
Pagi yang sejuk di desa yang masih tampak diselimuti kabut putih. Shafa dan ketiga anaknya masih terlelap di bawah selimut. Setelah sholat subuh tadi, ia memutuskan untuk tidur kembali, dengan posisi dirinya di tengah, Am dan Zifara di kanan kirinya dan Zafran di sebelah Am.
Shafa mulai terjaga saat merasakan gerakan putri kecilnya yang tengah menindih dirinya. Zifara pasti ingin membangunkan Am dan Zafrean yang berada di sebelah dirinya.
"Zizi, anak mommy sudah bangun" Shafa menahan tubuh Zifara agar tak terguling menindis Am.
"Am...!!! Bang" Ocehnya. Meski belum terlalu jelas, Zifara sudah bisa berbicara dan sangat cerewet. Shafa sedikit bergeser memberikan ruang untuk Zizi di sebelah Zafran.
"Am...Am..." Zizi yang sudah berada di samping Am memukul-mukul bahu Am agar ia bangun.
"Kakak Am nak, bukan Am. K-A-K-A-K" Shafa membenarkan ucapan gadis kecil tersebut.
" Emmmh... Mommy Zizi putul-putul Am" Rengek Am, saat merasa ada yang mengganggu tidurnya. Sekalipun bersaudara, Zizi dan Am kerap bertengkar, mengkin karena jarak mereka yang terbilang dekat. Berbeda dengan Zafran yang sabar dan menurut, Am dan Zifra cenderung keras dan susah untuk di redam saat sedang marah, terutama Am.
"Adek cuma mau bangunin Am, ayo kita jalan pagi. Besok kita sudah pulang ke Jakarta jadi sekarang kita puasin mainnya" Ucap Shafa agar anaknya tersebut tidak marah.
"Kita mau te sungai tan mommy?"
"Iya, makanya ayo bangun"
"Bang... Ayo bangun! kita mau pelgi te sungai" Ia menggoyang-goyangkan tubuh Zafran yang sedang terbaring di sebelahnya.
Suasana pagi yang membuat Shafa sejenak lupa akan rasa sedihnya. Melihat anak-anaknya yang begitu menggemaskan dna rukun meski kadang di warnai dengan pertengakaran antara Zifara dan Am. Sejenak ia lupa bahwa hidup tanpa seorang suami itu sangat berat, terutama saat Am sakit, tak ada lain yang ia tanyakan, dia selalu menyebut nama ayahnya.
"Huuuh, di tini dingin mommy" Am memeluk lengannya saat sedang berjalan-jalan pagi di sekitaran rumah pak Ali.
"Karena di sini udaranya bersih dek, disini masih banyak pohon dan hutan" Ujar Zafran. Anak cerdas kebanggaan momny nya.
"Mommy kita tinggal di cini caja ya. Aku punya teman balu lo mommy." Ujar Am.
"Siapa dek? Kakak Dul?" Zafran menatap adiknya penuh selidik.
"Butan, teman Am olang betal bang. Om ganteng milip dengan Ayah" Ia senyum-senyum mengingat wajah Andi yang menurutnya mirip dengan sang ayah.
"Am, jangan sembarangan berteman sama orang asing ya? Nanti Am di culik gimana" Shafa sedikit khawatir dengan anaknya yang polos dan terbuka ini. Ia khawatir jika ia salah mengenal orang yang justru membahayakannya.
"Engga mommy. Om itu bait. Dia tasi tau Am, tatanya Am ga boleh bohong dan nakal, kalena Allah tahu cemuanya, Nanti Allah malah" Terangnya. Shafa terhenyak sejenak.
"Masa sih dek?"
__ADS_1
"Iya bang. Dia to milip ayah yang di foto. Tapi om itu ga pate taca mata" Jawabnya mantap seolah ingin meyakinkan semua orang.
.
.
.
.
"Kang Andi buruan! Nanti kalau kesiangan panas!" Aisyah menggedor-gedor pintu kamar Andi. Ia sudah siap dengan celana trening dan kaos lengan panjangnya. Hari ini ia minta di temani Andi ke sungai untuk mengidentifikasi beberapa jenis tanaman yang hidup di sekitar sungai, sebagai salah satu tugas mata kuliahnya.
"Iya... Sabar. Saya sholat duha dulu" Ujarnya.
"Ya udah buruan!" Aisyah menarik lengan Andi keluar. Anak angkat juragan Amir tersebut sudah menganggap Andi seperti kakaknya sehingga tak sungkan untuk meminta bantuan apapun.
"Eh, Aish, kang Andi? Kalian mau kamana?" Tanya seorang berparas cantik berhijab ungu yang baru saja hendak masuk rumah.
"Mau ke sungai teh, punten nyak... Kami duluan" Ucap Aisyah semakin menggeret Andi menuju ke sebuah motor matic yang terparkir di sebelah rumah.
"Emm... Kang Andi!" Panggilnya nampak malu-malu.
"Iya, ada apa neng Risa?" Jawab Andi.
Puding strawberry?
Lagi-lagi sesuatu yang tak asing di pendengaran Andi.
"Makasih teh, kasi ambu aja di dalam. Kita buru-buru." Aisyah semakin menarik Andi menjauh dari gadis berparas lembut tersebut.
Di perjalanan Aisyah terus saja menggerutu karena Andi melajukan motor tersebut dengn kecepatan sedang.
"Balap kang, balap!!! Ini teh kaya siput, te sabar abi mah" Ujarnya. Ingin rasanya Aisyah mengambil alih kemudi agar segera sampai di tempat tujuan.
"Penglihatanku kurang bagus Syah, nanti kalau kenapa-napa gimana?" Balas Andi.
"Pake kaca mata atuh kang kalau burem!!!" Omel Aisyah.
"Iya nanti! Oh ya Syah, kamu kenapa kok sepertinya tidak suka dengan bu bidan? Apa kalian pernah ada masalah?" Tanya Andi. Terlihat jelas bahwa Aisyah sangat tidak menyukai Risa. Kembang desa yang menjadi incaran banyak pria.
__ADS_1
"Kenapa? Akang mulai suka sama teh Risa? Asal akang tahu, dia teh kalem, lembut keliatannya aja. Aslinya, beuh. Masih mending Aish." Balasnya.
"Kenapa memangnya Syah?"
"Dia teh gatel kang. Nggak bisa lihat cowok bening dikit langsung caper"
Caper!!! Caper!!! Lagi-lagi terngiang di kepala Andi seperti ada ornag yang pernah mengucapkan kata itu.
"Dulu Aish punya gebetan, di embat juga. Terus pas di Jakarta, Aish tau kok selama dia kuliah suka ganti-ganti pacar. Makanya akang jangan sampai tergoda. Siapa tau aja istri akang lebih cantik dari dia, siapa tahu akang teh sudah punya anak, jadi Aish saranin jangan tergoda!" Ujar Aisyah bijaksana. Walaupun nampak kekanakan, ia cukup bijak dan dewasa dalam berfikir.
Setelah sampi di tempat tujuan Andi dan Aisyah berjalan beberapa meter menuju anak sungai. Aisyah langsung mengeluarkan peralatan perangnya berupa kamera dan buku catatan.
"Lama nggak Syah?"
"Lumayan! Akang jalan-jalan aja dulu atau mandi di sungai sana" Jawabnya. Ia sekarang sedang mengamati tumbuhan paku yang hidup di sekitar sungai yang biasanya di manfaatkan sebagai sayuran dengan nama lain pakis.
Andi berjalan-jalan di sekitar sungai tersebut untuk melihat-lihat aktifitas beberapa orang yang tengah memancing. Saat sedang menikmati pemandangan sungai, pandangannya tertarik untuk memperhatikan sebuah gerakan dari seorang wanita cantik yang tengah menggendong balita perempuan di depannya tubuhnya.
"Am?" Meski jauh dan tak jelas, ia bisa menebak bahwa anak kecil dalam panggulan seorang pria gagah bertubuh tegap itu adalah Am. Apalagi saat anak kecil itu berteriak girang. Suaranya cukup bisa ia tandai sebagai suara anak kecil yang kemarin sore ia temani makan bakso. Bocah kecil yang berhasil mencuri perhatiannya, membuat hatinya tergerak untuk tahu lebih jauh tentang anak itu.
"Atu mau belenang... Atu mau belenang om" Teriaknya saat sampai di pinggir sungai.
Aku mau belenang sama opa ayah.
Andi seperti mendengar suara lain, yang pasti bukan suara Am. Ia memejamkan matanya menenangkan fikirannya yang mendadak kacau, akhir-akhir ini ia sering mendengar suara-suara entah itu serpihan ingatannya di masa lalu atau hanya khayalan semata.
Ia melangkahkan kaki semakin mendekat, tapi tak sampai turun ke pinggir sungai ia hanya mengawasi mereka dari atas tepatnya di dekat pohon mangga yang tengah berbuah lebat. Bibirnya menyunggingkan senyum saat Am dengan bahagianya bermain air bersama dua orang bocah yang lain.
Apa itu adiknya Am? Ia mencoba memfokuskan penglihatannya pada sosok balita kecil yang berada dalam penjagaan ibunya. Tiba-tiba terbersit dalam hati Andi, seandainya dia adalah ayah dari Am juga suami dari wanita cantik itu.
"Astagfirullah, sepertinya aku sudah terlalu jauh berfikir." Meski hatinya terus beristigfar tapi pandangan matanya tak terlepas dari sosok cantik yang tengah duduk di sebuah batu memangku gadis kecilnya. Sesekali melambaikan tangannya pada 3 orang bocah kecil yang tengah bermain air.
Tuk...
"Aduh" Andi mengaduh memegangi kepalnya yang tertimpa sesuatu yang tak lain adalah biji mangga yang sudah di makan kelelawar. Ia mendongak keatas, melihat buah mangga yang tengah bergelantungan di atas.
Mas aku mau itu!
Aku mau pohon yang sudah berbuah!
__ADS_1
Lagi-lagi ia mendengar suara-suara itu. Seperti suara wanita yang kini mulai memenuhi fikirannya.
"Aaaammm....!!!" Teriakan Shafa membuat Andi berjengkit kaget.