
"Gimana tadi Mas? Mas pasti capek, mau ku pijat?" Tanya Shafa setelah berhasil menidurkan ke tiga anaknya.
"Capek mas seketika hilang saat melihat mereka" Ucapnya sambil memandangi ketiga anaknya yang sudah terlelap. Am bahkan tidur dengan memeluk lengan Rayyan.
"Am khawatir banget sama mas, sampai nangis kejer, lantaran takut mas pergi"
"Memangnya saya, mau pergi kemana?" Ia mengusap kepala Am sayang. Putranya ini memang berbeda dengan kedua saudaranya yang lain.
"Ya kan dulu aku sering bohong, kalau mas di Mesir. Biasanya kalau aku bilang mas akan segera pulang, dia langsung nurut semua kataku. Selama bertahun-tahun aku lakukan itu pada mereka, sampai mereka sadar bahwa mommynya bohong" Ucap Shafa. Ia tertunduk mengingat beratnya hidup yang ia lalui 3 tahun silam. Menjadi single mother dengan 3 anak yang masih kecil, bahkan Zifara masih bayi. Ia bahkan sempat depresi berat yang membutuhkan penanganan dokter ahli jiwa.
Satu persatu Rayyan kecup kening anak-anknya. Allah sungguh maha baik, memberinya keluarga utuh seperti ini. Setelah semua ujian yang ia lalui, rasanya seperti mimpi berada di tempat ini kembali bersama keluarganya.
"Maafkan ayah. Ayah akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian" Ucapanya.
Ia beralih menghampiri Shafa yang santai di sofa. Nampaknya ibu 3 anak itu belum berniat untuk tidur.
"Bagaimana kondisi Shafa? Apa sudah baikan?" Tanyanya. Seharian diluar rumah membuatnya tidak mengetahui perkembangan terkini kesehatan sang istri yang sempat terganggu. Fokusnya seharian tadi adalah menyelesaikan pembayaran pada suplier yang mendekati jatuh tempo.
"Sudah jauh lebih baik, Mas." Shafa memberikan senyum terbaiknya.
"Alhamdulillah. Mas ada tawaran mengajar kelas malam. Honornya lumayan besar. Gimana menurut Shafa?" Ia memandang istrinya, meminta izin akan tawaran yang beberapa waktu di terimanya.
"Mas, minta pendapatku atau minta izin?"
"Dua-duanya." Jawabnya santai.
"Aku nggak ngizinin.Titik!" Jawab Shafa.
"Kenapa? Ini demi keluarga kita." Tanyanya heran. Untung saja ia belum memutuskan. Padahal hampir saja ia menerima tawaran tersebut.
"Aku tahu maksud mas baik. Tapi hidup kita, tidak melulu soal uang mas. Aku sudah teramat sangat bersyukur dengan mas Ray yang ada di sisiku, seperti apapun kondisinya. Bahagianya aku dan anak-anak kalau kita bisa kumpul sama-sama. Kalau mas ngambil kelas malam, akan semakin sedikit waktu kita untuk sama-sama. Mas ngajar pagi pulang sore, terus berangkat lagi malam. Terus waktu buat kami kapan? Mas, lihat sendiri si Am seharian di tinggal udah nangis kaya gitu. Apa jadinya kalau malam pun ia harus di tinggal? Am itu punya trauma tersendiri kehilangan kamu mas, dia..."
Cup!
Tanpa aba-aba sebuah ciuman hangat mendarat di bibir Shafa yang sedang menjelaskan panjang lebar.
"Maaf" Cicit Rayyan sebelum melanjutkan kembali cecapannya pada bibir ranum tersebut.
Shafa sedikit mendorong tubuh Rayyan agar menjauh. Bukannya ia menolak, ia hanya butuh kepastian apa yang akan di putuskan Rayyan.
__ADS_1
Rayyan mengangkat sebelah alisnya saat mendapatkan penolakan dari sang istri. Sorot matanya seolah bertanya, kenapa?
"Apa maksudnya Maaf?" Mata Shafa sudah berkaca-kaca. Ia menyangka suaminya akan benar-benar mengambil tawaran itu?
"Shafa kenapa sih?" Rayyan kembali menarik tubuh Shafa dalam dekapannya.
"Mas kan hanya bertanya dan minta izin. Kalau Shafa tidak mengizinkan, ya sudah, Mas tidak akan terima tawaran itu" Terang Rayyan. Baginya tak ada yang lebih penting dari kebahagian keluarganya.
"Mas, beneran?" Shafa mendongak mencari kebohongan di mata suaminya yang menanggapinya dengan anggukan.
"Terimakasih" Shafa kian mengeratkan pelukannya.
CUP!
Satu kecupan ia labuhkan di bibir Rayyan sebagai ungkapan syukurnya.
"Lagi" Ucapnya manja.
Cup!
"Udah" Jawab Shafa sambil tersenyum lebar.
"Mau?"Tawarnya, suaminya sudah bekerja keras hari ini. Apa salahnya menyenangkan hatinya. Batin Shafa, toh ia sudah jauh membaik sekarang.
"Shafa masih sakit. Nanti saja kalau sudah sembuh" Jawab Rayyan yang masih tetap memeluk tubuh Istrinya. Dan tanpa aba-aba, Shafa melepas pelukannya seraya bangkit dan menarik tangan Rayyan menuju kamar yang berada di sebelah kamar mereka yang merupakan kamar tidur Am dan Zaf. Ada ibadah yang harus mereka tunaikan malam itu. Tanpa paksaan dan penolakan, keduanya hanyut dalam malam yang menenangkan. Melebur semua resah dan gelisah di hati keduanya.
🥀
🥀
🥀
🥀
🥀
Aisyah masih mencerna ucapqan Malvin yang baru saja di dengarnya. Syarat itu lagi-lagi berlaku, untuk menebus 1 hari tidak masuk magannya kemarin.
Keluargaku mengundangmu makan malam. Ucapan santai tanpa dosa itu nyatanya menjadi beban tersendiri untuk Aisyah.
__ADS_1
"Kenapa bengong? Saya sudah memberimu izin kemarin, jadi sekarang gantian. Ingat, simbiosis mutualisme masih berlaku ya" Ujar Malvin sambil tersenyum sinis.
"Sa..saya takut dok!" Gumam Aisyah yang terdengar jelas di telinga Malvin.
Malvin menghentikan menulisnya dan menatap lurus gadis di depannya itu.
"Takut? Takut sama siapa? Tidak ada yang akan menyakitimu. Keluargaku orang baik." Jawab Malvin sambil menggeleng.
Aku takut baper dok. Takut berharap ini semua adalah nyata.
"Disana nanti saya ngapain dok?" Tanya Aisyah polos.
"Makan!" Jawab Malvin tanpaa mengalihkan pandnagan dari laptopnya.
Aisyah mendengus mendengar jawaban yang singkat, padat dan kurang jelas itu.
"Saya juga tau kalau namanya makan malam itu ya makan. Tapi maksud saya, apa tujuan keluarga dokter ngundang saya? Memangnya saya siapa?" Aisyah sedikit nyolot membuat Malvin menghentikan kegiatannya.
"Berani melawan kamu sekarang?" Malvin menunjuk tepat di depan wajah Aisyah.
"Issssh... Dokter mah gitu" Aisyah mencebikkan bibirnya. Wajahnya cemberut membuatnya semakin terlihat imut.
"Keluarga saya hanya ingin ngobrol sama kamu"
"Apa, saya masih harus pura-pura jadi pacar dokter seperti waktu di pesta?" Tanya Aisyah, jantungnyaa berdebar kencang saat menyebut kata 'Pacar'. Ada 'Amiiin yang ia selipkan di dasar hatinya'.
"Yes" Jawab Malvin santai. Tapi tidak dengan Aisyah yang mulai gugup.
Ya Allah, Aish mau makan malam sama calon mertua. Bisa nggak ini jadi kenyataan, bukan pura-pura.
"Apa yang kamu bayangkan Aulia?" Suara garang itu menyadarkan Aisyah dari lamunan singkatnya.
"Dokter!" Jawab Aisyah spontan. Ia langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Saya?" Malvin terkekeh sambil menunjuk dirinya sendiri. Ah pagi ini perasaannya senang sekali.
"Kamu jangan membayangkan saya, jika tisak ingin merasakan yang namanya jatuh cinta seumur hidup" Ledek Malvin membuat Wajah Aisyah terasa panas. Apalagi Malvin yangbsepertinya malah menikmati momen tersebut.
Terlanjur basah. Mandi sekalian.
__ADS_1
"Iya nih dok. Gimana dong. Kayaknya saya terlanjur jatuh cinta seumur hidup sama dokter" Seloroh Aisyah membalas ucapan Malvin. Diluar dugaan, ucapan Aisyah itu justru membuat Malvin terkejut. Mereka saling tatap dan kini wajah keduanya berubah merah dan salah tingkah.