Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Obrolan Malam


__ADS_3

Malam ini Shafa lebih banyak diam dari pada bersuara, tak seperti biasanya. Ia sedang memikirkan kembali kata-kata daddy dan mommy nya perihal kesehatan Rayyan. Ada rasa bersalah yang bercokol di hatinya karena telah membuat Rayyan sakit. Bagaimana pun juga, ia sudah menunggu lama untuk kepulangan nya, ia tentu tidak ingin membuat kesalahan fatal karena egonya yang akan menyebabkan ia kehilangan Rayyan selamanya.


"Aku harus bersabar" Lirihnya setelah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Malam ini ia tidak menggunakan dress melainakan sepasang celana panjang dan atasan lengan pendek berwarna hitam bermotif mawar merah yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.


CUP!


Ia melabuhkan kecupan di kening putri cantiknya sebelum ikut merebahkan diri di sebelahnya. Shafa menarik selimutnya hingga batas pinggang, tangan kananya merengkuh lembut bidadari kecilnya yang sudah terlelap.


Ceklek,


Suara hendel pintu yang terbuka, menampilkan sosok Rayyan yang baru saja selesai membacakan dongeng untuk Am dan Zafran.


Shafa hanya melirik sekilas kemudian tersenyum kecil dan kembali memandang wajah tenang Zizi. Ia selalu mengagumi ciptaan Allah di hadapan nya ini yang di sebut- sebut sebagai focopy dirinya.


Kalau besar nanti jangan hobi pacaran kaya mommy ya nak. Kamu harus seperti ayahmu yang bisa menjaga diri. Gumam nya sambil mengusap lembut pipinya.


"Kenapa mandang Zizi seperti itu?" Tanya Rayyan yang kini berada di kasur yang sama. Ia juga memiringkan wajahnya menghadap putri kecilnya yang tengah lelap tertidur.


"Cantik!" Jawab Shafa singkat.


"Masya Allah, kan mirip ibunya" Balas Rayyan membuat sekumpulan kembang mekar di hati Shafa.


"Semoga kalau dewasa nanti, dia nggak seperti ibunya, biar seperti ayahnya saja" Ucap Shafa sambil mengelus pipi lembut Zizi.


"Kenapa, Ibunya adalah wanita hebat. Ayahnya ingin dia seperti ibunya" Balas Rayyan yang turut memperhatikan Zifara kecil yang begitu menggemaskan.


"Aku tidak sehebat dan sekuat yang mas pikirkan" Ucap Shafa. Pandangannya berubah sendu. Benar, dia bukanlah wanita tegar seperti kelihatannya. Ia hanyalah seorang yang rapuh dan berpura-pura tegar di hadapan ke 3 anaknya.


"Tidak!" Rayyan meraih punggung tangan Shafa yang menumpang pada tubuh Zifara. Keduanya saling berhadapan di batasi oleh Zizi di antara mereka.


"Bagiku, Shafa adalah wanita terhebat dan terkuat yang pernah saya temui. Jangan sedih lagi. Karena semakin Shafa bersedih saya akan semakin merasa bersalah" Ujar Rayyan yang masih memusatkan pandangannya pada istrinya.


"Mas Ray sudah di sini, untuk apa aku sedih?" Jawabnya sambil menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyum yang di paksakan.


Ya jelas aku sedih lah, Mas nggak ingat aku. Aku merasa nggak berarti di hadapanmu yang sekarang mas. Aku kangen kamu Mas, kangeeen banget. Kangen di peluk, kangen di cium kangen . . .


"Kamu sangat berarti bagiku Shafa" ujar Rayyan membuat Shafa membelalak. Kok bisa pas dengan gumaman yang baru saja ia pikirkan.

__ADS_1


A..apa Mas Ray bisa baca pikiranku?


"Kenapa?"


"Mas bisa baca pikiranku?" Tanyanya sambil menunjuk wajah Rayyan.


"Iya!" Jawab Rayyan santai. Ia ingin melihat bagaimana ekepresi istrinya. Sekarang ia mulai menyukai setiap ekspresi lucu yang di tunjukkan wajah cantik istrinya, terlebih saat rona merah itu bersemu di pipinya, rasanya tak tahan ingin menciumnya kalau saja rasa malu tidak menghalanginya.


"Hah? Se..serius?" Tanyanya terbata.


Rayyan hanya tersenyum enggan menjawab pertanyaan Shafa. Ia malah memejamkan matanya membuat Shafa kesal.


"Mas!!!" Panggil Shafa yang tak terima di acuhkan.


"Hmm" Jawabnya singkat.


"Jangan tidur!" Shafa menusuk-nusuk punggung tangan Rayyan dengan telunjuknya.


"Tidak!"


"Itu kenapa merem? Bangun! Mas belum jawab pertanyaanku"


"Tidurlah, besok kita akan melakukan perjalanan jauh" Ucap Rayyan tanpa membuka matanya.


"Enak aja tidur, nggak ada ya? Mas udah bikin aku penasaran. Tanggung jawab dong!" Ucap Shafa tak terima. Ia langsung bangkit turun dari kasur mendekati Rayyan.


"Mas!!!" Panggilnya dengan penuh ketidak sabaran.


"Hmm" Lagi-lagi hanya deheman yang ia terima. Mas Rayyan Shafa lagi dalam mode nyebelin minta di unyel-unyel.


"Kalau mas nggak bangun aku nggak mau tidur! Biarin aja aku sakit karena semalaman nggak tidur" Ancam Shafa yang sudah pasti ampuh. Kata sakit adalah kata yang tidak boleh terucap oleh Shafa apalagi terjadi pada ibu 3 anak itu.


"Iya, Shafa mau apa?" Suara lembut penuh ketenangan di sertai gerakan tubuhnya berbalik menatapa Shafa membuat jantung Shafa berdegup kencang.


"Tanggung jawab!"


"Tanggung jawab apa? Oh ya, Am tadi agak rewel. Dia terus nanyain adik. Bagaimana cara membujuknya?" Rayyan mendadak teringat putra kecilnya yang sempat membuatnya pening perihal adik yang di janjikan ayah dan mommy nya.

__ADS_1


"Oh... Em... itu, nanti biar Shafa yang jelasin" Jawabnya gugup. Emang si Rayyan ada-ad saja, istri dalam mode kesal malah menyampaikan hal yang membuatnya tersipu malu tapi mau.


"Shafa mau jelasin apa?"


Mau jelasin kalau bapaknya udah nggak nafsu sama emaknya!


"Semuanya!" Jawab Shafa asal. Pembahasan sepeutar adik memang sangat berhasil membangunkan jiwa jablaynya yang lama meronta.


"Maksudnya?"


"Am itu nggak bisa di bujuk Mas, kalau ada maunya harus, dan susah di ajak kompromi. Jadi harus di jelaskan pelan-pelan" Balas Shafa yang sedikit canggung menyampaikan hal itu kepada Rayyan.


Shafa mau jelasin apa?" Tanyanya penasaran. Rayyan menopang kepalanya dengan tangan kanannya sembari memandang Shafa yang duduk bersila di sebelahnya.


Sungguh penampakan yang menggoda iman. Batin Shafa.


"Ya ... Mau jelasin kalau... kalau dia harus sabar. Iya harus sabar" Jawab Shafa semeyakinkan mungkin, sementara pandangan matanya sudah tak fokus memandang ke lain arah menghindari tatapan dengan Rayyan.


"Kenapa, Bukannya Shafa sudah siap hamil lagi?" Lagi-lagi Rayyan memberikan pertanyaan yang membuat Shafa spot jantung, sedang dirinya mulai menikmati percakapa yang membuat istrinya semkin salah tingkah. Wajah Shafa yang merona di tambah dengan tatapan malu-malu membuat Rayyan ingin terus menggodanya.


Ya Allah...Ya Rohman Ya Rohim kuatkan hambamu menghadapai mas Ray. Apa yang terjadi pada mu mas? Gimana gue mau mau hamil, di cium kaga, di peluk kaga, apa lagi di "ea ea" in, ngimpi kali gue! Dan kamu masih nanya kenapa?


"Kok diam?" Tanyanya dengan wajah polos tanpa dosa.


"Jadi Shafa yang Shafa sampaikan wktu itu tidak benar ya? Shafa belum siap hamil lagi kan? Lagian Zifara masih kecil, dia..."


"Gimana mau hamil kalau nggak ada yang hamilin! Mas kira cuma ngomong siap aja bisa hamil dengan sendirinya? Kalau saja mas nggak pergi waktu itu mungkin adiknya saat ini bukan hanya satu tapi sudah mau tiga!" Potong Shafa, mematahkan persepsi Rayyan sebelumnya.


"Masya Allah"


"Masya Allah apa?" Tanya Shafa ketus. Rayyan benar-benar menyebalkan malam ini.


"Cantik!"


"Eh... Mau di apain?" Pekik Shafa Shafa saat merasa lengannya di tarik hingga ia terbaring di sebelah Rayyan.


"Tidurlah, besok kita akan melakukan perjalanan jauh" Ucap Rayyan.

__ADS_1


Yaelah, kirain mau di apa-apain. Ngarep banget sih gue. Ya Allah, jauhkan para dedemit mesum ini dari kepalaku.


__ADS_2