Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Mengadu


__ADS_3

"Udah ya?" Ucap Shafa sambil mengusap punggung Rayyan yang masih berada di atasnya. Ia harus di ingatkan agar tidak ke bablasan. Tak ada jawaban, hanya anggukan kecil dan senyum penuh kepuasan yang terbit di wajah tampan itu.


CUP!


"Thank you!" Ucapnya, setelah mengecup pipi Shafa ia bangkit menuju kamar mandi. Sedangkan Shafa memilih tetap berada di atas Ranjang menikmati sensasi perih yang masih terasa.


Gilak! Kenapa kerasa nya baru sekarang. batinnya sambil membersihkan tubuhnya dengan tissue yang ada di atas nakas.


Drt...Drt...Drt....


Ponsel Rayyan kembali bergetar setelah tadi beberapa kali bergetar namun di abaikan olehnya yang sedang berada dalam puncak penyatuan. Jangankan hanya suara ponsel, gedoran pintu pun akan ia abaikan jika dirinya sedang dalam mode on fire.


"Mas... Ada telfon" Teriak Shafa yang mulai terganggu dengan getaran ponsel tersebut. Tak lama Rayyan muncul dengan wajah yang sudah segar, ia hanya mengenakan celana boxer di atas lutut sedang bagian atas tubuhnya di biarkan terbuka. Beberapa tetes air yang melekat di wajahnya menambah tingkat kegantengannya di mata Shafa.


Mas Ray ku, Jadi pengen peluk!


"Telfon dari siapa?" Tanyanya yang du jawab dengan gelengan dari Shafa. Ia masih fokus memandangi wajah tampan yang kini berada di sebelahnya.


Rayyan mengerutkan dahinya, tatapannya berubah serius membuat Shafa ikut bangkit bersandar pada kepala ranjang sembari menahan selimut yang menutup tubuhnya.


"Siapa?" Tanyanya. Jangan sampai Zaf atau ayah, pikiran Shafa sudah berkelana kemana-mana.


"Aisyah" Ucap Rayyan sambil menempelkan ponsel di telinga, mencoba menghubungi adik angkatnya tersebut.


Aisyah? Kenapa dia nelpon malam-malam? Apa ada sesuatu yang terjadi?


"Gimana?"


"Nggak di angkat!" Rayyan kembali menekan tombol panggilan ke nomor Aisyah. Tak biasanya ia menelfon hingga berkali-kali kecuali ada hal yang teramat sangat mendesak karena Aisyah adalah tipe gadis cuek dan masa bod*h.


Shafa ikut mendekatkan telinganya di ponsel Rayyan mencoba mencari tahu apa yang terjadi.


"Assalam----"


"Kang Andiiiiiiiiiiiiiiiiiii....hiks...hiks" Baru saja Rayyan mengucapkan salam sudah di sambut dengan teriakan dan tangisan Aisyah membuat Rayyan juga Shafa semakin khawatir.


"Aish... Kamu kenapa?" Air muka Rayyan berubah panik. Mendengar isakan Aisyah di balik telfon.

__ADS_1


"Aisyah kamu dimana!"


"Aish mau pulang kang... Mau pulang! Aish nggak mau disini. Aish mau pindah kampus!" Ucap Aisyah sambil tergugu membuat Rayyan semakin tak mengerti.


"Shhhrrrkkk" Terdengar suara ingus yang di keluarkan Aisyah menandakan bahwa dirinya benar-benar menangis.


"Aish tenang dulu. Bicara yang jelas. Aish kenapa? Kenapa mau pindah kampus? Aish ada masalah dengan teman Aisyah?" Tanya Rayyan mencoba menenangkan calon perawat itu.


"Semua teh gara-gara akang!!! Pokoknya akang tanggung jawab, mindahin Aisyah ke kampus lain!" Ujarnya yang kini berubah marah-marah.


"Loh kenapa gara-gara saya? Memang saya ngapain Syah? Jangan bercanda kamu atau saya laporin abah" Balas Rayyan "Dasar bocah, pasti dapat nilai jelek lagi" Gumam Rayyan.


"Akang mau lihat abah koid? Sok sana bilang ke abah biar jantungnya kumat!!!"


"Ya terus kenapa? Apa sebabnya Aisyah mau pindah kampus?" Ia masih belum mengerti mengapa Aisyah ingin pindah kampus di akhir masa study nya. Padahal kampus Aisyah saat ini adalah salah satu politeknik kesehatan terbaik yang ada di ibu kota.


"Aish nggak mau ketemu sama dokter set*n dan perempuan sund*l itu kang. hiks" Ucap Aisyah sambil mengusap air matanya.


"Siapa yang kamu maksud dokter s*tan Aisyah? Kamu di apakan sama orang itu?" Rayyan semakin penasaran dengan ucapan Aisyah.


"Siapa lagi kalau bukan dokter saraf itu. Aisyah di jadiin babu kang...babu!!! belum lagi si sund*l yang hampir nyelakain Aish. Pokoknya Aish mau pindah. Akang harus bantu Aish... Akang jangan enak-enakan ya disitu. Itu ya habis ngapain? Aish nelpon nggak di angkat-angkat!" Ucap Aisyah panjang lebar, perasaannya bercampur aduk antara kesal, marah dan galau. Ia galau antara pindah atau bertahan. Di satu sisi ia senang berada di HS Clinic yang ia ketahui milik mertua Rayyan, menjadi asisten dokter tampan yang tak semua orang memiliki kesempatan untuk itu, meskipun asisten yang dimaksud tak jauh lebih baik dari seorang pesuruh. Dan disisi lain ia takut, bukan saja pada Malvin tapi ada Angela yang tadi sempat menyerangnya bahkan menyiramnya dengan air. Jika dibandingkan dengan Angela tubuh Aisyah yang mungil tentu buka tandingannya.


"Ia siapa lagi. Pokoknya akang cepat pulang. Kalau enggak... Aish akan culik anak akang! Jangan lupa utangnya di bayar! Akang janji janji terus. Jangan jadi kacang lupa kulitnya kang!" Omel Aisyah yang kini beralih membahas masalah utang.


"Masya Allah anak ini. Iya... iya saya ingat! Insha Allah besok saya pulang kita bicara dirumah"


"Ya udah kalau gitu Aish tutup. Oh ya jangan lupa nyebut kang, banyak setan mesum berkeliaran. Assalamualaikum" Tuut...tutt...


Aisyah langsung menutup panggilan setelah meledek Rayyan. Rayyan hanya bisa mendengus beristigfar dengan ulah adik angkatnya tersebut.


Benar-benar labil, tadi nangis-nangis terakhir marah-marah. Ujung-ujung nagih uang. Tapi apa benar Malvin melakukan hal buruk pada Aisyah?


"Mas?" Shafa menyentuh bahu Rayyan membuatnya refleks berbalik. Istrinya tersebut masih berbalut selimut.


"Iya mommy nya Am"


CUP!

__ADS_1


Ia tersenyum lembut kemudiaan memeluk Shafa yang belum berganti pakaian.


"Mas ingat kata Aisyah tadi! Jangan biarkan setan mesum mengotori pikiranmu" Ucap Shafa berusaha lepas dari dekapan suaminya. Ia merasakan hawa-hawa kemesuman mulai muncul seiring dengan pergerakan tangan yang mulai jahil.


Rayyan terkekeh mendengar ucapan sang istri yang nampak menghindarinya. Rayyan cukup paham bahwa istrinya tengah berada dalam rasa yang tidak nyaman.


"Cuma ingin peluk" Ucap Rayyan.


"Aisyah kenapa mas? Aku dengar kok nyebut-nyebut dokter Malvin?" Shafa mendongak mencari jawaban dari sang suami.


"Kita bahas itu besok ya? Mas takut berprasangka kalau belum bertemu langsung dengan Aisyah" Ucap Rayyan sambil mengelus punggung Shafa.


"Terus soal utang? Mas ngutang sama anak itu" Tanya Shafa lagi. Seumur-umur baru kali ini ia mendengar Rayyan memiliki hutang pada seseorang.


"Oh itu, nanti mas bayar kalau udah sampai rumh" Jawab Rayyan.


Shafa melepaskan pelukannya menatap dalam mata Rayyan. Kenapa suaminya sampai berhutang pada orang lain? Apakah kehidupannya sulit selama ini?


"Mas nggak punya uang?" Tanyanya dengan mata berkaca kaca.


"Ha? Shafa ngomong apa?"


"Aku nanya, apa mas nggak punya uang sampai harus ngutang? hiks..." Ia tak bisa membendung tangisnya.


"Bukan begitu sayang, mas itu---"


"Kenapa mas nggak bilang kalau mas punya utang? Kenapa mas nggak bilang kalau mas nggak punya uang?" Ia membayang bagaiman hidup Rayyan tanpa uang. Ia sendiri sudah pernah mengalaminya waktu kabur ke pesantren dulu.


"Di dompet aku penuh dengan kartu milik mas yang isinya uang semua. Mas bilang mas punya utang berapa? Sama siapa saja?" Imbuh Shafa yang semakin terisak.


"Shafa... sudah, sini mas bisa jelasin semua" Rayyan meraih kembali tubuh Shafa dan mendekapnya erat-erat. Istrinya sudah berfikir telalu jauh. Mana mungkin Rayyan berhutang jika uang yang di berikan abah lebih dari cukup. Bahkan tak jarang ia menolak pemberian dari abah tersebut. Aisyah memang sedikit berlebihan menagih uang 10 juta yang pernah di janjikannya, padahal isi ATM miliknya jumlahnya ratusan juta. Tapi tetap saja semua pengeluarannya di bawah kendali abah. Abah tidak membiarkan anak-anaknya berfoya-foya meski mereka berada. Dan Aisyah sendiri pun sudah terbiasa dengan semua itu sehingga berapapun isi dalam kartu debitnya ia tidak memakai melampaui batas yang di boleh kan.


"Mas bukan ngutang buat bertahan hidup sayang. Mas pernah janji sama Aisyah kalau berhasil menemukan Am mas alan kasi dia uang sesuai jumlah yang dia inginkan." Ucap Rayyan menenangkan.


"Beneran?"


"Iya. Sudah jangan nangis, ntar dikiranya mas apa-apain Shafa lagi" Rayyan mengusap sudut mata Shafa dengan ibu jarinya.

__ADS_1


"Kyaaa!!! Mas emang udah ngapa-ngapain aku. Mas lupa?" Shafa mendelik kesal pada Rayyan.


"Iya mommy... iya"


__ADS_2