
"Jadi begini,....." bla...bla...bla..
Aisyah menceritakan kronologi hubungan yang terjadi antara dirinya dengan Malvin. Sejak awal ia magang di klinik, menjadi asisten pribadinya, sampai ia yang tiba-tiba diminta menemaninya di acara ulang tahun papanya yang berujung Aisyah harus berpura-pura menjadi kekasih Malvin. Aisyah berani bercerita setelah Shafa berjanji hanya menyimpan cerita ini untuk dirinya. Tidak untuk abah apalagi Rayyan.
Shafa mendengarkan cerita Aisyah dengan seksama. Tak pernah terbersit di hatinya bahwa gadis muda di hadapannya ini telah bekerja sama dengan Malvin menipu orang tua serta eyang Malvin. Bukan, bukan kebohongan mereka yang Shafa takutkan. Karena seperti apapun sebuah kebohongan, cepat atau lambat akan terbongkar juga. Shafa hanya takut Aisyah terluka karena keputusan yang di ambilnya. Iaa takut adiknya terjebak dalam perasaan semu.
"Kamu mencinta Malvin Syah?" Tanya Shafa serius, sesaat setelah Aisyah berhenti kbercerita.
"Hah?" Aisyah pura-pura tak mendengar pertanyaan Shafa. Ia segera meraih jus strawberry di hadapannya dengan tergesa dan menegak airnya hingga tandas.
"Tidak usah di jawab. Kakak tahu jawabannya" Ucap Shafa. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa empuk. Cerita Aisyah barusan cukup menarik perhatiannya.
"Kakak," Aisyah merengek, ikut menghempaskan tubuhnya di sebelah Shafa. Asa kelegaan sedikit setelah menceritakan masalah yaang selama ini ia pendam sendiri.
"Aku harus gimana kak?"
"Saranku Syah, kalau hanya sebatas pura-pura lebih baik kamu akhiri saja. Sebelum banyak hati yang terluka" Shafa menatap lekat wajah Aisyah.
"Aku takut kak" Cicit Aisyah sambil membenamkan wajahnya ke dalam bantal. Semua terjadi begitu saja dan sekarang ia tak tahu harus mengakhirinya dari mana.
"Mommy... Mommy....!!! Ada atok Mommy!!!" Teriakan nyaring Am terdengar jelas dari tempat Shafa berada. Ia dan Aisyah segera bangkit menuju ke depan untuk menemui abah yang datang dari jauh.
"Assalamualaikum"
Sepasang suami istri yang sudah cukup berumur terlihat sangat kerepotan dengan beberapa kantong dan tas yang di bawanya. Nampak bi Lastri dan pak Madi membantu sang supir menurunkan berbagai macam hasil bumi dari dlam bagasi. Ada pisang, Kelapa, Jagung dan beberapa karung juga dua buah sangkar burung yang berisi burung berwarna warni.
"Wa'alaikumsalam, ya Allah abah, ambu"
Shafa seggera mengambil tas yang di bawa ambu dan menyalaminya.
"Atok ayo kita main" Ajak Am yang sudah menggandeng lengan juragan Amir.
"Atoknya biar istirahat dulu Am, ayo bantu bawa ini ke dalam sama abang" Ujar Shafa sambil memberikan kantong yang di bawa ambu.
"Mari masuk abah, ambu. Aish siapin minum" Titahnya pada Aisyah yang berdiri di belakangnya.
"Kamu kunaon Syah? Nggak seneng abah datang?" Tanya abah yang melihat ekspresi aneh dari Aisyah. Bukannya tidak senang, Aisyah hanya takut Malvin dan keluarganya benar-benar akan menemui orang tuanya.
"Nggak bah, enggak. Aish seneng pisan, sumpah" Jawabnya yang kemudian menuntun sang abah untuk masuk ke dalam rumah.
Sore itu kediaman Shafa terlihat sangat ramai. Bukan hanya abah dan ambu kedua orang tua Shafa dan Rayyan pun ada disana untuk menyambut kedatangan orang tua angkat Rayyan yang telah banyak berjasa menolong Rayyan selama ia hilang.
__ADS_1
Selepas shalat isya mereka seemua berkumpul di ruang keluarga sembari bercengkerama bersama. Abah yang sejak sore tadi tak istirahat nyatanya masih terlihat sangat bersemangat bermain bersama anak-anak Shafa.
"Andi kapan pulang Nak?" Tanya Ambu yang tengah memangku Zifara.
"Mungkin besok ambu atau lusa" Jawab Shafa tak bersemangat.
.
.
.
.
.
Kendari, pukul 21.00 WITA
Rayyan yang sudah beberapa hari berada di salah satu kota bagian tengah Indonesia kini sedang berada di lantai 13 hotel Claro. Hotel terbesar di ibu kota provinsi Sulawesi Tenggara ini menawarkan pemandangan laut teluk Kendari yang akrab di sapa (Kebi\=KB) atau Kendari Beach. Sejauh mata memandang terdapat cafe-cafe bongkar pasang di sepanjang trotoar jalan di pinggir. Tak urung penampakan Masjid Al Alam yang berada di tengah laut pun menambah cantik teluk Kendari tersebut.
"Ayolah mom, jangan cemberut terus" Sejak tadi Rayyan berusaha membujuk sang istri yang sedang melalukan aksi mogok bicara via video call.
Rayyan sampai di buat pusing dengan tingkah Shafa yang menurut lebih menyebalkan dari pada Am sang anak. Bagaimana tidak, sudah 30 menit melakukan video call tapi tak ada percakapan berarti di antara mereka. Shafa hanya menjawab anggukan dan gelengan setiap pertanyaan yang di layangkan oleh sang suami.
"Tuh kan Mas Ray nggak peduli sama aku" Barulah sang nyonya menjawab dengan nada ketus.
Ya Allah kuatkan aku...
"Ya terus Shafa maunya apa? Dari tadi mas terus yang ngomong" Kesabaran Rayyan sudah mencapai ubun-ubun.
"Mau ku mas pulang!" Lagi, entah sudah berapa kali Shafa mengulang kalimat yang sama.
"Iya sayang, iya... Besok mas pulang" Ucap Rayyan yang tak mau memperpanjang perdebatan dengan sang istri.
"Ini lihat, mas udah packing semua baju di dalam kopor" Rayyan berucap sambil mengarahkan kamera ponselnya pada koper yang yang sudah siap di depan pintu masuk.
Brakk!!!!
Pintu kamar Rayyan terbuka tiba-tiba, Ia sedikit berjengit kaget saat melihat sosok tak di undang yang tiba-tiba masuk kamarnya, sementara kamera ponselnya masih mengarah ke depan.
"Mas Rayyy!!!!" Jerit Shafa yang terdengar jelas di telinga Rayyan.
__ADS_1
"Bu Dewi sedang apa di kamar saya?" Suara Rayyan terdengar sangat tidak bersahabat. Ia berusaha memalingkan pandangannya agar tak bersitatap dengan rekan wanitanya yang kini hanya mengenakan gaun malam dengab cardigan yang super tipis.
Astagfurullah..Kenapa aku lupa mengunci pintu.
"Ups, Maaf apa saya mengganggu? Em... Saya mau minta tolong pak Rayyan, kebetulan pintunya nggak di kunci, jadi saya masuk" Ucapnya dengan nada sensual berusaha menggoda Rayyan.
"Lebih baik bu Dewi keluar sekarang! Saya sedang sibuk" Rayyan mendahului keluar dari kamarnya, menunggu wanita itu kuar dari kamarnya. Ia tak ingin orang lain melihat dan salah paham.
"ck!" Dewi menghentakkan kakinya kesal. Terpaksa ia keluar dari kamar Rayyan. Padahal ia sudah maksimal dengan penampilan yang membuat siapapun akan berfikir dua kali untuk menolaknya, kecuali Rayyan tentunya.
Brak!!!
Rayyan membanting pintu dengan keras sesaat setelah Dewi keluar dari kamarnya. Dewi sendiri sampai merinding melihat tatapan tajam juga sikap Rayyan yang sangat bertolak belakang dengan yang ia tahu.
"Arggh" Rayyan Rasanya ingin membanting ponselnya saat Shafa tak bisa lagi di hubungi. Bisa di pastikan saat ini Shafa pasti sedang terbakar amarah. Terbukti setelah mematikan panggilan tadi Shafa mengirimi pesan yang isinya membuat Rayyan semakin pusing.
"Oh jadi karena itu kamu betah berlama-lama di sana Mas. Jangan harap aku mau ketemu kamu lagi"
Seperti itulah bunyi pesan yang di kirim oleh Shafa. Ada rasa trauma tersendiri dalam diri Rayyan, ia takut Shafa kabur seperti dulu saat mengandung Am. Bagaimana jika kali ini ia kabur dengan membawa serta anak-anaknya yang masih kecil. Tidak, ini tidak bisa di biarkan!
Rayyan segera menghubungi kedua orang tuanya, untuk memastikan Shafa tidak kemana-mana. Ia juga menghubungi Aisyah serta abah agar tetap memastikan Shafa berada di rumah.
"Shafa teh baik-baik saja Ndi, itu lagi makan lahap sekali di temani ambu" Jawab Abah tenang.
"Abah yakin?"
"Iya, itu tadi katanya pengen makan sambel korek sama tempe penyet buatan Ambu"
Hah? Kok tumben. Batin Rayyan, pasalnya selama ini ia belum pernah melihat istrinya makan makanan yang abah sebutkan tadi.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Saya titip Shafa dan anak-anak ya bah? Insha Allah besok pagi Andi pulang" Ucap Rayyan sebelum menutup telepon.
Selanjutnya ia harus mencari cara menjinakkan sang istri yang mungkin tidak akan menyambutnya esok hari.
πππππππππ
Author Is Back...
Marhaban ya Ramadhan....
Terimakasih yang masih setia dengan tata Am....πππ
__ADS_1
Maafin Author baperan ini yangbudah terlalu lama ninggalin kalian. You know lah sekarang kan udah jadi orang sibuk wkwkwkwk.... Anwy... semoga sehat selalu semua.
Salam sayang dari Sulawesi Tenggaraππππ