
Setelah kedatang dokter Malvin di ruang rawat Am, suasana di ruangan itu menjadi semakin ramai. Selain pintar mengobati ternyata dokter Malvin juga pandai mengambil hati anak-anak Shafa. Hal itu terlihat dari bagaimana ia meladeni Am bermain game yang ada di tabletnya. Sedangkan Zafran sendiri tengah Asyik memainkan stetoskopnya.
Shafa dan kuarga hanya bisa melihat dari sudut ruangan bagaimana serunya mereka bermain. Ada seulas senyum yang tersungging di bibir Shafa melihat mereka bermain. Ia selalu membayangkan bahwa yang berada di posisi dokter Malvin saat ini adalah Rayyan suaminya. Ia sangat merindukan momen dimana Rayyan bermain dan bergurau bersama anak-anaknya.
"Apakah kamu masih menunggunya?" Dokter Malvin menghampiri Shafa yang tengah berada di balkon dekat kamar Am. Ia sengaja mencari Angin segar sambil memandang indahnya kota Jakarta pada malam hari.
"Ya" Jawabnya singkat tanpa megalihkan pandangannya pada satu titik, menara dengan lampu kerlap-kerlip di atasnya.
"Sampai kapan?" Malvin turut menyandarkan tubuhnya di besi balkon tapi bagian punggungnya yang ia sndarkan, sehingga matanya bebas memandang wajah Shafa dalam balutan pasmina berwarna merah muda itu.
"Sampai dia kembali" Shafa menoleh sekilas sambil tersenyum pada dokter berparas tampaan itu.
"Kalau tidak kembali?" Malvin memberanikan diri untuk menayakan hal itu. Menurutnya, sudah saatnya Shafa keluar dari khayalan dan mimpi-mimpinya.
Shafa menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Pandangan matanya tetap fokus kedepan.
"Dia pasti kembali" Ucapnya lirih.
Malvin menghela nafas, "Its okay, saya juga akan menunggu" Ia menoleh kepada Shafa sambil tersenyum.
"Waiting for what?" Shafa melirik dokter Malvin pura-pura tak tahu akan maksud ucapannya. Diantara sekiaan pria yang mendekatinya, ia cenderung lebih bisa bersahabat dengan Malvin. Selain karena ia dokter yang pernah membantunya memulihkan kondisi kejiwaannya, dokter Malvin bukan tipe laki-laki pemaksa atau tipe laki-laki possesive. Dia sangat pandai menempatkan diri, membuat Shafa nyaman sebagai sahabat dan pasiennya sekalipun ia tahu perasaan Malvin kepadanya.
"Waiting for you" " Jawabnya sambil terkekeh.
"Sampai kapan? Dokter tahu saya sudah menikah. Dokter mau jadi Pelakor versi cowok?"
"Tidak!"
__ADS_1
"Lalu?"
"Tidak ada! Saya hanya akan menunggu sampai kamu membuka hatimu." Ucapnya serius.
"Anda akan lelah dokter karena hatiku sudah tertutup" Balas Shafa.
"Jika kamu saja tidak lelah menunggu seseorang yang tak pasti, kenapa saya harus lelah menunggu seseorang yang jelas-jelas ada di depan mata?" jawabnya. Jika saja wanita itu bukan Shaafa, mungkin ia akaan berjingkrak kegirangan, memeluk sambil membisikan kata so sweet. Sayangnya dia adalah Shafa, ibu 3 anak yang hanya menganggap ucapan itu biasa saja.
"Jangan terlalu yakin dokter" Ujar Shafa yang kali ini menantap pegangan besi pada balkon klinik tersebut.
"Kenapa tidak boleh yakin, Kalau kamu saja yakin dia akan kembali sekalipun kamu tidak mengetahuinya, kenapa aku tidak boleh yakin bahwa...
Ucapannya terhenti saat sorot mata tajam itu menatapnya. Dokter Malvin menyunggingkan senyum lembut berusaha menetralkan perasaan Shafa yang saat ini mungkin sedang marah.
"Ehm, jangan memandangku seperti itu kalau kamu tidak mau merasakan yang namanya cinta pada pandangan pertama" Ucapnya dengan sedikit kekehan untuk mencairkan suasana. Salah satu kelebihan dokter Malvin adalah mampu mengendalikan emosi para pasiennya dengan sangat baik baik.
"Are you ok?" Tanya Malvin serius. Ia selalu bisa menempatkan diri kapan harus bicara serius dan kapa harus bercanda yang sebenarnya adalah isi hatinya yang terdalam.
"Ya" Jawab Shafa singkat.
"Lalu? Kenapa bersedih? Apa ada alasan lain selain yang membuat bidadari tak bersayap ini bersedih selain menanti pangerannya yang tak kunjung tiba?" Tanya Malvin. Ia mensejajarkan tubuhnya dengan Shafa, memandang satu titik yang sama.
"Am" Ia menoleh sekilas pada Malvin yang berada di sampingnya. Shafa bukannya tak tahu Malvin menyimpan perasaan padanya, namun selama ini Malvin menunjukan sikap yang cukup bersahabat dan tak memaksa membuat Shafa tak perlu menghindarinya seperti yang lain.
"Satu kebohongan akan menciptakan kebohongan baru" Ucap Malvin. Sebuah kalimat yang sarat akan makna. Benar, Sekali berbohong ia akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan lainnya.
"Lalu aku harus gimana dok? Apa aku harus mengatakan pada Am bahwa ayahnya telah meninggal saat tsunami?" Tangis Shafa pecah seketika, ia tak sanggup jika harus melakukan itu.
__ADS_1
"Tidak Shafa, bukan seperti itu" Malvin menatap Shafaa dengan penuh cinta. Ia bahkan tak peduli kalau Shafa adalah seorang ibu beranak 3. Ia tak peduli kalau Shafa di mata orang orang adalah seorang janda yang mengalami masalah kejiwaan, karena yang ia tahu, Shafa adalah sosok wanita kuat yang tengah berjuang melawan kenyataan yang ada. Bukan apa-apa dan demi siapa-siapa melainkan untuk ketiga anaknya.
"Lalu seperti apa dok..? Apa aku harus mengatakan bahwa selama ini mommynya berbohong? Atau aku harus bilang bahwa ayahnya tidak akan pernah kembali?" Tangisnya semakin kencang. Membuat Malvi tak tahan untuk tidak menyentuhnya. Ingin sekali ia memberikan pelukan hangat pada Shafa. Namun, ia tahu. Shafa bukanlah wanita yang mudah untuk di sentuh. Kali ini ia memberanikan diri menyentuh bahunya, mengusapnya lembut, memberikan ketengan pada hatinya yang tengah gusar.
"Tidak, jangan katakan apapun yang membuat dirimu semakin tersiksa" Balas Malvin. Sungguh ia tak tega melihat wanita yang ia cintai seperti itu. Egoiskah Ia jika ia berharap Rayyan benar-benar tak kembali dan ingin menggantikan posisinya? Cukuo sudah ia melihat Shafa yang hampir 3 tahun ini tersiksa.
Aku bingung dok!!! Aku bingung. Kalu aku saja tidak bisa menerima kepergian Mas Rayyan, bagaimana dengan Am? Am itu anaknya. Dia...
"Am??" Mata Shafa membelalak saat tang sengaja menoleh mendapati Am yang tengah terpaku di ambang pintu menatap ke arah ya dengan tatapan kosong.
"Nak..." Shafa segera berlari ke arahnya. Cepat-cepat ia hapus air matanya agar tak ketahuan oleh Am.
"Am kenapa disini?" Shafa menjajarkan tubuhnya dengan tubuh anaknya.
Ya Allah, semoga Am tidak mendengar apa yang aku ucapkan tadi.
Am tak menyahut, ia hanya menunduk. Tampak jelas raut sedih di wajah anak itu. Kedua tangannya saling bertautan dan meremas satu sama lain.
"Lebih baik kalian masuk, Sepertinya Am sedang membutuhkanmu" Ucap dokter Malvin.
Shafa segera menggendong Am masuk ke dalam kamarnya. Pantas saja Am keluar, ternyata Mommy Shafa ketiduran di sebelah Zizi dan Zafran hingga tak menyadari kalau Am turun daei ranjangnya. Shafa kemudian merebahkan tubuh Am di atas Ranjang, sedang dirinya berbaring di sebelahnya sambil memeluknya.
"Am..." Panggilnya namun tak mendapat sahutan.
"Anak mommy kenapa? Apa ada yang sakit? Atau Am ingi pipis?" Tanya Shafa sambil mengusap lembut pipi jagoannya.
"Ya udah, kalau nggak mau ngomong, sekarang Am bobo ya? Mommy keloninn" Shafa semakin mengeratkan pelukannya pada putra kecilnya sambil menepuk-nepuk lembut punggungnya.
__ADS_1
"A...yah" Cicit Am Lirih saat matanya sudah mulai terpejam.