Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Penjelasan


__ADS_3

Waktu masih menunjukkan pukul 8.45 malam. Di luar hujan masih enggan untuk menghentikan tetes beningnya. Rayyan masih duduk nyaman di sofa tepat di depan jendela panjang sambil memejamkan matanya. Kilatan terang beberapa kali terlihat di balik gorden jendela yang tak tertutup Rapat membawa segelintir harapan akan kembalinya sebuah ingatan.


Kilatan cahaya terang yang hanya sekian detik itu menorehkan kembali sebagian ingatan Rayyan yang hilang. Ia sedikit mengingat kejadian antara dirinya dan Shafa yang persis di situasi seperti ini. Ia mengingat kemarahan Shafa yang membuatnya harus berpura-pura sakit agar mendapatkan kembali perhatian istrinya.


Aku kah itu? Beberapa bayangannya bersama sang istri juga ikut meramaikan memorinya.


Ia menoleh saat mendengar pintu kamar mandi terbuka menampakkan sosok cantik bak model pragawati yang berjalan dengan wajah menunduk yang nampak sendu.


Aku harus mulai dari mana? Gumam Rayyan. Ia sedang mengatur perasaan dan hatinya. Tak mudah baginya mendekatkan diri pada sosok yang begitu sempurna di matanya. Meski hatinya ingin, namun langkahnya tercekat. Hanya Rayyan yang tahu betapa beratnya memendam perasaan itu meski pada seseorang telah halal baginya.


Kriiiing... Kriiing...


Suara dering ponsel Shafa mengalihkan perhatian dua orang yang terpisah jarak beberapa meter. Rayyan yang duduk di sofa sambil membaca artikel tentang kesehatan sedangkan Shafa memilih menonton tv dari atas ranjang empuk tersebut.


Shafa segera bangkit meraih tas kecil yang tergeletak di atas nakas yang terletak di sebelah sofa. Sejak sore tadi ia tak pernah memeriksa ponselnya. Ia pikir di tempat ini sama dengan di kampung abah yang susah jaringan kecuali di spot-spot tertentu. Keningnya mengkerut saat mendapat panggilan video dari seseorang yang dikenalnya begitu dekat.


Dokter? Ngapain video call. Cukup lama Shafa memandangi ponselnya hingga panggilan itu mati sendiri.


Astaga!


Ia terkejut saat mendapati 4 kali panggilan video tak terjawab. Malvin bukanlah tipe pria yang akan gencar menghubungi, pasti ada sesuatu hingga ia melakukan video call sampai 4 kali.


Shafa segera mengambil mukena yang tergantung di belakang pintu dan memakainya. Mungkin saja Malvin akan menghubunginya kembali.


"Ada apa?" Tanya Rayyan yang heran melihat Shafa yang tiba-tiba mengenakan mukena bagian atas saja.


Belum sempat Shafa menjawab ponselnya kembali berdering. Dokter Malvin is Calling. Lagi-lagi sebuah panggilan video. Shafa segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Huh... Finally!!! Guten nach Shafa" Sapa Malvin dari balik layar yang terdengar hingga ke telinga Rayyan.


"Gute Nacht. Was ist los, Doktor? (Selamat malam, ada apa dokter)" Shafa membalasnya dengan menggunakan bahasa Jerman.


Mendengar suara dokter Malvin, Rayyan langsung berbalik memperhatikan gerak gerik Shafa.

__ADS_1


Ada urusan apa dia menelfon istriku malam-malam?


"Es gibt jemanden, der dich vermisst.(Ada seseorang yang merindukanmu)" Ucap Malvin. Ia sengaja menggunakan bahasa Jerman agar Rayyan tak mengetahuinya apa yang mereka bicarakan. Ia tahu Rayyan pasti sedang bersama Shafa malam ini sayangnya Malvin tidak tahu bahwa Rayyan juga menguasai bahasa Jerman.


Rahang Rayyan mengeras mendengar ucapan Malvin.


"Who? Gibt es etwas Wichtiges? Ich bin schon müde (Siapa? Apakah ada sesuatu yang penting? Aku sudah mengantuk)" Sebagai seorang istri, Shafa pun sadar tak baik berlama-lama berbicara dengan pria lain. Tapi sayangnya yang sadar hanya dirinya, karena nyatanya Rayyan yang sangat menjaga diri itu justru terlihat nyaman berbicara dengan bidan cantik itu. Apalagi kalau mengingat kejadian handuk tadi, rasanya Shafa ingin menghempaskan nya jauh-jauh.


Rayyan sudah berdiri hendak mengambil ponsel Shafa sebelum suara itu menghentikannya.


"Mommy... Mommy kapan pulang?" Suara Zaf berhasil menghentikan langkahnya mendekati Shafa. Tapi tunggu. Kenapa Zaf bisa sama-sama Malvin?


"Zaf?" Shafa cukup terkejut mengetahui Zafran sedang bersama Malvin.


"Aku dari tadi nelpon mommy kok nda di angkat? Mana adek mommy?" Tanya Zaf yang nampak nongol di layar. Melihat dari gorden dan wallpaper dinding di belakang Zafran, sudah bisa Shafa tebak itu di rumah daddy-nya. Mungkin Malvin sedang ada urusan dengan daddy-nya.


"Adek sudah tidur nak. Zaf cepat bobo ya, besok kesiangan lo bangunnya"


"Mana Ayah mommy?" Dari sekian banyak pertanyaan, kenapa harus menanyakan ayahmu si kanebo kering yang tak peka itu! Gerutu Shafa.


"Zaf, sekarang bobo ya. Mommy tidak lama pulang kok. Zaf jangan nakal ya?" Ujar Shafa.


"Tunggu mommy, aku mau habiskan kue ku dulu. Om dokter tadi bawakan Zaf oleh-oleh lo mommy" Pamernya, sementara pria yang masih berdiri dalam kesalnya itu semakin menguatkan kepalan tangannya. Rayyan mendekat ikut mendudukkan diri di sebelah Shafa.


"Zaf, makannya besok lagi ya. Sekarang Zaf sikat gigi terus tidur." Ucap Rayyan ikut nimbrung obrolan ibu dan anak itu.


"Iya ayah" Zafran nampak memberikan ponselnya kembali pada Malvin. Benar-benar anak yang patuh. Gambar di layar ponsel Shafa kini menampakkan sosok dokter tampan yang masih berada di rumah daddy-nya.


"Geht es dir gut? Em ... ich meine, nichts Schlimmes ist los, oder?(apakah kamu baik-baik saja? Em... Maksudku tidak ada hal buruk yang sedang terjadi kan?)" Tanya Malvin yang tengah menatap wajah Shafa dari balik layar ponselnya. Ia hanya menduga, jangan lupa bahwa Malvin bukan hanya ahli saraf namun juga ahli jiwa. Ia bisa melihat dari tatapan mata Shafa menunjukkan wanita yang dicintainya sedang tidak baik baik saja.


Baru saja Shafa hendak menjawab Rayyan mengambil paksa ponselnya mengarahkannya kewajah nya yang berada di sebelah Shafa.


"Meine Frau ist gute Ärztin. Sie müssen sich keine Sorgen machen, denn ich werde nicht zulassen, dass er verletzt wird. Danke für den Anruf. Assalamualaikum. (Istriku baik-baik saja dokter, anda tak perlu khawatir. Karena saya tidak akan membiarkannya terluka. Terimakasih sudah menelfon. Assalamualaikum)" Ucap Rayyan kemudian mematikan smbungan video call tersebut.

__ADS_1


Malvin sempat tersentak saat saat Rayyan membalas ucapannya menggunakan bahasa yang sama dengannya. Tak disangka laki-laki yang menurutnya cukup pendiam dan kaku itu memiliki kemampuan berbahasa yang mumpuni.


"L ü g n e r ! (pembohong)" Ucap Shafa dengan penuh penekanan. Mana yang katanya dia tidak akan membiarkan Shafa terluka? Semua itu hanya omong kosong yang di ucapkannya di depan malvin.


"Tidak!" Jawab Rayyan menyangkal tuduhan istrinya. Shafa membuang muka mengalihakan wajahnya dari tatapan Rayyan yang pasti akan membuatnya lemah.


Shafa berdiri hendak pindah namun Rayyan dengan cepat menarik tubuhnya hingga dia terduduk kembali.


"Mau apa?" Tanya Shafa ketus.


"Tidak ada!" Balas Rayyan santai membuat tinggkat kekesalan Shafa naik sampai ke ubun-ubun. Wajahnya memerah, Ia sudah bersiap siap mengeluarkan uneg-uneg jilid 2 yang pastinya lebih dasyat dan menohok.


"Ma---"


"Emmmph...!!!" Shafa dikagetkan dengan serangan tiba-tiba yang mendarat di bibirnya. Sebuah ciuman singkat berhasil membungkamnya yang hendak meledakkan isi hatinya.


Rayyan melepas tautan pada bibir mereka, mengusap lembut bibir merah Shafa yang basah dan menatap dalam matanya yang tengah mendelik membalasnya.


Rayyan tersenyum tipis, senyum yang lagi-lagi membuat hati Shafa melemah, Ia meraih kepala Shafa untuk bersandar di dadanya.


"Dengarkan Mas dulu" Ucapnya lembut. Apa tadi? Mas? dia tidak lagi menyebut saya melainkan mas seperti yang seringbia ucapkan dulu. Wah sepertinya kemarahan Shafa lumayan memberikan efek positif bagi Rayyan.


"Mas tidak ada hubungan apa-apa dengan neng Risa. Tadi siang mas berbincang dengannya di perumahan masjid bersama beberapa orang lainnya, hanya saja saat Shafa lihat, mungkin mereka sedang memetik jambu air yang mas minta untuk diberikan pada Shafa. Shafa suka jambu air kan?" Rayyan menundukkan pandangannya mencari jawaban dari wajah istrinya. Shafa hanya mengangguk pelan.


"Dan lagi, tadi neng Risa kemari bersama temannya untuk meminta alkohol, karena persediaan di pustu habis. Dan mereka sangat membutuhkannya, jadi mas buru-buru memberikannya. Shafa jangan salah paham ya" Rayyan mengusap lembut rambut istrinya yang beraroma buah tersebut.


"Terus kenapa sama dia mas perhatian, sampai ngasih handuk segala sedangkan sama aku mas cuek" Ucapnya memprotes segala tindakan Rayyan selama ini.


Rayyan menghembuskan nafas panjang, istrinya benar-benar berada dalam mode cemburu berat kali ini.


"Apa yang mas lakukan padanya sebagai bentuk simpati sesama manusia, dia dan rekan-rekannya sedang berjuang menolong nyawa ibu dan anak yang akan lahir ke dunia. Mereka kesini hujan-hujan demi keselamatan dua nyawa yang sedang berjuang. Apa Shafa tega melihatnya basah kuyup seperti itu. Saya hanya membayangkan jika yang di posisi itu Shafa dan anak kita, bagaimana jadinya jika orang yang akan menolong kalian sakit? Makanya mas membantunya demi kebaikan semua" Tutur Rayyan. Shafa terdiam mencerna ucapan Rayyan. Ada benarnya juga, seorang dokter kandungan maupun bidan memiliki tugas yang sangat berat dalam menyalurkan kehidupan seorang bayi.


Shafa teringat bagaimana Rayyan memarahi dokter Lily kala itu. Apa jadinya jika dokter Lily tiba-tiba jatuh sakit kala dia sedang berjuang? Mungkin bukan hanya Am yang tidak tertolong melainkan dirinya. Walaupun dia tahu daddy nya tak mungkin membiarkan hal itu terjadi, tapi tetap saja tidak semua orang bisa seberuntung dirinya. Bahkan beberapa orang harus menjalani persalinan hanya dengan bantuan seorang dukun.

__ADS_1


"Terus, Kenapa mas cuekin aku? Aku ini manusia mas, punya hati. Hatiku sakit kalau mas bersikap seolah tak menginginkanku! Sudah cukup selama ini aku hampir gila karena menunggu mas. Mas nggak tahu rasanya jadi aku!" Kali ini Shafa harus mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan hatinya. Entah jawaban baik atau buruk yang pasti ia tak mau lagi di perlakukan seperti barang tak terlihat. Jika memang tak di inginkan ia sudah bertekad untuk pergi dari hidup Rayyan.


__ADS_2