
"Mas?"
"Hmm"
"Ih, Masss?" Panggilnya lebih kencang karena meras di acuhkan.
Rayyan membuka matanya kemudian memiringkan badannya menghadap istri tercinta yang juga tengah baring di sebelahnya.
"Mas liatnya jangan gitu ah" Shafa mengarahkan wajah Rayyan agar tidak menatapnya.
Deg...degan tau di tatapin kaya gitu.
"Tadi Shafa manggil, kenapa memangnya?" Tanyanya lembut, tatapan teduhnya masih memandangi ciptaan Allah yang halal di depannya.
"Mas betah di sini?" Tanyanya sambil memberanikan diri menatap balik mata teduh suaminya. Ah, untung saja waktu Rayyan mandi tadi ia sempat sedikit memoleh wajah glowing yang seminggu ini mendapat perawatan ekstra dari sang empunya tubuh. Jadi pede dong Shafa di tatapin se intens itu, meski hatinyaa cenat-cenut nggak karuan.
"Saya lebih betah di rumah kita" Balas Rayyan yang tak mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"Kenapa?"
"Karena ada Shafa dan anak-anak" Jawabnya di sertai senyuman lembut yang membuat Shafa meleleh.
Ambyar hati adek bang.
"Mas Ray, ke...kenapa liatnya gitu sih, nggak capek apa matanya nggak kedip-kedip" Shafa mengayun ayunkan telapak tangannya di depan mata Rayyan.
Grep!
Sekali tangkap kini tangan kanan Shafa telah berada dalam genggaman Rayyyan. Ia mengarahkan tangan kanan istrinya ke pipinya.
Hangat!
Satu kata yang bisa Shafa ucapakan. Wajah Rayyan memang hangat, tapi bukan demam.
"Mas gendutan sekarang ya?" Ucapnya sambil mencubit kecil pipi Rayyan yang terlihat lebih berisi. Akhirnya iaa bisa leluasa menyentuh wajah Rayyan seperti ini.
"Mas pasti bahagia disini kan, makanya mas gemuk" Ucap Shafa yang sekarang menusuk-nusuk pipi Rayyan dengan telunjuknya seperti yang dulu sering ia lakukan.
"Mas hanya mensyukuri nikmat yang Allah berikan pada mas" Ucapnya lembut.
Shafa mengulas senyum bahagia di bibirnya karena Rayyan tidak lagi menyebut 'saya'. Satu lagi kemajuan yang akan semakin mendekatkannya pada sosok Rayyan yang dahulu ia cintai.
__ADS_1
Sebenarnya, walaupun dengan kondisi yang masih tidak ingat, rasa cinta itu tidak pernah berkurang, hanya untuk melakukan lebih dari sekedar bertegur tentu ia merasa canggung. Tapi sepertinya kecanggungan itu perlahaan mulai menghilang seiring dengan perubahan sikap Rayyan yang lebih terbuka. Yah, Memang seperti itu seharusnya. Sepuluh hari merupakan waktu yang cukup untuknya bisa menyesuaikan diri dengan istrinya. Tidak mungkin ia akan terus menghindari Shafa hanya karena masalah ingatan yang tak tahu kapan kembalinya. Sebagai seorang suami ada kewajiban lain yang harus ia tunaikan agar tidak menjadi dosa dan prasangka di hati keduanya.
Perlahan jemari Shafa berpindah menyentuh bagian sisi kiri kening suaminya yang terdapat goresan bekas luka jahit. Matanya mendadak memanas, melihat goresan yang menandakan pernah ada luka dalam di bagian itu.
Sekuat tenaga Shafa menahan agar air matanya tidak jatuh.
"Hei... Shafa kenapa?" Rayyan wajah Shafa yang terlihat begitu sedih.
"Apa, ini sakit?" Ucapnya dengan bibir bergetar, beberapa tetes air matanya telah lolos membasahi pipinya. Ia tak bisa membayangkan rasa sakit yang dirasakan suaminya untuk bertahan hidup.
"Tidak, sudah tidak sakit lagi. Shafa jangan menangis" Rayyan menarik tubuh Shafa dalam dekapannya. Shafa menangis sesunggukan dalam pelukan suaminya. Membayangkan Rayyan yang sakit karena kecelakaan membuat hatinya terasa seperti di iris-iris.
"Ini tidak sesakit perjuangan Shafa melahirkan anak-anak kita yang masya Allah lucu" Ucap Rayyan sembari mengusap lembut rambut istrinya. Momen istirahat yang harusnya tenang dan lenggang berubah menjadi haru biru.
CUP!
Sebuah kecupan mendarat sempurna di kening Shafa yang kali ini di lakukan secara terang-terangan dan sadar.
Shafa menarik wajahnya dari dada Rayyan, ia mendongak memastikan suaminya kemarin se kaku kanebo kering sudah mulai berubah.
"Mas cium aku?" Ucapnya lolos begitu saja. Sebuah pertanyaan bodoh yang harusnya tidak ia tanyakan.
"Kenapa? Nggak boleh?" Tanya Rayyan balik.
Shafa menggeleng kecil dan kembali menyusupkan kepalanya di dada Rayyan, memeluknya erat seakan tak mau ia lepas.
"Aku kangen mas Ray" Ucapnya menikmati kenyamanan yang lama ia rindukan.
"Mas juga rindu Shafa" Balasnya ikut hanyut dalam pelukan hangat di siang yang teduh itu.
Cukup lama mereka berada di posisi saling merengkuh hingga ke dua melepaskan pelukan mereka. Rayyan tersenyum memandang wajah Shafa yang nampak kusut setelah menangis. Tangannya bergerak merapikan beberapa anak Rambut yang menjuntai di wajahnya.
"Mas, kita mau berapa lama disini?"
"Shafa maunya berapa lama?" Tanyanya balik. Ia masih setia merapikan rambut istrinya yang berantakan.
"Seminggu, dua minggu atau ..."
"Kelamaan Mas, Zaf kan harus sekolah. Dia nggak suka lama-lama izin" Ucap Shafa yang tau persis sikap Zafran yang sangat disiplin.
"Kalau begitu besok pulang gimana?" Goda Rayyan yang langsung membuat Shafa memajukan bibirnya. Ingin Rasanya ia rasakan bibir merekah nan indah itu kalau saja tatapan kesal Shafa tak menatapnya.
__ADS_1
"Mas, kita baru aja ketemu setelah 871 hari terpisah. Ini saatnya kita liburan bareng. Ini udah mau pulang aja" Omelnya yang merasa terlalu cepat bila harus pulang besok.
Belum juga ngapa ngapain udah mau pulang. Ish. Mas Ray nggak peka! Omesh gue!
"Alhamdulillah Allah hanya memisahkan kita selama 871 . Jika di bandaibgkan dengan pencarian nabi Adam dan Siti Hawa di bumi waktu terpisah, kita nggak ada apa-apanya" Ucap Rayyan.
"Kok bisa? 871 lama tau mas! Memang nabi Adam dan Hawa kenapa berpisah? Bukannya mereka manusia pertama ya mas?" Tanya Shafa.
"Secara umum disebutkan, Adam adalah salah satu makhluk Allah. Awalnya, dia bersama Hawa (istrinya) menjalani kehidupan di surga, kemudian diturunkan Allah ke bumi untuk menjadi khalifah. Bersama istri dan keturunannya, Adam menjadi penghuni dan pengelola bumi.
Kisah diturunkannya Adam ke bumi, diawali saat Adam dan Hawa memakan buah khuldi di surga. Allah melarang keduanya untuk memakan buah khuldi. Merekaa bisa makan apa saja yang ada di surga kecuali pohon terlarang tersebut.
'Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: ''Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (kekekalan) dan kerajaan yang tidak akan binasa?
Keduanya pun terbujuk dengan rayuan Iblis, hingga mereka memakan buah khuldi tersebut. Seperti firman Allah "Maka, keduanya memakan buah tersebut, lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia" Qur'an Surah 20 ayat 121.
Menurut Ibn al-Atsir, Adam AS awalnya menolak mengikuti bujukan Iblis. Namun, desakan Siti Hawa yang begitu kuat, akhirnya membuat Adam ikut memakan buah tersebut.
Keduanya lalu bertobat dan memohon ampun kepada Allah dan Allah menerima tobat mereka dan memilih Adam sebagai Rasul-Nya. ''Kemudian Tuhannya memilihnya (menjadi Rasul), maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.'' Quran Surah 20 ayat 122.
Kendati Allah SWT telah menerima tobat Adam dan Hawa, namun sebagaimana kehendak Allah untuk menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi, maka Adam dan Hawa lalu diturunkan ke bumi.
Nabi Adam as dan isterinya Hawa ketika pertama kali diturunkan ke bumi, di tempat yang berbeda, terpisah jarak yang sangat jauh. Keadaan ini harus mereka terima dan jalani cukup lama (ada riwayat yang menyebut 500 tahun dan ada yang menyebut 300 tahun, ada juga yang menyebut 40 tahun, tapi ada juga yang menulis hanya 40 hari). Mereka akhirnya bertemu di suatu tempat di bumi yang bernama Jabal Rahmah, Arafah. Insha Allah kalau kita umroh atau ber haji nanti kita akan melihatnya" Ucap Rayyan sambil menatap mata istrinya.
"Mas pernah kesana?" Tanya Shafa. Bukankah Rayyan sudah seringkali pergi umroh, kuliah pun di timur tengah, tempat-tempat seperti itu pasti sudah tidak asing baginya.
"Em... Kayaknya pernah" Ucap Rayyan sambil berfikir. Bukankah ia lupa ingatan?
"Ya pasti pernah lah, kan pas itu mas pergi umroh nggak ngajakin aku" Ucap Shafa kembali memanyunkan bibirnya yang kali ini tidak di sia-siakan oleh Rayyan.
CUP!
Ia hanya berani sekilas. Mata Shafa membulat sempurna, tangannya refleks menyentuh permukaan bibirnya yang baru sja mendapatkan serangan dadakan secepat kilat.
Dan karena hal itu wajah Shafa merona seketika menambah gemas yang melihatnya. Perlahan tapi pasti Rayyan menurunkan tangan Shafa yang menghalangi bibirnya. Ia semakin mendekatka wajahnya dengan wajah Shafa. Jantung keduanya berpacu cepat. Seakan tahu akan maksud dan tujuannya, mereka memejamkan mata siap menerima rasa baru dari bibir manis yang lama tak bertegur sapa. Baru saja Rayyan menempelkan bibirnya sebuah ketukan bertubi-tubi membuyarkan semuanya.
"Mommy...Mommy buta pintu! Atu mau tama ayaaahh" Dog! Dog! Dog! Teriaknya! Siapa lagi kalau bukan putra kecilnya yang keaktifannya melebihi belatung nangka.
Astaga Aaammmm!!! Shafa menggeram dalam hati.
"Sudah tidak apa-apa" Rayyan mengelus lembut kepala Shafa seolah tahu kekesalan istrinya.
__ADS_1
Ini dia yang suka gangguin mommynya😍😍😍 Yang katanya mau adik lagiii