
Dengan berat hati Shafa kembali ke dalam kamarnya, meraih benda pipih penghasil rupiah. Benarkah yang akan ia lakukan ini? Ah, padahal rencananya belum sempat terealisasi dan kini harus terhenti.
Shafa berencana membuka dan memasarkan kembali brand milik suaminya, yang beberapa waktu lalu stop produksi akibat kerugian besar pasca pemutusan kontrak dan kebakaran. Ia membutuhkan uang banyak untuk modal awal. Ia tahu Rayyan tentu akan menolak jika harus meminjam dari orang tua mereka yang telah banyak membantu. Shafa pun tak berani mengungkit masalah gerai yang kini terbengkalai pada suaminya. Di bandingkan Shafa, Rayyan tentu lebih merasa kehilangan dan terpukul atas macetnya usaha yang telah ia rintis sejak dirinya masih di Kairo.
"Masih belum tidur?" Suara Rayyan mengagetkan Shafa yang tengah bengong menatap layar ponselnya. Dengan gerakan cepat ia membersihkan semua yang pernah di postingnya.
Jangan sampai dia murka lagi.
"Niatkan dalam hati, karena Takut pada Allah. Buka pada Mas" Seakan tahu apa yang di pikirkan istrinya. Rayyan mendudukkan dirinya di sebelah Shafa sambil merangkul bahunya.
CUP!
"Terimakasih," ucapnya sambil mengecup pelipis istrinya.
Rayyan meraih ponsel Shafa dan meletakkannya di atas nakas. Ia ingin menghabiskan malam dengan sang istri tanpa adanya gangguan dari benda pipih tersebut.
"Mas?"
"Hmm" Seperti biasa, jawaban super irit yang di keluarkan Rayyan.
"Mas ih! Di panggil malah hmm hmm" Shafa mencebik sambil mencubit lengan suaminya. Sontak Rayyan mengendurkan dekapannya pada sang istri.
"Iya Mommy, iya. Kenapa jadi galak sih?" Protesnya. Cubitan Shafa kali ini sepertinya cukup membekas di lengan Rayyan.
"Mas, Sih. Kalau di panggil kebiasaan cuma ham hem ham hem aja" keluhnya.
"Memang Shafa mau ngomong apa? Mas denger kok," ucap Rayyan yang kini mensejajarkan wajahnya dengan wajah Shafa. Keduanya berbaring saling berhadapan. Saling memandang keindahan wajah pasangan masing-masing.
"Mas, Maafin Shafa ya" Tiba-tiba suara Shafa melemah. Ia menundukkan pandangannya, tak sanggup bersitatap langsung dengan sang suami.
"Mas Maafin, asal jangan di ulangi ya? Seperti apapun kondisi keluarga kita nanti, Mas ingin Shafa terbuka dan jujur jika ingin melakukan sesuatu. Karena kunci dari keharmonisan keluarga adalah kejujuran. Jangan ada yang di tutup-tutupi atau di sembunyikan jika itu berhubungan dengan keluarga kita," ucap Rayyan sembari membelai lembut rambut coklat sang istri. Ia bisa melihat ketulusan di mata Shafa.
__ADS_1
"Mas, sebenarnya..." Shafa nampak ragu-ragu mengutarakan maksud hatinya yang sesungguhnya. Tapi, melihat tatapan teduh sangbsuami dan keintimannya saat ini, sepertinya ini adalah momen yang tepat untuk bercerita.
"Apa? Apa masih ada yang Shafa sembunyikan dari Mas?"
Shafa menghela nafas panjang, mungkin benar, masalah rumah tangga terutama keuangan harusnya di bicarakan bersama. Bukan bertindak sendiri dengan dalih ingin membantu yang ternyataa malah menyulitkan keduanya.
"Bicaralah! Mas tidak akan marah," Imbuhnya saat melihat ke khawatiran di mata Shafa.
"Aku ingin ber bisnis Mas. Mas tau kan kalau bisnis online saat ini sedang marak dan sangat menjanjikan? Aku sengaja mengaktifkan kembali sosial mediaku yang nantinya akan ku jadikan sebagai platform untuk bisnisku" Shafa mencoba menjelaskan dengan hati-hati. Seejauh ini raut wajah Rayyan masih tenang. Berarti aman.
"Bisnis apa? Shafa mau jadi selebgram lagi? Mau jadi brand ambassador atau YouTuber?" Rayyan mengerutkan keningnya menduga-duga yang segera di tangkis oleh Shafa.
"Bukan-bukan" Shafa menggeleng keras. Dia tak semurahan itu jika harus menjadi model selebgram seperti dulu lagi.
"Lalu?"
"Jualan Online!" Jawabnya dengan binar di matanya.
"No! Baju Mas. Kita kan masih ada stok barang yang belum sempat launching. Aku berniat membuka onlineshop buat memasarkannya. Sekalian aku pengen modifikasi beberapa series menjadi model kekinian Mas. Pasti banyak peminatnya. Soalnya waktu rapat wali murid waktu itu banyak yang nanya outfitt aku dan Zizi. Malah ada yang langsung pengen mesen" Jawab Shafa dengan penuh semangat.
"Kalau niat jualan baju, kenapa jadi jualan suara?" Sindir Rayyan. Ia masih belum menemukaan korelasi antara keinginan Shafa membuka onlineshop dengan kegiatan Shafa menjadi penyanyi cover yang sempat melambung di dunia per YouTube an.
"Orang jualan butuh modal kali mas. Aku tau Mas Ray nggak mungkin minta sama ayah atau daddy. Jadi aku berinisiatif untuk mendapatkan uang yang banyak dengan cara cepat dengan mengcover lagu-lagu yang sedang hits sebagai penghasil pundi-pundi rupiah. Mas Ray jangan Marah ya? Shafa sayang mas Ray. Shafa sedih melihat mas Ray yang berjuang sendiri, bekerja dari pagi hingga malam. Bahkan weekend pun mas Ray tetap bekerja." Shafa memeluk tubuh sang suami yang mungkin sedang menanggung beban berat.
"Itu sudah tugas Mas sebagai kepala keluarga. Mencari nafkah dan memastikan anak dan istri Mas tidak kekurangan" Balas Rayyan. Kini ia mengerti alasan sang istri melakukan semua ini.
"Tapi aku ingin membantu Mas." Shafa menatap dalam mata suaminya.
Rayyan tersenyum, Jarinya bergerak menghapus cairan bening yang lolos dari mata sang istri. Tak tega rasanya jika harus mematahkan keinginan Shafa.
"Berapa yang Shafa butuhkan sebagai modal?" Ucap Rayyan. Mungkin ia bisa mengusahakannya nanti. Beberapa jam lalu ia telah menyetujui sebuah undangan dengan bayaran yang cukup besar.
__ADS_1
"Mas? Mas dukung aku kan?" Shafa memastikan. Binar bahagia tak bisa ia sembunyikan dari wajah cantiknya. Rayyan tak sampai hati jika harus mematahkan harapan sang istri.
Sebuah anggukan dari Rayyan cukup menjawab pertanyaan Shafa.
"Beneran?" Ulangnya memastikan.
"Iya" Jawab Rayyan mantap.
Shafa langsung memeluk sang suami erat,
"Terimakasih mas Ray, Terima kasih," ucapanya senang. Perasaannya malam ini sungguh tak bisa di gambarkan. Yang penting izin Rayyan sudah di kantongi, selebihnya pikir nanti. Karena itulah yang paling penting.
"Jadi Shafa butuh berapa?" Tanya Rayyan lagi.
"Emm.. 70 jutaan mungkin cukup, buat awal." Jawab Shafa sambil menghitung-hitung.
"Insha Allah Mas akan usahain," ucap Rayyan mengiyakan.
"Terima kasih Mas" Shafa semakin mengeratkan pelukannya membuat Rayyan mulai terpancing.
CUP!
Sebuah kecupan tiba-tiba mendarat mulus di bibir Rayyan, membuat jiwa lelakinya kian terpacu. Terlebih senyum hangat dan sentuhan lembut jari-jari lentik Shafa pada wajahnya membuat detak jantungnya kian berpacu cepat.
"Aku kangen" ucap Shafa manja sembari menatap wajah sang suami penuh cinta. Entah sudah berapa lama kesibukan keduanya melalaikannya untuk saling menyentuh dalam arti yang sesungguhnya.
"Shafa sudah baikan? Kan tadi siang maagnya kambuh" Meski nafsunya terpancing, Rayyan masih bisa berfikir jernih mengingat kondisi sang istri yang siang tadi cukup membuatnya was-was.
"Aku udah baikan. Baik banget malah" Jawab Shafa yang saat ini terlihat sangat bahagia. Ia bahkaan lupa jika siang tadi tubuhnya tak berdaya setelah memuntahkan isi perutnya.
Bismillah...
__ADS_1
Dengan lembut Rayyan mulai meraih bibir ranum nan menggoda sebagai pembuka ibadahnya malan ini. Keduanya hanyut dalam malam yang begitu panjang.