
Dug...dug...dug...dug...dug...dug...
Shafa terperangah saat Rayyan menarik tangannya menyentuhkannya bagian dada sebelah kirinya.
Astaga! Ini detak jantung atau suara bedug? Kenceng banget! Apa suamiku mengidap penyakit jantung?
Shafa mendongak menatap wajah datar Rayyan.
"Mas?" Panggilnya. Ia butuh jawaban, Eh ini malah di dengerin suara degup jantung yang tak beraturan seperti dikejar set*n.
"Hmm" Rayyan malah tersenyum menatap wajah khawatir istrinya. Dilihat dari sisi manapun Shafa memang menawan, mau dia sedang marah, nagomel, nangis sampai pada mode ngambek berat pun tak mengurangi sedikitpun kecantikannya.
"Mas!" Ulangnya, kali ini menyadarkan Rayyan yang menatapnya tanpa berkedip.
"Iya, ada apa Shafa?" Tanya Lembut, sangat kontras dengan sikapnya. Harusnya ucapan leembut itu di sertai sentuhan hangat atau apalah, ini suaranya yang lembut tapi wajahnya tetap datar seperti papan setrikaan.
"Mas kenapa nggak pertanyaanku tadi? Ini malah tangan aku di tempelin di dada. Memangnya mas lagi sakit?" Shafa sungguh-sungguh menanyakan hal itu. Jangan sampai Rayyan beneran sakit, karena jika ia, bagaimana nasib ke tiga anaknya yang masih butuh Rayyan dalam kondisi sehat. Jauh di dalam hati Shafa berdoa agar suaminya baik-baik saja. Tak apalah dia di cuekin selagi ia masih bisa melihat wajahnya menyentuh tubuhnya dan mendengar suaranya, itu jauh lebih baik dari sebelumnya saat ia menghilang tanpa kabar.
"Itu jawabannya" Balas Rayyan tanpa mengalihkan pandangannya.
Shafa memiringkan kepalanya mencoba mengurai makna dari ucapan Rayyan. Ah, tatap saja kalimatnya terlalu abstrak untuk dijelaskan.
"Maksudnya?"
Rayyan kembali mengulas senyum tipis yang menghipnotis. Lagi, diraihnya kepala Shafa untuk bersandar di dadanya, tangannya beralih mengelus rambut lembut sebahu itu.
"Inilah yang selalu saya rasakan ketika dekat Shafa. Awalnya saya pikir jantung saya bermasalah, tapi semakin hari saya menyadari jantung saya tidak bermasalah tapi perasaan saya"
"Seperti saya telah jatuh cinta sejak pertama melihat Shafa di kebun teh waktu itu" Ucapnya. Sebenarnya ia enggan untuk jujur, tapi jika terus di pendam dan di diamkan, akan menjadi boomerang bagi hubungan mereka berdua. Lagi pula tak salah jika Rayya mencintai Shafa dan jujur akan perasaannya.
Shafa segera melepaskan diri dari rengkuhan Rayyan, tubuhnya menegang menatap Rayyan dengan tatapan menuntut. Ucapan Rayyan barusan terdengar seperti mimpi.
Aku nggak lagi ngehalu kan?
"Apa saya salah?" Tanya Rayyan saat Shafa tiba-tiba melepaskan diri dari pelukannya.
"Ma-Mas Ray serius?" Shafa masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Jauh di dalam hatinya kupu-kupu sedang bertebaran. Tapi ia tak ingin senang dulu, bisa saja Rayyan hanya bercanda atau mengkhayal.
"Shafa mau bukti?" Tanyanya balik.
Shafa berfikir sejenak, bukti apa yang bisa diberikan oleh orang amnesia yang tiba-tiba menyatakan cinta? Ayolah, dia itu suamimu Shafa, walaupun tak sehangat dan seromantis dulu.
__ADS_1
"Memangnya Mas mau kasi bukti apa?"
"Shafa maunya apa?"
Yaelah pake nanya balik!
"Terserah Mas, kalau mau membuktikan tinggal buktikan saja, tidak perlu banyak tanya" Shafa sok cuek dengan
menyilangkan tangan di dada. Jual mahal itu perlu, saat ini ia merasa sedang berada di posisi puncak setelah mendengar pengakuan cinta dari Rayyan.
Rayyan malah terkekeh kecil mendengar ucapan Shafa yang sok, membuatnya gemas.
"Sini peluk!" Ucapnya menarik lengan Shafa yang tengah bersendekap sombong di sampingnya. Shafa tetap bertahan meski hatinya sudah meronta ingin menyambut tapi tubuhnya menolak. Inilah yang di sebut Mau tapi malu.
"Sini!" Ucapnya lagi. Sedikit paksaan berhasil membuat Shafa jatuh di pelukannya. Awalnya saja sok menolak, tapi kalau sudah seperti ini rasanya pengen nemplok sampai pagi. Rayyan mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya, ia mencoba menghalau perasaan gugup yang menghinggapinya.
Semua akan bisa jika terbiasa. Dan mulai hari itu ia telah bertekad untuk membiasakan diri dengan Shafa.
"Mas Rindu Shafa" Bisik Rayyan. Tiga kata yang mengalir begitu saja dari bibirnya berhasil menjungkir balikkan perasaan Shafa. Kemarahannyaa seakan hilang seketika. Saat tangan kekar itu mendekapnya semakin erat
Mas Ray ku sudah kembali. Matanya berkaca-kaca mendengat kata yang sangat ingin ia dengar dari bibir Rayyan.
Shafa melepaskan pelukannya, mencoba bersitatap dengan suaminya. Wajah teduh itu nampak sendu dan berkaca-kaca.
Shafa menangkupkan kedua tangannya di wajah Rayyan, menatap dalam mata teduh yang serupa dengan putrinya.
"Kenapa minta maaf"
"Maaf" Ulangnya lagi sambil menunduk, tak sanggup memandang wajah Shafa. Banyak sekali luka yang telah ia torehkan pada wanita ini.
"Terimakasih sudah bertahan sejauh ini! Maafkan saya yang sudah meembuat Shafa menderita selama ini" Buliran bening itu lolos begitu saja dari mata Rayyan. Menjadi single mother dengan tiga orang anak yang masih kecil bukanlah hal mudah, ditambah dengan kondisi psikisnya yang pernah terguncang. Perasaan Rayyan serasa terkoyak mengingat kembali ucapan Zaf saat pertama kali bertemu dengannya "Andai saja ayahku ada, ..." ditambah lagi dengan cerita Am yang sering bertengkar dengan temannya karena dirinya.
"Jangan bicara seperti itu. Shafa sudah memafkan Mas, asal mas jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan kami lagi" Suara Shafa ikut bergetar. Rayyan mengangkat wajahnya, mata basah mereka saling bersirobok satu sama lain. Ada senyum bahagia yang tersungging di bibir keduanya meski harus dihiasi dengan air mata.
"Terima kasih sudah menunggu" Ucap Rayyan tulus. Tak tahu apa jadinya jika Shafa menyerah dan memilih untuk membuka lembaran baru dengan orang lain.
"Terimakasih juga untuk tetap bertahan hidup dan kembali bersama kami" Kali ini Shafa tak mampu lagi membendung air matanya. Shafa langsung memeluk tubuh Rayyan dan menangis sejadi-jadinya. Keduanya hanyut dalam perasaan haru bercampur bahagia. Yang dinanti telah kembali.
.
.
__ADS_1
.
.
Setelah adegan haru biru penuh drama dan air mata, Mereka kini duduk santai sambil menikmati siaran televisi yang menayangkan tayangan seputar kesehatan. Namun ada kegiatan lain yang sedang menjadi fokus Rayyan kali ini.
"Mas?" Panggil Shafa manja.
"Hmm" Jawabnya, pandangannya masih terfokus pada benda pipih milik Shafa dalam genggamannya. Saat ini Rayyan sedang melakukan pemeriksaan pada ponsel berlogo apel tak utuh itu.
"Mas sayang beneran sama aku?" Tanyanya sambil menggambar garis garis dengan telunjuknya di dada Rayyan.
"Iya mas sayang Shafa" Balas Rayyan yang melihat sekilas pada istrinya.
"Mas ngapain sih?" Shafa mencoba mencari tahu apa yang dilakukan Rayyan apda handphonenya, namun secepat kilat Rayyan mengalihkan ponselnya agar tak ketahuan.
"Mas ih, lihaaaat" Tangannya berusaha meraih ponselnya yang di jauhkan dari jangkauannya.
"Jangan"
"Lihat!" Kekehnya, Ia semakin penasaran. Jangan-jangan Rayyan sedang melakukan sesuatu yang tak terduga. Seperti melabrak dokter Malvin misalnya. Mengingat percakapan yang terdengar tidak menyenangkan tadi.
Tanpa pikir panjang Shafa langsung naik kepankuan Rayyan berusaha meraih ponsel yang Rayyan genggam ke atas. Tindakannya sontal membuat Rayyan terusik. Tak sadarkan Shafa, bahwa sejak Rayyan membuka pakaiannya tadi, hasrat terdalam meronta ingin segera di lepaskan dan sekarang ia yang hanya menggunakan dreaa minim super tipis malah sengaja duduk di pangkuannya mengabaikan paha mulusnya yang sudah terekspos sempurna.
Shafa... Rayyan menghembuskan nafas panjang. Shafa telah benar-benar 'membangunkannya' sekarang.
"Shafa menggoda Mas?"
Shafa langsung melongo mendengar ucapan Rayyan. Ia baru sadar bahwa posisinya memang sangat menggoda. Rayyan menahan pinggang Shaf dengan tangan kirinya agar tetap berada di tempatnya.
CUP!
Satu kecupan mendarat di pipinya.
CUP!
Satu lagi di bibirnya. Shafa masih bengong dalam posisinya yang kini jadi serba salah. Terlalu lama menyendiri membuatnya menjadi seb*go ini.
"Mas mau nanya, ini foto kita habis ngapain?" Rayyan menunjukkan foto yang berada di ponsel Shafa. Foto dirinya tengah berbaring berbungkus selimut dengan Rayyan yang sedang bertelanjang dada.
OMG!!! Itu foto kita habis....Wajah Shafa merona seketika.
__ADS_1