
Kedatangan Rayyan di kampus hari itu kembali membuat heboh para mahasiswi yang ada. Bagaimana tidak, image hot daddy yang sudah terlanjur melekat pada dirinya sejak ia membawa Am, semakin jelas dengan hadirnya Zifara yang ikut serta hari itu.
"Hay Am..."
"Hallo Adek Am"
Sapa beberapa mahasiswi yang sudah cukup familiar dengan wajah tampan Am.
"Hayyo" Balasnya sambil melambaikan tangannya. Sedang Zifara yang di gendong sang ayah tak bergeming dengan tatapan kagum para mahasiswi.
"Ini cekolah ayah Zi," ucap Am setelah mereka sampai di ruangan Rayyan. Hari ini ia memang tak ada kelas sampai beberapa hari ke depan. Kampusnya sedang mengadakan perayaan dies natalis yang berpusat di ruang terbuka hijau. Setiap progam study memiliki stand yang memamerkan hal menarik, pencapaian dan karya yang ada di program study masing-masing. Selama beberapa hari, kampus tersebut tak ubahnya seperti pasar malam yang menampilkan hiburan dari kelompok-kelompok seni dan organisasi yang ada di kampus.
Zifara dan Am tak bisa diam, ia berjalan mengelilingi ruangan ayahnya, mengambil benda-benda yang menurutnya bisa dipakai bermain. Sedang Rayyan hanya mengawasi sambil membuka beberapa dokumen di laptopnya. Hari itu perannya sebagai ayah benar-benar sempurna.
"Ayah, Zizi mau colet-colet meja" Adu Am, tat kala melihat sang adik tengah memegang spidol.
"Jangan di meja ya nak, disini saja!" Rayyan menarik sebuah kertas gambar dari dalam lemari dan meletakkannya di hadapan Zizi dan Am. Kedua anaknya tersebut memang sangat suka menggambar.
Tok...tok..
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Rayyan dari menatap layar laptopnya.
"Masuk!" Serunya tanpa beranjak dari kursinya.
"Mr. Ray" Seorang wanita berambut ikal tiba-tiba berseru memanggil namanya. Raut wajahnya nampak berbinar antara bahagia dan haru.
"Kamu ba..baik-baik saja kan?" Tanyanya dengan suara lembut yang terdengar gugup.
Siapa lagi ini? Batin Rayyan. Selalu saja ada wanita yang tiba-tiba muncul mengagetkannya.
Rayyan segera berdiri mengambil jarak saat wanita itu kian mendekat.
"Ho..honey" Panggilnya, membuat Rayyan tercekat. Honey? Ia sekarang merasa seperti suami yang tengah berselingkuh dengan wanita lain.
"Jaga bicara anda!" Sentak nya tak suka mendengar panggilan itu.
"Kamu lupa sama aku? Aku Dewi hon... Aku Dewi, ke..."
"Keluar!" Usir Rayyan dengan wajah merah. Ia tak sadar bahwa kedua anaknya kini sedang memperhatikan nya.
"Mr. Ray!" Dewi memaksa mendekat berusaha menggapai tangan Rayyan, namun sekali lagi ia tak berhasil. Rayyan pun masih bertanya-tanya, dari mana datangnya wanita ini.
"Kamu lihat ini!" Dewi menunjukkan layar ponselnya.
Mata Rayyan melebar saat melihat dirinya yang yang memakai jas rapi duduk berdampingan dengan wanita ini. Entah kapan gambar itu di ambil, tapi gambar itu terlihat begitu asli yang di ambil dari arah samping. Mereka seperti sedang berada di sebuah pesta pernikahan.
"Apa kamu ingat sekarang?" Tanya Dewi dengan nada sedih. Rayyan bingung mau menjawab apa. Foto tersebut tentu bukan sebuah kebetulan belaka.
Apa aku selingkuh dari istriku? Astagfirullah. Rasanya tak mungkin!
__ADS_1
"Aku Dewi Ray, kekasih kamu" Ucapnya dengan penuh percaya diri.
Dua kalimat yang membuat kemarahan Rayyan memuncak.
"Anda jangan sembarang bicara ya! Lebih baik anda keluar dari ruangan saya." Usir Rayyan untuk kedua kalinya. Bukannya pergi Dewi justru nekat mendekat hendak memeluk Rayyan.
"Pelgiiiiiii...." Tiba-tiba tangan kecil Zizi mendorong kaki Dewi sambil berteriak.
"Ini yayah cu," ucapnya dengan tatapan tak suka pada Dewi. Tatapan marah seorang anak kecil saat sesuatu miliknya di ganggu. Ternyata bukan hanya wajah Zifara yang menurun dari Shafa, tapi juga sikapnya.
"Zi?" Rayyan ikut terkejut, ia sampai lupa dengan keberadaan dua orang anaknya di ruangan itu.
"Yayah" Zizi mengangkat tangannya yang langsung di sambut oleh Rayyan. Am yang tadinya anteng menggambar pun ikut mendekat pada sang ayah setelah mendengar adiknya berteriak.
Dewi memperhatikan dengan seksama dua bocah yang ada di hadapannya secara bergantian. Sebelumnya, ia tau bahwa Rayyan sudah memiliki putra. Tapi, gadis kecil yang ada di gendongannya, ia belum pernah melihat sebelumnya.
"Si..apa dia?" Tunjuknya pada Zifara yang kini menatapnya dengan tatapan marah. Fix, dia memang benar-benar titisan Shafa.
"Dia anakku, jadi lebih baik anda pergi. Saya tidak ada urusan dengan anda bu Dewi" Balas Rayyan datar dan penuh penekanan.
"Semudah itukah kamu melupakanku Ray. Kamu lupa bahwa sebelum kamu menghilang, kita sempat bersama-sama. Dan dia," Dewi menunjuk Zifara yang berada dalam gendongan Rayyan.
"Dia bukan anakmu!" Ujarnya dengan raut sedih, seolah olah Dewi adalah korban. Satu-satunya hal yang Rayyan sesali saat ini adalah membawa anak-anaknya ke kampus, karena mereka harus mendengar dan melihat kejadian ini.
"Tutup Mulutmu!" Kesabaran Rayyan benar-benar di uji hari ini.
"Am, ayo nak!" Rayyan menggandeng tangan Am membawanya keluar dari ruangan. Setidaknya, Dewi akan merasa malu jika berbuat demikian di depan orang banyak.
"Vin!" Rayyan menghampiri salah seorang mahasiswa yang cukup dekat dengannya.
"Iya pak," jawab Alvin sambil mengangguk sopan.
"Titip Am sebentar ya. Saya ada urusan," ucapnya. Sudah pasti Am tak menolak. Ia sudah cukup akrab dengan mahasiswa Rayyan.
"Si cantik, sekalian pak. Sama kakak yuk" Sahut salah satu mahasiswi yang juga merupakan anak bimbingan Rayyan.
"Zizi mau?" Tanyanya pada Zifara yang sejak tadi memeluk lehernya posesif.
"Kakak punya ini" Gadis itu mengeluarkan, permen lollipop berwarna warni dari dalam tasnya untuk menarik perhatian Zizi.
Dengan cepat Zizi mengangguk. Rayyan menurunkannya dan menuntunnya kepada para mahasiswa tersebut. Seketika ia menjadi pusat perhatian, banyak di antara mereka yang menawarkan sesuatu membuat Zizi kegirangan.
"Dada yayah" Zizi melambaikan tangannya saat melihat Rayyan hendak beranjak. Ia melangkah menuju sebuah ruangan yang berada di samping ruangannya. Dewi pun masih berdiri di depan ruangannya sambil menghentakkan kakinya kesal, karena Rayyan melewatinya begitu saja.
"Waw...waw... waw... Ada apa ini? Assalamualaikum Mr. Ray" Pak Benni yang sedang santai kaget dengan Rayyan yang tiba-tiba masuk ruangannya dengan raut kesal.
"Astagfirullah. Wa'alaikum salam. Maaf pak ben" Ia langsung menyandarkan tubuhnya di sofa panjang di ruangan itu.
"Ada ada pak? Apa ada masalah? Atau tidak mendapat jatah lagi dari mommy Am?" Menyadari raut wajah Rayyan, Benni segera memperbaiki posisi duduknya.
__ADS_1
"Sendirian pak Ben?" Rayyan mengedarkan pandangannya di ruangan 4 x 6 meter tersebut.
"Bu Sonya lagi beli rujak" Jawab Benni.
"Pak Ben, apa mungkin saya pernah selingkuh dari mommynya Am?" Tanyanya to the point membuat Benni tergelak.
"Saya serius!" Imbuhnya, begitu melihat Benni tertawa terpingkal-pingkal.
"Ada apa lagi ini Mr.Ray? Apa Rianna ngaku-ngaku jadi selingkuhan Mr.Ray?" Beni berucap sambil menahan tawanya.
Istrinya kaya macan gitu, mana mungkin berani selingkuh.
Rayyan menggeleng, "bukan Rianna." Jawabnya.
"Lalu?" Benni menaikkan sebelah alisnya.
"Namanya..." Ucapannya terpotong saat seseorang membuka pintu ruangan tersebut.
"Hai...hai... Eh, ada Mr. Ray disini rupanya" Sonya yang baru masuk menghentikan ucapan Rayyan.
"Ada apaan nih? Kok kayaknya serius banget?" Menyadari hal itu, Sonya turut nimbrung. Ia memilih duduk di sofa single sebelah Benni.
"Ada yang ngaku-ngaku jadi selingkuhan Mr.Ray" Sahut Benni cepat.
"Hah? Wanita bodoh dari mana yang melakukan hal murahan seperti itu?" Respon Sonya sama tidak percayanya dengan Benni.
"Mr. Ray percaya?"
"Makanya saya kemari bertanya pada kalian. Apa pak Ben dan bu Sonya pernah mendengar atau melihat saya selingkuh? Saya sungguh tidak ingat wanita tadi" Jawab Rayyan.
"Hoax tu!" Jawab Sonya santai sambil memasukkan potongan buah ke dalam mulutnya.
"Bener Mr. Ray. Itu pasti Hoax. Bu Sonya ini ahlinya dalam kasus seperti ini"
"Kenapa bisa?" Rayyan semakin bingung dengan arah pembicaraan mereka.
"Ya, karena bapaknya ni bayi dalam perut saya kan play boy insfaf. Tiap waktu ada aja yang ngaku jadi selingkuhannya." Jawab Sonya enteng Seolah hal itu sudah biasa, karena ia memiliki stok sabar berlimpah tak seperti Shafa yang cenderung berapi-api dan blak-blakan dalam menghadapi pelokor dan sekutunya.
"Oh ya, siapa tadi namanya Mr. Ray?" Tanya Beni penasaran.
"Namanya Dewi"
"WHAAT?" Sonya langsung meletakkan wadah rujak yang di pegangannya di atas meja.
"Dewi, dosen Ekonomi? Yang berdiri kaya setrika rusak di depan ruangan Mr.Ray tadi?" Sonya memastikan wanita yang di lihatnya adalah wanitaa yang di maksud oleh Rayyan.
Rayyan mengangguk, "Iya, yang memakai baju warna kuning," Jawabnya.
"Wah, mommy nya Am harus tahu ini" Sonya merogoh ponsel di sakunya berniat menghubungi Shafa.
__ADS_1
"Jangan!!!" Cegah Rayyan dan Benni secara bersamaan.