Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Mommy Sakit


__ADS_3

Pasca kebakaran yang terjadi di gudang produksi miliknya, lagi-lagi Rayyan dan Shafa harus menguras sisa tabungan yang ada. Kali ini, kerugian yang di deritanya jauh lebih besar di banding saat mereka kehilangan kontrak dengan sanjaya Group. Kerugian yang di taksir hampir 3 milyar tersebut membuat Rayyan harus merelakan beberapa aset miliknya seperti tanah dan beberapa ruko yang berada di luar daerah untuk ia jual. Kali ini pun, ia tak bisa lagi menolak bantuan dari ayah maupun mertuanya. Kondisinya sungguh terjepit. Berkat bantuan mereka pula lah ia bisa menyelesaikan segala yang berhubungan dengan bisnisnya. Terhitung sejak saat itu, brand ZR yang pernah melambung di pasaran resmi tutup gudang atau tidak produksi lagi.


Ujian harta yang saat ini di hadapi Shafa dan Rayyan memang sangat berat. Namun sebisa mungkin mereka saling menguatkan seperti janji mereka di awal. Apapun akan mampu terlewati asalkan selalu bersama. Naamun, sekali lagi, mereka berdua hanyalah manusia biasa.


Hampir sebulan ini Shafa menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga tulen. Mulai dari menyiapkan makanan, mengurus anak hingga mencuci pakaian ia kerjakan sendiri. Meskipun ada bi Lastri, namun pekerjaan rumah sebanyak itu tentu takkan bisa di lakukan olehnya seorang diri. Lelah? sudah tentu ia lelah, di tambah polah tingkah anak-anaknya yang kian hari kian aktif, bukan hanya menguras tenaganya tapi juga fikirannya.


Rayyan sendiri akhir-akhir ini tak bisa banyak


membantu Shafa di rumah, karena ia harus beberapa kali keluar kota untuk menghadiri seminar hingga pertemuan penting dengan para akademisi dari universitas lain. Semua itu ia lakukan tak hanya sebagai tuntutan profesi tapi juga salah satu tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga yang harus menjamin kesejahteraan anak dan istrinya. Tak bisa di pungkiri bahwa kegiatan atau seminar yang ia hadiri selalu meberikan keuntungan besar dari segi materi. Sekali ia menjadi pembicara atau tutor bisa menghasilkan rupiah yang setara dengan gajinya selama beberapa bulan.


"Mbak, kalau capek biar saya yang lanjutin menjemurnya" Bi Lastri segera menghampiri Shafa yang terlihat berjongkok di bawah jemuran.


"Ya Allah, mbak Shafa!" Bi Lastri tersentak saat tak sengaja menyentuh tangan Shafa yang begitu panas.


"Mbak sakit," Dengan cekatan ia membantu Shafa berdiri dan memapahnya masuk ke dalam rumah.


"Kepalaku berat bi" Ucap Shafa dengan suara berat.


"Bibi telfonkan mas Rayyan ya mba?" Tanyanyansetelah mendudukkan Shafa di sofa yang ada di ruang tengah.


"Jangan bi. Mas Ray mungkin masih sibuk" Cegahnya. Ia tahu benar suaminya akhir-akhir ini jarang berada di rumah saat weekend, karena kesibukannya.


"Tapi mbak badannya panas, atau saya telfonkan nyonya Fanny ya mbak, biar di periksa" bi Lastri menawarkan opsi lain.


"Mommy dan Daddy lagi di Singapura bi, saya beneran nggak apa-apa, mungkin kelelahan saja" Shafa bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya melewati anak-anaknya yang sedang asyik nonton televisi.


Menyadari mommynya lewat dengan memegang pelipisnya, Zafran langsung menyusul ke kamar.


"Mommy?" Panggilnya setelah membuka pintu.


"Ya, bang. Abang mau sesuatu?" Tanyanya, dan tanpa menjawab Zafran segera menyentuh pipi mommynya yang sedang berbaring.


"Mommy sakit" Ucapnya saat merasakan hawa panas dari tubuh sang ibu.


"Mommy ayo ke rumah sakit" Ajaknya dengan mata berkaca-kaca. Zafran ini paling mellow kalau sudah berhubungan dengan Shafa. Baginya Shafa adalah segalanya. Ia adalah dunianyaa Zafran saat dirinya kehilangan cinta dari kedua orang tuanya.


"Sttt... Nggak papa nak, mommy cuma capek sedikit" Ucapnya mencoba menenangkan Zaf.


"Tapi badan mommy panas"


"Zaf tolong ambilin paracetamol di kotak sana" Shafa menunjuk kotak obat yang berada di bawah kolong meja. Dengan cekatan Zafran segera mengambil kotak tersebut dan mencari paracetamol yang di sebutkan oleh Shafa.

__ADS_1


"Ini mommy" Ia memberikan tablet paracetamol kemudian mengambil air yang ada di atas meja.


"Terima kasih nak. Zaf temani adek Am dan Zizi ya? Adek jangan boleh menghambur barang ya nak. Mommy mau bobo dulu sebentar" Ucapnya pada Zaf yang dianggap paling besar.


"Iya mommy" Dengan patuh Zafran meninggalkan kamar Shafa untuk menemani sang adik yang sedang nonton tv dengan botol susu di tangan masing-masing.


Zafran yang merasa begitu khawatir pada sang ibu, diam-diam mengambil tablet miliknya dan menghubungi ayahnya.


"Hallo Assalamualaikum" Sapa suara dari balik telfon.


"Waalaikum salam. Ayah"


"Iya, ada apa Zaf? Ayah lagi siap-siap mau isi materi nak" Jawab Rayyan dari balik telfon.


"Ayah?" Zafran ragu-ragu memberitahukan pada ayahnya bahwa mommynya sedang sakit.


"Ada apa Zaf?" Rayyan merasakan ada sesuatu yang ingin di sampaikan putranya.


"Ayah mommy sakit. Badan mommy panas" Zafran setengah berbisik.


Rayyan yang mendengar istrinya sedang sakit seketika perasaannya menjadi tak tenang. Ia tahu beban kerja istrinya lumayan berat akhir-akhir ini, tapi itupun atas keinginannya yang tak ingin menambah ART.


"Mommy sudah minum obat Zaf?" Ia memastikan istrinya sudah mendapat tindakan.


"Ya sudah, Zaf jagain adek ya. Nanti ayah telfon tante Aish untuk temani kalian" Ucap Rayyan.


Setelah menutup panggilan ia segera mencari kontak Aisyah. Satu-satunya yang menurut Rayyan senggang adalah Aisyah. Sedangkan Yola dan orang tuanya sedang pulang kampung menghadiri pesta pernikahan keluarga.


"Hallo Assalamualaikum Aish, kamu dimana?" Tanyanya tanpa basa-basi setelah panggilan di terima.


"Masih di klinik kang, aya naon?"


"Sibuk?" Ia memastikan Aisyah sedang tidak banyak pekerjaan.


"Nggak juga sih, cuma duduk-duduk aja nunggu perintah bos" Ucapnya. Bos siapa lagi kalau bukan Malvin yang masih menjadikannya asisten pribadi. Meski perlakuannya tidak seburuk dulu tapi tetap saja, Malvin suka semena-mena saat menyuruh Aisyah.


"Aish, Mommy Am lagi sakit. Saya lagi di luar kota, sore baru balik. Kamu tolong lihat anak-anak ya? Kalau ada apa-apa segera hubungi dokter" Ucap Rayyan.


"Oke kang. Aku kesana sekarang" Jawab Aisyah cepat.


Rayyan sedikit lega, setidaknya ada orang dewasa yang akan mengawasi anak-anaknya.

__ADS_1


*Ya Allah, mudahkanlah segala urusan hamba.


🥀🥀🥀🥀*


Sementara itu, di ruangan Malvin Aisyah sudah menyiapkan alasan terbaiknya untuk izin pulang lebih awal. Semakin hari ia kian menyadari bahwa berada di dekat Malvin membuat kesehatan jantungnya terganggu. Bagaimana tidak jika setiap waktu harus dihadapkan dengan wajah tampan sang dokter yang entah sejak kapan menguasai hati dan fikirannya.


Aisyah segera membereskan kertas-kertas yang ada di atas meja sebelum berpamitan. Tak lama, pintu ruangan terbuka. Malvin yang masih mengenakan jas dokternya masuk dengan membawa beberapa map yang ia lemparkan begitu saja di meja yang baru saja di bereskan Aisyah.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanyanya sambil membuka jas kebesarannya.


"Sudah dok"


"Bagus!" Ucapnya singkat.


"Dok, boleh saya izin pulang lebih awal?" Aisyah langsung ke topik, karena tak ingin berlama-lama. Ia sudah membayangkan bagaimana kondisi ketiga bocah di rumah Rayyan saat momnynya sakit.


Tak langsung menjawab, Malvin menatap Aisyah penuh selidik. Tak biasanya ia minta izin lebih awal.


"Tidak!" Ucapan itu lolos begitu saja, tanpa bertanya apa alasan Aisyah izin pulang cepat.


"Tapi dok, saya harus..."


"Tetap tidak!" Kekehnya.


Paling hanya alasanmu saja untuk menghindariku! Dasar bocah, jangan fikir akan semudah itu lepas dari ku.


Aisyah mendengus kesal. Sudah lama Malvin tidak bersikap menyebalkan seperti saat ini.


Apa kamu tetap tidak mengizinkan aku pulang saat tahu kak Shafa sedang sakit dok? Batin Aisyah. Awalnya ia tak mau mengatakan alasannya izin pulang, karena ia tahu bagaimana perasaan Malvin pada Shafa.


"Saya harus pulang dok!" Aisyah segera menyambar tas punggungnya yang tergeletak di atas sofa.


"Tetap tinggal atau aku akan menunda kelulusanmu" Lagi-lagi ancaman yang berhubungan dengan pendidikan. Aisyah bisa apa jika sudah berhubungan dengan kuliahnya. Apalagi kelulusan sudah tinggal di depan mata.


Dasar jahat!!!


"Kak Shafa sakit! Saya harus menemani anak-anaknya karena kak Rayyan sedang di luar kota!" Ucap Aisyah dengan nada yang sudah naik satu oktaf. Seperti dugaannya, Malvin langsung tersentak begitu mendengar Shafa sakit.


Maafin Aish kang, Aish terpaksa bilang supaya dapat izin.


"Kita ke sana sekarang!" Dengan terburu-buru Malvin menyambar kunci mobilnya dan menarik tangan Aisyah keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Kok hati aku sakit ya! Apa segitu cintanya dokter Malvin pada kak Shafa.


Aisyah melangkah mengikuti langkah cepat Malvin dengan mata yang tetap tertuju pada lengannya yang di genggam erat oleh dokter tampan tersebut.


__ADS_2