"Kamu orang baik Vin" Lirih Shafa, sambil tersenyum simpul.


"You too Fa!" Sahutan tiba-tiba yang cukup membuat semua yang berada di ruangan itu terkejut.


Dia nggak pingsan atau tidur? Waduhh... Jangan jangan dia dengar aku ngomong q bermonolog yang isinya antara lain mengagumi ketampanan dan kebaikan Malvin. Tak hanya itu, ia juga sempat berkeluh kesah atas tindakan tidak manusiawi yang kerap ia lakukan ada Aisyah.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun?" Tanya Shafa dengan senyum mengembang begitu melihat Malvin membuka matanya.


"Om dokter sudah siuman?"


Malvin hanya mengangguk sambil tersenyum melihat Zaf dan Zi yang berada paling dekat dengannya. Mungkin ia harus berterima kasih pada ular yang mematuknya tadi, karena akibat luka patukannya tadi ia bisa kembali melihat senyum wanita yang di dambanya. Masih ada rasa tak rela dalam hatinya melepaskan Shafa begitu saja meski kini sang suami tengah berdiri di belakangnya, menatap dingin pada dirinya.


"Ehm" Deheman Rayyan cukup menjadi alaram bagi Shafa.


"Oh ya dokter Malvin, terima kasih banyak sudah menolong Aisyah" Ucap Rayyan tulus. Meski cemburu, ia bukanlah tipe laki-laki yang tak tahu berterima kasih.


"Its Okay, saya senang melakukannya" Ucapnya membuat Rayyan menggeram. Bukan karena perkataannya tapi karena arah matanya yang tetap lurus memandang Shafa yang tengah memperbaiki pita rambut Zifara. Malvin seperti tak menghargai Rayyan sebagai suami.


Keberadaan Rayyan di dalam ruangan perawatan itu bagaikan orang asing, bagaimana tidak jika Malvin yang statusnya sebagai pasien justru tengah sibuk ngobrol dengan anak-anak Shafa yang memang cukup akrab dengannya, sedangkan Shafa sendiri tengah mendengarkan cerita Aisyah tentang pengalamannya dilokasi baksos.


"Eh Am, jangan nakal nak! Ayo turun... turun," Tegur Shafa saat melihat Am naik di atas perut Malvin sambil bermain stetoskop seolah-olah memeriksanya.


"Atu mau main doktel-doktelan mommy" Ujarnya sambil menempelkan stetoskop di dada Malvin yang tengah bersandar.


"Its, Okay Fa. Mungkin dia rindu bermain denganku" Balas Malvin dengan jumawah. Matanya melirik ke arah Rayyan yang masih duduk tenang di sebelah Shafa. Ia duduk tenang, tapi percayalah bahwa hatinya tidak setenang itu.


"Am dan Zaf rindu nggak sama om?" Tanya Malvin pada kedua bocah tanpan yang sedang berada di dekatnya.


"Oh ya?"


"Iya, tapi ayahtu butan doktel jadi nggak bisa main doktel-dotelan" Jawab Am lagi.


"Am memangnya nggak pengen punya ayah dokter?" Tanya Malvin yang seketika membuat Shafa menoleh ke arahnya.


"Vin!" Shafa menatapnya dengan tatapan kesal.


"Why? I just kidding," Balasnya. Meski di dalam hati ia masih berharap. Padahal beberapa hari belakangan Malvin sudah mulai bisa melupakan Shafa, tapi ternyata ia tak benar-benar semudah itu melupakannya. Masih ada rasa yang tertinggal di dasar hatinya. Orang lain bahkan ada yang bertahun-tahun belum bisa move on apalagi dirinya yang baru satu bulan. Rasanya mustahil.


"Atu itu nda mau punya ayah doktel om. Nanti atu disuluh minum obat telus. Ayah tu tan ayah Layya" Jawabnya yang lagi-lagi membuat Rayyan bahagia. Setelah ini ia harus memborong kue coklat dan es krim banyak-banyak untuk Am.


Cukup lama Rayyan dan Shafa berada di klinik, sebelum akhirnya mereka pamit pulang. Sedangkan Aisyah yang harusnya saat ini berada di lokasi baksos harus ikhlas dan rela menjadi perawat pribadi Malvin sebagai pengganti tugasnya.


"Ayah kok dali tadi cium atu telus" Tanya Am yang sepanjang koridor tadi terus di hujani oleh ciuman sayang dari sabg ayah.

__ADS_1


"Itu karena Am nakal, makanya di ciumi biar nakalnya ilang" Sahut sang ibu yang berjalan di sebelahnya.


"Enak aja, Anak ayah di bilang nakal. Ini anak pintarnya ayah" Balas Rayyan yang tak terima Am di katai nakal oleh sang mommy.


"Anak ganteng ayah! tan yang pintal abang Zaf"


Rayyan terkekeh mendengar protes anaknya tersebut. Am cukup sadar diri bahwa dibandingkan dirinya abangnya memiliki tingkat kecerdasan yang luar biasa. Bagi Am, Zaf adalah abang yang serba tahu.


"Oke...oke, anak ayah yang ganteng dan pintar ini mau es krim nggak?"


"Mauu!!!!" Jawab Am dan Zaf serempak.


"Hua....Hua....Huaa... Mommy yayah nakal" Jerit Zizi tiba-tiba sambil terus bergerak dalam gendongan mommynya.


"Eh...eh... Zizi kenapa nak?" Mendapati sang anak yang tiba-tiba menangis tentu membuat Shafa panik.


"yayah na..kal," Ucapnya sambil terus menangis.


"Zi, kenapa nak?" Rayyan menurunkan Am beralih mencoba mendiamkan putri kecilnya.


"Acu au esklm uga" Ucapnya di sela-sela tangisnya. Ternyata gadis kecil itu tengah cemburu dengan kedua kakaknya.


"Astagfirullah, ayah lupa nggak nawarin Zizi ya. Ayo sini, kita beli es krim yang banyaj" Ucapnya sambil meraih Zizi yang langsung diam seketika.


"Mommy! Zizi nakal" Kini Am yang gantian merengek sambil menarik-narik baju sang ibu.


"Zizi tuyun!" Am menarik kaki adiknya yng ada dalm gendongan sang ayah.


"Am, gantian nak!"


"Nda mau! Tuyuun Ziiii!!!!" Teriaknya semakin keras. Dan terjadilah keributan yang disebabkan dua orang kakak beradik itu. Keduanya sama-sama menangis, yang satu dalam gendongan ayahnya dan yang satu dalam gendongan mommynya.


"Besok besok kalau nawarin sesuatu, sebut nama mereka satu-satu, Mas. Zaf, Am dan Zi, biar nggak ribut gini." Ujar Shafa yang terlihat kesal.


"Satu lagi mom" Ucap Rayyan menoleh ke arah Shafa yang duduk di sebelahnya sambil menenangkan Zizi.


"Apa?"

__ADS_1


"Adiknya Zi" Ucapnya di sertai kerlingan.


"Geniiit!!!!"


__ADS_2