Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Istri Bohongan


__ADS_3

Dengan berat hati Shafa mengantar ke pergian Rayyan sampai di teras rumah. Wajahnya masih saja murung sejak keluar dari kamar tadi. Ia bahkan tak sedikitpun menyentuk sarapan yang tersaji di meja makan.


Berbeda dengan sang ibu, anak-anak Shafa justru sebaliknya. Mereka sangat senang dan antusias saat Rayyan menjanjikan liburan ke Mesir saat libur sekolah nanti.


"Sudah Fa, jangan begini terus. Nanti kamu sakit, ayo makan." Bujuk Ibu pada sang menantu yang memilih duduk sendiri di teras belakang.


Rayyan sengaja memanggil kedua orang tuanya untuk menemani Shafa dan anak-anaknya selama ia pergi. Karena Shafa pasti akan kewalahan jika hrus mengurus anak-anaknya sendiri.


"Mommy, tenapa eyang?" Tanya Am pada sang eyang yang memegang piring di sebelah mommynya.


"Mommy nggak papa Am. Sana, main lagi sama Zizi."


"Eyang, tatanya ayah tu kita mau libulan te Mesil eyang" Pamer Am Am dengan sangat antusias.


"Beneran? Wah pasti Am senang ya? Ayah dulu sekolahnya di Mesir. Am kalau besar sekolah di Mesir juga ya?" Tanya Ibu yang sedang menyuapi makan Shafa. Wanita muda itu benar-benar bersedih hingga tak menghiraukan sekelilingnya.


"Benelan eyang, Iya tan Mommy?"


"Hem," jawab sang Mommy malas.


"Tapi atu nda mau tekolah di Mesil eyang. Atu tan mau jadi bos butan jadi gulu kaya ayah." Am masih saja terus mengoceh hingga merasa bosan dan memilih untuk bermain di halaman bersama Zizi dan pak Madi.


"Sudah, jangan sedih. Ayo di habisin makanannya" ucap Ibu sembari kembali menyodorkan suapan nasi.


"Aku nggak nafsu makan bu," Shafa menggeleng, matanya kembali berkaca-kaca. Ia terus memandangi layar ponselnya. Ingin rasanya ia melakukan panggilan video dengan sang suami, tapi ia tahu saat ini Rayyan pasti masih berada di dalam pesawat yang membawanya ke pulau Sulawesi tersebut.


Shafa yang seharian dibuat tak berdaya oleh kepergian Rayyan terlihat berbinar saat handphonye berdering. Senyum lebar menyungging di wajahnya ayunya tat kala kontak sang suami memanggil. Segera ia geser icon berwarna hijau di layar ponselnya.


"Mas Rayyy!!!" Panggilnya dengan perasaan membuncah.


"Assalamualaikum sayang" Balas Rayyan dengan senyum yang tak kalah lebar dari sang istri.

__ADS_1


"Waalaikum salam. Mas, aku kangen. Mas kapan pulang?" Tanyanya manja. Sebuah pertanyaan bodoh yang di layangkan ibu 3 anak tersebut. Jelas-jelas belum 6 jam Rayyan berada di kota Kendari Shafa sudah menanyakan kapan ia pulang.


"Mas kan baru nyampe sayang. Maaf ya tadi hape Mas lobet, jadi baru sempat menghubungi Shafa." Rayyan tak tahu saja bahwa sejak kepergiannya istrinya selalu memikirnya sampai tak sempat melakukan pekerjaan rumah yang biasa ia kerjakan. Jiwa malas Shafa mencuat seketika saat dirinya sendiri. Ia yang biasanya cekatan mendadak malas, lesu, lunglai yang hanya bisa rebahan dan senderan.


"Mas, aku susulin ke sana aja ya? Aku beneran nggak sanggup jauh dari mas Ray, aku nggak tenang mas." Ujar Shafa dengan wajah lesunya.


"Apa yang Shafa takutkan? Insha Allah mas baik-baik saja. Mas akan jaga hati, jaga mata dan nggak akan nakal disini," hibur Rayyan.


"Entahlah, aku nggak suka aja dengan kondisi seperti ini. Aku pengen deket sama mas Ray terus."


"Jangan gitu dong, kasihan anak-anak kalau Shafa kaya gini. Mas akan sering-sering telfon kok. Oh ya, anak-anak mana? Kok sepi?" Tanya Rayyan yang tak melihat satupun anak mereka di layar ponsel. Biasaya Zifara atau Am selalu berada di dekatnya.


"Mereka lagi pergi sama ibu dan ayah, katanya mau jalan-jalan" Jawab Shafa tak bersemangat.


"Shafa kok nggak ikutan?"


"Males, aku maunya sama Mas Ray" Jawabnya masih tak bersemangat.


"Jangan di matiin!" Pekik Shafa yang tak ingin panggilan mereka berakhir.


"Mas mau mandi sayang"


"Biarin, aku mau liht mas mandi!" Ucapnya yang terdengar tak ingin di bantah. Apalah daya Rayyan menghadapi istrinya yang terkadang membuatnya pusing bukan kepalang.


Sudah dua hari sejak kepergian Rayyan, Shafa semakin malaa beraktifitas. Ia seperti tak memiliki semangat lagi. Seperti siang ini, ia tengah berebahan ria di depan televisi sembari menonton tayangan infotaiment. Matanya tak teralihkan sedetik pun dari layar lebar di hadapannya.


Penyanyi religi berhijab dikabarkan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga rekan se profesinya.


Begitulah bunyi headline yangbsejak beberapa jam lalu menjadi tajuk utama baik di layar kaca maupun di media sosial.


Busyet pelakor lagi. Shafa bergumam sambil menggerutu saat layar televisi tersebut menunjukan potret kemesraan sang pria dengan keluarga dan kedua anaknya yang masih kecil. Iya jadi membayangkan jika ia dan anak-anaknya yang berada di posisi itu.

__ADS_1


"Kak Shafa, ini burgernya udah datang" Teriak Aisyahbdari arah pintu masuk. Sejak kemarin Aisyah memang sudah menginap di rumah Shafa sembari menunggu kedatangan abah dan ambu.


Tak ada jawaban dari Shafa. Wanita itu masih tetap fokus menyaksikan tayangan infotaiment seputar orang ketiga yang dialami oleh salah satu penyanyi muda religi yang sempat ia kagumi.


"Kak!" Panggil Aisyah sekali lagi membuat Shafa tersadar. Ia menoleh kearah gadis muda yang tengah meletakkan cheese burger di hadapan kakak angkatnya itu.


"Aish?" Mata Shafa berkerut memindai wajah Aisyah yang nampak bingung di hadapannya.


"Kenapa kak?"


"Muka kamu kok mirip sama dia?" Tunjuknya pada layarvtelevisi yang masih menayangkan foto wanita yang santer disebut sebagai pelakor iku.


Aisyah berjengit, bukan Hanya Shafa yang mengatakan hal itu, tapi beberapa orang terdekatnya pun, mengatakan dirinya mirip dengan penyanyi yang sedang viral itu.


"Naudzubillah... Amit... Amit... Amit... Amit" Ujar Aisyah sambil mengetok-ngetok kening dan lantai secara bergantian.


"Kamu nggak ada niat mau ngambil bapaknya Am kan? Jangan-jangan kamu diam-diam suka sama mas Ray lagi?" Semakin tajam saja tatapan Shafa pada Aisyah. Entah apa yang di fikirkan ibu tiga anak itu sampai beranggapan demikian.


"Ih, amit-amit aku mau jadi pelakor. Apalagi yang rebut kaya kang Andi. Mending juga Aish jadi istri boongannya dokter Malvin."


Cep!


Aisyah langsung refleks menutup mulutnya. Gawat, ia telah salah bicara.


"Apa syah?"


"Enggak!"


"Kamu bilang apa tadi?" Cecar Shafa. Ia yakin pendengarannya masih normal untuk menangkap ucapan Aisyah tadi.


"Apa kak? Aku bilang amit-amit kalau mau ngerebut kang Andi" Aisyah tidak pandai menyembunyikan kegugupannya. Bisa kiamat kalau sampai Shafa melapor kepada Rayyan dan Rayyan mencari tahu. Ah, bisa kacau semuanya apalagi abah dan ambunya sore ini sampai di jakarta.

__ADS_1


"Kamu mau jadi istri bohongannya Malvin Aisyah?" Sentak Shafa. Kali ini tatapannya menuntut penjelasan dari gadis 19 tahun tersebut.


__ADS_2