
Hari itu Shafa dan Rayyan turut mengantar Aisyah sampai pelataran kampusnya. Sepanjang perjalanan berbagai macam petuah disampaiakan oleh pria berkaca mata itu, mulai dari mengingatkan sholat, menutup aurat, bergaul dan sebagainya. Fix, Rayyan sudah seperti mamak-mamak yang tengah menasehati anaknya gadisnya. Rasa tanggung jawab dan hutang budi yang begitu besar pada abah membuat Rayyan benar-benar berusaha sebaik mungkin menjaga amanah abah untuk selalu mengingatkan Aisyah.
Di depan bangunan bertingkat 4 itu telah parkir 2 buah bus besar dengan spanduk lebar di yang menempel di body bus. Koper dan tas mahasiswa sudah nampak berjajar di depan bus.
"Ayah atu mau naik itu" Ucap Am menunjuk bis duaa tingkat yang akan mengantar mereka ke lokasi baksos.
"Iya nanti ya nak, kita naik bus sama abang juga" Balas Rayyan.
"Nda mau ayah, atu mau cekalang. Atu mau naik itu" Rengeknya sambil terus menunjuk bus.
"Am, jangan mulai" Shafa sudah melotot pada sang putra agar dirinya diam.
"Amm..!!!" Panggil Malvin yang muncul dari arah belakang. Melihat Malvin menghampiri mereka Aisyah cepat-cepat pamit bergabung dengan teman-temannya yang tengah menunggu apel di teras gedung.
"Om doktel" Jawab Am. Ia sudah cukup mengenal Malvin yang menghabiskan hari-harinya di klinik untuk merawat Shafa.
Ia mengulas senyum lembut meski hatinya tercubit. Lain halnya dengan Malvin yng berusaha bersikap ramah Rayyan justru terlihat datar. Pandangan matanya siaga memantau setiap pergerakan yang di lakukan Malvin. Rasa takut itu masih sering menghantuinya. Ia kembali teringan ucapan Malvin kala itu yang mengatakan akan berjuang dengan caranya.
"Kalian apa kabar? Rayyan? Bagaimana kondisimu? Apa sudah lebih baik?" Tanyanya. Bersikap se tenang dan se profesional mungkin sangatlah penting. Karena itu merupakan salah satu alasan Shafa tidak menjauhinya selama ini.
"Baik dok, obat yang dokter berikan sepertinya bekerja dengan baik" Jawab Rayyan seadanya. Ia beralih pada Shafa yang tengah menggendong Zifara.
"Hi.. my princess. Om rindu sekali dengan princess cantik ini" Ucapnya sambil mencubit pipi Zizi dengan gemasnya ia bahkan mendaratkan kecupan di pipi Zifara yang tengah di gendong Shafa membuat Rayyan menatapnya tak suka.
"Dok, titip Aisyah ya! Kalau ada apa-apa sama dia disana segera beri tahu kami" Ucap Shafa. Malvin terdiam mendengar permintaan Shafa yang dengan kata lain ia meminta dirinya menjaga Aisyah. Asisten pribadibyang selalu dikerjainya. Niat awal Malvin menjadikan Aisyah sebagai asistennya adalah untuk menyiksanya, namun sejak kejadian kelaparab yang sampai membuat Aisyah pingsan tempo hari membuat Malvin kasian pada gadis muda yang sebentar lagi menyandang gelar Ahli madya Keperawatan itu.
Kenapa kamu begitu peduli padanya, tapi tidak denganku Fa?
"Om, atu mau naik itu" Am menyadarkan Malvin yang sempat terpaku beberapa detik.
__ADS_1
"Am, ga boleh nak" Bisik Rayyan.
"Oh, Am mau naik bus? Ayok, mumpung busnya belum berangkat" Malvin merentangkan tangannya yang langsung diaambut girang oleh Am. Rayyan tak bisa berbuat apa-apa saat sang putra telah berpindah ke pelukan dokter tampan itu.
"Aku kesana dulu sebentar ya?" Pamit Malvin yang di angguki oleh Shafa.
"Mom, kok diam saja sih?" Tegur Rayyan yang terlihat kesal, apalagi saat Shafa mengiyakan Malvin membawa Am menuju bus.
"Biarin lah mas, mereka udah biasa kok... Dulu waktu aku di rawat dokter Malvin ikut bantu menjaga Am, dan Zizi saat masih dalam kandungan" Balas Shafa yang tidak peka bahwa suaminya tengah cemburu. Terutama saat ia mengungkit masa lalu. Masa lalu dimana Rayyan hanya ada dalam kenangan Shafa.
Setelah selesai mengajak Am menaiki bus, Malvin mengembalikan Am kembali ada ayahnya. Dari tatapan matanya sudah bisa di tebak bahwa Rayyan tengah berada dalam mode cemburu berat. Malvin bisa melihat itu. Ia malah berniat semakin memanasi Rayyan dengan menunjukan keakrabannya dengan putri mereka. Zifara nampak beberapa kali tertawa merespon ucapan dan gurauan Malvin kepadanya.
Mungkin kalau Shafa mengandung lagi, Dokter itu tidak akan lagi mencari perhatiannya dan anak-anakku! Batinnya mencari cara agar Malvin menjauhi keluarganya karena ia tahu betul perasaan Malvin pada istrinya.
"Saya kesana dulu ya! Sepertinya rombongan sudah mau berangkat" Pamit Malvin yang seger menuju ke rombongan Mahasiswa yangbtengah melakukan apel sebelum pemberangkatan.
"Kita pulang sekarang!" Rayyan bangkit dari duduknya saambil menggendong Am.
"Makanya mas pengen cepet pulang, pengen istirahat" Ucapnya sedikit ketus.
"Inikan masih jam 9 mas" Shafa semakin heran dengan suaminya yang begitu terburu-buru. Bukankah istirahat semalam sudah cukup? Dan ia bukan tipe laki-laki yang doyan tidur pagi. Kenapa jadi sewot gini. Ah pengaruh kurang vitamin malam sepertinya membuat ia jadi mwnyebalkan begitu.
"Ayo ah" Ia menarik lengan Shafa menuju ke mobil mereka.
Benar saja, Rayyan langsung melajukan mobilnya kembali ke kediamannya. Sepanjanh perjalanan ia tak banyak bicara, hanya ocehan Am dan Zifara yang memenuhi mobil mereka sejak berangkat hingga sampai rumah.
"Loh, kok ada mobil ayah?"
"Ayah dan ibu mungkin kangen dengan cucu-cucunya" Ucap Rayyan sambil mesam-mesem. Padahal ia yang mengirim pesan pada ibunya untuk kerumah menani Zizi dan Am karena ia punya urusan penting dengan Mommy merekanberdua yang tak bisa di ganggu.
__ADS_1
"Assalamualaikum"
"Wa alaikum salam" Ibu dan ayah segera menyambut kedua cucu mereka dengan suka cita.
"Ibu kemari kok nggak bilang dulu sih? Untung kami cepat pulang" Ucap Shafa.
"Kami kesini kangen sama cucu cucu kesayangan kami. Iya kan yah?" Ibu melirik ayah yang tengah memangku Am.
"Iya, ayah mau ngajakin Am dan Zi jalan-jalan. Bolehkan Fa?" Tanya Ayah.
"Boleh yah... boleh, bawa saja" Rayyan dengan cepat menjawab pertanyaan ayah yang di tujukan kepada Shafa.
"Mas!" Shafa memukul tangan Rayyan.
"Zizi mau ikut uti?" Shafa harus memastikan dulu anak-anaknya mau agar tidak rewel nantinya. Di luar dugaannya Zizi malah mengangguk senang apalagi Am. Kalau soal jalan-jalan, bocah yang mewarisi 90 persen sifat Shafa itu tak perlu ditanya. Jawaban nya pasti YES!
"Kita pergi sekarang yah?" Ibu menyenggol sang suami memberi kode untuk segera berpamitan.
"Iya, kami pergi sekarang kalau begitu. Kalian istirahatlah di rumah" Ucap Ayah.
Entah mengapa Shafa merasa ada yang aneh dengan kedatangan mendadak ayah dan ibu Rayyan untuk mwmbawa anak-anaknya. Ia menoleh ke arah Rayyan yang sudah senyum-senyum sejak kepergian ayah dan ibu nya barusan.
"Apa?" Ucapnya polos saat mata Shafa penuh selidik kepadanya.
"Enggak! Ya udah katanya mau istirahat, kok masih disini?" Ucap Shafa.
"Oh iya, ayo" Dengan santainy ia berdiri dan menarik tangan Shafa menuju kamar.
"Mas istirahat sendiri, aku mau masak!" Rayyan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Shafa. Ia mendekatkan bibirnya di telinga Shafa.
__ADS_1
"I want you now!" Bisiknya di telingan Shafa membuatnya merinding terutama tatapan mata Rayyan yang begitu menuntut membuat Shafa semakin terhipnotis oleh kharisma suaminya.
Ampun... Setan mesum pagi-pagi udah ngeracunin otak laki gue! Kamu habis mimpi apa sih mas?