
Aisyah berlari tergopoh-gopoh sambil mengumpat dalam hati. Langkah kakinya semakin ia percepat saat memasuki pelataran HS Clinik.
"Awas aja kang Andi, kalau Aish nggak di kasi duit, Bakalan Aish bakar rumahnya!" Gumamnya sambil berlari kecil menyusuri koridor klinik. Ia yang siang tadi sudah bersiap hendak berangkat praktek karena mendapat shif ke 2, harus menunggu beberapa waktu karena Rayyan memintanya untuk melakukan video call dikarenakan abah ingin memastikan keadaannya.
Sebenarnya yang di takutkan Aisyah bukanlah tentang keberadaannya di klinik ternama itu, karena sudah bisa dipastikan ia akan aman selama berada di tempat itu, tidak ada yang akan mengeluarkannya atau memberikan sanksi dari pihak klinik, akan tetapi yang membuat Aisyah takut adalah sosok yang baru saja di kabarkan akan menjadi penanggung jawab mahasiswa yang praktek di tempat itu. Karena apa? Karena pemilik kampus tempat Aisyah kuliah adalah keluarganya. Itu artinya, selama menjalani praktek, ia harus tunduk dan patuh akan segala perintahnya, mengikuti setiap kegiatannya yang berhubungan dengan pasien sekaligus menjadi partner kerjanya.
Sepanjang perjalanan Aisyah merapalkan doa agar dokter yang menjadi penanggung jawabnya kali ini benar-benar melupakan wajahnya.
Aisyah menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pintu kayu bertuliskan nama seseorang yang di kagumi oleh seisi klinik baik para perawat maupun bidan dan petugas kesehatan lainnya.
dr. Malvino Surya Wijaya. Sp.EM.
Ia mengatur nafas dan ritme nadinya sebelum mengetuk pintu yang menurutnya lebih menyeramkan dari pintu neraka.
Bismillah. Tenang Aish, ini hanya dunia. Dunia hanya sementara, akhirat selamanya!
Ucapnya. Sebuah motivasi yang pernah Rayyan ajarkan saat dirinya tengah menghadapi saat sulit. Kalimat tersebut biasanya ampuh untuk mengtasi rasa takutnya akan sesuatu.
Tok...Tok... Tok
"Permisi" Ia memberanikan diri memutar knop pintu dengan hati-hati. Beberapa saat lalu ia sempat membaca pemberitahuan di grup perawat, yang mengatakan bahwa anak praktek di suruh ke ruangan dokter Malvin segera.
Hening...
Itulah suasana yang cocok untuk menggambarkan ruangan bernuansa putih yang bagi Aisyah sangat mencekap.
"Aisyah Aulia Zahra!"
Aisyah tercekat saat mendengar namanya di panggil. Wajahnya mendadak pias, perasaannnya bercampur aduk antara takut, gugup, dan ngeri.
"I...iiya" Bahkan untuk menjawab pun lidahnya terasa kelu. Bayangan dokter tampan yang kala itu menatapnya penuh amarah di tambah lagi dengan ultimatum yang mengatakan agar tidak lagi muncul di hadapannya, membuat Aisyah menciut.
Ia memberanikan diri menolehnke sumber suara yang berasal dari samping.
"Wooaah... Oppa" Gumamnya penuh kagum saat matanya menatap seorang pria muda tengah duduk dengan gaya coolnya. Satu kakinya menopang kaki yang lain sedang pandangannya lurus pada gadis polos yang baru saja masuk.
Merasa dirinya di tatap dengan tatapan tidak suka Aisyah segera menunduk. Tangannya kembali terasa dingin. Hawa di ruangan itu begitu mencekam melibihi wahana rumah hantu yang seriang ia masuki di pasar malam.
"Jam berapa sekarang?" Bentak Malvin yang masih berada di atas kursi kerjanya.
Aisyah melirik sekilas jam i-phone di pergelangan kirinya.
__ADS_1
"Ja...jam tiga dok" Ucapnya gemetar. Ia menggigit bibir bawahnya sambil terus melafalkan sholawat. Katanya Sholawat dapat menangkan hati dan memudahkan urusan.
"Bod*h!!!" Sarkas Malvin dengan penuh kebencian. Setiap kali melihat Aisyah ia akan mengingat kembali betapa pedihnya perasaannya. Ia selalu berandai-andai jika saja Aisyah dan Rayyan tak pernah datang, atau setidaknya ia datang saat Shafa sudah menjadi miliknya, mungkin dia akan bisa lebih bersahabat dengan gadis yang terpaut 14 tahun darinya.
"Ma...maaf dok, kalau dokter tidak berkenan lebih baik saya pergi" Ucap Aisyah pasrah akan nasibnya. Urusan nilai dia bisa minta tolong pada Rayyan. Sebagai menantu kesayangan dr. Harsha ia pasti bisa menolongnya, yang penting sekarang ia harus keluar dari ruangan yang bisa membuat saraf-saraf di tubuhnya konslet.
"Hhh... Pergi?" Malvin menaikan sebelah Alisnya, sebuah senyuman sinis tersungging di bibirnya. Ia perlahan mendekat membuat Aisyah terpundur selangkah demi selangkah. Gadis malang itu meremas ujung seragam putihnya, menatap takut pada dokter tampan yang pernah menjadi idolanya. Langkahnya kian terpundur hingga menabrak tembok di belakangnya.
Abaaaaahhh tolong Aish!!! Batinnya menjerit saat seringai menakutkan itu kian mengintimidasinya.
"Kamu telah melakukan kesalahan. Kamu fikir bisa seenaknya pergi?"
"Ma...Maaf dok, saya siap menerima hukuman" Ucapnya terbata karena takntahu lagi harus berbuat apa. Ia kehilangan alal saat pandangan matanya menangkap sebuah benda yang tak asing baginya. Sebuah gunting yang nampak di dalam saku jas Malvin membuat Aisyah keringat dingin.
Ya Allah selamatkan Aish ya Allah!!!
"Okay! Mulai sekarang kamu jadi asisten saya! Lebih tepatnya pesuruh saya! Kamu harus mematuhi semua perintah saya!" Ucapnya sambil menjauhkan tubuhnya dari Aisyah membuat Aisyah bernafas lega.
Tiba-tiba saja Malvin mendapatkan ide untuk memberikan pelajaran pada Aisyah.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Am nampak sangat kegirangan, ini merupakan pengalaman barunya menaiki motor unik yang baru pertama ia lihat. Setelah ini ia pasti akan meminta ayahnya untuk membelikan yang serupa dengan milik abah.
"Shafa suka?" Tanya Rayyan sambil mencuri pandang dari kaca spion motor yang memantulkan bayangan wajah cantik nan berseri.
"Sukaaaaa Mas, sukaaa" Ucapnya setengah berteriak" Senyuman itu tak pernah pudar dari wajah cantiknya.
"Di bukit sebelah barat sana ada villa milik abah yang biasa di gunakan untuk liburan orang-orang dari kota, besok kita kesana. Shafa Mau?" Ajak Rayyan. Ia sudah merencanakan ingin mengajak Shafa beserta anak-anaknya menikmati suasana dingin dan sejuknya pegunungan teh.
"Mau...Mau...Mau" Jawab Shafa dengan penuh semangat.
Yuhuuuu... Gue mau honeymoon di villa. gumamnya sambil tersenyum sendiri membayangkan apa yang akan terjadi esok hari.
Vespa tua yang di kendarai abah berhenti di sebuah lereng bukit. Tak jauh dari tempat itu terdapat sebuah mobil bak yang akan menganggkut daun teh menuju pabrik pengolahan. Abah sengaja membawa mereka ke tempat itu untuk menyaa para pekerjanya sekaligus memperkenalkan istri dan anak-anak Rayyan.
Tepat setelah mereka tiba, para pemetik teh turun dari lereng-lereng bukit.
"Atook, atu mau ke tana" Ucap Am sambil menunjuk bukit yang menghijau. Sejak melihat motor vespa tua abah Am memberikan panggilan baru untuk haji Amir yaitu atook alias kakek. Macam tok dalang di serial Upin Ipin.
"Jangan, besok saja nyak kalo mau naik ke atas" Jawab abah sambil merapikan rambut bagian depan Am yang nampak acak-acakkan karena tertiup angin.
__ADS_1
"Ayaah gendong" Rengek Am saat melihat Rayyan mendekat dengan menggendong Zizi. Seolah tahu sang kakak meenginginkan ayahnya Zizi langsung mengeratkan pelukannya di leher Rayyan.
"Zizi! Itu ayah tu!" Bentaknya tak terima Ayahnya di peluk oleh sang adik.
"Kakak, Ayah bilang apa kemarin? Kalau mau jadi kakak lagi, Am harus mengalah, tidak boleh rebutan sama adek ya" Ujar Rayyan ada putra kecilnya itu.
"Dengar dek, nanti ayah nggak mau bikinin kita adek lagi kalau adek Am berantem terua sama adek Zizi" Si sulung yang selalu bijak dan dewasa ikut menimpali.
Am mengerucutkan bibirnya lucu langsung memeluk kaki mommynya.
"Atu gendong mommy aja deh" Ujarnya sambil mendongak pada mommynya.
"Jangan dek, nanti adik diperut mommy ketindis" cegah Zafran, membuat Shafa dan Rayyan saling tatap.
"Istrimu hamil Ndi?" Abah taknkalah terkejut, mana mungkin hamil sedangkan mereka baru bertemu sekitar 2 minggu. Itupun belum melakukan apa-apa.
"Enggak bah, belum! Shafa belum hamil lagi" Balas Rayyan.
"Tapi tan ayah janji mau buatkan atu adik kaya adiknya bobby" Protes Am sambil menatap ayahnya.
"Iya, baru mau di buatin nak, ya Allah Am" Balas Rayyan berusaha meyakinkan anaknya.
"Makanya jangan janji-janji sama Am! Mas kira dia bisa di PHP?" Cibir Shafa setengah berbisik.
Sok-sok an mau bikinin adek, nyentuh gue aja kagak. Jangan ngimpi bang!
Rayyan hanya bisa mengembangkan senyum menanggapi cibiran istrinya.
"Amiin, Abah doakan kalian segera punya anak lagi, senang rasanya abah kalau melihat banyak cucu seperti ini" Ucap haji Amir. Ia tak bisa menyembunyikan raut bahagia dari wajah keriputnya. Sekalipun tak memiliki anak kandung, kehadiran Rayyan dan anak-anaknya membuatnya merasakan menjadi kakek seutuhnya.
"Assalamualaikum abah, den Andi" Sapa salah satu pekerja yang telah sampai di lereng bukit.
"Waalaikum salam"
"Loh, Ini siapa den? Geulish pisan" Tanya pekerja tersebut sambil menatap Zizi yang berada di gendongannya.
"Anaknya Andi. Ini semua cucu saya anaknya Andi. Yang ini istrinya" Sahut abah. Ia dengan bangga memperkenalkan anggota keluarga barunya. Shafa tersenyum ramah kepada mereka yang juga menyapanya hangat. Pekerja di tempat ini terlihat sangat ramah dan baik hati.
"Oh ya Ndi, jangan lupa silaturahmi ke rumah pak ustad. Ajaklah istri dan anak-anakmu kesana. Biar bagaimana beliau juga banyak membantu Andi selama masa pemulihan" Ujar Abah mengingatkan kebaikan salah satu tokoh agama yang sangat menginginkan Rayyan menjadi menantu.
"Insha Allah bah, ba'da isya nanti saya kerumah beliau"
__ADS_1