Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Gugup


__ADS_3

Berada di ruangan yang sama dengan Shafa di saat anak-anak mereka sudah tertidur membuat Rayyan bingung apa yang harus berbuat apa. Di ruangan itu hanya ada dua bed, dimana satu bed sudah terisi oleh Am dan Zafran sedangkan bed lain yang masih longgar sudah pasti akan di tempati Shafa. Harus kah mereka tidur dalam satu bed yang sama?


Rayyan mendudukkan tubuhnya di atas sofa yang tersedia di ruangan itu.


Malam ini tidur di sofa tak apalah. Gumamnya. Ia mengambil ponselnya mencoba menghubungi Aisyah. Ia harus tahu kabar dari adik angkatnya tersebut. Bagaimanapun juga Aisyah telah abah amanah kan untuk di jaga layaknya saudara.


Rayyan : Assalamualaikum Aish sudah tidur? Send!


Tak lama kemudian ponselnya berdering panggilan dari Aisyah.


Rayyan: "Assalamualaikum, dimana Syah?" Tanya Rayyan setelah menggeser tombol berwarna hijau pada layar ponselnya.


Aisyah : "Waalaikumsalam... Akang dimana? Nggak pulang? Maksud Aish akang nginep dimana" Tanyanya. Ia berusaha untuk lebih sopan dengan Rayyan tapi rasanya sulit. Ia sudah terbiasa ceplas-ceplos dengan Rayyan yang dikenalnya sebagai Andi.


Rayyan : "Saya bermalam di klinik Syah, sama anak-anak. Kamu kalau sempat besok kesini yah, jangan lupa kabari abah dan ambu." Walaupun sudah menemukan keluarganya, Rayyan tentu tidak akan pernah melupakan kebaikan dua orang tua angkatnya yang telah menolongnya bahkan memperlakukannya seperti anak mereka sendiri.


Aisyah : "Cie... Ketemu istri. Kang jang lupa janjinya ya"


Rayyan : "Janji apa Syah?" Seingatnya dia tak pernah berjanji apa-apa pada Aisyah.


Aisyah : "Akang jangan pura-pura lupa ya, mentang-mentang lagi amnesiak"


Rayyan : " Iya, tapi apa---


Aisyah : "SEPULUH JUTA KANG!!! S E P U L U H J U T A!!!" Teriaknya membuat Rayyan menjauhkan ponselnya dari telinga.


Rayyan : "Astagfirullah... Kalau duit saja cepet banget. Ia lah besok! Ya udah ya saya tutup. Kamu jangan keman-mana, di rumah saja" Ujarnya sebelum mematikan panggilan. Tak lama setelah mematikan panggilan sebuah pesan masuk.


Aisyah : Cie... Yang mau malam pertama๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ


Rayyan menahan senyum di bibirnya membaca pesan dari Aisyah.


Dasar bocah!!!

__ADS_1


Ia meletakkan ponsselnya di atas meja kemudian menyaandarkan tubuhnyaa pada sandaran sofa. Entah mengapa pesan Aisyah tadi terngiang kembali di kepalanya. MALAM PERTAMA. Akankah itu terjadi kembali? Kini otak bersihnya sedikit tercemar oleh fikiran-fikiran liarnya. Lelaki beristri yang hampir 3 tahun menyendiri sangat mudah di susupi oleh jin mesum yang banyak bertebaran.


"Mas..." Panggilan Shafa barusan berhasil membuyarkan lamunan singkat Rayyan. Alhamdulillah, ia tersadar sebelum setan mesum semakin mencemari pikirannya. Semua gara-gara Aisyah!


"Ya?" Ia berjalan menghampiri Shafa yang terlihat sedang menenangkan Zifara yang tengah merengek.


"Tolong tungguin Zizi dulu ya, aku mau buatin susu"


"Zifara memangnya berapa bulan?" Tanyanya sambil menepuk-nepuk paha Zizi agar dia tenang. Beberapa kali ia mendaratkan kecupan pada wajah balita cantik nan mungil itu.


"Empat bulan lagi dua tahun. Jadi, pas Mas Ray ke Banten waktu itu aku sedang hamil dan baru ketahuan saat aku masuk rumah sakit setelah mendengar kabar Mas Ray hilang" Sahutnya yang tengah meracik susu pada sebuah botol.


Masya Allah, kamu berjuang sendiri mengandung dn melahirkannya. Dan lagi, kenapa jarak Am dan Zifara terlalu dekat?


"Belum genap dua tahun kenapa di kasi susu formula?" Tanyanya lagi. Walaupun laki-laki, ia cukup tahu bahwa seorang anak hanrusnya di beri ASI sampai sampai berusia 2 tahun. Rayyan mungkin lupa bahwa dulu dirinya bukan hanya memaksa Am minum susu formula, tapi juga mengemut compeng karena hasratnya yang selalu haus akan tubuh Shafa dan menginginkannya mengandung lagi bahkan saat Am masih berumur 7 bulan.


"Sejak umur 3 bulan Zi memang sudah minum susu formula" Shafa sudah selesai dengan sebuah botol susu di tangannya berjalan menuju bed dimana putri kecilnya berada.


"Ya karena kondisiku yang tidak memungkinkan waktu itu. Mas, tahu aku hampir gila atau mungkin sebagian orang menganggap aku gila karena kehilangan Mas"


Aku tahu!


Rayyan jadi teringat ucapan Aisyah waktu itu yang mengatakan bahwa putri pemilik klinik tempat dia praktek mengalami gangguan jiwa karena menganggap suaminya yang telah meninggal masih hidup. Rayyan bersyukur, bahwa ternyata Shafa sangat mencintainya dan menunggunya selama itu. Apa jadinya seandainya Shafa juga percaya bahwa Rayyan sudah meninggal? Bisa jadi kini Shafa telah bersuami kembali, melupakan Rayyan dan hadirnya Rayyan justru akan menjadi orang ketiga. Rencana Allaah memanglah indah. Dia mempertemukan disaat yang tepat.


"Sini, biar saya saja. Kamu tidurlah" Rayyan meraih botol dot dari tangan Shafa. Ia juga ingin mengambil peran untuk anak mereka walaupun hanya sekedar memasukkan dot ke mulut anaknya.


Shafa menurut saja, ia dengan senang hati membiarkan Rayyan menidurkan Zizi kembali. Kini ia beralih ke bed dimana Am berada. Dipandanginya satu per satu wajah mereka kemudian memberikan ciumanbpada keningnya.


Have a nice dream jagoan mommy. Terimakasih sudah jadi anak-anak yang kuat dan sabar!


Bukan hanya Shafa, anak-anaknya juga patut di acungi jempol. Mereka pun dengan sabar menanti ayah mereka datang. Tetap tegar dan sabar meski sering di olok olok oleh temannya.


Setelah memastikan semuanya Shafa beranjak ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih nyaman. Ia mengenakan dress panjang tanpa lengan berbahan ringan berwarna peach untuk menemaninya tidur. Rambut pendeknya ia biarkan terurai begitu saja. Penampilannya tanpa balutan hijab memang 180 derajat berbeda. Rambut sedangnya ia ikat sembarang ke atas hingga menampilka leher jenjang nan mulus yang berhiaskan kalung cantik pemberian Rayyan dulu.

__ADS_1


Rayyan tertegun melihat Shafa yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan tampilannya tanpa memakai kerudung. Jantungnya mendadak kembali berdegup kencang, padahal baru saja stabil. Lama-lama bukan hanya amnesia, bisa-bisa ia terkena serangan jantung dadakan.


Ia segera turun dari bed begitu melihat Shafa mendekat. Jantungnya memang tidak bisa di ajak kompromi. Lagi pula siapa yang tidak deg-degan melihat wanita cantik, putih, mulus plus memukau ada di hadapannya. Apalagi berstatus sebagai istrinya yang jangankan di pandang, di sentuh dan di apa-apakan juga halal. Tapi masalahnya mereka kan baru saja bertemu, rasa canggung, dan malu tentu saja ada, meski tak menutupi rasa cinta keduanya terutama Shafa.


"Mas mau kemana?" Tanyanya saat melihat Rayyan hendak melangkah.


"Saya... Saya tidur di sofa saja" Ucapnya.


"Kenapa? Ini di sebelah Zizi kan kosong. Atau mas nggak mau tidur se ranjang sama aku?" Nada suara Shafa nampak merendah. Ada raut sedih di wajah cantiknya.


Bagaimana sebenarnya perasaanmu padaku mas?


"Ti..tidak... Bukan begitu, saya hanya..."


Kenapa berat sekali mengatakannya. Rayyan menggeram dalam hati.


"Ya sudah tidak apa-apa. Aku mengerti" Balas Shafa dengan nada yang begitu sedih. Shafa berbalik hendak mengambilkan bantal dan selimut yang berada di laci nakas paling bawah. Tak sengaja Rayyan melihat ia mengusap mata dengan punggung tangannya. Shafa menangis!


"Tidak usah! Saya akan tidur bersamamu dan anak kita" Rayyan tiba-tiba memeluknya dari belakang, menghentikan gerakan tangan Shafa yang tengah memegang selimut tebal.


"Tidak apa mas, Kalau mas..." Ucapannya terhenti saat tangan kekar itu memutar tubuhnya untuk saling berhadapan. Kini Rayyan mulai berani menatapnya lebih dalam.


"Bukan seperti itu maksudku, Saya hanya gugup saat melihat Shafa secantik ini" Ucapnya jujur. Rayyan membuang jauh-jauh semua rasa malunya saat mengatakan hal itu. Baginya, Air mata Shafa adalah sesuatu yang tidak boleh jauh apalagi tumpah.


Setelah drama tersebut, mereka semua terlelap dalam hangatnya malam. Malam ini adalah malam terbaik bagi Shafa dan anak-anaknya malam dimana mereka beristirahat dengan tenang, karena yang di rindui telah kembali.


Sejauh apapun kau pergi...


Ingatlah untuk kembali...


Di sini...


Ya di sini, Di mana aku selalu menunggumu!

__ADS_1


__ADS_2