
"Mas---" Shafa terpundur hingga menatap tembok kamarnya, bibirnya terlihat bergetar. Ia benar-benar takut. Ketakutan terbesarnya saat ini adalah kehilangan Rayyan kembali. Ia takut Rayyan salah paham dan akan meninggalkannya.
Grep!
Shafa di buat tercengang oleh tindakan Rayyan yang tiba-tiba memeluknya. Otaknya mendadak blank. Ia ingat kejadian beberapa tahun lalu, saat ia tak sengaja berbicara berdua dengan pak Rudi, guru Matematika di sekolah tempatnya mengajar Rayyan begitu murka sampai mendiamkannya sepanjang jalan. Tapi ini ia malah memeluknya erat.
"Tolong jangan lakukan itu lagi" Ucapnya lirih di telinga Shafa.
"Mas, Ma..maafin aku" Shafa membalas pelukan Rayyan. Jauh di dalam hatinya ia merasa bersalah saat harus menemui Edwin tanpa memberi tahu Rayyan. Ia merasa seperti sedang tertangkap sedang berselingkuh.
"Aku tahu! Jangan lakukan itu lagi." Ucap Rayyan tanpa meleaskan pelukan sang istri.
Mas Ray tahu? Dia tahu dari mana?
"Mas tahu dari mana aku adaa disana?" Lirih Shafa setelah pelukannya terlepas. Ia menyeka sudut matanya yang terdapat genangan bening.
"Dian dan ---" Rayyan terdiam. Ia tak mungking mengatakan ada nomor asing yang memotret kebersamaan mereka dan mrngirimkannya pada Rayyan. Awalnya ia begitu marah sampai berniat menyeret paksa Shafa dari tempat itu setelah menerima pesan WA dari nomor tak di kenal. Namun, saat di perjalanan, Dian yang merupakan orang kepercayaan sekaligus sahabatnya menelfon dan memberitahu tentang ancaman Edwin juga ajakan bertemu dengan Shafa. Dari situ Rayyan sadar bahwa seseorang mungkin sedang berusaha mengadu domba dirinya dengan Shafa.
"Mbak Dian?" Terlihat raut kecewa di wajah Shafa.
"Dengar, Tidak perlu ada yang disembunyikan. Apa Shafa pikir saya akan diam saja?" Rayyan menatap dalam manik mata Shafa meyakinkan istrinya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Mbak Dian cerita apa mas?"
Rayyan tersenyum mengecup kening Shafa. Ia membawa Shafa duduk di sofa panjang yang ada di sudut kamarnya.
"Apa yang Shafa tidak ceritakan pada Mas. Shafa lupa siapa Dian?" Rayyan menaikan sebelah alisnya.
Mbak Dian ember! Nggak bisa di percaya! Penghianat!!! Umpat Shafa dalam hati.
"Shafa tidak perlu khawatir, mas baik-baik saja. Mulai besok Shafa tidak perlu ke kantor. Cukup di rumah mengurus Am dan Zizi" Rayyan mengusap punggung tangan Shafa. Dengan kata lain. Rayyan melarang Shafa kembali mengurus bisnisnya. Lalu kalau Shafa dirumah siapa yang akan mengurus semuanya.
__ADS_1
"Saya akan mengurus semuanya" Imbuh Rayyan seakan mengerti isi hati Shafa.
"Tapi mas..."
"Tidak ada tapi-tapian. Mas sudah mengatakan mas baik-baik saja. Mas tidak akan sakit hanya karena masalah ini. Mas justru akan sakit saat Shafa seperti ini. Mas tidak ingin perhatian Shafa teralihkan pada yang lain apalagi---"
"Edwin Sanjaya?" Shafa memotong ucapan Rayyan yang nampak ragu. Rayyan mengangguk pelan. Tergambar jelas kekhawatiran di matanya.
"Aku nggak ada perasaan apa-apa sama dia mas, hubungan kita hanya sebatas pekerjaan" Terang Shafa meyakinkan Rayyan.
"Apakah dia juga sama seperti Shafa? Apakah dia juga hanya menganggap Shafa sebatas relasi kerja?" Cecar Rayyan yang seketika membungkam Shafa. Ia menunduk, tak seharusnya ia menjelaskan hal itu pada Rayyan.
"Saya tahu, Edwin menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan Shafa. Mana yang akan Shafa pilih? Melanjutkan kontrak itu atau melepaskannya" Nada bicara yang begitu tenang meski tengah membahas hal yang begitu serius membuat Shafa mati kutu.
"Tapi kontrak itu begitu penting mas" Tatapan Shafa mengiba. Tak taukah Rayyan bencana besar bagi bisnisnya jika Edwin memutus kontraknya di tengah jalan.
"Apakah lebih penting dari keluarga kita?" Tanyanya membuat Shafa semakin sulit menelan salivanya. Keluarganya tentu lebih penting dari segalanya, tapi bagaimana dengan bisnis yang selama ini menjadi sumber pendapatan utamanya.
"Kalau begitu lepaskan!" Ucap Rayyan datar.
"Apa Shafa begitu takut kita jatuh miskin jika kita tidak lagi bekerjasama dengan Sanjaya Corp?" Lagi-lagi ucapan Rayyan begitu menohok di hati Shafa.
Shafa menatap Rayyan dengan tatapan kesal. Apa sekarang suaminya menganggapnya matre?
Menyadari tatapan kesal istrinya Rayyan kembali menariknya dalam pelukannya. Ucapan Rayyan memang terdengar begitu ekstream "Miskin" Kata yang tak pernah terlintas di kepala Shafa sejak ia membuka mata pertama kalinya hingga kini usianya yang hampir kepala 3, tak pernah sedetikpun ia membayangkan akan menjadi miskin.
"Rizki, jodoh dan maut adalah rahasia Allah. Tidak ada sesuatupun yang terjadi di muka bumi selain atas izin Allah." Ucap Rayyan sambil mengelus kepala istrinya.
"Jangan khawatir kita menjadi miskin dan kekurangan jika ada Allah yang maha kaya. Cukup Allah saja yang kita jadikan tempat bersandar. Bukan orang lain!" Nasehat Rayyan, yang di angguki pelan oleh sang istri.
"Mas..."
__ADS_1
"Hmm?" Rayyan menunduk menyambut tatapan istrinya dengan tatapan tenangnya.
"Mas nggak papa? Em... Maksudku ZR akan collapse jika Edwin memutus kerja samanya" Shafa terpaksa mengeluarkan uneg-uneg terdalamnya.
"Tak apa, mungkin Allah memiliki rencana lain untuk kita" Balas Rayyan.
"Rencana apa?" Lirihnya tapi masih bisa di dengar oleh Rayyan.
"Hanya Allah yang tahu, kita pasti bisa melewati ini bersama. Mas tidak mungkin membiarkan anak dan istri mas menderita" Lagi-lagi Rayyan meyakinkan Shafa. Meski ia mengangguk, hatinya tak benar-benar tenang. Siapapun akan meraskan hal yang sama jika berada di posisi Shafa.
"Apa selama ini Shafa rajin bersedekah? Apa harta yang mas tinggalakan selalu di bayarkan infak dan zakat nya?" Tiba-tiba Rayyan menanyakan soal sedekah Shafa. Walaupun Shafa bukan ustadzah ia tak pernah lupa mengeluarkan zakat mal untuk hartanya, juga sedekah yang tak perlu di sebutkan jumlahnya.
"Tentu, mas pikir aku medit?"
Rayyan tersenyum saambil menggeleng "Tidak" Jawabnya.
"Lalu?" Tanya Shafa balik.
"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya" (Qs Saba' 39).
Ayat ini mengandung perintah untuk bersedekah dalam kebaikan dan berinfak fisabilillah. Lalu anjuran untuk bergembira dengan ganti dari kemurahan Allah Ta'ala. Bahwa sedekah dan infak termasuk sebab utama datangnya keberkahan dan dilipatgandakannya rezeki. Sedangkan di akhirat, Allah akan memberi ganti dengan surga bagi siapa yang berinfak di jalan-Nya. Jika Shafa sudah bersedekah, jangan khawatir kita akan kekurangan.
"Terimakasih mas" Shafa kembali memeluk Rayyan, rasanya lama sekali ia tak mendengar petuah bijak yang menenangkan dari suaminya
"Kuncinya kita harus bersyukur, agar Allah menambahkan nikmat Nya. Ajari anak-anak kita untuk selalu bersyukur dan tidak mengeluh. Mas yakin kita bisa lewati ini bersama. Karena sejatinya semua yang kitaa miliki adalah titipan semata" Ujar Rayyan. Sebenarnya masih banyak yang ingin ia sampaikan pada sang istri, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu.
"Astagfirullah" Ia segera melepas pelukan istrinya.
"Kenapa Mas?"
"Mas lupa di mobil tadi ada es krim Am, pasti sekarang sudah meleleh"
__ADS_1