
Shafa semakin berjalan mendekati ranjang di mana Am berada. Meski pandangannya sedikit kabur karena air yang tak henti hentinya keluar dari pelupuk matanya, Ia masih bisa melihat gerakan kecil dari tangaan Am yang berpegang pada lengan kokoh seorang pria yang masih belum ia kenali. Ia sedikit menyunggingkan senyum karena mendapati sang anak masih bernyawa.
"Am!" Panggilnya, suaranya masih terdengar lemah. Rayyan pun masih setia memeluk Am, menempelkan wajahnya di punggung anaknya tersebut. Suara Shafa yang baru saja memanggil Am membuatnya berdebar. Jantungnya berdetak abnormal, tangannya terasa dingin dan gugup. Perasaan macam apa ini? Bukankah ini bukan pertama kalinya ia melihat Shafa? Waktu di kebun teh dan di sungai, ia sudah dua kali melihatnya. Mengapa tiba-tiba ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya, seperti perasaan canggung, deg-deg an dan sesuatu yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.
Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah saja, tiba-tiba Shafa menghentikan langkahnya. Tubuhnya menegang dan tatapannya menajam. Beberapa kali ia memejamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Apakah aku sedang bermimpi? Atau aku sudah gila?
"Fa?" Ibu mengusap lembut punggung Shafa yang nampang termenung. Bayangan Rayyan begitu jelas di matanya.
"Vin, berikan aku suntikan penenang" Ucapnya sambil berbalik menatap dokter Malvin. Ia merasa ada yang salah dengan otaknya.
"Kamu tidak membutuhkannya Fa" Ucap Malvin serius.
"I need it! Aku seperti melihat dia disini." Shafa berusaha meyakinkan Malvin bahwa diribya sedang berhalusinasi.
Malvin tersenyum getir. Shafa ternyataa belum menyadari bahwa yang di lihatnya adalah nyata. Rayyan sendiri pun enggan untuk berbalik menghampiri istrinya, ia masih terus bergelut dengan perasaannya. Dia lupa! Dia lupa bahwa dirinya pernah mengikrarkan janji suci pada wanita cantik itu. Ia lupa bahwa dirinya pernah begitu mencintai Shafa. Yang pasti, Ingatannya bisa saja lupa tapi tidak dengan hatinya.
Sejak melihat Shafa pertama kali di kebun teh, hatinya seakan menggiringnya untuk terus menatapnya meski kala itu ia tak tahu bahwa Shafa istrinya, otaknya selalu saja membayangkan wajahnya. Mungkin karena ia tahu siapa pemiliknya.
"Believe me! Kamu tidak sedang berhalusinasi" Malvin memutar tubuh Shafa agar menghadap pria di depannya yang masih setia merangkul Am. Ibu dan daddy sedikit bergeser, memberikan ruang bagi Malvin untuk menuntun Shafa. Bukan tanpa alasan, Selain ahli saraf Malvin juga Ahli dalam hal kejiwaan. Ucapannya bisa menjadi suggesti tersendiri bagi para pasiennya.
"Shafa, close your eyes and listen to me!" Ujar Malvin yangblangsung di ikuti oleh Shafa.
"Mungkin ini adalah akhir dari penantian panjangmu, bukankah kamu lelah? Allah sudah menjawab semua doa-doamu. Kamu..." Malvin terdiam sejenak, hatinya benar-benar sakit. Hampir 3 tahun ia berusaha menyembuhkan Shafa, berusaha menawarkan kebahagian baru untuknya namun semua berakhir dengan hadirnya Rayyan kembali dalam kehidupannya. Laki-laki yang selama ini di nanti Shafa.
__ADS_1
Ekor mata Rayyan refleks bergerak melirik dokter tampan yang tengah memegang lengan wanita yang berstatus sebagai istrinya.
"Kamu adalah wanita yang luar biasa" Bisik Malvin di telinganya.
"Mo...mmy" Suara lemah Am membuat Shafa kembali membuka matanya. Kini matanya dan mata Rayyan bertemu tatap untuk pertama kalinya sejak Rayyan menghilang. Ada perasaan yang membuncah di hati Shafa yang tak bisa ia jabarkan. Antara senang, haru, sedih, bahagia dan tanya.
Begitupun dengan Rayyan, jantungnya berdetak sangat kencang saat ia menatap mata itu. Mata yang telah banyak menumpahkan air mata untuknya. Ia tak tau bagaimana kisah cintanya duku dengan wanita di hadapannya. Bagaimana pertemuan mereka hingga menghasilkan Am di tengah-tengah mereka yang ia tahu ia tak asing dengan tatapan sendu itu.
"Ma..Mas Rayy" Ucapnya dengan bibir bergetar dan Air mata yang tiba-tiba jatuh.
"Iya, ini aku!" Ucap Rayyan datar.
Nampak jelas tangan Shafa yang bergetar saat mencoba menyentuh wajah Rayyan.
Grep!
"Hu...hu...hu...hiks...hiks...hiks" Ia terus menangis menggugu sambil memeluk pria di depannya. Tubuh Rayyan yang sekarang yerlihat lebih berisi, pipinya pun nampak sedikit chubby.
"Kenapa kamu ninggalin aku??? Kenapa mas KENAPA???" Shafa berteriak sambil memukul-mukul dada Rayyan dengan kekuatannya yang tak seberapa. Rayyan hanya bisa terdiam sambil memandang lekat-lekat wajah di depannya itu. Ia tak peduli dengan segala pukulan yangbdi layangkan Shafa terhadap dirinya.
"Kenapa kamu baru datang sekarang mas? Kamu kemana aja selama ini, HA?"
"Kamu jahat mas Ray.. Kamu JAHAAAT!!! Teriaknya cukup memekikkan telinga, membuat Am yang baru saja baikan menjadi ikut menangis histeris. Kondisi inilah yang paling di takutkan dari Shafa. Tangannya yang hendak memukul Rayyan di tahanboleh Malvin. Ia berusaha sekuat tenaga menenangkan Shafa.
"Ambilkan jarum suntik dan obat penenang" Titah Malvin pada perawat yang ada di belakangnya.
__ADS_1
"Lepasin gue Vin!!!" Shafa berusaha memberontak dalam tangisnya. Harusnya ia senang melihat Rayyan kembali, tapi ternyata tubuhnya memberikan respon lain meski hatinya tak memungkiri ia sangat bahagia.
Melihat suster hendak memberikan jarum kepada Malvin, Rayyan bergerak cepat mendekap tubuh Shafa meski Shafa terus berontak dan menangis tetap saja ia tak berdaya dalam dekapan hangat suaminya.
Hangat!
Nyaman!
Sebuah rasa baru yang ia dapatkan saat kedua lengan kekarnya mendekap lembut Shafa yang tengah menangis sesunggukan.
"Maaf" Hanya kata itu yang mampu melunvur dari bibirnya. Ia harus minta maaf kepada wanitanya atas semua hal yang terjadi, meski di kuar dari kehendaknya.
"Maafkaan Aku" Ucapnya lagi sambil terus mempererat pelukannya. Shafa masih tak berucap. Bibirnya terlalu berat untuk ia gerakan kecuali menangis.
Dokter Malvin hanya bisa menatap mereka berdua dengan tatapan sendu. Daddy mendekatinya sembari menepuk bahu Malvin seolah menguatkan dokter tampan tersebut.
"Hei... Bangun!!!" Rayyan menepuk pipi Shafa yang tiba-tiba meluruh dalam pelukannya.
Shafa!!! Shafa bangun!!!
Rayyan memejamkan matanya, ia seperti pernah berada di situasi seperti ini sebelumnya. Serpihan-serpihan ingatan itu kembali muncul mengisi memorinya. Ia mulai mengingat kembali perjuangan Shafa kala itu saat hendak melahirkan anak mereka.
"Shafa... Bangun!!!" Ia kembali menepuk pipi Shafa.
"Dia memang seperti ini, akan mudah hilang kesadaran saat syok. Biar saya pindahkan kembali ke bed nya" Ucap Malvin yang sudah bersiap untuk mengangkat tubuh Shafa.
__ADS_1
"Tidak perlu, Biar dia disini bersama anaknya" Jawab Rayyan dingin dengan tatapan mengintimidasi kepada dokter Malvin.
Jangan harap kamu punya kesempatan untuk menyentuh istriku lagi!