
Kediaman Shafa yang selama 3 hari terakhir ini sepi kini ramai kembali setelah kepulangannya dari Bandung. Ada raut berbeda dari wajah pasangan suami istri yang baru saja menikmati bulan madu keduanya. Keduanya nampak lebih hangat dan tak canggung seperti sebelum mereka pergi ke Bandung. Rupanya ide untuk menemui orang tua angkat Rayyan membuahkan hasil yang memuaskan.
"Ibu kenapa dari tadi senyum-senyum terus?" Tegur Ayah yang berada di sebelahnya.
"Ayah nggak ngerasa ada yang beda?" Tanyanya sambil melirik sang suami.
"Laki-laki mana peka mbak" Sahut mommy Shafa yang juga ikut merasakan perubahan pada anak dan menantunya.
"Ada apa sih mom?" Tanya ayah yang bingung dengan ucapan kedua wanita itu.
"Masa gitu aja nggak tau? Daddy lihat tuh si Shafa sama Ray udah mulai nempel seperti dulu itu artinya..."
"Kita nggak lama lagi ketambahan cucu!" Jawab ibu memotong ucapan mommy dengan sangat antusias. Pandangan mereka seketika teralihkan pada sepasang suami istri yang tengah sibuk mendiamkan Am yang menangis lantaran tidak mau di ajak pulang. Shafa harus membujuk Am dengan mengatakan mereka hanya pergi ke kampung sebelah. Sesampainya di rumah Am baru menyadari bahwa dirinya telah pulang kerumahnya dan tanpa menunggu lama ia langsung bergulung di lantai sambil menangis.
"Mommy nakal! Mommy bohongi Am! huaa..." Ucapnya sambil berusaha lepas dari pelukan mommynya.
"Am, sudah nak diam. Malu itu di lihat sama opa dan kakung! Nanti adek Zi bangun kalau Am teriak-teriak"
"Nda mau! Atu masih mau cama atok mommy" Jeritnya sambil menggoyang-goyangkan kakinya.
"Nanti ya nak, kalau abang libur kita ke Bandung lagi. Kasian abang Zaf dirumah sendiri" Giliran Rayyan mencoba untuk membujuknya.
"Iya, dengar kata ayah. Kasian abang sendirian. Gimana kalau nanti malam kita pergi ke time zone? Am belum pernah ke time zone sama ayah kan?" Shafa mencoba menawarkan sesuatu yang di sukai Am agar ia mau diam. Dan tawaran itu cukup ampuh, seketika ia langsung terdiam dan berbalik meraih tubuh ayahnya untuk di mintai gendong.
"Atu nda teman mommy!" Ucapnya mengerucutkan bibirnya lucu.
"Eh, anak ayah nggak boleh marah sama mommy, nanti Allah marah juga sama Am" Ucap Rayyan mencium kening putranya tersebut.
"Biarin, kalau Am nda teman mommy nanti mommy nggak mau buatin adek Am kaya adeknya Bobby" Ledek Shafa membuat bibir putranya semakin mengerucut dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah mommy nakal!" Adu Am. Ia bersandar manja pada dada Rayyan.
"Mommy bercanda kok. Mommy udah buatin Am adik kok. Tinggal tunggu saja, makanya Am harus rajin berdoa dan nurut apa kata mommy dan ayah supaya Allah sayang dan mengabulkan doa Am" Tutur Rayyan penuh dengan kelembutan.
"Ya udah atu mau main tama abang dan cici dulu" Ucapnya yang turun dari gendongan Rayyan. Am berlari menuju Aira dan Zafran yang tengah mewarnai gambar di depan televisi.
__ADS_1
"Ray, adikmu tidak kamu ajak kemari? Dia di sini tinggal dengan siapa?" Tanya ibu.
"Oh Aisyah, ada ibu pengasuh dan supir bu" Jawab Rayyan. Setahunya Aisyah memang hnaya tinggal dengan mak das dan mang maman yang menjadi supirnya.
"Panggillah ia kemari, biar bagaimanapun orang tuanya telah berjasa dalam hidupmu Ray" Tutur ibu, ia tak ingin putranya menjadi seorang yang tidak tahu balas budi.
"Astagfirullah, bu saya permisi dulu mau nelfon Aisyah" Ucapnya sambil berjalan menuju teras samping.
Rayyan mencari kontak Aisyah, mencoba untuk menghubunginya. Ia harus mengabarkan bahwa dirinya telah sampai di rumah.
"Assalamualaikum naon kang?" Sahutnya dengan suara berbisik.
"Waalaikum salam, Saya sudah sampai rumah, kalau sempat kamu kemarilah" Ucap Rayyan.
"Akang mau bayar utang nyak? Oke deh pulaang dari klinik Aish segera ----"
"BAGUS! "
Aisyah gelagapan segera memutus telfonnya. Ia merutuki kebodohannya menerima telfon di saat sedang memilah berkas pasien. Malvin menyilangkan tangannya di dada menatap horor pada Aisyah yang tertunduk sambil memeluk setumpuk map berwarna kuning.
"Maaf dok!" cicitnya, Aisyah semakin kuat memeluk map berisi rekam medik pasien.
"Sebagai hukuman, Tidak ada jam istirahat siang ini! Kamu harus menyelesaikan laporan itu sebelum pulang" Ucap Malvin menunjuk map yang tengah di peluk Aisyah.
"Apa?" Aisyah mendongak menatap tak suka dokter di hadapannya.
Nggak punya hati! Jahat! Aku doain jomblo seumur hidup!
"Kenapa? Mau melawan?" Malvin menbalas tatapan Aisyah dengan tatapan tajam menantang. Aisyah hanya bisa menggeleng, tak ada gunanya melawan manusia batu di hadapannya itu.
Aisyah menunduk lesu, matanya berkaca-kaca. Sepertinya ia harus memeriksakan kejiwaannya setelah selesai magang.
"Kamu mengumpat saya?" Tanya Malvin saat melihat tak ada perlawanan dari gadis muda itu.
Iya! Aku ngumpat kamu dokter jurig, dokter sedeng, dokter ibl*s!!!! Aish sumpahin nggak laku ampe tua!
__ADS_1
"Jawab!"
Aisyah tersentak, mengangkat wajahnya yang lagi-lagi menunjukkan tampang memelas.
"Saya lapar dok! Tadi pagi saya tidak sarapan dan tadi malan saya lupa makan malam" Ucap Aisyah berharap mendpat simpati dan kasihan dari Malvin. Namun, bukannya simpati yang ia dapatkan melainkan kekehan seperti mengejek.
"Kamu jangan coba-coba bohongi saya yah! Alasan kamu itu sudah basi"
Mana mungkin tidak makan sejak semalam. Bulshit!
"Serius dok saya---"
"Tidak ada bantahan! Cepat selesaikan sebelum saya kembali!" Gertak Malvin. Ia menyahut ponsel milik Aisyah yang tergeletak diatas meja, agar ia tak bermain hp saat sedang bekerja.
Ceklek!
Malvin mengunci pintu ruangannya dari luar membuat Aisyah semakin terlonjak. Ia menjatuhkan begitu saja berkas yang ada di tangannya dan berlari kearah pintu.
"Dokter buka!!!" Dog...dog...dog! Teriaknya sambil menggedor-gedor pintu tersebut, namun usahanya sia-sia. Aisyah terduduk di balik pintu sambil menangis.
"Dokter jahanaaaaam!!!" Teriaknya sambil menangis. Ia melirik jam yang melekat di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 12.15 siang. Harusnya saat ini ia sedang menikmati makan siang di cafetaria bersama teman-temannya. Ia memegang perutnya yang terasa keroncongan. Semalam ia melewatkan makan malam karena kebanyakan ngemil dan minum, juga pagi tadi ia tidak sempat sarapan pagi lantaran takut terlambat. Apes!
Aisyah bangkit dari duduknya menoleh ke kiri dan kanan, mencari sesuatu yang mungkin bisa mengganjal perutnya. Ia mendekati lemari pendingin yang ada sudut ruangan. Ia tak peduli jika harus mengambil makanan milik dokter jahat itu, toh dalam hal ini dia adalah korban, korban dari kejahatan dokter tampan tak berperasaan itu.
Dokter kere!
Gumam Aisyah saat mendapati isi lemari pendingin hanya air mineral, dan beberapa botol jus.
"Aku lapaaaaaaaaaarrrrr" Teriaknya sambil menutup lemari pendingin itu keras-keras.
Sementara itu, di sudut cafetaria yang sepi Malvin tengah bersantai sambil menikmati kopi pahit favoritenya. Ia teringat akan ponsel Aisyah yang di ambilnya dari atas meja tadi.
"Alay" Ucapnya saat membolak balik ponsel berlogo apel keroak dengan pernak pernik khas ciwi ciwi yang menghiasi hardcasenya.
Ia menggeser layar depan yang ternyata tak menggunakan kunci tersebut. Malvin mengerutkan keningnya saat melihat gambar pembuka pada menu depan ponsel tersebut. Ia memperhatikan dengan seksama wajah imut bak boneka barbie yang menghiasi layar handphone tersebut. Kulit putih mulus di tambah dengan rambut jatuh lurus itu berhasil menarik perhatian Malvin.
__ADS_1
Tipuan kamera sangat luar biasa!