Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Mahasiswi


__ADS_3

Rayyan turun dari mobilnya dengan menggandeng seorang bocah tanpan dan sangat fasionable. Kedatangannya bersama titisan dirinya itu membuat heboh seisi kampus. Baru kali ini ada dosen pria datang ke kampus bersama dengan anaknya. Ditambah lagi paras Am yang sangat identik dengan dirinya menambah decak kagum yang melihatnya.


Am berjalan mengikuti langkah sang ayah dengan penuh rasa percaya diri. Sesekali ia menoleh ke kiri dan kanan melihat apra mahasiswa yang berpapasan dan memberi salam pada ayahnya.


"Assalamualaikum Mr. Ray"


"Selamat pagi Mr. Ray"


Silih berganti para mahasiswa memberikan sapannya kepada dosen karismatik yang kian memukau di usianya yang sudah menginjak 35 tahun. Seperti kata pepatah, kelapa semakin tua semakin bersantan. Begitupun dengan Rayyan yang semakin matang semakin menawan.


"Heii... Siapa ini yang datang?" Pak Benny yang melihat Rayyan menuju ruangannya segera menghampirinya. Teman lama yang hingga kini masih menjadi teman dekat Rayyan itu memfokuskan matanya pada sosok cool nan imut di samping Rayyan.


"Assalamualaikum ak Ben" Sapa Rayyan kepada Benny.


"Wa alaikum salam, sampai lupa saya. Mr Ray nyambi momong ya?" Ujar Benny.


"Yah, begitulah. Am tiba-tiba ingin ikut ke kampus" Balas Rayyan.


Benny menyunggingkan senyum, "Am nanti ikut sama om yuk, ngajar di kelas sana" Benny menunjuk sebuah ruangan bercat hijau.


"Nda mau! Tata mommy tu, atu halus jagain ayah" Ucapnya keceplosan langsung menutup mulutnya dengan tangan kecilnya.


"Bhahahahaha..." Benny tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Am.


Benny mengikuti Rayyan masuk ke ruangannya masih dengan tawanya.


"Ada yang salah pak Ben?" Tanya Rayyan setelah mendudukkan Am di atas sofa.


"Tidak...tidak... hanya saja bhahahaha" Ia kembali terbahak.


"Maaf...maaf, apa mommynya sedang ngambek, sampai Mr. Ray harus membawa Spy cilik ini?"


"Maksudnya?"


"Mr. Ray mungkin lupa kalau semasa hamil Am dulu, ibu Shafa sangat posessive. Beliau melarang Mr.Ray dekat dengan wanita lain. Termasuk beliau sering tiba-tiba datang ke kampus untuk mengawasi langsung" Jawab Benny yanh tau persis sepak terjang ibu hamil yang membuat para mahasiswi iri kala itu.


Rayyan menaikkan sebelah alisnya kemudian menatap Am yang duduk anteng sambil memegang tablet.


"Am? Apa mommy yang suruh Am ikut ayah?" Tanya Rayyan lembut. Am berfikir sejenak sebelum melambaikan tangannya pada Rayyan.


"Ayah tini" Ia memberi kode agar Rayyan mendekat.


"Tapi ayah jangan bilang mommy ya?" Ucapnya sambil mengacungkan telunjuknya.


"Iya!"


"Janji" Ia mengangkat kelingkingnya. Janji ala anak kecil adalah ketika jaribkelingking saling bertautan.

__ADS_1


"Iya" Rayyan tersenyum menyambut kelingking sang putra.


"Ayah to, sebenalnya mommy suluh Aam itut ayah cekolah. Tapi cuka ko ayah!" Jawabnya polos. Ternyata benar dugaan pak Benni.


Apa lagi yang kamu ragukan sayang?


Hari ini adalah jadwal Rayyan mengajar di kelas pasca sarjana, setelah kejadian yang menimpanya beban kerjanya memang lebih ringan dari sebelumnya hingga dokter mengatakan bahwa ia telah benar--benar pulih. Ingatannya pun berangsur mwmbaik meski belum sepenuhnya kembali.


Am masih setia mengikuti sang ayah memuju ruangan bercat putih tersebut. Di pundaknya ia menggendong sebuh tas ransel kecil bergambar tokoh superhero dari Marvel Studyo. Jangan salah isi tas ransel yang di bawa Am bukanlah buku atau pulpen, melainkan dot dan susu yang harus diminumnya setiap 3-4 jam sekali.


"Selamat pagi pak" Sapa para Mahasiswa yang telah duduk di bangkunya masing-masing. Semua mata yang ada di ruangan itu tertuju pada Am yang baru saja di dudukkan di kursi tepat di sebelah kursi Rayyan. Setelah menyambungkan proyektor dengan laptop ia mengeluarkan sebuah tablet putih dan memberikannya kepada Am. Jangan fikir Rayyan akan memberikan tablet tersebut untuk main game, karena mommy Shafa yang cantik itu tidak akan membiarkan anak-anaknya kecanduan yang namanya game online. Semua aplikasi yang ada di dalam tabletbtersebut adalah aplikasi yang bersifat educatif.


"Ananda Silvia"


"Hadir pak!"


"Betrand Antonius"


"Yes sir!"


"Budi Prasetyo"


"Ada pak!"


Satu persatu Rayyan mengabsen mahasiswa yang jumlahnya sekitar 20 orang tersebut.


"Hadir pak" Jawabnya lirih.


Rayyan cukup terkejut mendapati wanita yang tiba-tiba memeluknya kemarin ada di kelas itu. Jika Shafa mengetaguinya sudah bisa dipastikan akan terjadi perang ke 3.


Rayyan menyelesaikan jadwal mngajarnya pagi itu sesuai dengan waktu yang telah di tentukan. Setelah menutup pbelajarannya ia membereskan segala perlengkapannya.


"Ayah...Ayah... Ko tata-tata itu liatin ayahnya Am" Ucapnya sambil menunjuk para mahasiswa yang memang tengah memperhatikan Am dan Rayyan bergantian. Tidak taukah Am ini bahwa ayahnya adalah salah satu dosen idola di kampus itu meski statusnya sudah beristri. Sontak pertanyaan Am itu menimbulkan gelak tawa mahasiswa yang ada di ruangan.


"Alvin, tolong bantu bawa ini ke ruangan saya!" Ucap Rayyan pada salah satu mahasiswa yang duduk di bangku paling depan.


"Baik pak!"


"Atu mau gendong" Am mengangkat tangannya yang di sambut oleh sang ayah. Mereka berjalan menuju ruangan Rayyan di ikuti Alvin di belakangnya yang membawa buku dan tas berisi proyektor itu.


"Biar ku bantu Vin" Rianna tiba-tiba merebut buku yang tengah di pegang Alvin.


"Nggak usah kak! Saya bisa kok" tolak Alvin pada seniornya. Rianna harusnya sudah menyelesaikan studinya sejak 2 tahun lalu, namun karena sesuatu dan lain hal ia mengajukan cuti dan baru mulai mengulang mata kuliah yang tertinggal di semester ini.


"Nggak papa Vin, sekalian aku mau menghadap sama beliau" Ucap Rianna dengan senyum lembutnya. Alvin hanya mengangguk.


Sesampainya di dalam ruangan Rayyan cukup terkejut melihat Rianna ikut masuk ke dalam ruangannya, terlebih saat Alvin pamit keluar dan Rianna masih berdiri tanpa menggeser posisinya.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rayyan datar. Ia tengah sibuk mengeluarkan botol susu dari tas Am.


"Mmm... Saya ingin minta maaf untuk kejadian tempo hari Mr. Ray" Ucapnya pelan. Yah, kejadian yang sukses membuat Rayyan tersiksa selama beberapa hari. Rayyan menatap mahasiswi perempuan yang ada di depannya dengan dahi berkerut.


"Apa tujuan kamu melakukan semua itu?"


Rianna mencoba mendongak, matanya berkaca-kaca, dan kembali menunduk.


"Saya tidak ada maksud apa-apa mr. Ray, saya hanya terlampau bahagia melihat anda masih hidup. Selama ini... hiks..." Tangisnya mulai terdengar.


"Anda sudah banyak membantu saya mr. Ray, tiga tahun lalu saya dan dua orang lainnya hampir drop out dari kampus karena biaya yang begitu tinggi. Anda dengan murah hati membantu kami. Saya... saya hiks..." Ia terus mengusap pipinya yang basah.


"Ya sudah, tidak apa-apa, tapi tolong jangan bersikap seperti itu lagi. Kamu boleh keluar" Ucap Rayyan.


Setelah Rianna keluar, masuklah Benni dan Sonia yang saat ini telah hamil 7 bulan.


"Hai... hai, wow anak ganteng ikut ke kampus rupanya" Sapa Sonya menghampiri Am yang tengah bersandar di kursi putar ayahnya layaknya bos kecil sambil meminum botol susunya.


"Kalian saling kenal?" Tanya Rayyan menoleh pada Sonya yang sedang menganggu putranya.


"Ya ialah, kami kenal sejak Am di dalam perut mommynya" Jawab Sonya.


"Oh ya pak Ben ada yang ingin saya tanyakan" Ucap Rayyan.


"Tentang?"


"Tentang mahasiswi yang bernama Rianna" Jawab Rayyan.


"Rianna Syafira?" Benni mendekatkan dirinya pada Rayyan.


"Pak Ben tau?" Benni langsung mengangguk cepat.


"Ada apa dengan dia? Sudah 4 semester dia tidak muncul di kampus. Dia itu seangkatan dengan Vino dan boneka Annabel" Ujar Benni.


"Bonneka Anabel?" Rayyan semakin bingung dengan nama-nama mahasiswa di kmapusnya ini.


"Ah, lupakan! itu julukan yang diberikan momnynya Am untuk salah seorang mahasiswi mr. Ray" Balas Benni.


Rayyan nampak ragu menceritakan kejadian minggu lalu, " Apa benar dia pernah hampir drop out dari kampus?"


Wajah Benni nampak lesu, kemudian mengangguk.


"Kenapa?"


Benni terdiam, "Tidak apa-apa. Tapi kita berhasil menolongnya" Ucap Rayyan.


"Kita?"

__ADS_1


Ah susah banget sih ngomong sama orang amnesia!


__ADS_2